[ppi] [ppiindia] Catatan untuk Kabinet Baru: Kemiskinan, Pengangguran, dan Pendidikan
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Tue, 19 Oct 2004 22:21:27 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Media Indonesia
Kamis, 21 Oktober 2004
OPINI
Catatan untuk Kabinet Baru: Kemiskinan, Pengangguran, dan Pendidikan
Maddaremmeng A Panennungi: Staf pengajar dan peneliti LPEM FEUI
AKHIRNYA, pemerintahan baru resmi terbentuk sudah. Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) siap bekerja keras
dibantu dengan jajaran kabinet termasuk tim ekonominya, demi mewujudkan
janji-janjinya semasa kampanye. Dan para menteri dalam kabinet SBY-JK itu
tentu harus memfokuskan perhatian dan daya upayanya pada berbagai janji yang
pernah terucap itu.
Sepanjang diskusi pemilihan presiden yang lalu, penulis mencatat mengenai
tiga hal yang sering muncul dalam perdebatan: kemiskinan, pengangguran, dan
pendidikan. Meskipun ketiga hal tersebut hampir tak terpisahkan, namun
menarik untuk melihatnya satu per satu. Ketiga isu tersebut penulis coba
untuk tanyakan kepada mahasiswa sebuah PTN di Jakarta dalam mata kuliah
Ekonomi Pembangunan.
Isu pertama adalah mengenai kemiskinan. Pertanyaan pertama kepada mahasiswa
adalah mana lebih penting untuk diatasi apakah kemiskinan absolut (yang
sering diungkapkan dengan angka kemiskinan) atau kemiskinan relatif (yang
sering dihubungkan dengan distribusi pendapatan). Hasilnya cukup
mengagetkan, dari 30 mahasiswa, 27 (90%) mahasiswa yang menyatakan bahwa
mengatasi distribusi pendapatan yang timpang jauh lebih penting daripada
menangani kemiskinan seperti yang selama ini kita kenal. Hanya 1 mahasiswa
(3,3%) yang memprioritaskan masalah kemiskinan absolut, sementara 2 lainnya
(6,7%) menganggap keduanya harus diprioritaskan secara bersama-sama.
Alasan yang signifikan dikemukakan bagi yang memilih mengatasi distribusi
pendapatan yang timpang (90% dari total mahasiswa) mengarah kepada suatu hal
yang menurut penulis sangat penting: menghindari permasalahan (kerusuhan)
sosial dalam jangka panjang. Alasan ini menggiring penulis untuk menengok
indikator penting tapi paling sering dilupakan: gini coefficient. Indikator
tersebut merupakan salah satu cara untuk mengukur tingkat ketimpangan
distribusi pendapatan (dalam pengukurannya menggunakan pengeluaran), dimana
jika nilainya makin kecil makin merata dan jika nilainya makin besar berarti
makin timpang. Beberapa tahun penting sebagai berikut: tahun 1964 (menjelang
kerusuhan G 30 S/PKI 1965) sebesar 0,35; tahun 1996 (menjelang krisis
ekonomi dan politik 1998) sebesar 0,36; tahun 1999 (saat krisis ekonomi dan
politik memuncak) sebesar 0,32; serta tahun 2002 (saat ekonomi mulai
memperlihatkan tanda perbaikan) sebesar 0,34 (UNDP,2003).
Nampak dari angka-angka gini coefficient bahwa menjelang peristiwa
G-30-S/PKI (1965) dan menjelang krisis ekonomi politik 1998, ketimpangan
distribusi pendapatan memang lebih besar dibandingkan dengan tahun lainnya.
Hal lain yang cukup menarik minat untuk dibahas lebih lanjut adalah mengapa
di saat krisis ekonomi politik yang paling parah, justru ketimpangan
distribusi pendapatan malah rendah di tahun 1999?
Ada dua spekulasi jawaban yang penulis bisa kemukakan: pertama alasan
ekonomi dan kedua alasan politik. Alasan ekonomi mengingatkan kita akan
teori dasar Lewis mengenai sektor tradisional (pertanian di pedesaan) dan
modern (industri di perkotaan). Krisis ekonomi membalikkan arah dari
pergerakan produksi sektor tradisional ke modern menjadi sebaliknya.
Fenomena terbalik ini dapat dilihat dari bangkrutnya usaha besar di
perkotaan terutama di kota besar Jawa dan bangkitnya agrobisnis dan sektor
primer di pedesaan utamanya di luar Jawa. Tentunya pembalikan ini diikuti
oleh distribusi pendapatan antara individu dalam sektor modern dan
tradisional. Alasan politik dapat dilihat dari menurunnya peranan elit
Partai Golkar yang established dan meningkatnya peranan Partai lain,
terutama PDIP dan PKB yang berbasis pada masyarakat menengah ke bawah.
