[ppi] [ppiindia] Catatan Harian Seorang Mantan Presiden
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Tue, 29 Nov 2005 11:08:12 +0100
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.geocities.com/k2psi_lsm/artikel1.htm
Catatan Harian
Seorang Mantan Presiden
(Membongkar Dokumen Soeharto)
Oleh Hafis Azhari
1
Sudah lama aku menunggu kesempatan seperti ini.
Sudah lama aku mempelajari buku-buku filsafat politik tentang cara-cara
memimpin negeri. Aku hafal betul tentang apa yang ditulis oleh Machiavelli
tentang teori-teori kepemimpinan serta cara-cara mengambil-alih kekuasaan. Aku
sudah paham tentang tokoh-tokoh dalam filsafat Jawa, khususnya mengenai
trik-trik Raja Kresna untuk menyelesaikan berbagai persoalan di muka bumi. Ya,
dialah satu-satunya ahli strategi para Pandawa yang paling jitu. Figur
reinkarnasi dari Wisnu yang identik dengan kebijaksanaan sejati.
Bagaimanapun aku harus mengarungi dunia dan tradisi Jawa yang sudah
berjalan selama berabad-abad. Dunia pewayangan Jawa yang sangat kaya, dan
begitu melekat dalam pandangan hidup rakyat Nusantara, juga berpengaruh kuat
dalam gerak-langkah hidup mereka.
Tentu tidak lupa aku mempelajari buku-buku dari Negeri Cina juga,
khususnya mengenai soal-soal kepemimpinan. Ada sebuah buku menarik berjudul
"Ping Fa" yang dikarang oleh Sun Tzu sejak 510 BC. Buku itu diterjemahkan dalam
bahasa Prancis oleh Joseph Amiot sejak 1782 M, kemudian diinggriskan dengan
judul "Principles of War". Selama berminggu-minggu aku merenungi isi yang
terkandung di dalamnya, hingga sampailah pada kesimpulan bahwa buku itu harus
menjadi guru suciku, dan tidak boleh ada orang lain yang ikut membacanya.
Buku itu aku peroleh dari seorang petinggi militer, pada tahun-tahun
ketika aku mengadakan studi kemiliteran di Seskoad (Sekolah Staf Komando
Angkatan Darat). Sudah diterjemahkan pula ke dalam bahasa Indonesia , entah
oleh siapa. Namun bagaimanapun buku itu akan kujadikan pegangan hidupku, dan
sampai sekarang pun akan tetap menjadi rahasia dalam hidupku.
2
Dulu waktu pangkat militerku masih rendah, bersama teman-teman tentara dan
kerabatku, sering kami selundupkan barang-barang milik perusahaan Negara,
bahkan memanipulasi dump kendaraan bermotor milik Divisi Diponegoro di Jawa
Tengah. Kami pun sudah terbiasa mengadakan pungutan-pungutan liar untuk
barang-barang kebutuhan rakyat. Namun semua itu tidak berjalan mulus. Suatu
ketika kami terpergok dan tertangkap basah. Kemudian oleh seorang jenderal
diusulkan kepada Presiden Soekarno bahwa aku mesti dipecat dari dunia
kemiliteran. Seketika itu aku manfaatkan Jenderal TNI Gatot Soebroto - bapak
angkatnya Bob Hasan - agar menghadap Soekarno secara langsung, supaya dia
memberi maaf dan mengampuni segala perbuatan kami. Saat itu Soekarno pun
mengusulkan agar kami dididik dan disekolahkan saja, karena menurutnya,
"Tingkat budaya dan peradaban angkatan perang kita masih rendah, karena itu
kita semua harus bertanggungjawab untuk mendidiknya dengan baik," begitulah
kata Soekarno, meskipun
aku tidak paham apa yang diomongkannya itu.
Segeralah Pak Gatot Soebroto mengontak Soewarto, seorang komandan
Seskoad sekaligus agen aktif CIA, yang kemudian berhasil menatar dan
membekaliku dalam suatu kursus regular sebagai staf komando angkatan darat.
Mulai sejak itulah karir militerku cukup lancar dan terarah, meski
semuanya tak terlepas dari gagasan dan kebijakan Soekarno sendiri selaku
Presiden RI . Oleh karena itu aku berusaha merahasiakan periode ini dalam
sejarah hidupku kelak. Aku tidak akan menyebut-nyebut soal jasa-jasa Soekarno.
Dia memang bukan sembarang orang dalam sejarah berdirinya republik yang besar
dan kaya-raya ini.
3
Peristiwa 30 September 1965 berkobar.
Keributan dan huru-hara di Jakarta membuat aku merasa tenang dan puas,
seakan-akan masadepan sudah bersinar dalam hatiku. Separah apapun kerusakan dan
kerugian, bahkan sebanyak apapun korban yang ditimbulkan, aku berusaha bersikap
diam dan tak ambil peduli.
Biar sajalah kekacauan itu terjadi. Tiapkali ada krisis kepercayaan
pada pemerintah, biasanya kekerasan dan kekacauan timbul di mana-mana. Kalau
perlu pembunuhan dan pembantaian sekalipun.
Waktu itu pangkatku sudah Mayor Jenderal, dan posisiku sudah menjabat sebagai
Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad). Sampai kapanpun aku tetap
akan merahasiakan, bahwa karena jiwa pemaaf dan kearifan Soekarno-lah yang
membuatku berhasil dalam meniti karir setinggi itu di dunia kemiliteran.
4
Sekali lagi, biar sajalah kerusuhan dan huru-hara itu terjadi.
Yang penting, sebelum tanggal 30 September 1965 posisiku harus berada
di rumah sakit. Kini sudah kubawa seorang anakku ke rumah sakit, karena kakinya
kesiram sayur sop. Aku akan menemaninya di rumah sakit, meskipun bisa diwakili
oleh istriku atau anak sulungku, tetapi akulah yang harus menunggunya di sana .
Soalnya, sebelum kejadian itu telah datang seorang Komandan Brigif
bernama Latif ke rumahku, untuk melaporkan adanya "Dewan Jenderal" serta
rencana sekelompok perwira untuk mencegah percobaan kup oleh para jenderal,
serta rencana untuk merebut kepemimpinan Soekarno.
Pelapor itu aku catat sebagai orang berbahaya, dan kelak akan
kuasingkan di suatu tempat tersembunyi, serta tidak akan kubiarkan dia bicara
di depan publik sampai kapanpun.
Orang bernama Latif itu sebetulnya tentara kepercayaanku sejak dulu.
Waktu kehidupan keluarga kami masih sulit, dialah yang carikan beras untuk
kami, juga dia yang carikan uang tambahan untuk keperluan keluarga kami.
Tapi bagaimanapun tetap aku catat sebagai orang berbahaya, supaya
jangan membongkar persoalan-persoalan penting di masa lalu.
Dalam pledoinya di pengadilan Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmillub)
orang ini memberi pernyataan tegas:
"Kenapa harus saya yang berdiri di sini, Pak Hakim? Kenapa bukan
Soeharto? Padahal dia sudah tahu akan adanya Gerakan di pagi hari."
Orang brengsek ini memang telah dua kali melapor sebelum peristiwa
itu meletus. Pada malam 30 September dia menghadap lagi ke rumah sakit, katanya
akan dilancarkan Gerakan pada pagi hari, guna mencegah terjadinya kudeta yang
akan dilakukan oleh Dewan Jenderal.
Laporan itu tidak kutanggapi dan aku diam saja. Walaupun aku paham,
mestinya tugas pengamanan ada di tanganku. Ya, sebagai Panglima Kostrad
sekaligus orang kedua di Angkatan Darat, pada malam itu mestinya kuberitahu
semuanya agar bersiap-siaga untuk pengamanan, karena pagi harinya akan ada
Gerakan.
Tapi apapun yang akan terjadi, biar sajalah. Toh sejak dulu aku
jarang diperhitungkan di Angkatan Darat. Kalau ada rapat-rapat petinggi
militer, sepertinya mereka tidak pernah mengundangku. Boleh jadi mereka
berpendapat bahwa aku ini bukan siapa-siapa, dan tidak mengerti apa-apa.
Dan sekarang, buktikan, siapa di antara kami yang menjadi orang nomor
satu di negeri ini. Cara apapun harus ditempuh, dan aku akan memperjuangkannya
sesuai pendirian dan keyakinanku.
Pada tanggal 1 Oktober 1965, sekitar jam 06.00 pagi aku akan
mengenakan seragam tempur, untuk menunjukkan pada orang-orang bahwa aku sudah
menghadap Presiden. Kalau Jenderal Ahmad Yani sudah mati, bukankah aku -
sebagai orang kedua - yang mestinya memberi laporan pada Presiden Soekarno?
Tapi aku hanya berpura-pura di hadapan mereka semua. aku tidak perlu
bertanggungjawab. apapun yang terjadi, biar sajalah..
5
Sekarang impian dan ambisiku sudah tercapai. Aku adalah Presiden
kedua Republik Indonesia . Jalan apapun harus ditempuh. Aku manfaatkan segala
pengetahuan dan pengalaman hidupku. Aku tidak akan menyia-nyiakan semuanya itu.
Kini Presiden Soekarno sudah jatuh. Menyusul pembantu-pembantu dan
para pendukungnya harus dijatuhkan pula. (Lebih baik kupergunakan istilah
"diganti" daripada "dijatuhkan"). Jadi, aku mengganti kepemimpinan Soekarno
sekan-akan akulah yang dipercayakan menduduki tampuknya. Kini mereka semua
harus "diamankan" (aku sengaja tidak memakai istilah "ditangkap"). Ya, mereka
adalah the founding fathers, para perintis dan pendiri republik yang berupaya
keras untuk berkorban memerdekakan bangsa ini. Dan siapa pula yang tidak
mengenal Soekarno, satu-satunya pahlawan yang sanggup mempersatukan wilayah
Nusantara, menciptakan persatuan di antara banyak suku, agama dan ideologi. Dia
berhasil merumuskan dasar negara serta diproklamasikannya Republik Indonesia .
Daya pukaunya dalam berpidato, telah sanggup membuat rakyat bergerak penuh
semangat, bahkan rela berkorban dan mati demi kemerdekaannya.
Tentang itu semua, sejarah kita belum mencatatnya secara utuh dan
bulat. Para sejarawan masih takut. Karena itu istilah "revolusi" kelak akan
kami batasi sebagai perang kemerdekaan. Adapun lahirnya Pancasila, kelak kami
rahasiakan pada angkatan muda.
Kini sejarah baru harus diciptakan. Aku kerahkan para penulis dan
budayawan yang memihakku, serta kuberikan sarana dan fasilitas agar mereka
menulis tentang seluk-beluk sejarah Indonesia . Kemudian kusensor karya-karya
mereka secara ketat, agar terjadi keseragaman pandangan bahwa sejarah bangsa
dan negeri ini identik dengan peristiwa 30 September 1965, yang di kemudian
hari kuberi nama G30S/PKI.
Maka apapun yang terjadi sebelum itu, sebesar apapun, tak perlu
dikategorikan sebagai sejarah Indonesia .
6
Belakangan muncul beberapa penulis dan budayawan yang menaruh perhatian khusus
pada pledoi dan kesaksian Latif di pengadilan Mahmillub. Kemudian muncul pula
sebuah penerbit buku independen yang menamakan diri "Hasta Mitra", dan dimotori
oleh Joesoef Isak, Pramoedya Ananta Toer dan Hasjim Rachman.
Segeralah kukerahkan para penulis dari kalangan sejarawan, budayawan dan
seniman agar mereka kompak mendukung pernyataanku tentang seluk-beluk peristiwa
30 September 1965 itu. Telah kubentuk tim khusus untuk menciptakan sejarah baru
tentang peristiwa itu; telah kukumpulkan sekelompok masyarakat untuk membikin
kesaksian palsu; telah kubentuk tim dokter khusus untuk menyampaikan pembuktian
yang dimanipulasi; juga telah kubangun tugu besar dan museum khusus untuk
menciptakan kenangan dan ketakutan rakyat; bahkan aku namai museum itu dengan
sebutan "Museum Lubang Buaya".
Aku ciptakan kreasi itu dengan detil-detil cerita fiktif yang menakutkan. Dan
beginilah kisah kejadian itu:
"Pada pagi hari suatu Gerakan dari Partai Komunis Indonesia telah membantai dan
membunuh jenderal-jenderal yang merupakan tulang-punggung bagi berjalannya
revolusi negeri ini. Jenderal-jenderal itu telah diinterogasi dan dilukai
sekujur tubuhnya. Kemaluannya dipotongi, dibiarkan mereka merintih
bergelimpangan. Sedangkan para wanita yang tergabung dalam Gerakan Wanita
Indonesia (Gerwani) berlenggak-lenggok mengelilingi para korban, sambil
mengadakan tarian-tarian cabul."
Yang jelas, aku harus membuat kreasi ini sebagus mungkin, agar seluruh
masyarakat merinding ketakutan. Bahkan kuciptakan kreasi khusus, bersama
bukti-bukti palsu bahwa Soekarno telah terlibat aktif dalam peristiwa tragis
itu. Aku jadikan peristiwa itu patokan untuk memancing rasa kebencian. Untuk
mengungkap gambaran-gambaran sang musuh sebagai penitisan kebejatan, sebagai
lambang penderitaan manusia Indonesia sejak 1965 sampai kapanpun di masa yang
akan datang.
Ya, sudah kupelajari teknik-teknik seperti ini dari buku-buku tentang angkatan
perang. Suatu teknik yang terbilang ampuh, dan sepanjang sejarah banyak
dimanfaatkan angkatan perang di seluruh dunia. Dan kini, begitu banyak sarana
teknologi untuk memberitakan kabar, sebagai pengungkap lambang dan
simbol-simbol, yang kelak dapat membuat bulu kuduk siapapun akan merinding
ketakutan.
