[ppi] [ppiindia] Cendekiawan Jadi Pengkhianat ?
- From: "antonhartomo" <antonhartomo@xxxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Wed, 30 Jun 2004 12:09:14 -0000
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
---
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0406/25/Politikhukum/1108721.htm
Jumat, 25 Juni 2004
Cendekiawan Jadi Mesin Politik, Sebuah Pengkhianatan
Jakarta, Kompas - Seorang cendekiawan, lembaga pendidikan, maupun
seorang
ulama tidak selayaknya menjadi mesin politik maupun terlibat dalam
dukung
mendukung calon presiden. Cendekiawan harus berdiri di tengah, tidak
partisan. Ia seharusnya bisa menjadi suara moral bagi masyarakat,
bukan
justru terlibat dalam politik kekuasaan. Jika seorang cendekiawan
menjadi
mesin politik, adalah sebuah pengkhianatan.
"Itu adalah pengkhianatan kaum intelektual, seperti yang kita
saksikan
saat ini," ujar Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah
Prof Dr Azyumardi Azra seusai acara seminar nasional "Pemilihan
Presiden
dan Pemberantasan Korupsi di Indonesia", Kamis (24/6).
Kritik terhadap para cendekiawan ini juga pernah dilontarkan oleh
Ketua
Dewan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Ahmad Syafii Ma'arif pekan
lalu
(Kompas, 21/6).
Jika alasan cendekiawan hendak melakukan perubahan di dalam kinerja
penguasa, menurut Azyumardi, hal itu tidaklah semudah yang diduga.
"Menjadikan ide atau konsep itu berkaki, bukanlah hal yang mudah
dilakukan
oleh para cendekiawan," kata Azyumardi.
Cenderung manipulatif
Ada dua alasan yang membuat para cendekiawan akan mengalami kegagalan
kalau masuk ke pusaran politik kekuasaan.
Pertama, gagasan para cendekiawan sering kali terlalu abstrak
sehingga
sulit untuk bisa dipahami oleh publik. Kedua, kemampuan para
cendekiawan
dalam hal manajemen politik masih rendah.
Mereka tidak terlatih dalam manajemen politik yang kerap terlalu
kompleks,
rumit, dan cenderung manipulatif. Dalam proses-proses manipulatif
itu,
para cendekiawan kerap kehilangan integritas kecendekiaannya.
Saat ini para cendekiawan marak mendukung para calon presiden. Ada
yang
secara terus terang menyatakan diri sebagai pendukung capres
tertentu, ada
juga yang secara sembunyi-sembunyi sebenarnya mendukung capres
tertentu.
Padahal, di sejumlah media, sang cendekiawan itu masih terus
melontarkan
opini mereka tentang analisa situasi politik saat ini.
"Mereka kerap menggunakan kerangka-kerangka ilmiah untuk memberikan
justifikasi terhadap kepentingan-kepentingan politik dan tujuan-
tujuan
politik tertentu. Saya kira itu sebuah bentuk pengkhianatan," kata
Azyumardi.
Ia menegaskan, seorang cendekiawan seharusnya menjadi moral oracle
(orang
bijaksana penjaga moral) sekaligus menjadi penyambung lidah rakyat
untuk
menyampaikan prinsip-prinsip moral. Bukannya malah mengemukakan
sebuah
analisis tetapi dibalik analisisnya tersembunyi kepentingan-
kepentingan
politis tertentu. "Itu kesalahan yang tidak terampunkan dari seorang
cendekiawan," ujar Azyumardi.
Selain mengkritik cendekiawan selaku individu, Azyumardi juga
mengkritik
lembaga-lembaga pendidikan dan pondok-pondok pesantren yang telah
memberikan dukungan terhadap capres tertentu. Jika hal itu dilakukan,
berarti lembaga pendidikan tersebut telah melakukan politisasi
pendidikan,
begitu pula dengan pondok pesantren yang telah melakukan politisasi
agama.
"Kunjungan capres ke pesantren dan memberikan bantuan sekian juta itu
adalah money politics. Apalagi jika bantuan tersebut dalam jumlah
besar
dan setelah menerima bantuan pesantren tersebut lantas mengucapkan
kebulatan tekat mendukung capres tertentu. Itu proses politisasi
agama,"
tutur Azyumardi. Sebab, perlu diingat, pesantren itu dipimpin oleh
seorang
kiai dan kiai itu dipandang sebagai representasi dari simbolisme
keagamaan. "Ulama itu juga masuk dalam kelompok cendekiawan," katanya.
Azyumardi juga menegaskan, lembaga-lembaga pendidikan, seperti
perguruan
tinggi, seharusnya mampu mengambil jarak dari proses-proses politik
yang
ada. (vin)
--- End forwarded message ---
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Cendekiawan Jadi Pengkhianat ?