[ppi] Re: [ppiindia] Cendekiawan, Godaan dan Pilihannya
- From: Yustam@xxxxxxxxx
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Tue, 22 Jun 2004 16:31:11 +0700
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
wah ini kayak joke nya para ilmuwan,
bahwa ilmuwan dan pelacur itu sebenarnya sama,
.... sudah enak dibayar lagi,
artinya seorang ilmuwan meneliti merupakan kerja yang mengasyikkan dan
nikmat,
sedang perempuan yang melacur tentu menikmati pekerjaannya.
jadi ilmuwan itu bukan mucikari, tapi pelacur
he ... 3x
kalo nggak percaya tanya sama om Einstein deh ....
salam
Yustam
------Khairur Razi <rozie@xxxxxxxxx>
Dear friends,
Menarik ucapan Syafii Maarif ttg godaan politik bagi para cendekiawan.
soalnya skrg ini banyak kalangan intelektual muda yg lagi naik daun pada
jadi "mucikari" para politisi: ada yg jadi tim sukses capres tertentu; ada
juga yg jadi tukang buatin artikel tokoh2 tertentu yg namanya ingin tampil
di kolom2 opini media tanah air, dll.
ttg kalangan intelektual muda tukang buatin artikel bapak2 pejabat/politisi
ini saya baru tau dari bisikan seorang diplomat kbri new delhi. bapak ini
menyebut mereka sebagai "pelacur intelektual".
anyway, selamat menikmati hari yg panas ini (di india). di indo lagi hujan
nggak ya?
(razi, riau)
Cendekiawan, Godaan dan Pilihannya
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0406/22/opini/1098294.htm
KEMBALI terdengar peringatan yang bisa ditafsirkan sebagai melawan arus.
Peringatan itu dilontarkan oleh Prof Achmad Syafii Maarif, Ketua Umum PP
Muhammadiyah, di depan Rapat Koordinasi Nasional Ikatan Cendekiawan Muslim
se-Indonesia di Semarang.
Dia menegaskan, seorang cendekiawan hendaknya tidak menjadi mesin politik
tertentu, karena jika sudah demikian, ia akan sulit menjaga
independensinya. Politik itu cenderung memecah masyarakat atau kelompok dan
perpecahan merupakan pemusnahan nilai-nilai persaudaraan. Karena itu,
cendekiawan juga bertindak sebagai pendakwah karena dakwah akan merekatkan
bangsa.
Karena prinsip itulah, sebagai institusi Muhammadiyah tidak akan mendukung
capres mana pun termasuk Amien Rais. Yang didukung oleh Muhammadiyah adalah
komitmennya untuk menuntaskan reformasi. Pernyataan itu mudah ditafsirkan
sebagai rancu. Tetapi disertai ketulusan dan sikap prinsipiil pengagum Bung
Hatta itu, kiranya orang dapat menafsirkan secara benar dan membuat
distingsi secara kritis.
Sebab adalah benar, cendekiawan yang independen bukannya lantas tidak
mempunyai prinsip dan tidak pula tiada membedakan mana yang benar, adil,
pantas, seharusnya dengan ukuran pokok kesejahteraan rakyat. Seorang
cendekiawan tidak memihak orang, melainkan memihak prinsip.
KITA menangkap apa yang merupakan latar belakang, pertimbangan, dan casus
belli peringatan Prof Syafii Maarif. Dalam waktu belakangan, terutama
menjelang Pemilu 2004 untuk caleg dan kemudian untuk capres dan cawapres,
tampil sejumlah kasus yang dikhawatirkan berkembang sebagai fenomena. Yakni
fenomena atau gejala berasosiasinya sejumlah cendekiawan ke dalam politik
praktis.
Beberapa terlibat aktif membangun parpol. Beberapa lagi kemudian juga
bergabung dalam tim sukses pasangan capres dan cawapres secara resmi maupun
secara tidak resmi. Beberapa memberikan kesan menyediakan diri disertakan
dalam kekuasaan hasil pemilihan presiden.
Semua itu tidak begitu salah, bahkan juga tidak begitu aib atau
mendegradasi, apalagi dilihat dari konteks Indonesia dewasa ini. Namun,
suatu isyarat dan peringatan yang bermaksud baik toh memang patut dan perlu
dilontarkan. Sekaligus untuk memperkokoh posisi kaum cendekiawan dalam
masyarakat bangsa dan negaranya.
ZAMAN kita adalah masa perubahan. Bagi Indonesia secara khusus kecuali
perubahan umum yang menimpa semua negara dan bangsa, sekaligus juga suatu
perubahan yang berlangsung dalam kerangka reformasi. Bukan saja masa
transisi, tetapi juga masa transformasi. Bahkan sesungguhnya kemampuan dan
kemauan melakukan transformasi itulah yang menentukan, reformasi itu akan
berhasil atau tidak.
