[ppi] Re: [ppiindia] CROSS fWD (fwd)

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **

Dengan uraiannya yang panjang lebar, terlihat sekali bahwa penulis tidak 
mengerti akan artinya kalimat :it's like religion tsb.  Mungkin karena tidak 
menghayati kebudayaan dan bahasa inggris sepenuhnya.

Saya akan mencoba menerangkan arti sebenarnya dari pada kalimat/slogan tsb. 
dengan bahasaku yang sederhana.

Orang yang patuh dengan agama (religion), se-hari2 kehidupannya mengikuti 
ajaran agama tsb, dan kadangkala ada yang fanatik dengan kepatuhannya tsb. 

Orang2 yang senang sepak bola, ada juga yang 'fanatik', dimana mereka se-hari2 
think and breath soccer, se-hari2 mengikuti berita sepak bola umpamanya, 
berdebat dengan kawan2-nya mengenai pemain mana yang paling baik, t shirtnya 
banyak yang ada kata2/club2 soccer, umpamanya.

Jadi yang dimaksud dengan 'it's like religon' tidak  berarti bahwa sepak bola 
itu dianggap seperti agama seperti yang disangka penulis. Arti dari pada 
kalimat tsb. adalah:  penggemar bola mengikuti dengan tekun dan seksama segala 
hal mengenai bola.  Jadi bukan sepak bolanya yang sama dengan religion, 
melainkan ketekunan penggenar sepak bolah tsb. yang sama dengan ketekunan orang 
yang beragama.


amartien






 --- On Wed 09/29, Suhiro < hiro75@xxxxxxxxxxxxxx > wrote:
From: Suhiro [mailto: hiro75@xxxxxxxxxxxxxx]
To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
Date: Wed, 29 Sep 2004 23:47:04 -0400 (EDT)
Subject: [ppiindia] CROSS fWD (fwd)

<br><br><br> <br>> -----Original Message-----<br>> From: Fahmi R. Kubra 
[mailto:FahmiKubra@xxxxxxxxxx] <br>>  <br>> <br>> Agama dan Tuhan dalam 
pandangan barat<br>> <br>> oleh Hamid Fahmy Zarkasyi*<br>> Majalah Islamia, 
ISTAC , Kualumpur malaysia<br>> <br>> Di pinggir jalan kota Manchester Inggris 
terdapat papan iklan besar<br>> bertuliskan kata-kata singkat "It's like 
Religion". Iklan itu tidak<br>> ada hungannya dengan agama atau kepercayaan 
apapun. Di situ<br>> terpampang gambar seorang pemain bola dengan latar 
belakang ribuan<br>> supporternya yang fanatic. Saya baru tahu kalau itu iklan 
klub<br>> sepakbola setelah membaca tulisan di bawahnya Manchester United<br>> 
<br>> Sepak bola dengan supporter fanatik itu biasa, tapi tulisan it's<br>> 
like religion itu cukup mengusik pikiran saya. Kalau iklan itu<br>> dipasang di 
jalan Thamrin Jakarta ummat beragama pasti akan geger.<br>> Ini pelecehan 
terhadap agama. Tapi di Barat agama bisa difahami<br>> seperti itu. Agama 
adalah f
 anatisme, kata para sosiolog. Bahkan<br>> ketika seorang selebritinya 
mengatakan My religion is song, sex, sand<br>> and champagne juga masih 
dianggap waras. Mungkin ini yang disinyalir<br>> al-Qur'an ara'ayta man 
ittakhadna ilaahahu hawaahu (QS.25:43).<br>> <br>> Pada dataran diskursus 
akademik, makna religion di Barat memang<br>> problematik. Bertahun-tahun 
mereka mencoba mendefinisikan religion<br>> tapi gagal. Mereka tetap tidak 
mampu menjangkau hal-hal yang khusus.<br>> Jikapun mampu mereka terpaksa 
menafikan agama lain. Ketika agama<br>> didefinisikan sebagai kepercayaan, atau 
kepercayaan kepada yang Maha<br>> Kuasa (Supreme Being), kepercayaan primitif 
di Asia menjadi bukan<br>> agama. Sebab agama primitif tidak punya kepercayaan 
formal, apalagi<br>> doktrin.<br>> <br>> F. Schleiermacher kemudian 
mendefinisikan agama dengan tidak terlalu<br>> doktriner, agama adalah "rasa 
ketergantungan yang absolut"<br>> (feeling of absolute dependence). Demikian 
pula Whitehead, agam
 a<br>> adalah "apa yang kita lakukan adalah kesendirian". Di sini faktor-<br>> 
faktor terpentingnya adalah emosi, pengalaman, intuisi dan etika. Tapi<br>> 
definisi ini hanya sesuai untuk agama primitif yang punya tradisi<br>> penuh 
dengan ritus-ritus, dan tidak cocok untuk agama yng punya<br>> stuktur 
keimanan, ide-ide dan doktrin-doktrin.<br>> <br>> Tapi bagi sosiolog dan 
antropolog memang begitu. Bagi mereka religion<br>> sama sekali bukan 
seperangkat ide-ide, nilai atau pengalaman yang<br>> terpisah dari matrik 
kultural. Bahkan, kata mereka, beberapa<br>> kepercayaan, adat istiadat atau 
ritus-ritus keagamaan tidak difahami<br>> kecuali dengan matrik kultural 
tersebut. Emile Durkheim malah yakin<br>> bahwa masyarakat itu sendiri sudah 
cukup sebagai faktor penting bagi<br>> rasa berkebutuhan dalam jiwa. (Lihat The 
Elementary Forms of the<br>> Religious Life, New York, 1926, 207). Tapi bagi 
pakar psikologi agama<br>> justeru harus diartikan dari faktor kekuatan 
kejiwaan manu
 sia<br>> ketimbang faktor sosial dan intelektual. Para psikolog Barat<br>> 
nampaknya trauma dengan makna agama yang doktriner, sehingga tidak<br>> peduli 
dengan aspek ekstra-sosial, ekstra-sosiologis ataupun ekstra<br>> psikologis. 
Aspek immanensi lebih dipentingkan daripada aspek<br>> transendensi.<br>> <br>> 
Sejatinya, akar kebingungan Barat mendefinisikan religion karena<br>> konsep 
Tuhan yang bermasalah. Agama Barat "Kristen" kata<br>> Amstrong dalam History 
of God justeru banyak bicara Yesus Kristus<br>> ketimbang Tuhan. Padahal, Yesus 
sendiri tidak pernah mengklaim<br>> dirinya suci, apalagi Tuhan. Dalam hal ini 
kesimpulan Profesor al-<br>> Attas sangat jitu `Islam, sebagai agama, telah 
sempurna sejak<br>> diturunkan'. Konsep Tuhan, agama, ibadah, manusia dan 
lain-lain telah<br>> jelas. Konsep-konsep selanjutnya hanyalah penjelasan dari 
konsep-<br>> konsep itu tanpa merubah konsep asalnya. Sedang di Barat konsep 
Tuhan<br>> mereka sejak awal bermasalah sehingga perlu di
 rekayasa agar bisa<br>> diterima akal manusia.<br>> <br>> Kita mungkin akan 
tersenyum membaca judul buku yang baru terbit di<br>> Barat, To
 morrow's God (Tuhan Masa Depan), karya Neale Donald<br>> Walsch. Tuhan 
agama-agama yang ada tidak lagi cocok untuk masa kini.<br>> Tuhan haruslah 
seperti apa yang digambarkan oleh akal modern. Manusia<br>> makhluk berakal 
(rational animal) terpaksa menggusur manusia makhluk<br>> Tuhan. Pada puncaknya 
nanti manusialah yang menciptakan Tuhan dengan<br>> akalnya.<br>> <br>> 
Kata-kata Socrates: "Wahai warga Athena! Aku percaya pada Tuhan,<br>> tapitidak 
akan berhenti berfilsafat", bisa berarti "Saya beriman<br>> tapi saya akan 
tetap menggambarkan Tuhan dengan akal saya sendiri".<br>> Wilfred Cantwell 
Smith nampaknya setuju. Dalam makalahnya berjudul<br>> Philosophia as One of 
the Religious Tradition of Mankind, ia<br>> mengkategorikan tradisi intelektual 
Yunani sebagai agama. Akhirnya,<br>> sama juga mengamini Nietzche bahwa Tuhan 
hanyalah realitas subyektif<br>> dalam fikiran manusia, alias khayalan manusia 
yang tidak ada dalam<br>> realitas obyektif. Konsep Tuhan inilah yang j
 usteru menjadi lahan<br>> subur bagi atheisme. Sebab Tuhan bisa dibunuh.<br>> 
<br>> Jika Imam Al-Ghazzali dikaruniai umur hingga abad ini mungkin ia<br>> 
pasti sudah menulis berjilid-jilid Tahafut. Sekurang-kurangnya ia<br>> akan 
menolak jika Islam dimasukkan ke dalam devinisi religion versi<br>> Barat dan 
Allah disamakan dengan Tuhan spekulatif. Jika konsep<br>> Unmoved Mover 
Aristotle saja ditolak, kita bisa bayangkan apa reaksi<br>> al-Ghazzali ketika 
mengetahui tuhan di Barat kini is not longer<br>> Supreme Being (Tidak lagi 
Maha Kuasa).<br>> <br>> Konsep Tuhan di Barat kini sudah hampir sepenuhnya 
rekayasa akal<br>> manusia. Bukti Tuhan `harus' mengikuti peraturan akal<br>> 
manusia. Ia `tidak boleh' menjadi tiran, `tidak boleh' ikut<br>> campur dalam 
kebebasan dan kreativitas manusia. Tuhan yang ikut<br>> mengatur alam semesta 
adalah absurd. Tuhan yang personal dan tiranik<br>> itulah yang pada abad ke19 
`dibunuh' Nietzche dari pikiran manusia.<br>> Tuhan Pencipta tidak
  wujud pada nalar manusia produk kebudayaan Barat.<br>> Agama disana akhirnya 
tanpa Tuhan atau bahkan Tuhan tanpa Tuhan.<br>> Disini kita baru faham mengapa 
Manchester United dengan penyokongnya<br>> itu like religion. Malu mengatakan 
it's really religion but<br>> without god.<br>> <br>> Kini di Indonesia dan di 
negeri-negeri Muslim lainnya cendikiawan<br>> Muslim mulai ikut-ikutan risih 
dengan konsep Allah Maha Kuasa<br>> (Supreme Being). Tuhan tidak lagi mengatur 
segala aspek kehidupan<br>> manusia. Bahkan kekuasaan Tuhan harus dibatasi. 
Benteng pemisah<br>> antara agama dan politik dibangun kokoh. Para kyai dan 
cendekiawan<br>> Muslim seperti berteriak "politik Islam no" tapi lalu<br>> 
berbisik "berpolitik yes", "money politik la siyyana"<br>> <br>> Tapi ketika 
benteng pemisah agama dan politik dibangun, tiba-tiba<br>> tembok pemisah 
agama-agama dihancurkan. "Ini proyek besar<br>> bung!" kata fulan berbisik. 
"Ini zaman globalisasi" kata Profesor<br>> pakar studi Islam. Sa
 ntri-santri diajari berani bilang "ya Akhi tuhan<br>> semua agamaitu sama, 
yang beda hanya namaNya". "Gus! maulud Nabi sama<br>> saja dengan maulud Isa 
atau Natalan". Mahasiswa Muslimpun diajari<br>> logika realitas "jangan ada 
yang menganggap agamanya paling benar".<br>> Para ulama diperingati "jangan 
mengatasnamakan Tuhan". Kini semua<br>> orang "harus" menerima pluralitas dan 
pluralisme sekaligus,<br>> pluralisme seperi juga sekularisme dianggap hukum 
alam. Samar-samar<br>> seperti ada suara besar mengingatkan "kalau Anda tidak 
pluralis<br>> pasti anda teroris".<br>> <br>> Kini agar menjadi seorang 
pluralis kita tidak perlu meyakini<br>> kebenaran agama kita. Kata-kata Hamka 
"yang bilang semua agama<br>> sama berarti tidak beragama" mungkin dianggap 
kuno. Kini yang laris<br>> manis adalah konsep global theology-nya F. Schuon. 
Semua agama sama<br>> pada level esoteris. Di negeri Muslim terbesar di dunis 
ini, lagu-lagu<br>> lama Nietzche tentang relativisme dan nihilisme di
 nyanyikan mahasiswa<br>> Muslim dengan penuh emosi dan semangat. "Tidak ada 
yang absolut<br>> selain Allah" artinya `tidak ada yang tahu ke
_______________________________________________
No banners. No pop-ups. No kidding.
Make My Way your home on the Web - http://www.myway.com



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: