[ppi] [ppiindia] CATATAN MENYAMBUT MATAHARI PAGI: SURAT TENTANG SASTRA KEPADA ANAS AGE [19]
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>, <wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>, "ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Fri, 12 Nov 2004 13:58:14 +0100
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
CATATAN MENYAMBUT MATAHARI PAGI:
SURAT TENTANG SASTRA KEPADA ANAS AGE [19]
Mengapa "ekspresi erotis yang merajalela dan cenderung tak terkendalikan selama
ini", justru timbul setelah Jendral Soeharto dipaksa turun dari panggung
kepresidenan?
"Pada masa Orde Baru, ekspresi erotis di Indonesia cenderung ditutup-tutupi.
Setelah runtuhnya Orde Baru, semua sumbat yang pernah ada ikut runtuh dan
menyuburkan perkembangannya. Tidak heran jika permasalahan ini menjadi sesuatu
yang biasa dan secara otomatis dianggap tidak tabu lagi.Bahkan, pada beberapa
keadaan, ekspresi erotis ini sudah dianggap sebagai bumbu yang tanpanya sesuatu
menjadi tidak sedap.
Banyak media digunakan untuk mengekspos hal-hal yang berbau erotis"
Demikian tulis panitya seminar sehari tentang "EKSPRESI EROTIS DALAM PERSPEKTIF
BAHASA, SASTRA DAN PSIKOLOGI" yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan
Bahasa Dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri
Yogyakarta pada 28 September 2004 lalu.
"Pada masa Orde Baru, ekspresi erotis di Indonesia cenderung ditutup-tutupi".
Bentuk dari suatu kemunafikan karena "ekspresi erotis" ini kita saksikan dalam
ujud fisik berupa tebaran "motel" di berbagai pojok kota-kota besar di Jawa dan
pelayanan di hotel-hotel yang menjajakan "tubuh perempuan" [Rincian kemunafikan
ini ditelanjangi habis oleh Moammar Emka dalam bukunya "Jakarta
Undercover.Sex'n the City", Galang Press, Yogyakarta, 2002, 486 hlm]. Dasar
sosial beginilah kukira yang dicerminkan oleh karya-karya sastra yang
mengeksplorasi dan mengeksploatasi "tubuh perempuan" sehingga sampai pada taraf
"yang merajalela dan cenderung tak terkendalikan". Untuk memupuri dan
melindungi kehanyutan diri para sastrawan dan yang menyebut diri kaum "feminis"
maka dipasanglah etiket-etiket teoritis tertentu yang mentereng seperti
"melawan gempuran kapitalisme di era globalisasi", "kesetaraan jender" dan
lain-lain... Apa yang dilakukan oleh para sastrawati yang mengeksplorasi "tubuh
pere
mpuan" dalam karya-karya mereka untuk gerakan emanzsipasi? Apakah mereka
menyatukan diri dengan gerakan emansipasi masyarakat ataukah mabuk sendiri
dengan ketenaran bikinan dan memandang lingkungan dari menara gading mereka?
Inikah ujud dari perlawanan terhadap "gempuran kapitalisme"? Apabila Jurusan
Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas
Negeri Yogyakarta sebagai panitya seminar sehari yang membahas masalah
"ekspresi erotis" berkata tentang "semua sumbat yang pernah ada ikut runtuh" ,
istilah lain untuk sensor atau pembredelan, kita bisa mempertanyakan:
Sumbangan apa yang telah disumbangkan oleh para sastrawati yang mengeksploatasi
"tubuh perempuan" dalam karya-karya mereka untuk membuang "sumbat" ini? Mereka
sama sekali tidak tersumbat karena "Pada masa Orde Baru, ekspresi erotis di
Indonesia cenderung ditutup-tutupi". Yang disumbat adalah segala pikiran dan
kegiatan yang bersifat politis dan bukan memperdagangkan "tubuh perempuan" yan
g juga dilakukan oleh para penulis perempuan kita dan diangkat-angkat serta
disanjung oleh para kritisi dan budayawan beken kita secara tidak
bertanggungjawab sosial. Meninggalnya Munir dengan cara meracuninya menunjukkan
bahwa pada hakekatnya "sumbat" itu belum sepenuhnya lepas dan terbuang bahkan
mengambil bentuk sangat brutal dan kalap. Tindakan meracuni Munir sampai
meninggal merupakan bentuk peringatan kepada semua aktivis kemanusiaan
lainnya. Jika kalian meneruskan kegiatan anti militerisme dan otoritarianisme,
kalian akan mengalami nasib seperti Munir alias dimunirkan.Tentu saja cepat
atau lambat militerisme, sebagai negara dalam negara akan dikalahkan. cepat
atau lambat mereka akan dikalahkan. Militerisme adalah busa kehiduoan. Para
penyokongnya adalah debu mengotori kehidupan bangsa.Dan kukira perlu dicatat
bahwa mengendornya taraf tutupan "sumbat" bukan gratis, tapi dibayar dengan
darah dan airmata perlawanan demi perlawanan.Jika ada yang mengatakan bahwa ada
a
nggota tentara yang dicangkuli kepalanya oleh rakyat, dalam perbandingan,
manakah lebih banyak tentara yang mati atau rakyat biasa yang dibunuh oleh
tentara atas perintah dan sistem militeristik? Yang membenarkan militerisme dan
mensahkan masakare oleh militerisme tidak lain dari orang-orang haus darah dan
membangun menara gadingnya dari tulang rakyat dan mencatnya dengan darah rakyat
anak bangsa ini sendiri. Menjajakan "tubuh perempuan" dalam karya sastra tidak
lain merupakan bagian dari masakre ini dalam bentuk lain. Sastrawan jenis ini
kukira tidak lain dari sastrawan yang langsung tidak langsung berdarah tangan
hingga nurani mereka sekalipun mereka dari angkatan muda.
Menjajakan "tubuh perempuan" dan karya-karya yang menjajakan "tubuh perempuan"
dan kebobrokan selama Orba tidak pernah disumbat. Seperti kukatakan di atas
"tubuh perempuan" adalah termasuk barang dagangan laris semenjak Orba. Aku
hanya merasa aneh saja jika ada yang mengatakan para penulis perempuan yang
menjadi pedagang "tubuh perempuan" disebut sebagai sastrawan pelopor, melalukan
pembaharuan dan berbagai kata sifat lainnya. Predikat begini menunjukkan bahwa
"there is some wrong in the state of Danemark" of pemikiran dan mentalitas kita
[jika menggunakan istilah Shakespeare dalam drama Hamlet-nya]. Kalau memang
setia pada fungsi kesastrawanan sebagai warga "republik berdaulat sastra-seni"
mengapa mereka tidak turut menuntut pencabutan terhadap pelarangan atas
karya-karya anggota Lekra, termasuk Pramoedya A. Toer yang sampai sekarang
belum dicabut oleh pemerintah? Kebungkaman terhadap masalah ini kukira bentuk
dari ketidaksetiaan pada fungsi kesastrawanan di negeri ini, ujud
dari mabuk diri tanpa prinsip manusiawi sambil asyik dengan memperdagangkan
kemerosotan secara tidak sadar sesuai prinsip "uang adalah raja". Indonesia,
Republik dan manusia dilupakan di kamar kecil bersama bau ketengikan. Apa yang
ditulis oleh panitya seminar sehari tentang "ekspresi erotis" yang
diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas
Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta bahwa "ekspresi erotis ini sudah
dianggap sebagai bumbu yang tanpanya sesuatu menjadi tidak sedap" tidak lain
merupakan bukti dari konstatasiku ini.
"Ekspresi erotis yang merajalela dan cenderung tak terkendalikan selama ini"
kukira sebab utamanya berawal dari konsep "uang sebagai raja" yang dianut oleh
Orba dan merasuk ke kalangan angkatan yang tumbuh pada masa Orba. Jika membahas
masalah "ekspresi erotis" ini dilepaskan dari masalah hal yang paling hakiki,
sebatas masalah tekhnis, tidak akan menjawab masalah secara hakiki dan tidak
akan memecahkan masalah atau mengerti masalah sesungguhnya. Pembahasan tekhnis
tidak lain dari bentuk munafik para akademisi yang penakut tanpa orientasi yang
teguh dan jelas mengenai "fungsi ilmu". Ujud dari ketakutan dan sikap cari
selamat belaka. Bukan sikap ilmuwan sejati yang setia pada kebenaran dan jujur
pada diri sendiri. Sikap ilmuwan begini tentu mempunyai dasar sosial dan
politik. Dalam konteks ini, aku jadi teringat akan anjuran seseorang yang
mengusulkan kepadaku agar "hidup asal hidup" dan "jangan memikirkan soal sosial
dan politik jika ingin kembali ke Indonesia dengan aman ta
npa persoalan".Apa bedanya pendapat ini dengan politik depolitisasi Orba?
Anjuran ini bertentangan dengan pendapat Chairil Anwar yang mengatakan "sekali
berarti sudah itu mati" atau pendapat bahwa hidup "Not for bread alone", dan
ditunjukkan dengan nyata oleh Yassser Arafat yang pemimpi dan setia pada
mimpinya sampai akhir khayat. Dalam hubungan ini lagi-lagi aku melihat
kebesaran Rendra, guru dan sahabat dekatku yang masih setia pada misi
kesastrawanannya ketika ia menulis:
"Ya, ya! Akulah seorang tua!
Yang capek tapi belum menyerah pada mati.
Kini aku berdiri di perempatan jalan
Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing
Tapi jiwaku menulis sajak
Sebagai seorang manusia"
[Dari: Rendra, "Potret Pembangunan Dalam Puisi"]
Apa artinya hidup jika kita asal hidup? Apa bedanya hidup asal hidup daripada
tubuh dan jiwa seekor anjing? Malangnya, di Indonesia sekarang sangat banyak
anjing. Juga di dunia sastra.Anjuran kepadaku agar aku jangan memikirkan soal
politik dan sosial kukira tidak lain dari anjuran seorang bertubuh manusia tapi
berjiwa anjing.Indonesia yang Indonesia dan republiken tidak bisa dibangun oleh
anjing.
Paris, Nopember 2004.
--------------------
JJ.KUSNI
[Bersambung...]
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] CATATAN MENYAMBUT MATAHARI PAGI: SURAT TENTANG SASTRA KEPADA ANAS AGE [19]