7
Bicara tentang angakatan muda dan mahasiswa, yang kelak disebut sebagai
"Angkatan 66", mereka punya andil tersendiri yang dapat kumanfaatkan bantuannya
pada peristiwa 30 September 1965 itu.
Ya, dari merekalah gerakan dimulai, dari mulut merekalah sumpah-serapah
dilontarkan, di kampus-kampus, di lapangan hingga sampai ke jalan-jalan raya.
Dari fasilitas militer juga disediakan truk-truk hingga panser untuk
mengangkuti mereka agar berteriak-teriak menentang Soekarno. Spanduk-spanduk,
yel-yel bertebaran di mana-mana. Belum lagi bantuan dana dari CIA, ditambah
lagi bantuan jaket-jaket kuning agar dikenakan oleh para demonstran.
Lantas kukerahkan utusan khusus untuk memaksa orang-orang Telkom agar memutus
aliran telpon pada saluran-saluran yang telah kutentukan.
Bersamaan dengan itu Mayjen Pranoto Reksosamodra telah ditunjuk oleh Presiden
Soekarno selaku Care-Taker MENPANGAD. Aku harus mengupayakan agar dia tak bisa
dihubungi, kalau perlu mencegahnya agar tidak datang memenuhi panggilan
Presiden di Halim.
Sebelum itu, pada tanggal 1 Oktober 1965 sekitar jam 06.30 pagi, telah kuutus
Brigjen dr. Amino agar memberitahu Pranoto perihal penculikan Letjen Ahmad Yani
beserta jenderal-jenderal lainnya. Pranoto kontan berangkat menuju Markas Besar
Angkatan Darat (MBAD) serta mengadakan rapat darurat. Setelah ditampung hasil
laporan dari sumber-sumber yang telah diatur sedemikian rupa, maka rapat MBAD
menyimpulkan begini:
"Letjen Ahmad Yani beserta lima jenderal lainnya telah diculik oleh sepasukan
penculik yang belum dikenal. Dengan ini rapat memutuskan bahwa Mayor Jenderal
Soeharto, panglima Kostrad, agar mengambil-alih pimpinan Angkatan Darat yang
sedang fakum."
Pagi itu melalui kurir khusus, keputusan rapat segera disampaikan kepadaku,
yang waktu itu sudah menunggu di Makostrad.
Dan sewaktu muncul siaran RRI tentang penunjukan Pranoto sebagai Care-Taker,
maka berturut-turut utusan Presiden memanggilnya agar segera menghadap ke
Halim. Para utusan itu ialah Letkol Infantri Ali Ebram, Brigjen Sutardio,
Brigjen Sunario dan Kolonel Bambang Wijanarko.
Tapi apapun yang mereka lakukan, kini Pranoto sudah masuk jebakan dalam
hubungan komando-taktis di bawah kewenanganku. Dia tidak akan bisa menghadap
Presiden tanpa mendapat izin dan restu dariku. Dan sewaktu dia meminta izin,
jelas aku larang mentah-mentah dengan suatu ancaman:
"Kalau kau memaksakan diri menghadap Presiden, kami tidak bertanggungjawab akan
kemungkinan adanya korban lagi.."
8
Tibalah waktunya pada tanggal 14 Oktober 1965, setelah melalui
macam-macam proses kejadian, ketika secara resmi aku telah menjabat Kepala Staf
Angkatan Darat (KSAD), maka segeralah dibentuk susunan staf-staf baru, dan kini
Pranoto hanya kami tempatkan sebagai perwira tinggi yang diperbantukan pada
KSAD.
Kemudian pada tanggal 16 Februari 1966 kuperintahkan pasukan khusus
untuk menahan Pranoto dengan tuduhan: terlibat dalam G30S/PKI. Pada tahun itu
kuperintahkan agar ia segera dikenakan tahanan rumah, hingga kemudian
dipindahkan ke Inrehab Nirbaya pada tahun 1969, juga dengan tuduhan yang sama.
Dan untuk memperketat pengucilan dirinya sebaiknya ia dikenakan skorsing
sebagai anggota angkatan darat, dengan tidak diberi gaji skorsing, juga tidak
perlu diberi tunjangan apapun.
Lantas memasuki tahun 1981 ketika posisiku sebagai Presiden semakin
diakui masyarakat, dan setelah keberhasilanku menciptakan mitos Bapak
Pembangunan, maka kuperintahkan Panglima Kopkamtib untuk membuat surat
pembebasan resmi. Hingga terhitung sejak tanggal 16 Februari 1981 Pranoto
kubiarkan bebas dari tahanan, yang berarti bahwa selama 15 tahun ia mendekam
dalam tahanan, tanpa pemberhentian dan pemecatan resmi dari keanggotaan
Angkatan Darat. Juga tanpa pemeriksaan melalui proses dan pembuatan berita
acara resmi.
Kini kubiarkan ia bebas dan - kalau perlu - silakan berbaur dengan
masyarakat luas. Lagipula siapa yang akan mengakui keberadaan dia, dan siapa
pula yang akan mendengarkan omongannya. Kini kepercayaan publik telah terpusat
kepadaku sebagai Bapak Pembangunan, terutama jasa-jasaku dalam membangun negeri
bersama dengan segala keamanan dan ketertiban nasional.
Orang-orang semacam dia tidak perlu direhabilitasi, serta tidak usah
diberi uang pensiun sampai kapanpun. Dan pada suatu hari aku pun menerima
laporan bahwa ia telah wafat di suatu rumah kumuh di wilayah Kramatjati,
Jakarta .
Pranoto adalah satu dari sekian banyak pembantu dan pendukung
Soekarno, yang kubiarkan mengalami nasib hidup seperti itu. Sekarang buktikan,
siapa yang menang dan berjaya di antara kita..
9
Sudah lama di kalangan masyarakat terjadi polemik yang dapat kusimpulkan
menjadi dua golongan, yakni mereka yang berpendapat bahwa revolusi sudah
selesai, sedangkan yang lain mengatakan bahwa revolusi belum selesai.
Soekarno pernah menegaskan bahwa revolusi Indonesia harus melingkupi segala
bidang sosial-politik, budaya dan ekonomi sekaligus. Bahwa revolusi kemerdekaan
1945 hanyalah jembatan emas, dan kita harus memperjuangkan kemerdekaan dalam
arti yang sebenar-sebenarnya.
Entahlah, apa lagi yang diomongkan oleh Soekarno. Aku tidak paham.
Sekarang aku hanya membagi menjadi dua kekuatan saja, yakni siapa-siapa yang
berpihak dan mendukung pemerintahanku, sedangkan yang lain dapat digolongkan
sebagai kelompok yang membahayakan, dan karenanya harus disingkirkan.
Dari kalangan seniman sudah jelas siapa mendukung siapa. Siapa kubu bagi siapa.
Maka segeralah dikerahkan kesatuan-kesatuan tentara guna membakar rumah-rumah
tokoh seniman yang membangkang. Dan kami tinggal menunggu kabar-berita dari
para utusan, apakah tugasnya berhasil, tanpa peduli berapa korban yang
ditimbulkan dari aksi-aksi pembakaran rumah itu. Lagipula, mereka toh akan
mengira bahwa tindakan itu akibat dari ulah-ulah lawan polemik mereka sendiri
sesama seniman.
Ada seorang seniman yang - karena keberaniannya - membuat kami kesulitan untuk
menangkapnya, hingga sesudah berkali-kali utusan dikerahkan, selalu saja
membawa laporan yang sangat menjengkelkan. Maka kubuatkan saja skenario khusus
untuk proses penangkapannya.
Seniman satu itu pernah menulis novel tentang taktik perang gerilya sejak masa
kemerdekaan. Dari catatan sejarah dapat dilihat bahwa ia pernah
malang-melintang di dunia revolusi, bahkan pejuang keras dalam menyelesaikan
persoalan sejarah sastra Indonesia . Pada awal revolusi 1945 dipimpinnya sebuah
majalah yang kemudian dinyatakan terlarang oleh pemerintah pendudukan Belanda.
Dia aktif menyebarkan selebaran-selebaran gelap untuk usaha-usaha revolusioner,
yang membuatnya pernah tertangkap dan dikucilkan di Pulau Edam pada tahun 1949.
Waktu penangkapannya, militer Belanda menyita empat novel karyanya mengenai
peristiwa-peristiwa pada awal-awal revolusi 1945.
Ya, tentulah dia adalah orang yang patut diperhitungkan dengan serius. Yang
jelas, dari beberapa tulisannya dapat dipahami bahwa dia adalah pendukung setia
dari kebijakan-kebijakan politik Soekarno.
Dan untuk menghadapi seorang ahli perang gerilya, tentulah dibutuhkan
siasat-siasat khusus untuk dapat meringkusnya.
10
Setelah berhasil ditangkap, aku mengutus seorang mayor dan dua letnan
untuk menginterogasi seniman itu. Aku tinggal menerima laporan dari mereka,
dengan menyediakan sebuah tape recorder dari hasil rekaman selama interogasi
itu:
Ditanyakan oleh seorang letnan, bagaimana pendapatnya tentang Gerakan
Untung, kemudian seniman itu menjawab:
"Aku tidak tahu apa-apa tentang Gerakan itu."
"Apakah Anda membenarkan Gerakan itu?"
Seniman itu diam, kemudian jawabnya:
"Kalau dapat kesempatan mempelajari peristiwa Gerakan 30 September, mungkin
dalam beberapa tahun akan bisa saya jawab."
"Anda percaya negara Indonesia ini akan menjadi negara komunis?"
"Mungkin tidak."
"Kenapa?"
"Karena faktor geografi dan konservatifitas rakyat kita."
Rupanya memang sulit untuk mencari-cari kesalahan dari pernyataan-pernyataan
seniman itu. Namun karena dia termasuk pendukung setia dari pemikiran-pemikiran
Soekarno, aku berkesimpulan bahwa orang ini akan membawa masalah di kemudian
hari. Aku tetap menggolongkan dia sebagai orang berbahaya yang harus dijadikan
korban.
Dan bukankah Raja Kresna dalam filsafat Jawa tidak mengkhawatirkan berapapun
jumlah korban, demi kelancaran pembangunan dan stabilitas negeri.?
11
Untuk menangani para pembantu dan pendukung Soekarno rupanya tidak bisa seperti
membalikkan telapak tangan. Aku harus mengerahkan ahli-ahli strategi dari
kalangan militer, serta harus diperbantukan oleh pihak intelijen internasional
seperti CIA. Dukungan dan bantuan Amerika memang sangat menggiurkan bagi
kepentingan Angkatan Darat Indonesia, yang sejak tahun 1955 telah
terang-terangan menampakkan kecurigaanya pada Soekarno, terlebih-lebih ketika
ia diakui sebagai pemimpin besar Asia-Afrika.
Maka segeralah di bulan-bulan awal tahun 1966, harus dikerahkan aksi-aksi
profokasi untuk membuat keributan dan kekacauan di sekitar ibukota Jakarta,
untuk menunjukkan bahwa pemerintahan Soekarno sudah tidak berdaya lagi untuk
mengatasi aksi-aksi kerusuhan itu. Selain itu, aku akan mengusahakan agar
Soekarno membuatkan surat-resmi yang berisi "pelimpahan kekuasaan", dengan
ancaman bahwa aku tidak mau bertanggungjawab mengenai korban-korban, sekiranya
kekuasaan negeri tidak dilimpahkan kepadaku.
Saat itu di Istana Merdeka akan dilangsungkan Sidang Kabinet untuk membahas
persoalan "tiga tuntutan rakyat" (tritura), maka dikerahkanlah sekelompok
pasukan tentara berpakaian preman untuk membikin keributan di sekitar Istana
Merdeka, serta untuk mengacaukan berlangsungnya Sidang Kabinet yang akan segera
dilangsungkan. Kemudian ketika sidang dialihkan ke Istana Bogor, kuciptakan
aksi-aksi teror hingga acara pun gagal lagi untuk ke sekian kalinya.
Sementara itu di Jakarta sedang hiruk-pikuk oleh kerusuhan dan bentrokan keras
antara mahasiswa dan aparat, maka korban-korban pun berjatuhan di sana-sini,
antara lain dua korban yang kami tampilkan untuk menunjukkan ke publik bahwa
pemerintahan Soekarno telah layak disebut sebagai "diktator". Dua korban itu
adalah Arif Rahman Hakim dan Zainal Sakse, yang kelak akan kuberi gelar
"Pahlawan Ampera" atau Amanat Penderitaan Rakyat, yang di kemudian hari
berhasil memuluskan harapanku untuk membentuk Kabinet Pertama Orde Baru, dengan
sebutan "Kabinet Ampera".
12
Pada tanggal 11 Maret 1966 tiga orang Jenderal bawahanku telah kuutus untuk
membawa surat pada Presiden Soekarno, yang isinya telah diatur sedemikian rupa,
bahwa aku, Soeharto, tidak akan bertanggungjawab mengenai keamanan negeri,
seandainya tidak diberikan kekuasaan penuh untuk menumpas G30S/PKI di seluruh
Indonesia.
Aku mintakan tiga Jenderal itu agar mendesak Presiden, supaya ia bersedia
membuatkan surat perintah khusus kepadaku, yang kelak surat itu disebut sebagai
Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret), meskipun redaksinya telah kurubah
dari perintah pengamanan Jakarta, menjadi "pelimpahan kekuasaan kepada Jenderal
Soeharto". Seketika itu kami umumkan mengenai surat itu, dan kami nyatakan pada
masyarakat bahwa surat itu adalah mukjizat dari Tuhan yang dianugerahkan kepada
rakyat dan bangsa Indonesia .
Sebagai gebrakan awal, meskipun dengan cara-cara teror dan kekerasan, kami pun
berhasil membubarkan Partai Komunis di seluruh Indonesia . Dalam beberapa hari,
limabelas menteri pendukung Soekarno berhasil kami tangkap. Aku berpura-pura
tidak tahu ketika Soekarno menyatakan kaget mendengar gebrakanku ini. Kabarnya
dia bertanya-tanya, kenapa Soeharto melakukan tindakan-tindakan yang tidak
dikonsultasikan lebih dahulu? Maka dalam hati aku menjawab, mengapa harus
dikonsultasikan? Ini adalah politik, dan politik adalah siasat, dan siasat yang
jitu harus diraih dengan sekuat-mungkin tanpa perlu konsultasi dari pihak
manapun.
Kemudian langkah-langkah selanjutnya, sebaiknya dipercepat sajalah.
Pada tanggal 25 Juli 1966 harus diadakan Sidang Umum IV MPRS. Kabinet
pemerintahan Soekarno (Dwikora) yang 15 menterinya telah ditahan, segara kami
bubarkan. Sebagai gantinya kami bentuk kabinet baru AMPERA (Amanat Penderitaan
Rakyat), yang tentunya akulah yang harus tampil sebagai Ketua Presidiumnya. Dan
puncaknya segeralah diselenggarakan Sidang Istimewa MPRS dari tanggal 7 hingga
12 Maret 1967 yang membuat aku diangkat menjadi Pejabat Presiden, dan kontan
disambut hangat oleh Jenderal Besar A.H. Nasution, yang kemudian menandatangani
Ketetapan MPRS No. XXXIII/MPRS/1967.
Sejak saat itu, dicabutlah semua kekuasaan pemerintahan dari tangan Presiden
Soekarno. Lantas diperintahkan agar dia dilarang keras melakukan kegiatan
politik. Dan jalan terbaik sebaiknya dijebloskan sajalah ke dalam tahanan,
menyusul para pembantu dan pendukung-pendukungnya di seluruh tanah air.
Kini sejarah tentang mereka akan kami gelapkan. Pemahaman angkatan muda tentang
mereka, akan kami alihkan. Keluarga-keluarga dan anak-cucu mereka, biarlah
mengais-ngais rezeki berkalang tanah. Semua jasa-jasa dan jejak-langkah
perjuangan mereka, akan kubuat kabur dan suram.
Biar sajalah angkatan muda tidak mengenal sejarah bangsanya sendiri.
Ya, semuanya itu bermula dari Supersemar. Bukankah itu suatu siasat jitu untuk
menciptakan iklim perebutan kekuasaan berdasarkan cara-cara konstitusional.?
13
Kini kekuatan dari kalangan pers tengah dipersiapkan. Pers-pers pendukung
Soekarno, serta pers-pers berhaluan kiri sudah dibredel semuanya. Para
wartawannya sudah kami tahan. Kami mengutus beberapa tentara untuk menculik
seniman nasional Trubus, Japoq Lampong serta pengarang lagu Genjer-genjer,
namun kemudian para penculik mengabarkan adanya "kecelakaan" di tengah jalan.
Aku memaklumi mereka, dan aku paham apa yang mereka maksudkan.
Pada suatu hari aku juga menerima berita dari Solo tentang tertangkapnya
seorang tokoh dari Partai Komunis. Secepat kilat aku harus mengatur strategi
agar dia jangan sampai diperiksa, atau memberi pernyataan apapun di muka
pengadilan.
Mula-mula Kolonel Yasir dan pasukannya kuperintahkan melakukan penggrebekan di
wilayah perkampungan Sambeng. Tokoh partai itu rupanya bersembunyi di rumah
seorang pensiunan pegawai bea-cukai, yang kabarnya hidup bersama seorang
cucunya yang masih gadis remaja.
Ketika gadis itu diancam mau digagahi beramai-ramai, maka kakek tua itu
terpaksa memberitahu tempat persembunyian sang tokoh partai, yakni di belakang
lemari yang tersekat tembok dinding. Seketika itu aku mengontak Kolonel Yasir
agar segera menghabisi orang itu di tengah jalan, sebelum tiba di ibukota
Jakarta . Setelah itu kami pun mengatur siasat untuk penggelapan mayatnya, agar
orang-orang tidak dapat menemukan di mana rimbanya.
Di kemudian hari, persoalan ini memang dipertanyakan oleh sejarawan-sejarawan
angkatan muda yang berani mengungkap teka-teki ini: "Mengapa seorang tokoh
penting yang menjabat Sekjen PKI serta menjabat resmi selaku Menko, telah
dibunuh begitu saja, tanpa proses pengadilan?"
Pernyataan ini senada dengan para penulis sejarah yang berani menggugat:
"Mengapa Soekarno yang sudah siap diperiksa untuk menyampaikan yang sejujurnya
perihal seluk-beluk G30S, lantas dikenakan tahanan rumah hingga wafatnya?"
Untuk menangani persoalan pertama, aku mengarang jawaban seperti ini:
"Dikarenakan tokoh partai itu melawan dan hendak melarikan diri, terpaksa kami
tembak di tengah jalan."
Kemudian untuk menangani persoalan kedua, aku sudah mengatur jawaban
seperti ini: "Dikarenakan Soekarno adalah bapak bangsa, maka kita harus
mengamankan beliau. Tidak boleh ia dibawa ke pengadilan, karena kita harus
menghormatinya, mikul duwur, mendem jero."
Dua jawaban itu kukira sudah cukup menjadi alasan kuat untuk
mengibuli para sejarawan, budayawan atau kalangan pers di negeri ini.
14
Ada seorang cendikiawan muslim dalam suatu wawancara di suratkabar, mengutip
sebuah ayat Al-Quran yang berbunyi: "Barangsiapa memulai kezaliman maka ia akan
berada dalam pertentangan yang tak berkesudahan."
Aku tidak paham apa yang diomongkan si cendikiawan itu.
Pada kesempatan lain dia mengutip dua buah ayat Al-Quran: "Barangsiapa membunuh
manusia bukan karena kejahatannya maka ia telah membunuh seluruh manusia,
barangsiapa memelihara hidup seorang manusia maka ia telah menghidupkan seluruh
manusia. Mereka yang beriman, dan tidak mengaburkan imannya dengan kejahatan,
mereka itulah yang memperoleh kedamaian dan bimbingan yang benar."
Bahkan pernah pada suatu acara dialog di televisi, tokoh satu itu mengupas dua
buah hadits Nabi yang berbunyi: "Seorang mukmin senantiasa mendapat kelonggaran
dari agamanya selama ia tidak melakukan pembunuhan tanpa hak. Dan jika seorang
penguasa mati dalam keadaan masih menipu rakyatnya, maka Tuhan akan
mengharamkan sorga baginya.."
Aku tidak mengerti apa maksudnya mengutip-ngutip ayat dan hadits semacam itu.
Tapi dalam komentarnya tentang sosial-politik, tokoh satu itu kelihatan gegabah
dan sembarangan.
Dikiranya siapa dia. Punya kekuatan apa.
Dari sindiran-sindirannya sering diungkap mengenai keluargaku atau keluarga
cendana, bahkan disinggungnya perihal bisnis anak-cucu serta kerabat-kerabatku
dengan gaya bahasanya yang mengandung teka-teki. Dikiranya aku tidak paham sama
sekali, ke mana arah pembicaraannya itu.
Mau apa dia. Apa mau menggulingkan dan mengambil-alih kepemimpinan yang
susah-payah sudah kuraih mati-matian.
Akhirnya tokoh satu ini pun patut diperhitungkan kelak demi berjalannya
stabilitas dan keamanan negara.
15
Pembangunan sarana dan infrastruktur sebaiknya dipacu secepat-mungkin.
Kucetuskan istilah "Ideologi Pembangunan" agar merasuki pikiran masyarakat.
Investor-investor datang membanjiri negeriku. Bantuan-bantuan ekonomi kami
manfaatkan untuk pembangunan gedung-gedung megah di sana-sini. Kekayaan alam
kami keruk dan jalur-jalur perekonomian dibentangkan, dan keuntungannya
dimanfaatkan. Pengusaha-pengusaha asing kami undang demi kelestarian dan
jaminan keamanan kapitalnya.
Tentulah tawaran jutaan dollar yang dipromotori IMF sebagai modal pembangunan
sungguh menggiurkan. World Bank, IGGI dan sekian lembaga internasional
menawarkan program-programnya. Dan tanpa perlu pikir panjang, kami sambut
semuanya dengan senang hati.
Seorang pakar ekonomi Profesor Kurt Biedenkopf pernah menyatakan: "Ternyata
bangsa-bangsa kaya hanya dapat bertahan dengan melakukan ekspansi untuk
mengorbankan bangsa-bangsa yang lemah."
Pernyataan macam itu searah dengan pidato-pidato Soekarno selama Konferensi
Asia-Afrika di Bandung. Meskipun aku tidak banyak menyimak apa yang diomongkan
mereka-mereka itu. Aku tak ambil pusing.
Biar sajalah tatanan ekonomi berjalan. Segalanya mungkin bagi manusia dan boleh
dikerjakan oleh siapapun. Karena itu para anak-cucu dan kerabat terdekatku
kupercayakan untuk menangani bisnis-bisnis penting berskala besar. Segala
sarana dan fasilitas buat mereka segera kupermudah. Maka kebutuhan pun segera
diproduksi, agar produsen memproduksi pemenuhan kebutuhan yang terus-menerus
disiasati. Tidak usah dipikirkan mana kebutuhan yang sebenarnya, dan mana yang
harus direkayasa sedemikian rupa. Sampai produksi menjadi tuan dari kebutuhan
dan dari manusia. Produksi mengabdi pada manusia ataupun manusia mengabdi demi
produksi.
Untuk kelancaran semuanya mau tidak mau harus diperjelas siapa yang harus
dibantu dan dilindungi, dan siapa-siapa yang pantas untuk dikorbankan.
Campur-tangan pemerintah sangat diperlukan untuk menegakkan Ideologi
Pembangunan yang sudah kucetuskan. Sistem ekonomi koperasi yang digagas oleh
Mohammad Hatta sengaja kami abaikan. Soalnya dia termasuk dari sekian banyak
pembantu Soekarno yang paling dekat.
Segala sistem aparatur sampai wilayah agama sekalipun harus ditangani dan
dikendalikan oleh negara. Para tokoh agama, budayawan hingga cendikiawan harus
ditundukkan untuk mengabdi pada kebijakan dan ketetapan pemerintah, karena yang
boleh berlaku hanyalah ideologi dan tafsiran negara. Maka kami putuskan untuk
membentuk tim propaganda khusus bersama departemen penerangan, untuk
menyeragamkan segala informasi pada seluruh lapisan masyarakat, hingga kalangan
ulama dan kiai-kiai pesantren di seluruh pelosok negeri.
16
Ada lagi seorang tokoh publik dari kalangan penyanyi yang menjadi idola kaum
muda selama beberapa dasawarsa. Kini dia semakin berani mengungkap beberapa
peristiwa sengit yang sengaja sudah dirahasiakan. Namun dengan lantang dia
membongkar tentang peristiwa Malari, Tanjung Priok, Timor-Timur hingga Aceh.
Belum lagi masalah konflik Kedungombo, Nipah dan banyak lagi yang lainnya.
Bahkan pada kesempatan lain dia pernah menyindir-nyindir soal korban-korban
Orde Baru, pembangunan semu, kekayaan anak-cucu presiden dan para elite politik
Indonesia . Kontan saja kalangan pers selalu mengikuti gerak-gerik dan
jejak-langkahnya.
Karena itu, penyanyi satu ini harus menjadi perhitungan tersendiri, dan aku
harus merancang siasat khusus untuk dapat melumpuhkannya.
Kini aku makin tekun merumuskan tentang siapa-siapa yang layak menduduki
pemerintahan daerah, dari tingkat pusat hingga bawah, bahkan rektor-rektor
universitas pun harus ditentukan oleh kekuatan Orde Baru. Sistem untuk
menyaring dan memilih mereka sederhana saja, yakni seberapa jauh pemahamannya
tentang peristiwa 30 September 1965, serta seberapa besar kewibawaannya di
tengah masyarakat. Kalau sudah memenuhi kriteria, maka gulingkan saja mereka
yang sudah duduk memimpin, atau sebaiknya digeser secara halus dan pasti,
supaya masyarakat maklum bahwa cara-cara konstitusional telah ditempuh oleh si
calon pemimpin baru itu.
Untuk menangani wilayah-wilayah tertentu yang sulit diatasi, seperti
Timor-Timur, Aceh dan lain-lain, maka operasi militer besar-besaran akan kami
kerahkan. Beberapa petinggi-militer kupercayakan untuk menjadi komandan penuh,
khususnya mereka yang pernah kuutus mengikuti program Terrorism in Low
Intensity Conflict, yakni suatu pelatihan training bagaimana membuat aksi-aksi
profokasi dan teror, yang diselenggarakan oleh Pentagon melalui program
kerjasama militer IMET.
17
Rupanya makin lama makin memerlukan penanganan serius. Aku mencoba menenangkan
masyarakat, seakan-akan keadaan aman dan tidak terjadi apa-apa.
Tiga majalah dan tabloid dibredel sekaligus, agar tak ada lagi yang mencoba
menghasut dan memprofokasi masyarakat, serta agar menjadi pelajaran berharga
bagi yang lainnya.
Namun reaksi yang terjadi malah sebaliknya. Seketika itu muncul gelombang
protes untuk membela majalah dan para wartawan yang bertugas. Dan setelah kami
terbitkan majalah baru sebagai tandingannya, rupanya gelombang protes semakin
marak dan meluas di mana-mana. Mereka menyerukan pembelaan terhadap Muchtar
Pakpahan, Sri Bintang Pamungkas, Udin Syafrudin, Xanana Gusmao, Budiman
Sujatmiko, Wiji Thukul dan banyak lagi yang lainnya.
Belum lagi penghargaan Hak Asasi Manusia kepada pahlawan buruh yang bernama
Marsinah. Bahkan penganugerahan Nobel Perdamaian kepada politikus Ramos Horta
dan rohaniwan Ximenes Belo untuk perjuangan Timor-Timur. Ditambah lagi
kasus-kasus baru karena maraknya teknologi komunikasi dan media informasi: di
Indonesia bagian timur diberitakan tentang ratusan ribu korban rakyat
Timor-Timur, di bagian barat dikabarkan ribuan korban rakyat Aceh. Belum lagi
Ambon, Maluku, Poso, Lampung, Makassar dan seterusnya.
Mau tidak mau semuanya harus ditangani secara serius. Mau tidak mau harus
terjadi bentrokan di sana-sini. Mau tidak mau harus ada korban-korban baru yang
menjadi tumbal, agar dijadikan pelajaran berharga bagi yang lainnya.
Ya, mengapa tidak. Bukankah stabilitas nasional dan roda-roda pembangunan harus
berjalan terus.
Kini aku pun tinggal memantau dan menerima hasil laporannya:
Kematian wartawan bertambah lagi; bentrokan mahasiswa dan aparat semakin
menelan banyak korban; para aktifis LSM sudah diamankan; para penulis buku
tentang Soekarno sudah ditangkapi; ratusan orang telah diciduk dan dikurung
secara rahasia; puluhan orang yang tertembak di lapangan sengaja dirahasiakan
jejak-jejaknya, dan banyak lagi yang lainnya.
18
Namun angkatan muda negeri ini semakin berani dan berani saja. Ada apa ini.
Dari mana asal muasalnya, dan watak siapa yang mereka warisi.
Ada lagi laporan mengenai ulah seorang sastrawan yang baru dibebaskan dari
Pulau Buru, tiba-tiba dia menulis buku yang berjudul "Arus Balik". Coba
bayangkan, judulnya saja Arus Balik. Ada apa ini? Ada soal apa di negeri ini?
Sebelum itu pun sudah diluncurkan oleh Penerbit Hasta Mitra, sebuah buku yang
berjudul, "Nyanyi Sunyi Seorang Bisu", menyusul sebuah buku lagi: "Era Baru
Pemimpin Baru: Badio Menolak Rekayasa Rezim Orde Baru".
Tak berapa lama mulai bermunculan penerbit-penerbit independen yang mengikuti
jejak Hasta Mitra, lantas menerbitkan buku-buku yang berjudul seperti ini:
"Kehormatan bagi Yang Berhak", "Bayang-bayang PKI", kemudian seorang etnis Cina
berani-beraninya meluncurkan otobiografinya dengan judul: "Memoar Oei Tjoe Tat:
Pembantu Presiden Soekarno".
Tentu saja aku harus membuat gebrakan untuk melarang semua buku-buku semacam
itu..
19
Tapi makin lama keadaan makin parah saja. Gelombang demonstrasi makin marak di
mana-mana. Negeri ini seperti dikepung oleh gurita raksasa yang membuat aku
merinding ketakutan. Bantuan-bantuan ekonomi dicabut dari negara-negara asing.
Timor-Timur menuntut kemerdekaan mutlak. Aceh dan Irian Jaya ikut-ikutan
bergolak. Sedangkan di Jakarta sendiri, kerusuhan terjadi di mana-mana.
Gedung-gedung megah terbakar, pusat-pusat pertokoan dijarahi massa , bahkan
dalam satu hari dikabarkan telah terjadi pemerkosaan massal yang mengorbankan
150 lebih para wanita dari etnis Cina.
Ada apa ini? Ada soal apa di negeri ini?
Para investor dan pengusaha asing pada kabur ke negerinya masing-masing. Mereka
menuntut kejelasan tatanan ekonomi serta penyelenggaraan hak asasi manusia yang
baik di Indonesia .
Ada apa ini? Ada soal apa di negeri ini?
Bukankah lebih dari 30 tahun aku memimpin negeri ini, dan selama itu tak pernah
kuhadapi hal-hal aneh yang mengherankan macam ini? Aku tidak paham. aku tidak
ngerti semua kejadian ini. ampun, aku sudah tidak sanggup lagi..
Namun tiba-tiba mereka yang ikut-serta mendirikan pemerintahan Orde Baru pada
hengkang dan berlarian ke sana kemari. Mereka telah berpaling dari komitmen
semula. mereka saling berpencar dan kocar-kacir tak keruan..
Lantas siapa yang akan menanggung semuanya ini. di mana kawan-kawan dan
mitra-mitra bisnisku. di mana tanggungjawab mereka. kenapa mereka diam saja.
kenapa mereka tak ambil peduli. apakah aku harus segera melarikan anak-cucu dan
semua kerabatku ke luar negeri..
20
Bagaimanapun aku harus berusaha bersikap tenang. Akan kurancang siasat jitu
untuk mundur dari kursi pemerintahan. Akan kurekayasa bahasa yang tepat untuk
dapat menenangkan masyarakat. Sebab ada seorang seniman memakai istilah
"terjengkang dari kursi kekuasaan". Aku harus memasyarakatkan istilah Jawa,
yakni "lengser keprabon" (yang berarti mundur secara baik-baik).
Aku harus manfaatkan siasat-siasat lamaku, serta mengatur situasi dan kondisi
untuk menyelesaikan kepemimpinanku secara sah dan konstitusional. Bukankah
cara-cara semacam ini pernah dipercayai masyarakat, hingga berhasil
mengangkatku menjadi orang nomor satu di negeri ini?
Akan kuciptakan suasana seakan-akan aku dengan sukarela meletakkan jabatan
serta memberikan mandat kepada Wakil Presiden. Aku yakin masyarakat tidak
banyak komentar. Mereka tidak mengerti apakah cara-cara ini legal atau tidak,
karena aku telah berhasil mengelabui mereka agar tidak paham dan buta politik.
Aku yakin bahwa mereka akan tetap menghormatiku dan tunduk kepadaku. Juga akan
kusebarkan berita dan informasi di seluruh jaringan televisi dan radio, bahwa
saat ini aku tidak memiliki kekayaan sesen pun yang tersimpan di bank. Kini
sudah kuatur siasat jitu bersama anak-cucu dan kerabatku, agar aku jangan
sampai dipersalahkan di muka pengadilan, supaya segala kekayaan yang tersimpan
di bank-bank luar negeri menjadi aman dan terlindungi. Aku akan manfaatkan
semuanya itu untuk keperluan anak-cucu dan keturunanku, dan jangan sampai jatuh
di tangan negara.
Sampai kapanpun akan kurancang siasat ampuh, seperti yang sudah-sudah, agar
masyarakat tetap bisa dibodohi dan dininabobokan.
21
Terhitung mulai tanggal 21 Mei 1998 aku lengser kepabon atau mundur secara
baik-baik. Secara konstitusional murni aku menyerahkan mandat kepada wakilku,
seorang teknolog lugu dari kalangan sipil yang selama ini terang-terangan
menganggapku sebagai "guru". Akan kubiarkan dia memimpin negeri ini dengan
segala kepolosan dan keluguannya.
Dan seperti dugaanku, hari-hari pemerintahannya kemudian dihiasi dengan
keributan dan kekerasan brutal yang memuncak di sana-sini. Para pembantu dan
bekas-bekas pendukungku, bahkan kesatuan militer hingga organisasi agama, yang
dulu memanfaatkan sarana-fasilitas dari Orde Baru, yang dulu kami berikan
bantuan moril dan materil, kini semakin adu otot, saling tuding dan saling
menyalahkan.
Sudah kuduga sebelumnya, mereka kemudian menjadi petualang-petualang politik di
tiap-tiap kota dan propinsi, berebut kursi dan kekuasaan, menjadi raja-raja
kecil, seakan-akan akulah yang menjadi guru dan teladan bagi mereka semua.
Sementara itu, para koruptor kakap yang selama ini menjadi kaki-tanganku,
dengan lihainya menyembunyikan diri untuk mundur selangkah, serta membiarkan
hutang negara menumpuk, hingga menimbulkan krisis ekonomi yang berkepanjangan,
yang mengakibatkan kerusuhan dan keributan terus merebak di seluruh penjuru
negeri.
Biar sajalah semuanya itu terjadi. Toh aku sudah menjadi masyarakat biasa, dan
aku tak perlu tanggungjawab mengenai semua huru-hara dan kekacauan di negeri
ini. Aku perintahkan seorang anakku untuk merawatku dengan baik-baik,
seakan-akan aku menderita sakit permanen, atau - kalau perlu - pura-pura sakit
jiwa, agar aku terselamatkan dari tuntutan pengadilan.
22
Partai-partai baru berdiri di sana-sini. Kekacauan semakin merebak di
mana-mana. Angkatan muda menuntut agar aku beserta keluarga dan kroni-kroniku
segera diadili atas pelanggaran HAM selama 32 tahun, juga tindakan korupsi,
kolusi dan nepotisme (KKN). Mahkamah agung - sesuai lobi dan rancanganku -
hanya memusatkan perhatian pada soal KKN, dan masyarakat pun sepertinya maklum.
Sebelum itu, tentu saja sudah kuatur siasat dan strategi untuk menggelapkan,
memalsukan serta memindah-tangankan semua nomor-nomor rekening atas namaku -
baik di dalam dan luar negeri - hingga pembuktian materil tidak lengkap, dan
karenanya tuntutan hukum bisa dimentahkan. Dan ketika saatnya diadakan
pemeriksaan, orang-orang kejaksaan rupanya cukup lihai untuk menghimpun
pertanyaan yang membuatku bisa berkelit ke sana kemari, hingga suasana tetap
mengambang dan menemui jalan buntu.
Ketika angkatan muda semakin berduyun-duyun memadati halaman kejaksaan agung,
pemeriksaan pun dipindahkan ke tempat lain, tanpa sepengetahuan publik.
Seketika itu para mahasiswa dan pemuda nampaknya sudah tidak bisa dikelabui
lagi. Ada apa ini? Watak dan keberanian siapa yang mereka warisi? Perjuangan
mereka sepertinya tanpa pamrih, dan atas dasar kemauan dan semangat mereka
sendiri.
Padahal pemuda angkatan '66 masih bisa diperalat dan dikelabui untuk
menjatuhkan Soekarno, dengan berbagai sarana dan fasilitas yang disediakan buat
mereka.
Tapi kali ini, coba bayangkan, mereka secara serentak meneriakkan yel-yel dan
spanduk-spanduk bertuliskan:
Bersihkan Kabinet dari Orang-orang Orde Baru
Soeharto Dalang Semua Bencana
Hentikan Penjajahan Gaya Orde Baru
Rombak Badan Yudikatif Indonesia
Bersihkan Aparat-aparat Hukum yang Tersangkut dengan Orde Baru
Bung Karno dan Pendukungnya Harus Direhabilitasi
Pada aksi-aksi demonstrasi di kampus-kampus dan jalanan, nampak pula
spanduk-spanduk berbunyi:
Usut Tuntas Surat Perintah Sebelas Maret
Bubarkan 3 Partai Bentukan Orde Baru
Jadikan Museum Lubang Buaya Sebagai Museum Rekayasa
Orde Baru
Tindak Tegas Para Perampok Hutan
Perkuat Sistem Pertahanan Maritim Kita
Revolusi Belum Selesai
Kembalilah pada Bung Karno dan Semangat '45
23
Kini aku tidak mau lagi mengikuti berita-berita yang terjadi di negeri ini. Aku
harus mengisi masa-masa tuaku dengan istirahat penuh di rumah, meskipun aku
masih kuat untuk berziarah ke makam istriku di Solo, atau menengok anakku di
Nusakambangan. Entah karena kesalahan apa dia bisa mendekam di sana (tak
seorang pun memberitahu aku).
Sekarang aku tidak peduli bagaimana nasib anak-anakku di kemudian hari, bahkan
nasib bangsa ini pun, aku tak mau ambil pusing. Ya, aku hanya senang mengikuti
acara-acara televisi yang menyiarkan perjudian dan kuis-kuis, seperti Who Want
to be a Millioners, baik dari dalam dan luar negeri. Selain itu, aku tidak
peduli dan tidak mau ambil pusing perihal demonstrasi, spanduk-spanduk dan
yel-yel yang bertebaran di sana-sini. Biar sajalah pemuda dan mahasiswa itu
berteriak-teriak menggugat kami, toh mereka tidak paham tentang dunia hukum dan
pengadilan Indonesia yang masih bisa disetting untuk bersikeras membelaku
beserta kerabat dan saudara terdekatku.
Kini aku sudah mempersiapkan pengacara-pengacara handal dan termahal di negeri
ini, sambil kupancing daya tarik mereka agar bersimpati kepadaku. Mereka sudah
kukerahkan untuk serentak tampil di depan publik, agar menyampaikan kesan-kesan
baik tentang aku dan keluargaku. Aku berusaha bersikap sopan dan lembut di
hadapan mereka, supaya mereka makin gigih dalam pembelaanya terhadap kami.
Sampai kapanpun aku berusaha - dengan cara apapun - agar masyarakat Indonesia
tetap menjadi bangsa-bangsa budak dan kuli, yang mudah diperalat dan dikelabui
oleh segala-macam alasan dan perkataanku..
***
(Ditulis untuk menggugat buku "Sukarno File" karya Antonie CA Dake, dari hasil
penelitian penulis selama 9 tahun, sekaligus sebagai korban langsung dari
kejahatan rejim Soeharto dan Orde Baru).
Hafis Azhari
Ketua K2PSI
(Kelompok Kerja Perumusan Sejarah Indonesia )
Catatan Harian
Seorang Mantan Presiden
(Membongkar Dokumen Soeharto)
Oleh Hafis Azhari
1
Sudah lama aku menunggu kesempatan seperti ini.
Sudah lama aku mempelajari buku-buku filsafat politik tentang cara-cara
memimpin negeri. Aku hafal betul tentang apa yang ditulis oleh Machiavelli
tentang teori-teori kepemimpinan serta cara-cara mengambil-alih kekuasaan. Aku
sudah paham tentang tokoh-tokoh dalam filsafat Jawa, khususnya mengenai
trik-trik Raja Kresna untuk menyelesaikan berbagai persoalan di muka bumi. Ya,
dialah satu-satunya ahli strategi para Pandawa yang paling jitu. Figur
reinkarnasi dari Wisnu yang identik dengan kebijaksanaan sejati.
Bagaimanapun aku harus mengarungi dunia dan tradisi Jawa yang sudah
berjalan selama berabad-abad. Dunia pewayangan Jawa yang sangat kaya, dan
begitu melekat dalam pandangan hidup rakyat Nusantara, juga berpengaruh kuat
dalam gerak-langkah hidup mereka.
Tentu tidak lupa aku mempelajari buku-buku dari Negeri Cina juga,
khususnya mengenai soal-soal kepemimpinan. Ada sebuah buku menarik berjudul
"Ping Fa" yang dikarang oleh Sun Tzu sejak 510 BC. Buku itu diterjemahkan dalam
bahasa Prancis oleh Joseph Amiot sejak 1782 M, kemudian diinggriskan dengan
judul "Principles of War". Selama berminggu-minggu aku merenungi isi yang
terkandung di dalamnya, hingga sampailah pada kesimpulan bahwa buku itu harus
menjadi guru suciku, dan tidak boleh ada orang lain yang ikut membacanya.
Buku itu aku peroleh dari seorang petinggi militer, pada tahun-tahun
ketika aku mengadakan studi kemiliteran di Seskoad (Sekolah Staf Komando
Angkatan Darat). Sudah diterjemahkan pula ke dalam bahasa Indonesia , entah
oleh siapa. Namun bagaimanapun buku itu akan kujadikan pegangan hidupku, dan
sampai sekarang pun akan tetap menjadi rahasia dalam hidupku.
2
Dulu waktu pangkat militerku masih rendah, bersama teman-teman tentara dan
kerabatku, sering kami selundupkan barang-barang milik perusahaan Negara,
bahkan memanipulasi dump kendaraan bermotor milik Divisi Diponegoro di Jawa
Tengah. Kami pun sudah terbiasa mengadakan pungutan-pungutan liar untuk
barang-barang kebutuhan rakyat. Namun semua itu tidak berjalan mulus. Suatu
ketika kami terpergok dan tertangkap basah. Kemudian oleh seorang jenderal
diusulkan kepada Presiden Soekarno bahwa aku mesti dipecat dari dunia
kemiliteran. Seketika itu aku manfaatkan Jenderal TNI Gatot Soebroto - bapak
angkatnya Bob Hasan - agar menghadap Soekarno secara langsung, supaya dia
memberi maaf dan mengampuni segala perbuatan kami. Saat itu Soekarno pun
mengusulkan agar kami dididik dan disekolahkan saja, karena menurutnya,
"Tingkat budaya dan peradaban angkatan perang kita masih rendah, karena itu
kita semua harus bertanggungjawab untuk mendidiknya dengan baik," begitulah
kata Soekarno, meskipun
aku tidak paham apa yang diomongkannya itu.
Segeralah Pak Gatot Soebroto mengontak Soewarto, seorang komandan
Seskoad sekaligus agen aktif CIA, yang kemudian berhasil menatar dan
membekaliku dalam suatu kursus regular sebagai staf komando angkatan darat.
Mulai sejak itulah karir militerku cukup lancar dan terarah, meski
semuanya tak terlepas dari gagasan dan kebijakan Soekarno sendiri selaku
Presiden RI . Oleh karena itu aku berusaha merahasiakan periode ini dalam
sejarah hidupku kelak. Aku tidak akan menyebut-nyebut soal jasa-jasa Soekarno.
Dia memang bukan sembarang orang dalam sejarah berdirinya republik yang besar
dan kaya-raya ini.
3
Peristiwa 30 September 1965 berkobar.
Keributan dan huru-hara di Jakarta membuat aku merasa tenang dan puas,
seakan-akan masadepan sudah bersinar dalam hatiku. Separah apapun kerusakan dan
kerugian, bahkan sebanyak apapun korban yang ditimbulkan, aku berusaha bersikap
diam dan tak ambil peduli.
Biar sajalah kekacauan itu terjadi. Tiapkali ada krisis kepercayaan
pada pemerintah, biasanya kekerasan dan kekacauan timbul di mana-mana. Kalau
perlu pembunuhan dan pembantaian sekalipun.
Waktu itu pangkatku sudah Mayor Jenderal, dan posisiku sudah menjabat sebagai
Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad). Sampai kapanpun aku tetap
akan merahasiakan, bahwa karena jiwa pemaaf dan kearifan Soekarno-lah yang
membuatku berhasil dalam meniti karir setinggi itu di dunia kemiliteran.
4
Sekali lagi, biar sajalah kerusuhan dan huru-hara itu terjadi.
Yang penting, sebelum tanggal 30 September 1965 posisiku harus berada
di rumah sakit. Kini sudah kubawa seorang anakku ke rumah sakit, karena kakinya
kesiram sayur sop. Aku akan menemaninya di rumah sakit, meskipun bisa diwakili
oleh istriku atau anak sulungku, tetapi akulah yang harus menunggunya di sana .
Soalnya, sebelum kejadian itu telah datang seorang Komandan Brigif
bernama Latif ke rumahku, untuk melaporkan adanya "Dewan Jenderal" serta
rencana sekelompok perwira untuk mencegah percobaan kup oleh para jenderal,
serta rencana untuk merebut kepemimpinan Soekarno.
Pelapor itu aku catat sebagai orang berbahaya, dan kelak akan
kuasingkan di suatu tempat tersembunyi, serta tidak akan kubiarkan dia bicara
di depan publik sampai kapanpun.
Orang bernama Latif itu sebetulnya tentara kepercayaanku sejak dulu.
Waktu kehidupan keluarga kami masih sulit, dialah yang carikan beras untuk
kami, juga dia yang carikan uang tambahan untuk keperluan keluarga kami.
Tapi bagaimanapun tetap aku catat sebagai orang berbahaya, supaya
jangan membongkar persoalan-persoalan penting di masa lalu.
Dalam pledoinya di pengadilan Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmillub)
orang ini memberi pernyataan tegas:
"Kenapa harus saya yang berdiri di sini, Pak Hakim? Kenapa bukan
Soeharto? Padahal dia sudah tahu akan adanya Gerakan di pagi hari."
Orang brengsek ini memang telah dua kali melapor sebelum peristiwa
itu meletus. Pada malam 30 September dia menghadap lagi ke rumah sakit, katanya
akan dilancarkan Gerakan pada pagi hari, guna mencegah terjadinya kudeta yang
akan dilakukan oleh Dewan Jenderal.
Laporan itu tidak kutanggapi dan aku diam saja. Walaupun aku paham,
mestinya tugas pengamanan ada di tanganku. Ya, sebagai Panglima Kostrad
sekaligus orang kedua di Angkatan Darat, pada malam itu mestinya kuberitahu
semuanya agar bersiap-siaga untuk pengamanan, karena pagi harinya akan ada
Gerakan.
Tapi apapun yang akan terjadi, biar sajalah. Toh sejak dulu aku
jarang diperhitungkan di Angkatan Darat. Kalau ada rapat-rapat petinggi
militer, sepertinya mereka tidak pernah mengundangku. Boleh jadi mereka
berpendapat bahwa aku ini bukan siapa-siapa, dan tidak mengerti apa-apa.
Dan sekarang, buktikan, siapa di antara kami yang menjadi orang nomor
satu di negeri ini. Cara apapun harus ditempuh, dan aku akan memperjuangkannya
sesuai pendirian dan keyakinanku.
Pada tanggal 1 Oktober 1965, sekitar jam 06.00 pagi aku akan
mengenakan seragam tempur, untuk menunjukkan pada orang-orang bahwa aku sudah
menghadap Presiden. Kalau Jenderal Ahmad Yani sudah mati, bukankah aku -
sebagai orang kedua - yang mestinya memberi laporan pada Presiden Soekarno?
Tapi aku hanya berpura-pura di hadapan mereka semua. aku tidak perlu
bertanggungjawab. apapun yang terjadi, biar sajalah..
5
Sekarang impian dan ambisiku sudah tercapai. Aku adalah Presiden
kedua Republik Indonesia . Jalan apapun harus ditempuh. Aku manfaatkan segala
pengetahuan dan pengalaman hidupku. Aku tidak akan menyia-nyiakan semuanya itu.
Kini Presiden Soekarno sudah jatuh. Menyusul pembantu-pembantu dan
para pendukungnya harus dijatuhkan pula. (Lebih baik kupergunakan istilah
"diganti" daripada "dijatuhkan"). Jadi, aku mengganti kepemimpinan Soekarno
sekan-akan akulah yang dipercayakan menduduki tampuknya. Kini mereka semua
harus "diamankan" (aku sengaja tidak memakai istilah "ditangkap"). Ya, mereka
adalah the founding fathers, para perintis dan pendiri republik yang berupaya
keras untuk berkorban memerdekakan bangsa ini. Dan siapa pula yang tidak
mengenal Soekarno, satu-satunya pahlawan yang sanggup mempersatukan wilayah
Nusantara, menciptakan persatuan di antara banyak suku, agama dan ideologi. Dia
berhasil merumuskan dasar negara serta diproklamasikannya Republik Indonesia .
Daya pukaunya dalam berpidato, telah sanggup membuat rakyat bergerak penuh
semangat, bahkan rela berkorban dan mati demi kemerdekaannya.
Tentang itu semua, sejarah kita belum mencatatnya secara utuh dan
bulat. Para sejarawan masih takut. Karena itu istilah "revolusi" kelak akan
kami batasi sebagai perang kemerdekaan. Adapun lahirnya Pancasila, kelak kami
rahasiakan pada angkatan muda.
Kini sejarah baru harus diciptakan. Aku kerahkan para penulis dan
budayawan yang memihakku, serta kuberikan sarana dan fasilitas agar mereka
menulis tentang seluk-beluk sejarah Indonesia . Kemudian kusensor karya-karya
mereka secara ketat, agar terjadi keseragaman pandangan bahwa sejarah bangsa
dan negeri ini identik dengan peristiwa 30 September 1965, yang di kemudian
hari kuberi nama G30S/PKI.
Maka apapun yang terjadi sebelum itu, sebesar apapun, tak perlu
dikategorikan sebagai sejarah Indonesia .
6
Belakangan muncul beberapa penulis dan budayawan yang menaruh perhatian khusus
pada pledoi dan kesaksian Latif di pengadilan Mahmillub. Kemudian muncul pula
sebuah penerbit buku independen yang menamakan diri "Hasta Mitra", dan dimotori
oleh Joesoef Isak, Pramoedya Ananta Toer dan Hasjim Rachman.
Segeralah kukerahkan para penulis dari kalangan sejarawan, budayawan dan
seniman agar mereka kompak mendukung pernyataanku tentang seluk-beluk peristiwa
30 September 1965 itu. Telah kubentuk tim khusus untuk menciptakan sejarah baru
tentang peristiwa itu; telah kukumpulkan sekelompok masyarakat untuk membikin
kesaksian palsu; telah kubentuk tim dokter khusus untuk menyampaikan pembuktian
yang dimanipulasi; juga telah kubangun tugu besar dan museum khusus untuk
menciptakan kenangan dan ketakutan rakyat; bahkan aku namai museum itu dengan
sebutan "Museum Lubang Buaya".
Aku ciptakan kreasi itu dengan detil-detil cerita fiktif yang menakutkan. Dan
beginilah kisah kejadian itu:
"Pada pagi hari suatu Gerakan dari Partai Komunis Indonesia telah membantai dan
membunuh jenderal-jenderal yang merupakan tulang-punggung bagi berjalannya
revolusi negeri ini. Jenderal-jenderal itu telah diinterogasi dan dilukai
sekujur tubuhnya. Kemaluannya dipotongi, dibiarkan mereka merintih
bergelimpangan. Sedangkan para wanita yang tergabung dalam Gerakan Wanita
Indonesia (Gerwani) berlenggak-lenggok mengelilingi para korban, sambil
mengadakan tarian-tarian cabul."
Yang jelas, aku harus membuat kreasi ini sebagus mungkin, agar seluruh
masyarakat merinding ketakutan. Bahkan kuciptakan kreasi khusus, bersama
bukti-bukti palsu bahwa Soekarno telah terlibat aktif dalam peristiwa tragis
itu. Aku jadikan peristiwa itu patokan untuk memancing rasa kebencian. Untuk
mengungkap gambaran-gambaran sang musuh sebagai penitisan kebejatan, sebagai
lambang penderitaan manusia Indonesia sejak 1965 sampai kapanpun di masa yang
akan datang.
Ya, sudah kupelajari teknik-teknik seperti ini dari buku-buku tentang angkatan
perang. Suatu teknik yang terbilang ampuh, dan sepanjang sejarah banyak
dimanfaatkan angkatan perang di seluruh dunia. Dan kini, begitu banyak sarana
teknologi untuk memberitakan kabar, sebagai pengungkap lambang dan
simbol-simbol, yang kelak dapat membuat bulu kuduk siapapun akan merinding
ketakutan.
7
Bicara tentang angakatan muda dan mahasiswa, yang kelak disebut sebagai
"Angkatan 66", mereka punya andil tersendiri yang dapat kumanfaatkan bantuannya
pada peristiwa 30 September 1965 itu.
Ya, dari merekalah gerakan dimulai, dari mulut merekalah sumpah-serapah
dilontarkan, di kampus-kampus, di lapangan hingga sampai ke jalan-jalan raya.
Dari fasilitas militer juga disediakan truk-truk hingga panser untuk
mengangkuti mereka agar berteriak-teriak menentang Soekarno. Spanduk-spanduk,
yel-yel bertebaran di mana-mana. Belum lagi bantuan dana dari CIA, ditambah
lagi bantuan jaket-jaket kuning agar dikenakan oleh para demonstran.
Lantas kukerahkan utusan khusus untuk memaksa orang-orang Telkom agar memutus
aliran telpon pada saluran-saluran yang telah kutentukan.
Bersamaan dengan itu Mayjen Pranoto Reksosamodra telah ditunjuk oleh Presiden
Soekarno selaku Care-Taker MENPANGAD. Aku harus mengupayakan agar dia tak bisa
dihubungi, kalau perlu mencegahnya agar tidak datang memenuhi panggilan
Presiden di Halim.
Sebelum itu, pada tanggal 1 Oktober 1965 sekitar jam 06.30 pagi, telah kuutus
Brigjen dr. Amino agar memberitahu Pranoto perihal penculikan Letjen Ahmad Yani
beserta jenderal-jenderal lainnya. Pranoto kontan berangkat menuju Markas Besar
Angkatan Darat (MBAD) serta mengadakan rapat darurat. Setelah ditampung hasil
laporan dari sumber-sumber yang telah diatur sedemikian rupa, maka rapat MBAD
menyimpulkan begini:
"Letjen Ahmad Yani beserta lima jenderal lainnya telah diculik oleh sepasukan
penculik yang belum dikenal. Dengan ini rapat memutuskan bahwa Mayor Jenderal
Soeharto, panglima Kostrad, agar mengambil-alih pimpinan Angkatan Darat yang
sedang fakum."
Pagi itu melalui kurir khusus, keputusan rapat segera disampaikan kepadaku,
yang waktu itu sudah menunggu di Makostrad.
Dan sewaktu muncul siaran RRI tentang penunjukan Pranoto sebagai Care-Taker,
maka berturut-turut utusan Presiden memanggilnya agar segera menghadap ke
Halim. Para utusan itu ialah Letkol Infantri Ali Ebram, Brigjen Sutardio,
Brigjen Sunario dan Kolonel Bambang Wijanarko.
Tapi apapun yang mereka lakukan, kini Pranoto sudah masuk jebakan dalam
hubungan komando-taktis di bawah kewenanganku. Dia tidak akan bisa menghadap
Presiden tanpa mendapat izin dan restu dariku. Dan sewaktu dia meminta izin,
jelas aku larang mentah-mentah dengan suatu ancaman:
"Kalau kau memaksakan diri menghadap Presiden, kami tidak bertanggungjawab akan
kemungkinan adanya korban lagi.."
8
Tibalah waktunya pada tanggal 14 Oktober 1965, setelah melalui
macam-macam proses kejadian, ketika secara resmi aku telah menjabat Kepala Staf
Angkatan Darat (KSAD), maka segeralah dibentuk susunan staf-staf baru, dan kini
Pranoto hanya kami tempatkan sebagai perwira tinggi yang diperbantukan pada
KSAD.
Kemudian pada tanggal 16 Februari 1966 kuperintahkan pasukan khusus
untuk menahan Pranoto dengan tuduhan: terlibat dalam G30S/PKI. Pada tahun itu
kuperintahkan agar ia segera dikenakan tahanan rumah, hingga kemudian
dipindahkan ke Inrehab Nirbaya pada tahun 1969, juga dengan tuduhan yang sama.
Dan untuk memperketat pengucilan dirinya sebaiknya ia dikenakan skorsing
sebagai anggota angkatan darat, dengan tidak diberi gaji skorsing, juga tidak
perlu diberi tunjangan apapun.
Lantas memasuki tahun 1981 ketika posisiku sebagai Presiden semakin
diakui masyarakat, dan setelah keberhasilanku menciptakan mitos Bapak
Pembangunan, maka kuperintahkan Panglima Kopkamtib untuk membuat surat
pembebasan resmi. Hingga terhitung sejak tanggal 16 Februari 1981 Pranoto
kubiarkan bebas dari tahanan, yang berarti bahwa selama 15 tahun ia mendekam
dalam tahanan, tanpa pemberhentian dan pemecatan resmi dari keanggotaan
Angkatan Darat. Juga tanpa pemeriksaan melalui proses dan pembuatan berita
acara resmi.
Kini kubiarkan ia bebas dan - kalau perlu - silakan berbaur dengan
masyarakat luas. Lagipula siapa yang akan mengakui keberadaan dia, dan siapa
pula yang akan mendengarkan omongannya. Kini kepercayaan publik telah terpusat
kepadaku sebagai Bapak Pembangunan, terutama jasa-jasaku dalam membangun negeri
bersama dengan segala keamanan dan ketertiban nasional.
Orang-orang semacam dia tidak perlu direhabilitasi, serta tidak usah
diberi uang pensiun sampai kapanpun. Dan pada suatu hari aku pun menerima
laporan bahwa ia telah wafat di suatu rumah kumuh di wilayah Kramatjati,
Jakarta .
Pranoto adalah satu dari sekian banyak pembantu dan pendukung
Soekarno, yang kubiarkan mengalami nasib hidup seperti itu. Sekarang buktikan,
siapa yang menang dan berjaya di antara kita..
9
Sudah lama di kalangan masyarakat terjadi polemik yang dapat kusimpulkan
menjadi dua golongan, yakni mereka yang berpendapat bahwa revolusi sudah
selesai, sedangkan yang lain mengatakan bahwa revolusi belum selesai.
Soekarno pernah menegaskan bahwa revolusi Indonesia harus melingkupi segala
bidang sosial-politik, budaya dan ekonomi sekaligus. Bahwa revolusi kemerdekaan
1945 hanyalah jembatan emas, dan kita harus memperjuangkan kemerdekaan dalam
arti yang sebenar-sebenarnya.
Entahlah, apa lagi yang diomongkan oleh Soekarno. Aku tidak paham.
Sekarang aku hanya membagi menjadi dua kekuatan saja, yakni siapa-siapa yang
berpihak dan mendukung pemerintahanku, sedangkan yang lain dapat digolongkan
sebagai kelompok yang membahayakan, dan karenanya harus disingkirkan.
Dari kalangan seniman sudah jelas siapa mendukung siapa. Siapa kubu bagi siapa.
Maka segeralah dikerahkan kesatuan-kesatuan tentara guna membakar rumah-rumah
tokoh seniman yang membangkang. Dan kami tinggal menunggu kabar-berita dari
para utusan, apakah tugasnya berhasil, tanpa peduli berapa korban yang
ditimbulkan dari aksi-aksi pembakaran rumah itu. Lagipula, mereka toh akan
mengira bahwa tindakan itu akibat dari ulah-ulah lawan polemik mereka sendiri
sesama seniman.
Ada seorang seniman yang - karena keberaniannya - membuat kami kesulitan untuk
menangkapnya, hingga sesudah berkali-kali utusan dikerahkan, selalu saja
membawa laporan yang sangat menjengkelkan. Maka kubuatkan saja skenario khusus
untuk proses penangkapannya.
Seniman satu itu pernah menulis novel tentang taktik perang gerilya sejak masa
kemerdekaan. Dari catatan sejarah dapat dilihat bahwa ia pernah
malang-melintang di dunia revolusi, bahkan pejuang keras dalam menyelesaikan
persoalan sejarah sastra Indonesia . Pada awal revolusi 1945 dipimpinnya sebuah
majalah yang kemudian dinyatakan terlarang oleh pemerintah pendudukan Belanda.
Dia aktif menyebarkan selebaran-selebaran gelap untuk usaha-usaha revolusioner,
yang membuatnya pernah tertangkap dan dikucilkan di Pulau Edam pada tahun 1949.
Waktu penangkapannya, militer Belanda menyita empat novel karyanya mengenai
peristiwa-peristiwa pada awal-awal revolusi 1945.
Ya, tentulah dia adalah orang yang patut diperhitungkan dengan serius. Yang
jelas, dari beberapa tulisannya dapat dipahami bahwa dia adalah pendukung setia
dari kebijakan-kebijakan politik Soekarno.
Dan untuk menghadapi seorang ahli perang gerilya, tentulah dibutuhkan
siasat-siasat khusus untuk dapat meringkusnya.
10
Setelah berhasil ditangkap, aku mengutus seorang mayor dan dua letnan
untuk menginterogasi seniman itu. Aku tinggal menerima laporan dari mereka,
dengan menyediakan sebuah tape recorder dari hasil rekaman selama interogasi
itu:
Ditanyakan oleh seorang letnan, bagaimana pendapatnya tentang Gerakan
Untung, kemudian seniman itu menjawab:
"Aku tidak tahu apa-apa tentang Gerakan itu."
"Apakah Anda membenarkan Gerakan itu?"
Seniman itu diam, kemudian jawabnya:
"Kalau dapat kesempatan mempelajari peristiwa Gerakan 30 September, mungkin
dalam beberapa tahun akan bisa saya jawab."
"Anda percaya negara Indonesia ini akan menjadi negara komunis?"
"Mungkin tidak."
"Kenapa?"
"Karena faktor geografi dan konservatifitas rakyat kita."
Rupanya memang sulit untuk mencari-cari kesalahan dari pernyataan-pernyataan
seniman itu. Namun karena dia termasuk pendukung setia dari pemikiran-pemikiran
Soekarno, aku berkesimpulan bahwa orang ini akan membawa masalah di kemudian
hari. Aku tetap menggolongkan dia sebagai orang berbahaya yang harus dijadikan
korban.
Dan bukankah Raja Kresna dalam filsafat Jawa tidak mengkhawatirkan berapapun
jumlah korban, demi kelancaran pembangunan dan stabilitas negeri.?
11
Untuk menangani para pembantu dan pendukung Soekarno rupanya tidak bisa seperti
membalikkan telapak tangan. Aku harus mengerahkan ahli-ahli strategi dari
kalangan militer, serta harus diperbantukan oleh pihak intelijen internasional
seperti CIA. Dukungan dan bantuan Amerika memang sangat menggiurkan bagi
kepentingan Angkatan Darat Indonesia, yang sejak tahun 1955 telah
terang-terangan menampakkan kecurigaanya pada Soekarno, terlebih-lebih ketika
ia diakui sebagai pemimpin besar Asia-Afrika.
Maka segeralah di bulan-bulan awal tahun 1966, harus dikerahkan aksi-aksi
profokasi untuk membuat keributan dan kekacauan di sekitar ibukota Jakarta,
untuk menunjukkan bahwa pemerintahan Soekarno sudah tidak berdaya lagi untuk
mengatasi aksi-aksi kerusuhan itu. Selain itu, aku akan mengusahakan agar
Soekarno membuatkan surat-resmi yang berisi "pelimpahan kekuasaan", dengan
ancaman bahwa aku tidak mau bertanggungjawab mengenai korban-korban, sekiranya
kekuasaan negeri tidak dilimpahkan kepadaku.
Saat itu di Istana Merdeka akan dilangsungkan Sidang Kabinet untuk membahas
persoalan "tiga tuntutan rakyat" (tritura), maka dikerahkanlah sekelompok
pasukan tentara berpakaian preman untuk membikin keributan di sekitar Istana
Merdeka, serta untuk mengacaukan berlangsungnya Sidang Kabinet yang akan segera
dilangsungkan. Kemudian ketika sidang dialihkan ke Istana Bogor, kuciptakan
aksi-aksi teror hingga acara pun gagal lagi untuk ke sekian kalinya.
Sementara itu di Jakarta sedang hiruk-pikuk oleh kerusuhan dan bentrokan keras
antara mahasiswa dan aparat, maka korban-korban pun berjatuhan di sana-sini,
antara lain dua korban yang kami tampilkan untuk menunjukkan ke publik bahwa
pemerintahan Soekarno telah layak disebut sebagai "diktator". Dua korban itu
adalah Arif Rahman Hakim dan Zainal Sakse, yang kelak akan kuberi gelar
"Pahlawan Ampera" atau Amanat Penderitaan Rakyat, yang di kemudian hari
berhasil memuluskan harapanku untuk membentuk Kabinet Pertama Orde Baru, dengan
sebutan "Kabinet Ampera".
12
Pada tanggal 11 Maret 1966 tiga orang Jenderal bawahanku telah kuutus untuk
membawa surat pada Presiden Soekarno, yang isinya telah diatur sedemikian rupa,
bahwa aku, Soeharto, tidak akan bertanggungjawab mengenai keamanan negeri,
seandainya tidak diberikan kekuasaan penuh untuk menumpas G30S/PKI di seluruh
Indonesia.
Aku mintakan tiga Jenderal itu agar mendesak Presiden, supaya ia bersedia
membuatkan surat perintah khusus kepadaku, yang kelak surat itu disebut sebagai
Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret), meskipun redaksinya telah kurubah
dari perintah pengamanan Jakarta, menjadi "pelimpahan kekuasaan kepada Jenderal
Soeharto". Seketika itu kami umumkan mengenai surat itu, dan kami nyatakan pada
masyarakat bahwa surat itu adalah mukjizat dari Tuhan yang dianugerahkan kepada
rakyat dan bangsa Indonesia .
Sebagai gebrakan awal, meskipun dengan cara-cara teror dan kekerasan, kami pun
berhasil membubarkan Partai Komunis di seluruh Indonesia . Dalam beberapa hari,
limabelas menteri pendukung Soekarno berhasil kami tangkap. Aku berpura-pura
tidak tahu ketika Soekarno menyatakan kaget mendengar gebrakanku ini. Kabarnya
dia bertanya-tanya, kenapa Soeharto melakukan tindakan-tindakan yang tidak
dikonsultasikan lebih dahulu? Maka dalam hati aku menjawab, mengapa harus
dikonsultasikan? Ini adalah politik, dan politik adalah siasat, dan siasat yang
jitu harus diraih dengan sekuat-mungkin tanpa perlu konsultasi dari pihak
manapun.
Kemudian langkah-langkah selanjutnya, sebaiknya dipercepat sajalah.
Pada tanggal 25 Juli 1966 harus diadakan Sidang Umum IV MPRS. Kabinet
pemerintahan Soekarno (Dwikora) yang 15 menterinya telah ditahan, segara kami
bubarkan. Sebagai gantinya kami bentuk kabinet baru AMPERA (Amanat Penderitaan
Rakyat), yang tentunya akulah yang harus tampil sebagai Ketua Presidiumnya. Dan
puncaknya segeralah diselenggarakan Sidang Istimewa MPRS dari tanggal 7 hingga
12 Maret 1967 yang membuat aku diangkat menjadi Pejabat Presiden, dan kontan
disambut hangat oleh Jenderal Besar A.H. Nasution, yang kemudian menandatangani
Ketetapan MPRS No. XXXIII/MPRS/1967.
Sejak saat itu, dicabutlah semua kekuasaan pemerintahan dari tangan Presiden
Soekarno. Lantas diperintahkan agar dia dilarang keras melakukan kegiatan
politik. Dan jalan terbaik sebaiknya dijebloskan sajalah ke dalam tahanan,
menyusul para pembantu dan pendukung-pendukungnya di seluruh tanah air.
Kini sejarah tentang mereka akan kami gelapkan. Pemahaman angkatan muda tentang
mereka, akan kami alihkan. Keluarga-keluarga dan anak-cucu mereka, biarlah
mengais-ngais rezeki berkalang tanah. Semua jasa-jasa dan jejak-langkah
perjuangan mereka, akan kubuat kabur dan suram.
Biar sajalah angkatan muda tidak mengenal sejarah bangsanya sendiri.
Ya, semuanya itu bermula dari Supersemar. Bukankah itu suatu siasat jitu untuk
menciptakan iklim perebutan kekuasaan berdasarkan cara-cara konstitusional.?
13
Kini kekuatan dari kalangan pers tengah dipersiapkan. Pers-pers pendukung
Soekarno, serta pers-pers berhaluan kiri sudah dibredel semuanya. Para
wartawannya sudah kami tahan. Kami mengutus beberapa tentara untuk menculik
seniman nasional Trubus, Japoq Lampong serta pengarang lagu Genjer-genjer,
namun kemudian para penculik mengabarkan adanya "kecelakaan" di tengah jalan.
Aku memaklumi mereka, dan aku paham apa yang mereka maksudkan.
Pada suatu hari aku juga menerima berita dari Solo tentang tertangkapnya
seorang tokoh dari Partai Komunis. Secepat kilat aku harus mengatur strategi
agar dia jangan sampai diperiksa, atau memberi pernyataan apapun di muka
pengadilan.
Mula-mula Kolonel Yasir dan pasukannya kuperintahkan melakukan penggrebekan di
wilayah perkampungan Sambeng. Tokoh partai itu rupanya bersembunyi di rumah
seorang pensiunan pegawai bea-cukai, yang kabarnya hidup bersama seorang
cucunya yang masih gadis remaja.
Ketika gadis itu diancam mau digagahi beramai-ramai, maka kakek tua itu
terpaksa memberitahu tempat persembunyian sang tokoh partai, yakni di belakang
lemari yang tersekat tembok dinding. Seketika itu aku mengontak Kolonel Yasir
agar segera menghabisi orang itu di tengah jalan, sebelum tiba di ibukota
Jakarta . Setelah itu kami pun mengatur siasat untuk penggelapan mayatnya, agar
orang-orang tidak dapat menemukan di mana rimbanya.
Di kemudian hari, persoalan ini memang dipertanyakan oleh sejarawan-sejarawan
angkatan muda yang berani mengungkap teka-teki ini: "Mengapa seorang tokoh
penting yang menjabat Sekjen PKI serta menjabat resmi selaku Menko, telah
dibunuh begitu saja, tanpa proses pengadilan?"
Pernyataan ini senada dengan para penulis sejarah yang berani menggugat:
"Mengapa Soekarno yang sudah siap diperiksa untuk menyampaikan yang sejujurnya
perihal seluk-beluk G30S, lantas dikenakan tahanan rumah hingga wafatnya?"
Untuk menangani persoalan pertama, aku mengarang jawaban seperti ini:
"Dikarenakan tokoh partai itu melawan dan hendak melarikan diri, terpaksa kami
tembak di tengah jalan."
Kemudian untuk menangani persoalan kedua, aku sudah mengatur jawaban
seperti ini: "Dikarenakan Soekarno adalah bapak bangsa, maka kita harus
mengamankan beliau. Tidak boleh ia dibawa ke pengadilan, karena kita harus
menghormatinya, mikul duwur, mendem jero."
Dua jawaban itu kukira sudah cukup menjadi alasan kuat untuk
mengibuli para sejarawan, budayawan atau kalangan pers di negeri ini.
14
Ada seorang cendikiawan muslim dalam suatu wawancara di suratkabar, mengutip
sebuah ayat Al-Quran yang berbunyi: "Barangsiapa memulai kezaliman maka ia akan
berada dalam pertentangan yang tak berkesudahan."
Aku tidak paham apa yang diomongkan si cendikiawan itu.
Pada kesempatan lain dia mengutip dua buah ayat Al-Quran: "Barangsiapa membunuh
manusia bukan karena kejahatannya maka ia telah membunuh seluruh manusia,
barangsiapa memelihara hidup seorang manusia maka ia telah menghidupkan seluruh
manusia. Mereka yang beriman, dan tidak mengaburkan imannya dengan kejahatan,
mereka itulah yang memperoleh kedamaian dan bimbingan yang benar."
Bahkan pernah pada suatu acara dialog di televisi, tokoh satu itu mengupas dua
buah hadits Nabi yang berbunyi: "Seorang mukmin senantiasa mendapat kelonggaran
dari agamanya selama ia tidak melakukan pembunuhan tanpa hak. Dan jika seorang
penguasa mati dalam keadaan masih menipu rakyatnya, maka Tuhan akan
mengharamkan sorga baginya.."
Aku tidak mengerti apa maksudnya mengutip-ngutip ayat dan hadits semacam itu.
Tapi dalam komentarnya tentang sosial-politik, tokoh satu itu kelihatan gegabah
dan sembarangan.
Dikiranya siapa dia. Punya kekuatan apa.
Dari sindiran-sindirannya sering diungkap mengenai keluargaku atau keluarga
cendana, bahkan disinggungnya perihal bisnis anak-cucu serta kerabat-kerabatku
dengan gaya bahasanya yang mengandung teka-teki. Dikiranya aku tidak paham sama
sekali, ke mana arah pembicaraannya itu.
Mau apa dia. Apa mau menggulingkan dan mengambil-alih kepemimpinan yang
susah-payah sudah kuraih mati-matian.
Akhirnya tokoh satu ini pun patut diperhitungkan kelak demi berjalannya
stabilitas dan keamanan negara.
15
Pembangunan sarana dan infrastruktur sebaiknya dipacu secepat-mungkin.
Kucetuskan istilah "Ideologi Pembangunan" agar merasuki pikiran masyarakat.
Investor-investor datang membanjiri negeriku. Bantuan-bantuan ekonomi kami
manfaatkan untuk pembangunan gedung-gedung megah di sana-sini. Kekayaan alam
kami keruk dan jalur-jalur perekonomian dibentangkan, dan keuntungannya
dimanfaatkan. Pengusaha-pengusaha asing kami undang demi kelestarian dan
jaminan keamanan kapitalnya.
Tentulah tawaran jutaan dollar yang dipromotori IMF sebagai modal pembangunan
sungguh menggiurkan. World Bank, IGGI dan sekian lembaga internasional
menawarkan program-programnya. Dan tanpa perlu pikir panjang, kami sambut
semuanya dengan senang hati.
Seorang pakar ekonomi Profesor Kurt Biedenkopf pernah menyatakan: "Ternyata
bangsa-bangsa kaya hanya dapat bertahan dengan melakukan ekspansi untuk
mengorbankan bangsa-bangsa yang lemah."
Pernyataan macam itu searah dengan pidato-pidato Soekarno selama Konferensi
Asia-Afrika di Bandung. Meskipun aku tidak banyak menyimak apa yang diomongkan
mereka-mereka itu. Aku tak ambil pusing.
Biar sajalah tatanan ekonomi berjalan. Segalanya mungkin bagi manusia dan boleh
dikerjakan oleh siapapun. Karena itu para anak-cucu dan kerabat terdekatku
kupercayakan untuk menangani bisnis-bisnis penting berskala besar. Segala
sarana dan fasilitas buat mereka segera kupermudah. Maka kebutuhan pun segera
diproduksi, agar produsen memproduksi pemenuhan kebutuhan yang terus-menerus
disiasati. Tidak usah dipikirkan mana kebutuhan yang sebenarnya, dan mana yang
harus direkayasa sedemikian rupa. Sampai produksi menjadi tuan dari kebutuhan
dan dari manusia. Produksi mengabdi pada manusia ataupun manusia mengabdi demi
produksi.
Untuk kelancaran semuanya mau tidak mau harus diperjelas siapa yang harus
dibantu dan dilindungi, dan siapa-siapa yang pantas untuk dikorbankan.
Campur-tangan pemerintah sangat diperlukan untuk menegakkan Ideologi
Pembangunan yang sudah kucetuskan. Sistem ekonomi koperasi yang digagas oleh
Mohammad Hatta sengaja kami abaikan. Soalnya dia termasuk dari sekian banyak
pembantu Soekarno yang paling dekat.
Segala sistem aparatur sampai wilayah agama sekalipun harus ditangani dan
dikendalikan oleh negara. Para tokoh agama, budayawan hingga cendikiawan harus
ditundukkan untuk mengabdi pada kebijakan dan ketetapan pemerintah, karena yang
boleh berlaku hanyalah ideologi dan tafsiran negara. Maka kami putuskan untuk
membentuk tim propaganda khusus bersama departemen penerangan, untuk
menyeragamkan segala informasi pada seluruh lapisan masyarakat, hingga kalangan
ulama dan kiai-kiai pesantren di seluruh pelosok negeri.
16
Ada lagi seorang tokoh publik dari kalangan penyanyi yang menjadi idola kaum
muda selama beberapa dasawarsa. Kini dia semakin berani mengungkap beberapa
peristiwa sengit yang sengaja sudah dirahasiakan. Namun dengan lantang dia
membongkar tentang peristiwa Malari, Tanjung Priok, Timor-Timur hingga Aceh.
Belum lagi masalah konflik Kedungombo, Nipah dan banyak lagi yang lainnya.
Bahkan pada kesempatan lain dia pernah menyindir-nyindir soal korban-korban
Orde Baru, pembangunan semu, kekayaan anak-cucu presiden dan para elite politik
Indonesia . Kontan saja kalangan pers selalu mengikuti gerak-gerik dan
jejak-langkahnya.
Karena itu, penyanyi satu ini harus menjadi perhitungan tersendiri, dan aku
harus merancang siasat khusus untuk dapat melumpuhkannya.
Kini aku makin tekun merumuskan tentang siapa-siapa yang layak menduduki
pemerintahan daerah, dari tingkat pusat hingga bawah, bahkan rektor-rektor
universitas pun harus ditentukan oleh kekuatan Orde Baru. Sistem untuk
menyaring dan memilih mereka sederhana saja, yakni seberapa jauh pemahamannya
tentang peristiwa 30 September 1965, serta seberapa besar kewibawaannya di
tengah masyarakat. Kalau sudah memenuhi kriteria, maka gulingkan saja mereka
yang sudah duduk memimpin, atau sebaiknya digeser secara halus dan pasti,
supaya masyarakat maklum bahwa cara-cara konstitusional telah ditempuh oleh si
calon pemimpin baru itu.
Untuk menangani wilayah-wilayah tertentu yang sulit diatasi, seperti
Timor-Timur, Aceh dan lain-lain, maka operasi militer besar-besaran akan kami
kerahkan. Beberapa petinggi-militer kupercayakan untuk menjadi komandan penuh,
khususnya mereka yang pernah kuutus mengikuti program Terrorism in Low
Intensity Conflict, yakni suatu pelatihan training bagaimana membuat aksi-aksi
profokasi dan teror, yang diselenggarakan oleh Pentagon melalui program
kerjasama militer IMET.
17
Rupanya makin lama makin memerlukan penanganan serius. Aku mencoba menenangkan
masyarakat, seakan-akan keadaan aman dan tidak terjadi apa-apa.
Tiga majalah dan tabloid dibredel sekaligus, agar tak ada lagi yang mencoba
menghasut dan memprofokasi masyarakat, serta agar menjadi pelajaran berharga
bagi yang lainnya.
Namun reaksi yang terjadi malah sebaliknya. Seketika itu muncul gelombang
protes untuk membela majalah dan para wartawan yang bertugas. Dan setelah kami
terbitkan majalah baru sebagai tandingannya, rupanya gelombang protes semakin
marak dan meluas di mana-mana. Mereka menyerukan pembelaan terhadap Muchtar
Pakpahan, Sri Bintang Pamungkas, Udin Syafrudin, Xanana Gusmao, Budiman
Sujatmiko, Wiji Thukul dan banyak lagi yang lainnya.
