[ppi] [ppiindia] Cornell Paper (1)
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Tue, 27 Sep 2005 21:48:50 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www2.rnw.nl/rnw/id/spesial/cornell_paper050926
Cornell Paper (1)
Penentang Pertama Peristiwa G30S Versi Soeharto
Wawancara Ranesi, September 2
Hari Jum'at 30 September mendatang, tepat 40 tahun lalu terjadi peristiwa G30S
yang mengubah sejarah Indonesia. Profesor Benedict Anderson guru besar emeritus
pada Cornell University di Ithaca, Amerika Serikat adalah salah satu pengarang
apa yang disebut Cornell Paper atau Makalah Cornell, yaitu risalah pertama yang
meragukan versi Soeharto terhadap peristiwa yang dikenal sebagai G30S/PKI itu.
Apa sebenarnya Cornell Paper itu dan penemuan-penemuan lebih lanjut apa yang
didapatkan oleh Profesor Ben Anderson?
Baret merah
Ben Anderson [BA]: "Apa yang terjadi begini. Kebetulan pada waktu itu saya
masih mahasiswa di Cornell terus ada dua teman lagi. Satu cowok namanya Fred
Bunnell masih mahasiswa dan mbak Ruth McVey yang sudah lulus dan senior kita.
Kami mengikuti apa yang terjadi di Indonesia dengan sangat cermat karena
bingung. Kok ini bisa terjadi? Apa asal usulnya? Dan kebetulan pada waktu itu
Cornell satu-satunya tempat di Amerika di mana hampir semua koran, majalah
masuk dengan cukup cepat. Majalah dalam bahasa Indonesia, majalah dalam bahasa
Jawa. Jadi kita dapat koran dari Medan, dari Balikpapan dari Solo dari Bali,
dari Surabaya dan sebagainya. Ini luar biasa. Jadi kami bisa mengikuti apa yang
terjadi pada bulan Oktober-November-Desember 1965, bukan bergantungan pada
sumber-sumber di Jakarta yang dikuasai sepenuhnya oleh Soeharto. Tapi di
lain-lain daerah."
"Dan dari situ kami melihat bahwa apa yang dikatakan oleh Jakarta, sama sekali
tidak masuk akal. Karena mengikuti apa yang terjadi di Solo, Yogya dan
sebagainya, kita lihat bahwa pembunuhan massal mulai di Solo, Jawa Tengah,
persis pada hari itu baret merah masuk. Sebelumnya tidak ada. Terus satu bulan
lagi kira-kira tanggal 17 November 1965 itu sudah mulai di Surabaya persis pada
waktu RPKAD masuk. Dan sebaliknya, baru di pertengahan Desember 1965, dus
hampir tiga bulan setelah G30S, pembunuhan mulai di Bali. Sekali lagi, ketika
baret merah masuk."
Versi Soeharto tak masuk akal
"Jadi itu jelas sekali bahwa pembunuhan ini bukan sesuatu yang spontan, yang
timbul karena kemarahan rakyat dan sebagainya. Tapi timbul dalam situasi di
mana tentara masuk dan memberi sokongan kepada golongan-golongan yang anti PKI.
Malah di beberapa kasus yang saya tahu betul pada waktu itu, mereka masuk di
salah satu desa. Terus bilang pada salah satu orang di situ, mana itu orang
komunis di sini. Orang dalam desa ingin menjaga mereka punya keluarga dan sanak
saudara, bisanya bilang, ya tidak ada. Tapi tentara bilang ini daftarnya, mana
orangnya? Lalu orangnya didorong ke depan. Terus tentara itu bilang sama salah
satu orang di sekitarnya, kamu anti komunis atau tidak? Ya, saya anti komunis.
Baik, untuk membuktikan, silahkan membunuh empat orang ini. Jadi orang seperti
ini, tani biasa, antara dibunuh oleh tentara, atau membunuh temennya sendiri
atau keluarga sendiri, ya akhirnya harus cari selamat."