Pergeseran politik ini tentunya berpengaruh pada struktur pejabat
pemerintahan dan parlemen yang turut serta mempengaruhi pembagian
pendapatan.
Isu kedua adalah mengenai pengangguran. Pertanyaan yang diajukan ke
mahasiswa tidak langsung berhubungan dengan pengangguran, tapi menyangkut
sekor informal di perkotaan atau kegiatan informal di perkotaan. Mahasiswa
diminta menerangkan faktor penyebab maraknya kegiatan informal di perkotaan
sejak krisis ekonomi 1998 dan alternatif kebijakannya. Jawaban yang sering
muncul baik sendiri-sendiri maupun bersamaan mengenai faktor: (1) Migrasi
penduduk dari desa ke kota yang disebabkan perbedaan upah yang tinggi desa
dan kota, namun lapangan pekerjaan di sekor formal terbatas; (2) Pertumbuhan
penduduk yang tinggi yang berlanjut pada maraknya angkatan kerja baru yang
hendak masuk pasar kerja; (3) Menurunnya permintaan tenaga kerja serta PHK
dari sektor modern yang sedang kena krisis; (4) Upah di sektor modern yang
relatif kaku.
Mungkin jawaban mengenai faktor di atas bagi pembaca sangat text book, tapi
akan menjadi menarik kalau melihat usulan kebijakannya. Faktor pertama,
seharusnya ada kebijakan yang menarik penduduk untuk tetap tinggal di
pedesaan, khususnya bekerja di sektor pertanian. Faktor kedua lebih
fundamental lagi, yaitu usaha Keluarga Berencana lebih digiatkan lagi,
karena nampaknya setelah 1998 mulai agak kendur. Hal ini bisa menciptakan
momentum baru bagi pertumbuhan penduduk yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Faktor ketiga disarankan agar kebijakan diarahkan untuk menstimulasi
kegiatan ekonomi produktif. Serta faktor keempat, yang nampaknya sudah
sering diungkapkan di media massa, harus diusahakan lebih fleksibel.
Menarik untuk melihat faktor 3 dan 4 dihubungkan dengan deindustrialisasi
dan sektor informal yang sering dilontarkan oleh para ekonom. Harap dipahami
bahwa deindustrialisasi merupakan gejala normal di negara maju, ketika
sektor industri mengalami penurunan tenaga kerja yang diikuti oleh
meningkatnya tenaga kerja di sektor jasa. Sementara untuk Indonesia,
deindustrialisasi merupakan gejala abnormal, dimana adanya PHK massal dari
sektor industri yang diikuti oleh berkembangnya sektor informal di
perkotaan. Jadi berkembangnya sektor informal yang sering diromantisasi
sebagai ekonomi kerakyatan, harus ditanggapi dengan kebijakan yang
hati-hati.
Isu ketiga adalah pendidikan. Pertanyaan yang penulis ajukan adalah
setujukah dengan pencabutan subsidi PTN dan apa saran sehubungan dengan
pilihannya? Hasilnya juga cukup mengagetkan: 28 mahasiswa (93,33%)
menyatakan setuju dengan alasan keadilan, karena subsidi di PTN untuk
mahasiswa yang kebanyakan dari mahasiswa menengah ke atas. Sementara hanya 2
mahasiswa (6,67%) menyatakan tidak setuju karena alasan keadilan juga, yaitu
tidak semua mahasiswa PTN kaya.
Yang menarik adalah saran yang dikemukakan bagi yang mengaku setuju:
Pertama, harus ada subsidi silang bagi mahasiswa mampu dan tidak mampu.
Kedua, bujet pemerintah untuk pendidikan tidak boleh menurun dan subsidi
dari PTN dialihkan untuk subsidi di sekolah dasar dan menengah. Ketiga,
saatnya memerhatikan micro education: sesuatu yang berhubungan dengan
kualitas belajar mengajar seperti perpustakaan, kurikulum, training buat
guru, dan tentunya kesejahteraan pengajar. Sementara yang tidak setuju
dengan pencabutan subsidi mengingatkan bahwa pendidikan merupakan tugas
Negara.
Apa yang penulis coba gambarkan di atas mengenai tiga isu penting bermaksud
untuk mengingatkan kembali kepada kita apa-apa yang cukup dianggap penting
dan menjadi isu sentral selama kampanye pemilihan presiden. Mengenai
langkah-langkah dan format kebijakan yang akan diambil kita akan tunggu
dalam lima tahun ini yang akan dimulai terhitung dari pengumuman kabinet
mendatang
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Catatan untuk Kabinet Baru: Kemiskinan, Pengangguran, dan Pendidikan