[ppi] Re: [ppiindia] CROSS fWD (fwd)
- From: "amartien" <amartien@xxxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Thu, 30 Sep 2004 00:45:13 -0400 (EDT)
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Dengan uraiannya yang panjang lebar, terlihat sekali bahwa penulis tidak
mengerti akan artinya kalimat :it's like religion tsb. Mungkin karena tidak
menghayati kebudayaan dan bahasa inggris sepenuhnya.
Saya akan mencoba menerangkan arti sebenarnya dari pada kalimat/slogan tsb.
dengan bahasaku yang sederhana.
Orang yang patuh dengan agama (religion), se-hari2 kehidupannya mengikuti
ajaran agama tsb, dan kadangkala ada yang fanatik dengan kepatuhannya tsb.
Orang2 yang senang sepak bola, ada juga yang 'fanatik', dimana mereka se-hari2
think and breath soccer, se-hari2 mengikuti berita sepak bola umpamanya,
berdebat dengan kawan2-nya mengenai pemain mana yang paling baik, t shirtnya
banyak yang ada kata2/club2 soccer, umpamanya.
Jadi yang dimaksud dengan 'it's like religon' tidak berarti bahwa sepak bola
itu dianggap seperti agama seperti yang disangka penulis. Arti dari pada
kalimat tsb. adalah: penggemar bola mengikuti dengan tekun dan seksama segala
hal mengenai bola. Jadi bukan sepak bolanya yang sama dengan religion,
melainkan ketekunan penggenar sepak bolah tsb. yang sama dengan ketekunan orang
yang beragama.
amartien
--- On Wed 09/29, Suhiro < hiro75@xxxxxxxxxxxxxx > wrote:
From: Suhiro [mailto: hiro75@xxxxxxxxxxxxxx]
To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
Date: Wed, 29 Sep 2004 23:47:04 -0400 (EDT)
Subject: [ppiindia] CROSS fWD (fwd)
<br><br><br> <br>> -----Original Message-----<br>> From: Fahmi R. Kubra
[mailto:FahmiKubra@xxxxxxxxxx] <br>> <br>> <br>> Agama dan Tuhan dalam
pandangan barat<br>> <br>> oleh Hamid Fahmy Zarkasyi*<br>> Majalah Islamia,
ISTAC , Kualumpur malaysia<br>> <br>> Di pinggir jalan kota Manchester Inggris
terdapat papan iklan besar<br>> bertuliskan kata-kata singkat "It's like
Religion". Iklan itu tidak<br>> ada hungannya dengan agama atau kepercayaan
apapun. Di situ<br>> terpampang gambar seorang pemain bola dengan latar
belakang ribuan<br>> supporternya yang fanatic. Saya baru tahu kalau itu iklan
klub<br>> sepakbola setelah membaca tulisan di bawahnya Manchester United<br>>
<br>> Sepak bola dengan supporter fanatik itu biasa, tapi tulisan it's<br>>
like religion itu cukup mengusik pikiran saya. Kalau iklan itu<br>> dipasang di
jalan Thamrin Jakarta ummat beragama pasti akan geger.<br>> Ini pelecehan
terhadap agama. Tapi di Barat agama bisa difahami<br>> seperti itu. Agama
adalah f
anatisme, kata para sosiolog. Bahkan<br>> ketika seorang selebritinya
mengatakan My religion is song, sex, sand<br>> and champagne juga masih
dianggap waras. Mungkin ini yang disinyalir<br>> al-Qur'an ara'ayta man
ittakhadna ilaahahu hawaahu (QS.25:43).<br>> <br>> Pada dataran diskursus
akademik, makna religion di Barat memang<br>> problematik. Bertahun-tahun
mereka mencoba mendefinisikan religion<br>> tapi gagal. Mereka tetap tidak
mampu menjangkau hal-hal yang khusus.<br>> Jikapun mampu mereka terpaksa
menafikan agama lain. Ketika agama<br>> didefinisikan sebagai kepercayaan, atau
kepercayaan kepada yang Maha<br>> Kuasa (Supreme Being), kepercayaan primitif
di Asia menjadi bukan<br>> agama. Sebab agama primitif tidak punya kepercayaan