"Nah, cara yang begini yang sangat sadis, itu kami sudah tahu pada waktu itu.
Jadi, timbul usaha untuk coba membongkar rahasia apa sebenarnya yang terjadi
pada waktu itu. Kami mencek beberapa hipotesa. Seandainya ini Bung Karno di
belakangnya, PKI di belakangnya, tentara di belakangnya. Dan walaupun kita
tidak dapat suatu kepastian yang jelas, tapi berdasar informasi yang ada pada
waktu itu, versinya Soeharto jelas tidak masuk akal."
Proyek penting tak terlaksana
"Kami dapet kesimpulan bahwa ini mulainya dengan perselisihan di dalam tentara
sendiri. Itu selesai kira-kira tanggal 3 Januari atau 4 Januari 1966. Kami
kerja siang malam. Bertiga. Setelah selesai, kami merasa bahwa ini suatu
dokumen yang berbahaya. Bukan untuk kita sendiri. Tapi kalau tentara di Jakarta
tahu bahwa dokumen ini ada, mungkin orang-orang yang pernah ke Cornell,
orang-orang yang pernah menjadi teman kita, walaupun mereka sama sekali tidak
ada hubungan dengan apa yang kita tulis, toh bisa dikorbankan."
"Tapi di lain pihak kami ingin supaya orang-orang yang kami percaya,
orang-orang seperti Pak Wertheim, Pak Dan Lev, bisa melihat hasil riset kami.
Kami menulis pada mereka, bilang, ini kalian bisa pakai fakta-fakta yang kami
sudah dapatkan, kalau kalian ingin menulis, terserah. Tapi jangan sebut dokumen
ini. Pada waktu itu kami amatiran. Ternyata itu akhirnya bocor dan tentunya
bukan golongan Ali Moertopo cs yang marah, tapi banyak orang Amerika di
pemerintah Amerika juga marah. Karena ini seolah-olah cerita bahwa tentara
berhak untuk membunuh banyak orang. Karena memang PKI yang mau bikin kup
sebelumnya, mungkin tidak benar. Dan legitimasi pemerintah Soeharto yang sudah
jelas menuju ke diktatoran harus direstui. Dan memang itu maksudnya pemerintah
Amerika pada waktu itu."
"Yang tidak lama setelah itu saya diusir dari Indonesia. Dan dalam satu hal
sebenarnya saya merasa salah sendiri. Artinya, karena itu saya sudah merasa
tidak ada harapan untuk meneruskan riset itu tadi karena gak ada akses ke
Indonesia. Dan pada waktu itu belum ada orang lain yang bersedia untuk
meneruskannya. So ini proyek tentang saat yang sangat penting di Indonesia,
tidak sampai terlaksana. Itu ceritanya."
Kampanye Machiavellis
Radio Nederland [RN]: "Tapi menurut Profesor Anderson bahan untuk melanjutkan
studi Cornell Paper itu masih banyak dan ada dan bisa dilakukan ya?"
BA: "Ya. Bahan yang utama adalah segala macem dokumen-dokumen dari Mahmilub
yang ada. Entah berapa, mungkin 20 jilid. Yang walaupun banyak sekali informasi
lainnya, jelas itu hasil dari siksaan, toh juga cukup banyak yang menarik.
Apalagi kalau dibandingkan satu sama yang lain. Nah ini memerlukan pekerjaan
yang lama dan berat. Untuk memeriksa ini semua, membandingkannya satu sama yang
lain. Mencari kunci-kunci yang ada. Itu sampai sekarang belum dilakukan."
"Tetapi betapa pentingnya sumber ini bisa dijelaskan oleh suatu insiden yang
terjadi waktu saya kebetulan periksa ratusan halaman dari salah satu Mahmilub.
Dan di sana saya ketemu satu dokumen yang sangat penting. Yaitu visum et
repertum tentang meninggalnya Ahmad Yani dan teman-temannya yang dituduh
sebagai dewan jenderal."
"Pemeriksaan terhadap tubuh-tubuh jenderal-jenderal ini sangat teliti.
