[ppi] [ppiindia] China dan Kita
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Thu, 2 Mar 2006 01:06:43 +0100
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0603/02/opini/2478592.htm
China dan Kita
Ivan A Hadar
Selama dua hari, koran ini (Kompas, 27-28/2/2006) menurunkan berita "ancaman
China". Kecemasan serupa pernah disuarakan koran ini beberapa tahun lalu.
Sejak 25 tahun terakhir, China tumbuh pesat, membuat negeri itu sebagai salah
satu aktor penting perekonomian global abad ke-21. Kini China menduduki
peringkat empat perdagangan dunia dengan porsi meningkat dari satu persen
(1980) menjadi hampir tujuh persen (2005). Hal ini mengingatkan kita pada
Jepang dan beberapa "Naga Asia". Ditilik besarannya, pengaruh China terhadap
perekonomian global di masa datang akan lebih signifikan.
Pisau bermata dua
Kini, berbagai proteksi atas serbuan garmen murah China mulai dicanangkan,
terutama setelah kesepakatan tekstil global berakhir (Multi-Fibre Agreement).
AS mulai membatasi impor beberapa produk China dan sedang menggodok regulasi
guna mengontrol tren pasar. Begitu pula UE. Akibatnya, jutaan garmen China
tertimbun di beberapa pelabuhan Eropa.
Pertumbuhan ekonomi China yang spektakuler bisa menjadi pisau bermata dua
(peluang dan bahaya) bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Sebagai pengekspor sumber daya alam, kita bisa menarik banyak keuntungan.
Namun, pada saat yang sama, industrialisasi akan kian sulit akibat persaingan.
Dengan volume impor 500 miliar dollar AS per tahun, hal itu menjadikan China
pasar ekspor terbesar ketiga di dunia. Guna memacu pertumbuhan industrinya,
China yang miskin sumber daya alam membutuhkan (bahan) energi dan hasil
tambang. "Serbuan perusahaan migas China" ke Indonesia bisa dilihat dari
kondisi itu.
Bagi eksportir negara berkembang, persaingan dengan China sering berdampak
"sudah jatuh, tertimpa tangga", berupa penyusutan jumlah kuota dan berkurangnya
keuntungan karena harus menurunkan harga jual. Para eksportir dari Indonesia
dan Banglades, yang pada tahun 1970-an pernah meraih keuntungan besar, kini
terpuruk. Sebuah organisasi internasional (Christian Aid, 2005) dalam
laporannya menyebutkan pengusaha garmen di Banglades sebagai rags to riches to
rags (melarat, menjadi kaya, kembali melarat). Kondisi sejenis juga terjadi di
Indonesia.
Produk murah
Banjir produk murah China memiliki dua konsekuensi, menguntungkan konsumen,
tetapi bagi produsen-dalam negeri-yang tidak mampu bersaing, harus membatasi
produksi atau gulung tikar. Di negara-negara yang perkembangan industrinya
masih pada tahap awal, produk China akan bersaing dengan barang impor dari
negara lain sehingga keuntungan konsumen tidak disertai kerugian produsen
lokal. Dalam jangka panjang, dominasi barang murah China yang diproduksi padat
karya akan menghambat industrialisasi negara bersangkutan.
Investasi asing di China patut dicermati. Pertama, ada kecemasan, peningkatan
investasi asing di China (akan) menyedot investasi asing di negara lain. Tahun
lalu, investasi asing di China mencapai 10 persen. Kedua, China juga mulai
investasi di luar negeri meski masih relatif kecil sekitar tiga miliar dollar
AS per tahun.
Di China, pertumbuhan ekonomi dua digit selama beberapa tahun terakhir
menghasilkan kelompok wiraswasta dan pengusaha yang terus membesar. Pendapatan
per kapita meningkat. Devisa negara melambung. Para pengamat melihat China
bakal menjadi pesaing terberat AS.
Orang miskin
Pada saat yang sama, jumlah orang miskin meningkat. Sejak dua dekade, di
pedesaan, 10 juta usaha kecil-menengah dilaporkan bangkrut. Di perkotaan,
jutaan perusahaan swasta yang bergerak di bidang transportasi, industri, dan
jasa gulung tikar. Mayoritas petani China belum menikmati "berkah" reformasi.
Begitu pula jutaan buruh industri dan pengemis mulai meramaikan kota-kota besar
China. Buruh dan pegawai rendahan terpaksa hidup pas-pasan akibat gajinya
digerogoti inflasi. Kelompok yang paling diuntungkan reformasi ekonomi China
adalah petani kaya, terutama yang tinggal dekat perkotaan, pengusaha muda
(yuppies), dan pialang modal asing.
Peneliti kondang Norwegia, Johan Galtung, dalam China: Black not Red, bertanya,
"Apakah China itu Sosialistis?" Bila sosialisme, kata Galtung, diartikan
sebagai "persyaratan bagi pemenuhan kebutuhan pokok manusia, atau hilangnya
perbedaan kelas dan perbedaan desa-kota, maka semua itu bukan ciri dominan
China saat ini". Juga kesan kita atas ekspansi perdagangannya, perusahaan China
menghancurkan jaringan perdagangan lokal yang telah dibangun puluhan tahun.
Apakah China itu kapitalistis?
Kompleksitas persoalan yang mengiringi perjalanan reformasi China, berikut
ekspansi ekonominya, mengajarkan kita, tatanan sosial-ekonomi adalah cita-cita
yang ingin digapai dan masih di tingkat konsepsi. Untuk mewujudkannya, China
mencoba "Jalan Ketiga" antara sosialisme dan kapitalisme dengan segala
kelebihan dan kekurangannya. Yang kasatmata, cita-cita itu dibuat operasional
dan didukung seperangkat institusi dan mekanisme penunjang. Tanpa itu, konsepsi
itu hanya akan berhenti pada imbauan moral atau etis. Sepertinya, ini yang
sedang terjadi di Tanah Air. Akibatnya, sejak beberapa tahun terakhir,
dibanding negara-negara tetangga sekawasan, dalam hampir segala bidang, kita
kian ketinggalan. Apalagi dibanding China. Bagi kita, kasus Freeport, Blok
Cepu, dan ancaman China di sektor tekstil bisa menjadi momentum untuk bangkit.
Ivan A Hadar Direktur Eksekutif Indonesian IDE (Institute for Democracy
Education)
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] China dan Kita