formal, apalagi<br>> doktrin.<br>> <br>> F. Schleiermacher kemudian
mendefinisikan agama dengan tidak terlalu<br>> doktriner, agama adalah "rasa
ketergantungan yang absolut"<br>> (feeling of absolute dependence). Demikian
pula Whitehead, agam
a<br>> adalah "apa yang kita lakukan adalah kesendirian". Di sini faktor-<br>>
faktor terpentingnya adalah emosi, pengalaman, intuisi dan etika. Tapi<br>>
definisi ini hanya sesuai untuk agama primitif yang punya tradisi<br>> penuh
dengan ritus-ritus, dan tidak cocok untuk agama yng punya<br>> stuktur
keimanan, ide-ide dan doktrin-doktrin.<br>> <br>> Tapi bagi sosiolog dan
antropolog memang begitu. Bagi mereka religion<br>> sama sekali bukan
seperangkat ide-ide, nilai atau pengalaman yang<br>> terpisah dari matrik
kultural. Bahkan, kata mereka, beberapa<br>> kepercayaan, adat istiadat atau
ritus-ritus keagamaan tidak difahami<br>> kecuali dengan matrik kultural
tersebut. Emile Durkheim malah yakin<br>> bahwa masyarakat itu sendiri sudah
cukup sebagai faktor penting bagi<br>> rasa berkebutuhan dalam jiwa. (Lihat The
Elementary Forms of the<br>> Religious Life, New York, 1926, 207). Tapi bagi
pakar psikologi agama<br>> justeru harus diartikan dari faktor kekuatan
kejiwaan manu
sia<br>> ketimbang faktor sosial dan intelektual. Para psikolog Barat<br>>
nampaknya trauma dengan makna agama yang doktriner, sehingga tidak<br>> peduli
dengan aspek ekstra-sosial, ekstra-sosiologis ataupun ekstra<br>> psikologis.
Aspek immanensi lebih dipentingkan daripada aspek<br>> transendensi.<br>> <br>>
Sejatinya, akar kebingungan Barat mendefinisikan religion karena<br>> konsep
Tuhan yang bermasalah. Agama Barat "Kristen" kata<br>> Amstrong dalam History
of God justeru banyak bicara Yesus Kristus<br>> ketimbang Tuhan. Padahal, Yesus
sendiri tidak pernah mengklaim<br>> dirinya suci, apalagi Tuhan. Dalam hal ini
kesimpulan Profesor al-<br>> Attas sangat jitu `Islam, sebagai agama, telah
sempurna sejak<br>> diturunkan'. Konsep Tuhan, agama, ibadah, manusia dan
lain-lain telah<br>> jelas. Konsep-konsep selanjutnya hanyalah penjelasan dari
konsep-<br>> konsep itu tanpa merubah konsep asalnya. Sedang di Barat konsep
Tuhan<br>> mereka sejak awal bermasalah sehingga perlu di
rekayasa agar bisa<br>> diterima akal manusia.<br>> <br>> Kita mungkin akan
tersenyum membaca judul buku yang baru terbit di<br>> Barat, To
morrow's God (Tuhan Masa Depan), karya Neale Donald<br>> Walsch. Tuhan
agama-agama yang ada tidak lagi cocok untuk masa kini.<br>> Tuhan haruslah
seperti apa yang digambarkan oleh akal modern. Manusia<br>> makhluk berakal
(rational animal) terpaksa menggusur manusia makhluk<br>> Tuhan. Pada puncaknya
nanti manusialah yang menciptakan Tuhan dengan<br>> akalnya.<br>> <br>>
Kata-kata Socrates: "Wahai warga Athena! Aku percaya pada Tuhan,<br>> tapitidak
akan berhenti berfilsafat", bisa berarti "Saya beriman<br>> tapi saya akan
tetap menggambarkan Tuhan dengan akal saya sendiri".<br>> Wilfred Cantwell
Smith nampaknya setuju. Dalam makalahnya berjudul<br>> Philosophia as One of
the Religious Tradition of Mankind, ia<br>> mengkategorikan tradisi intelektual
Yunani sebagai agama. Akhirnya,<br>> sama juga mengamini Nietzche bahwa Tuhan
hanyalah realitas subyektif<br>> dalam fikiran manusia, alias khayalan manusia
yang tidak ada dalam<br>> realitas obyektif. Konsep Tuhan inilah yang j
usteru menjadi lahan<br>> subur bagi atheisme. Sebab Tuhan bisa dibunuh.<br>>
<br>> Jika Imam Al-Ghazzali dikaruniai umur hingga abad ini mungkin ia<br>>
pasti sudah menulis berjilid-jilid Tahafut. Sekurang-kurangnya ia<br>> akan
menolak jika Islam dimasukkan ke dalam devinisi religion versi<br>> Barat dan
Allah disamakan dengan Tuhan spekulatif. Jika konsep<br>> Unmoved Mover
Aristotle saja ditolak, kita bisa bayangkan apa reaksi<br>> al-Ghazzali ketika
mengetahui tuhan di Barat kini is not longer<br>> Supreme Being (Tidak lagi
Maha Kuasa).<br>> <br>> Konsep Tuhan di Barat kini sudah hampir sepenuhnya
rekayasa akal<br>> manusia. Bukti Tuhan `harus' mengikuti peraturan akal<br>>
manusia. Ia `tidak boleh' menjadi tiran, `tidak boleh' ikut<br>> campur dalam
kebebasan dan kreativitas manusia. Tuhan yang ikut<br>> mengatur alam semesta
adalah absurd. Tuhan yang personal dan tiranik<br>> itulah yang pada abad ke19
`dibunuh' Nietzche dari pikiran manusia.<br>> Tuhan Pencipta tidak
wujud pada nalar manusia produk kebudayaan Barat.<br>> Agama disana akhirnya
tanpa Tuhan atau bahkan Tuhan tanpa Tuhan.<br>> Disini kita baru faham mengapa
Manchester United dengan penyokongnya<br>> itu like religion. Malu mengatakan
it's really religion but<br>> without god.<br>> <br>> Kini di Indonesia dan di
negeri-negeri Muslim lainnya cendikiawan<br>> Muslim mulai ikut-ikutan risih
dengan konsep Allah Maha Kuasa<br>> (Supreme Being). Tuhan tidak lagi mengatur
segala aspek kehidupan<br>> manusia. Bahkan kekuasaan Tuhan harus dibatasi.
Benteng pemisah<br>> antara agama dan politik dibangun kokoh. Para kyai dan
cendekiawan<br>> Muslim seperti berteriak "politik Islam no" tapi lalu<br>>
berbisik "berpolitik yes", "money politik la siyyana"<br>> <br>> Tapi ketika
benteng pemisah agama dan politik dibangun, tiba-tiba<br>> tembok pemisah
agama-agama dihancurkan. "Ini proyek besar<br>> bung!" kata fulan berbisik.
"Ini zaman globalisasi" kata Profesor<br>> pakar studi Islam. Sa
ntri-santri diajari berani bilang "ya Akhi tuhan<br>> semua agamaitu sama,
yang beda hanya namaNya". "Gus! maulud Nabi sama<br>> saja dengan maulud Isa
atau Natalan". Mahasiswa Muslimpun diajari<br>> logika realitas "jangan ada
yang menganggap agamanya paling benar".<br>> Para ulama diperingati "jangan
mengatasnamakan Tuhan". Kini semua<br>> orang "harus" menerima pluralitas dan
pluralisme sekaligus,<br>> pluralisme seperi juga sekularisme dianggap hukum
alam. Samar-samar<br>> seperti ada suara besar mengingatkan "kalau Anda tidak
pluralis<br>> pasti anda teroris".<br>> <br>> Kini agar menjadi seorang
pluralis kita tidak perlu meyakini<br>> kebenaran agama kita. Kata-kata Hamka
"yang bilang semua agama<br>> sama berarti tidak beragama" mungkin dianggap
kuno. Kini yang laris<br>> manis adalah konsep global theology-nya F. Schuon.
Semua agama sama<br>> pada level esoteris. Di negeri Muslim terbesar di dunis
ini, lagu-lagu<br>> lama Nietzche tentang relativisme dan nihilisme di
nyanyikan mahasiswa<br>> Muslim dengan penuh emosi dan semangat. "Tidak ada
yang absolut<br>> selain Allah" artinya `tidak ada yang tahu ke
_______________________________________________
No banners. No pop-ups. No kidding.
Make My Way your home on the Web - http://www.myway.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts: