[ppi] [ppiindia] ''Cukur Dulu Jenggotmu''
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sun, 30 Jan 2005 21:58:57 +0100
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
http://www.suaramerdeka.com/harian/0501/31/nas02.htm
Senin, 31 Januari 2005NASIONAL
Masuk AS Gampang-gampang Susah (1)
''Cukur Dulu Jenggotmu''
KETAT: Seorang petugas imigrasi memeriksa barang penumpang. Sejak peristiwa
9 September 2001, AS sangat ketat terhadap masuknya orang asing.(79)
SM/Bagas Pratomo
Bersama sembilan jurnalis lain dari Indonesia, wartawan Suara Merdeka Bagas
Pratomo saat ini sedang di Amerika Serikat selama dua pekan atas undangan
Departemen Luar Negeri AS. Kunjungan ini mengambil tema ''American Society
and US Foreign Policy Formulation''. Berikut suratnya dari Washington DC.
''KAMU mau ke Amerika? Cukur dulu itu jenggotmu. Nanti repot di sana,'' kata
seorang teman. Kesan ini memang terasa wajar dirasakan oleh kebanyakan kita
yang berada di luar Amerika Serikat. Sejak peristiwa 9 September 2001 yang
menghancurkan dua menara World Trade Center New York dan menewaskan ribuan
orang itu, negara ini menjadi sangat ketat terhadap masuknya orang asing.
Apalagi jika model tampang dan nama mirip dengan warga kawasan Timur Tengah.
Akan tetapi justru karena itu saya nekat tidak mencukur jenggot. Saya ingin
tahu seberapa susah masuk dengan tampang model begitu.
Sebenarnya ketatnya persyaratan masuk ke AS sudah terasa saat pengurusan
visa. Foto untuk visa harus "netral" dengan ukuran dan posisi foto yang
sudah ditentukan. Dinas Imigrasi dan Kewarganegaraan AS menjelaskan,
ekspresi setiap subjek haruslah netral (tidak tersenyum) dengan kedua mata
terbuka dan kedua rahang tertutup rapat. Jadi, jangan harapkan foto yang
cengengesan bakalan diterima.
Ketentuan ini berlaku sejak 1 September 2004 dan bisa dibaca pengumumannya
di situs Deplu AS. Hanya mungkin tidak semua orang mengetahuinya.
Persyaratan foto ini lengkap tertera di situs, termasuk warna latar
belakang, pencahayaan, ukuran badan di frame foto, arah tatap mata,
orientasi kepala, dan ekspresi wajah natural lainnya yang diizinkan.
"Senyum dengan rahang tetap tertutup diizinkan tetapi tidak dianjurkan,"
demikian salah satu penjelasan situs. Dokumen perjalanan ini merujuk pada
ketentuan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) yang pada Mei
2003 mengeluarkan petunjuk tentang penggunaan informasi biometrik untuk
paspor-paspor yang bisa dibaca dengan mesin.
Senyuman disebutkan bisa mendistorsi fitur-fitur wajah lain seperti kedua
mata. Dengan demikian, ekspresi wajah harus senetral mungkin untuk segala
tipe identifikasi.
Nantinya AS akan memberlakukan sistem paspor dengan bar codes yang dapat
dibaca dengan mesin. Pertengahan 2005 ini, informasi biometrik masuk di
dalamnya. Dengan cara ini, sebuah chip komputer yang ditanam di paspor akan
memudahkan cek silang terhadap pemegang paspor. Dengan memanfaatkan program
komputer akan dikenali fitur-fitur wajah, selain juga untuk pengecekan sidik
jari. Biasanya diminta jari telunjuk untuk identifikasi.
Sistem ini akan menyandingkan wajah yang terekam kamera-kamera keamanan di
115 bandara di Amerika yang melayani penerbangan internasional dan 14
pelabuhan besar dengan informasi yang terdapat dalam chip tadi.
Tak Pandang Bulu
Ketatnya persetujuan ini juga tak pandang bulu. Bahkan di antara kami para
wartawan yang menjadi tamu undangan Deplu AS pun, ternyata tidak bisa mulus
disetujui permohonan visanya.
Rekan dari Kompas Budiman Tanure-djo yang sarjananya teknik nuklir, saat itu
masih harus menunggu dua minggu lagi untuk clearance dari Washington.
Demikian pula yang punya nama-nama muslim, seperti Muhammad Nurkolis Ridwan
dari Majalah Sabili, Muhammad Lapang dari Majalah Gontor, dan Priyantono
Oemar. Sapto Waluyo dari Majalah Saksi yang jenggotan juga. Sementara yang
lain termasuk saya, sudah disetujui.
Menurut keterangan Humas Kedubes AS di Jakarta, Novita Patricia Wund, tidak
ada penjelasan apa pun dari Washington kepada Kedubes mengapa visa mereka
masih harus diklirkan lebih lanjut. Sedemikian tertutupnya sehingga pihak
kedutaan pun tak tahu-menahu alasan penundaan persetujuan visa tersebut.
Akhirnya kami pun hanya menebak-nebak, mungkin karena nama yang berbau
muslim. Budiman mengira, soal visanya berkaitan dengan S1-nya yang teknik
nuklir. ''Mungkin dikira bisa bikin bom,'' ujarnya berseloroh.
Namun, Atase Pers Kedubes di Jakarta Max Kwak menyatakan jangan diambil
hati. ''Saya yang diplomat juga terkadang menjalani pemeriksaan kalau masuk
ke AS,'' tuturnya.
Dia bercerita, di Imigrasi juga pernah secara acak dia harus menjalani
pemeriksaan intensif. Barang-barang bawaan dia dicek teliti dan dibuka
kopernya.
''Apa boleh buat memang. Sejak 911 itu Amerika memang menjadi sangat
sensitif mengenai keamanan negara ataupun warganya,'' kata Max. Bahkan,
lanjutnya, memasuki Kedubes AS di Jakarta sekarang seperti masuk kamp
militer. Semua memang dijaga superketat. Jalan di depan gedung Kedubes
diblok satu lajur dengan beton sehingga tertutup untuk lewat kendaraan.
Dan untuk masuk mengajukan permohonan visa, orang harus antre berderet-deret
di jalan samping Kedubes. Dan, belum tentu permohonan visa disetujui oleh
Washington. Kalau ditolak, biaya visa 100 dolar itu pun hangus.
Begitu masuk ke AS lewat bandara San Fransisco, rombongan kami juga harus
melewati berbagai pengecekan. Polisi dengan anjing pelacak berseliweran
mengecek koper-koper yang mencurigakan. Dan, setelah penerbangan hampir dua
hari dari Jakarta, prosedur yang sangat ketat tadi memang terasa
menyebalkan.
Lalu bagaimana dengan soal jenggot tadi? Saya akan ceritakan pada tulisan
kedua besok.(33j)
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] ''Cukur Dulu Jenggotmu''