Tidaklah selalu beritikad negatif atau netral ketika cendekiawan di negara
sedang berkembang terjun pula dalam gelanggang politik praktis. Misalnya
kenapa mendirikan parpol? Mungkin karena berpendapat akan lebih cepat
mewujudkan cita-citanya sebagai cendekiawan lewat jalur politik, bahkan
dengan mendirikan parpol.
BAHKAN bukankah proses itu yang pernah terjadi dalam sejarah bangsa kita,
yakni semasa zaman pergerakan dan semasa zaman perjuangan kemerdekaan. Para
pendiri dan bapak bangsa dan kemudian juga pendiri dan bapak negara kita
adalah sejumlah cendekiawan kelas dunia dalam pengetahuan, sikap, serta
perilakunya. Sebagai kelanjutan komitmen dan perjuangannya, mereka juga
terjun dalam politik. Politik kebangsaan dan kenegaraan dan kemauan juga
terjun dalam politik kepartaian.
Lantas apa bedanya dengan keadaan kita dewasa ini? Perbedaan itu memang ada
dan perbedaan itu pula yang merupakan latar belakang serta motivasi dari
isyarat dan peringatan di atas, yakni janganlah cendekiawan ramai-ramai,
begitu saja, masuk sebagai mesin politik pasangan capres. Apakah perubahan
itu?
PERTAMA, meskipun belum setara dengan negara industri maju, kita di
Indonesia juga telah menghasilkan perubahan. Jumlah kaum terdidik semakin
besar. Berlangsung pula perkembangan pembagian pekerjaan dan profesi.
Jumlahnya juga secara relatif cukup besar. Cukup besar sehingga terbuka
pilihan dan jalan yang bisa ditempuh oleh warga yang berpendidikan bagi
dirinya. Terbuka proses diferensiasi dan itulah pertanda perkembangan yang
maju dan tercerahkan.
Di antaranya terbuka pilihan posisi dan fungsi bagi kaum terdidik di negeri
kita. Di antaranya yang di mana-mana dicermati karena besar pengaruh dan
peranannya adalah pilihan bagi kaum terdidik untuk memilih jalur
kecendekiawanan, jalur intelektual.
Asosiasi posisi dan peranan kaum cendekiawan adalah akal sehat yang cerdas
serta suara hati yang tulus dan komitmen untuk sejujurnya dan seoptimal
mungkin menapaki jalur serta panggilan sebagai pengisyarat, pendakwah,
pengingat.
ADA sebab kedua, mengapa isyarat dan peringatan bagi kaum cendekiawan itu
relevan dan aktual dewasa ini. Persoalan pokok berkisar sekitar kekuasaan.
Kekuasaan kemarin bersalah guna. Kekuasaan kemarin ber-KKN. Kekuasaan
kemarin bersekongkol, di antaranya dengan pengusaha hitam dan marjinal.
Reformasi selama enam tahun terakhir bukan saja belum berhasil menghentikan
dan minta pertanggungjawaban, melainkan dirasakan dan dilihat
tanda-tandanya serta faktanya sebagai berlanjut dan menyebar.
Lewat Pemilu 2004 inilah, titik balik disepakati untuk dilaksanakan. Titik
balik kekuasaan itu demokratis, artinya bersama rakyat, bertanggung jawab,
bersih, tidak korup, bersendikan hukum, membangun kebijakan publik serta
sikap memihak kepentingan rakyat.
Diperlukan kekuatan arus balik untuk mengawal dan menjaganya. Diperlukan
contoh nyata berupa pilihan di antaranya oleh para cendekiawan untuk tidak
ikut arus dalam arus kekuasaan, tetapi bersitegak dalam posisi cendekiawan
sebagai pengisyarat, pengingat, pengontrol. Juga teladan bahwa meskipun
berpendidikan, mereka memilih jalur serta peranan yang kaya oleh kontribusi
intelektual dan nuraninya, meski relatif miskin dalam kesempatan materiil.
Luar biasa godaannya karena kita hidup dalam zaman konsumerisme yang
dahsyat.
Khairurrazi
Aligarh Muslim University
Uttar Pradesh, India
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
- Follow-Ups:
- [ppi] [ppiindia] Re: Cendekiawan, Godaan dan Pilihannya
- From: Zamhasari Jamil
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Cendekiawan, Godaan dan Pilihannya
- » [ppi] Re: [ppiindia] Cendekiawan, Godaan dan Pilihannya
- [ppi] [ppiindia] Re: Cendekiawan, Godaan dan Pilihannya
- From: Zamhasari Jamil