Dikerjakan oleh dokter-dokter militer dan dokter-dokter sipil di Universitas
Indonesia. Diselesaikan tanggal 3 Oktober 1965. Dan laporannya ditujukan kepada
Soeharto sebagai Pangkostrad pada waktu itu. Dari laporan ini jelas sekali
bahwa cerita yang dikeluarkan oleh Soeharto cs pada tanggal 5-6 Oktober 1965,
di koran dan di massa media bahwa orang-orang ini disiksa oleh PKI. Kemaluan
mereka dipotong-potong oleh Gerwani yang gila seks dan gila drugs. Bahwa ada
segala macam horor, dicungkil matanya dan sebagainya. Itu sama sekali tidak
bener."
"Itu sangat sengaja. Jadi laporan tentang apa yang sebenarnya terjadi sudah ada
di tangan Soeharto tiga hari sebelum kampanye horor anti PKI mulai. Jadi itu
sangat sinis, sangat dingin. Anehnya, laporan ini menjadi lampiran entah
keberapa pada akhir dari jilid Mahmilub ini itu. Dan jelas masuk dengan tidak
sengaja oleh seorang tentara kecil-kecilan yang dengan lugunya mungkin merasa
bahwa ini dokumen yang tidak penting."
"Padahal itu satu dokumen yang sangat penting dan sangat menghancurkan konsep
bahwa Moertopo, Soeharto dan sebagainya itu bertindak atas dasar keyakinan.
Tidak. Justru sebaliknya, itu suatu kampanye yang sangat Machiavellis, yang
dilaksanakan dengan penuh kesadaran."
Informasi selalu ada
"Jadi ini suatu contoh bagaimana kalau orang rajin mencari informasi itu bisa
ketemu. Jadi orang-orang tua, baik dari pihak yang menang, maupun dari pihak
yang kalah, juga bisa diusahakan. Orang-orang yang mengunjungi tapol-tapol
dalam penjara pada waktu itu mungkin mereka bikin catatan dan sebagainya, itu
belum ditelusuri."
"Saya masih ingat, sangat kebetulan pada waktu, mungkin tahun 1972, saya
membeli suatu bungkusan, apa saya nggak tahu di jalan Surabaya di Jakarta. Itu
memang daerah loak. Dan saya heran karena bungkusan itu, ternyata itu
dokumen-dokumen intel Jawa Timur, yang setelah itu saya terjemahkan dan memang
sudah diterbitkan di majalah Indonesia. Ini semacam mata-mata dari Jakarta yang
putar-putar di Jawa Timur, untuk lapor tentang apa yang terjadi di Jawa Timur
pada waktu itu."
"Dia cerita tentang perselisihan antara perwira-perwira tinggi di situ. Dia
melihat bahwa pembersihan yang jalan sangat baik di Jombang, kok ada masalah
umpamanya di Jember dan sebagainya. Banyak orang dibunuh di situ, tapi kok
sayang di daerah Bojonegoro tidak ada, dan kemungkinan sebab-sebabnya begini
begini. Kan bagaimanapun pemerintah itu suatu birokrasi yang selalu tulis
menulis, selalu ada laporan, selalu ada ini ini."
"Dan saya yakin ada gudang yang penuh dengan segala macam dokumen, yang orang
sekarang, malah tidak tahu ada apa di situ. Memang pada waktu reformasi lagi
bergejolak, salah satu harapan tersembunyi dalam hati saya adalah bahwa
anak-anak muda yang pergi rame-rame akan membongkar gudang-gudang ini dari
tangan tentara dan tangan pemerintah. Seperti yang terjadi pada tahun 1965, di
mana Deplu dibongkar, waktu itu banyak dokumen-dokumen dari zamannya
Soebandrio, kan masuk gelanggang umum."
Demikian bagian pertama wawancara Profesor Benedict Anderson dari Cornell
University.
© Radio Nederland Wereldomroep, all rights reserved
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Cornell Paper (1)