Belum lagi penghargaan Hak Asasi Manusia kepada pahlawan buruh yang bernama
Marsinah. Bahkan penganugerahan Nobel Perdamaian kepada politikus Ramos Horta
dan rohaniwan Ximenes Belo untuk perjuangan Timor-Timur. Ditambah lagi
kasus-kasus baru karena maraknya teknologi komunikasi dan media informasi: di
Indonesia bagian timur diberitakan tentang ratusan ribu korban rakyat
Timor-Timur, di bagian barat dikabarkan ribuan korban rakyat Aceh. Belum lagi
Ambon, Maluku, Poso, Lampung, Makassar dan seterusnya.
Mau tidak mau semuanya harus ditangani secara serius. Mau tidak mau harus
terjadi bentrokan di sana-sini. Mau tidak mau harus ada korban-korban baru yang
menjadi tumbal, agar dijadikan pelajaran berharga bagi yang lainnya.
Ya, mengapa tidak. Bukankah stabilitas nasional dan roda-roda pembangunan harus
berjalan terus.
Kini aku pun tinggal memantau dan menerima hasil laporannya:
Kematian wartawan bertambah lagi; bentrokan mahasiswa dan aparat semakin
menelan banyak korban; para aktifis LSM sudah diamankan; para penulis buku
tentang Soekarno sudah ditangkapi; ratusan orang telah diciduk dan dikurung
secara rahasia; puluhan orang yang tertembak di lapangan sengaja dirahasiakan
jejak-jejaknya, dan banyak lagi yang lainnya.
18
Namun angkatan muda negeri ini semakin berani dan berani saja. Ada apa ini.
Dari mana asal muasalnya, dan watak siapa yang mereka warisi.
Ada lagi laporan mengenai ulah seorang sastrawan yang baru dibebaskan dari
Pulau Buru, tiba-tiba dia menulis buku yang berjudul "Arus Balik". Coba
bayangkan, judulnya saja Arus Balik. Ada apa ini? Ada soal apa di negeri ini?
Sebelum itu pun sudah diluncurkan oleh Penerbit Hasta Mitra, sebuah buku yang
berjudul, "Nyanyi Sunyi Seorang Bisu", menyusul sebuah buku lagi: "Era Baru
Pemimpin Baru: Badio Menolak Rekayasa Rezim Orde Baru".
Tak berapa lama mulai bermunculan penerbit-penerbit independen yang mengikuti
jejak Hasta Mitra, lantas menerbitkan buku-buku yang berjudul seperti ini:
"Kehormatan bagi Yang Berhak", "Bayang-bayang PKI", kemudian seorang etnis Cina
berani-beraninya meluncurkan otobiografinya dengan judul: "Memoar Oei Tjoe Tat:
Pembantu Presiden Soekarno".
Tentu saja aku harus membuat gebrakan untuk melarang semua buku-buku semacam
itu..
19
Tapi makin lama keadaan makin parah saja. Gelombang demonstrasi makin marak di
mana-mana. Negeri ini seperti dikepung oleh gurita raksasa yang membuat aku
merinding ketakutan. Bantuan-bantuan ekonomi dicabut dari negara-negara asing.
Timor-Timur menuntut kemerdekaan mutlak. Aceh dan Irian Jaya ikut-ikutan
bergolak. Sedangkan di Jakarta sendiri, kerusuhan terjadi di mana-mana.
Gedung-gedung megah terbakar, pusat-pusat pertokoan dijarahi massa , bahkan
dalam satu hari dikabarkan telah terjadi pemerkosaan massal yang mengorbankan
150 lebih para wanita dari etnis Cina.
Ada apa ini? Ada soal apa di negeri ini?
Para investor dan pengusaha asing pada kabur ke negerinya masing-masing. Mereka
menuntut kejelasan tatanan ekonomi serta penyelenggaraan hak asasi manusia yang
baik di Indonesia .
Ada apa ini? Ada soal apa di negeri ini?
Bukankah lebih dari 30 tahun aku memimpin negeri ini, dan selama itu tak pernah
kuhadapi hal-hal aneh yang mengherankan macam ini? Aku tidak paham. aku tidak
ngerti semua kejadian ini. ampun, aku sudah tidak sanggup lagi..
Namun tiba-tiba mereka yang ikut-serta mendirikan pemerintahan Orde Baru pada
hengkang dan berlarian ke sana kemari. Mereka telah berpaling dari komitmen
semula. mereka saling berpencar dan kocar-kacir tak keruan..
Lantas siapa yang akan menanggung semuanya ini. di mana kawan-kawan dan
mitra-mitra bisnisku. di mana tanggungjawab mereka. kenapa mereka diam saja.
kenapa mereka tak ambil peduli. apakah aku harus segera melarikan anak-cucu dan
semua kerabatku ke luar negeri..
20
Bagaimanapun aku harus berusaha bersikap tenang. Akan kurancang siasat jitu
untuk mundur dari kursi pemerintahan. Akan kurekayasa bahasa yang tepat untuk
dapat menenangkan masyarakat. Sebab ada seorang seniman memakai istilah
"terjengkang dari kursi kekuasaan". Aku harus memasyarakatkan istilah Jawa,
yakni "lengser keprabon" (yang berarti mundur secara baik-baik).
Aku harus manfaatkan siasat-siasat lamaku, serta mengatur situasi dan kondisi
untuk menyelesaikan kepemimpinanku secara sah dan konstitusional. Bukankah
cara-cara semacam ini pernah dipercayai masyarakat, hingga berhasil
mengangkatku menjadi orang nomor satu di negeri ini?
Akan kuciptakan suasana seakan-akan aku dengan sukarela meletakkan jabatan
serta memberikan mandat kepada Wakil Presiden. Aku yakin masyarakat tidak
banyak komentar. Mereka tidak mengerti apakah cara-cara ini legal atau tidak,
karena aku telah berhasil mengelabui mereka agar tidak paham dan buta politik.
Aku yakin bahwa mereka akan tetap menghormatiku dan tunduk kepadaku. Juga akan
kusebarkan berita dan informasi di seluruh jaringan televisi dan radio, bahwa
saat ini aku tidak memiliki kekayaan sesen pun yang tersimpan di bank. Kini
sudah kuatur siasat jitu bersama anak-cucu dan kerabatku, agar aku jangan
sampai dipersalahkan di muka pengadilan, supaya segala kekayaan yang tersimpan
di bank-bank luar negeri menjadi aman dan terlindungi. Aku akan manfaatkan
semuanya itu untuk keperluan anak-cucu dan keturunanku, dan jangan sampai jatuh
di tangan negara.
Sampai kapanpun akan kurancang siasat ampuh, seperti yang sudah-sudah, agar
masyarakat tetap bisa dibodohi dan dininabobokan.
21
Terhitung mulai tanggal 21 Mei 1998 aku lengser kepabon atau mundur secara
baik-baik. Secara konstitusional murni aku menyerahkan mandat kepada wakilku,
seorang teknolog lugu dari kalangan sipil yang selama ini terang-terangan
menganggapku sebagai "guru". Akan kubiarkan dia memimpin negeri ini dengan
segala kepolosan dan keluguannya.
Dan seperti dugaanku, hari-hari pemerintahannya kemudian dihiasi dengan
keributan dan kekerasan brutal yang memuncak di sana-sini. Para pembantu dan
bekas-bekas pendukungku, bahkan kesatuan militer hingga organisasi agama, yang
dulu memanfaatkan sarana-fasilitas dari Orde Baru, yang dulu kami berikan
bantuan moril dan materil, kini semakin adu otot, saling tuding dan saling
menyalahkan.
Sudah kuduga sebelumnya, mereka kemudian menjadi petualang-petualang politik di
tiap-tiap kota dan propinsi, berebut kursi dan kekuasaan, menjadi raja-raja
kecil, seakan-akan akulah yang menjadi guru dan teladan bagi mereka semua.
Sementara itu, para koruptor kakap yang selama ini menjadi kaki-tanganku,
dengan lihainya menyembunyikan diri untuk mundur selangkah, serta membiarkan
hutang negara menumpuk, hingga menimbulkan krisis ekonomi yang berkepanjangan,
yang mengakibatkan kerusuhan dan keributan terus merebak di seluruh penjuru
negeri.
Biar sajalah semuanya itu terjadi. Toh aku sudah menjadi masyarakat biasa, dan
aku tak perlu tanggungjawab mengenai semua huru-hara dan kekacauan di negeri
ini. Aku perintahkan seorang anakku untuk merawatku dengan baik-baik,
seakan-akan aku menderita sakit permanen, atau - kalau perlu - pura-pura sakit
jiwa, agar aku terselamatkan dari tuntutan pengadilan.
22
Partai-partai baru berdiri di sana-sini. Kekacauan semakin merebak di
mana-mana. Angkatan muda menuntut agar aku beserta keluarga dan kroni-kroniku
segera diadili atas pelanggaran HAM selama 32 tahun, juga tindakan korupsi,
kolusi dan nepotisme (KKN). Mahkamah agung - sesuai lobi dan rancanganku -
hanya memusatkan perhatian pada soal KKN, dan masyarakat pun sepertinya maklum.
Sebelum itu, tentu saja sudah kuatur siasat dan strategi untuk menggelapkan,
memalsukan serta memindah-tangankan semua nomor-nomor rekening atas namaku -
baik di dalam dan luar negeri - hingga pembuktian materil tidak lengkap, dan
karenanya tuntutan hukum bisa dimentahkan. Dan ketika saatnya diadakan
pemeriksaan, orang-orang kejaksaan rupanya cukup lihai untuk menghimpun
pertanyaan yang membuatku bisa berkelit ke sana kemari, hingga suasana tetap
mengambang dan menemui jalan buntu.
Ketika angkatan muda semakin berduyun-duyun memadati halaman kejaksaan agung,
pemeriksaan pun dipindahkan ke tempat lain, tanpa sepengetahuan publik.
Seketika itu para mahasiswa dan pemuda nampaknya sudah tidak bisa dikelabui
lagi. Ada apa ini? Watak dan keberanian siapa yang mereka warisi? Perjuangan
mereka sepertinya tanpa pamrih, dan atas dasar kemauan dan semangat mereka
sendiri.
Padahal pemuda angkatan '66 masih bisa diperalat dan dikelabui untuk
menjatuhkan Soekarno, dengan berbagai sarana dan fasilitas yang disediakan buat
mereka.
Tapi kali ini, coba bayangkan, mereka secara serentak meneriakkan yel-yel dan
spanduk-spanduk bertuliskan:
Bersihkan Kabinet dari Orang-orang Orde Baru
Soeharto Dalang Semua Bencana
Hentikan Penjajahan Gaya Orde Baru
Rombak Badan Yudikatif Indonesia
Bersihkan Aparat-aparat Hukum yang Tersangkut dengan Orde Baru
Bung Karno dan Pendukungnya Harus Direhabilitasi
Pada aksi-aksi demonstrasi di kampus-kampus dan jalanan, nampak pula
spanduk-spanduk berbunyi:
Usut Tuntas Surat Perintah Sebelas Maret
Bubarkan 3 Partai Bentukan Orde Baru
Jadikan Museum Lubang Buaya Sebagai Museum Rekayasa
Orde Baru
Tindak Tegas Para Perampok Hutan
Perkuat Sistem Pertahanan Maritim Kita
Revolusi Belum Selesai
Kembalilah pada Bung Karno dan Semangat '45
23
Kini aku tidak mau lagi mengikuti berita-berita yang terjadi di negeri ini. Aku
harus mengisi masa-masa tuaku dengan istirahat penuh di rumah, meskipun aku
masih kuat untuk berziarah ke makam istriku di Solo, atau menengok anakku di
Nusakambangan. Entah karena kesalahan apa dia bisa mendekam di sana (tak
seorang pun memberitahu aku).
Sekarang aku tidak peduli bagaimana nasib anak-anakku di kemudian hari, bahkan
nasib bangsa ini pun, aku tak mau ambil pusing. Ya, aku hanya senang mengikuti
acara-acara televisi yang menyiarkan perjudian dan kuis-kuis, seperti Who Want
to be a Millioners, baik dari dalam dan luar negeri. Selain itu, aku tidak
peduli dan tidak mau ambil pusing perihal demonstrasi, spanduk-spanduk dan
yel-yel yang bertebaran di sana-sini. Biar sajalah pemuda dan mahasiswa itu
berteriak-teriak menggugat kami, toh mereka tidak paham tentang dunia hukum dan
pengadilan Indonesia yang masih bisa disetting untuk bersikeras membelaku
beserta kerabat dan saudara terdekatku.
Kini aku sudah mempersiapkan pengacara-pengacara handal dan termahal di negeri
ini, sambil kupancing daya tarik mereka agar bersimpati kepadaku. Mereka sudah
kukerahkan untuk serentak tampil di depan publik, agar menyampaikan kesan-kesan
baik tentang aku dan keluargaku. Aku berusaha bersikap sopan dan lembut di
hadapan mereka, supaya mereka makin gigih dalam pembelaanya terhadap kami.
Sampai kapanpun aku berusaha - dengan cara apapun - agar masyarakat Indonesia
tetap menjadi bangsa-bangsa budak dan kuli, yang mudah diperalat dan dikelabui
oleh segala-macam alasan dan perkataanku..
***
(Ditulis untuk menggugat buku "Sukarno File" karya Antonie CA Dake, dari hasil
penelitian penulis selama 9 tahun, sekaligus sebagai korban langsung dari
kejahatan rejim Soeharto dan Orde Baru).
Hafis Azhari
Ketua K2PSI
(Kelompok Kerja Perumusan Sejarah Indonesia )
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Catatan Harian Seorang Mantan Presiden