[ppi] [ppiindia] CATATAN MENYAMBUT MATAHARI PAGI: SURAT TENTANG SASTRA KEPADA ANAS AGE [19]

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **

CATATAN MENYAMBUT MATAHARI PAGI: 



SURAT TENTANG SASTRA KEPADA ANAS AGE [19]


Mengapa "ekspresi erotis yang merajalela dan cenderung tak terkendalikan selama 
ini", justru timbul setelah Jendral Soeharto dipaksa turun dari panggung 
kepresidenan? 


"Pada masa Orde Baru, ekspresi erotis di Indonesia cenderung ditutup-tutupi. 
Setelah runtuhnya Orde Baru, semua sumbat yang pernah ada ikut runtuh dan 
menyuburkan perkembangannya. Tidak heran jika permasalahan ini menjadi sesuatu 
yang biasa dan secara otomatis dianggap tidak tabu lagi.Bahkan, pada beberapa 
keadaan, ekspresi erotis ini sudah dianggap sebagai bumbu yang tanpanya sesuatu 
menjadi tidak sedap.

Banyak media digunakan untuk mengekspos hal-hal yang berbau erotis" 

Demikian tulis panitya seminar sehari tentang "EKSPRESI EROTIS DALAM PERSPEKTIF 
BAHASA, SASTRA DAN PSIKOLOGI"  yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan 
Bahasa Dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri 
Yogyakarta  pada 28 September 2004 lalu.


"Pada masa Orde Baru, ekspresi erotis di Indonesia cenderung ditutup-tutupi". 
Bentuk dari suatu kemunafikan karena  "ekspresi erotis" ini kita saksikan dalam 
ujud fisik berupa tebaran "motel" di berbagai pojok kota-kota besar di Jawa dan 
pelayanan di hotel-hotel yang menjajakan "tubuh perempuan" [Rincian kemunafikan 
ini ditelanjangi habis oleh Moammar Emka dalam bukunya "Jakarta 
Undercover.Sex'n  the City", Galang Press, Yogyakarta, 2002, 486 hlm]. Dasar 
sosial beginilah kukira yang dicerminkan oleh karya-karya sastra yang 
mengeksplorasi dan mengeksploatasi "tubuh perempuan" sehingga sampai pada taraf 
"yang merajalela dan cenderung tak terkendalikan". Untuk memupuri dan 
melindungi kehanyutan diri para sastrawan dan yang menyebut diri kaum "feminis" 
maka dipasanglah etiket-etiket teoritis tertentu yang mentereng seperti 
"melawan gempuran kapitalisme di era globalisasi", "kesetaraan jender" dan 
lain-lain... Apa yang dilakukan oleh para sastrawati yang mengeksplorasi "tubuh 
pere
 mpuan" dalam karya-karya mereka untuk gerakan emanzsipasi? Apakah mereka 
menyatukan diri dengan gerakan emansipasi masyarakat ataukah mabuk sendiri 
dengan ketenaran bikinan dan memandang lingkungan dari menara gading mereka? 
Inikah ujud dari perlawanan terhadap "gempuran kapitalisme"? Apabila Jurusan 
Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas 
Negeri Yogyakarta sebagai panitya seminar sehari yang membahas masalah 
"ekspresi erotis" berkata tentang "semua sumbat yang pernah ada ikut runtuh" , 
istilah lain untuk  sensor atau pembredelan, kita bisa mempertanyakan: 
Sumbangan apa yang telah disumbangkan oleh para sastrawati yang mengeksploatasi 
"tubuh perempuan" dalam karya-karya mereka untuk membuang "sumbat" ini? Mereka 
sama sekali tidak tersumbat karena "Pada masa Orde Baru, ekspresi erotis di 
Indonesia cenderung ditutup-tutupi". Yang disumbat adalah segala pikiran dan 
kegiatan yang bersifat politis dan bukan memperdagangkan "tubuh perempuan" yan
 g juga dilakukan oleh para penulis perempuan kita dan diangkat-angkat serta 
disanjung oleh para kritisi dan budayawan beken kita secara tidak 
bertanggungjawab sosial. Meninggalnya Munir dengan cara meracuninya menunjukkan 
bahwa pada hakekatnya "sumbat" itu belum sepenuhnya lepas dan terbuang bahkan 
mengambil bentuk sangat brutal dan kalap.  Tindakan meracuni Munir sampai 
meninggal merupakan  bentuk peringatan kepada semua aktivis kemanusiaan 
lainnya. Jika kalian meneruskan kegiatan anti militerisme dan otoritarianisme, 
kalian akan mengalami nasib seperti Munir alias dimunirkan.Tentu saja cepat 
atau lambat militerisme, sebagai negara dalam negara akan dikalahkan. cepat 
atau lambat mereka akan dikalahkan.  Militerisme adalah busa kehiduoan. Para 
penyokongnya adalah debu mengotori kehidupan bangsa.Dan kukira perlu dicatat 
bahwa  mengendornya taraf tutupan "sumbat" bukan gratis, tapi dibayar dengan 
darah dan airmata perlawanan demi perlawanan.Jika ada yang mengatakan bahwa ada 
a
 nggota tentara yang dicangkuli kepalanya oleh rakyat, dalam perbandingan, 
manakah lebih banyak tentara yang mati atau rakyat biasa yang dibunuh oleh 
tentara atas perintah dan sistem militeristik? Yang membenarkan militerisme dan 
mensahkan masakare oleh militerisme tidak lain dari orang-orang haus darah dan 
membangun menara gadingnya dari tulang rakyat dan mencatnya dengan darah rakyat 
anak bangsa ini sendiri.  Menjajakan "tubuh perempuan" dalam karya sastra tidak 
lain merupakan  bagian dari masakre ini dalam bentuk lain. Sastrawan jenis ini 
kukira tidak lain dari sastrawan yang langsung tidak langsung berdarah tangan 
hingga nurani mereka sekalipun mereka dari angkatan muda. 


Menjajakan "tubuh perempuan" dan karya-karya yang menjajakan "tubuh perempuan" 
dan kebobrokan selama Orba tidak pernah disumbat. Seperti kukatakan di atas 
"tubuh perempuan" adalah termasuk barang dagangan laris semenjak Orba. Aku 
hanya merasa aneh saja jika ada yang mengatakan para penulis perempuan yang 
menjadi pedagang "tubuh perempuan" disebut sebagai sastrawan pelopor, melalukan 
pembaharuan dan berbagai kata sifat lainnya. Predikat begini menunjukkan bahwa 
"there is some wrong in the state of Danemark" of pemikiran dan mentalitas kita 
[jika menggunakan istilah Shakespeare dalam drama Hamlet-nya]. Kalau memang 
setia pada fungsi kesastrawanan sebagai warga "republik berdaulat sastra-seni" 
mengapa mereka tidak turut menuntut pencabutan terhadap pelarangan atas 
karya-karya anggota Lekra, termasuk Pramoedya A. Toer yang sampai sekarang 
belum dicabut oleh pemerintah? Kebungkaman terhadap masalah ini kukira bentuk 
dari ketidaksetiaan pada fungsi kesastrawanan di negeri ini, ujud
  dari mabuk diri tanpa prinsip manusiawi sambil asyik dengan memperdagangkan  
kemerosotan secara tidak sadar sesuai prinsip "uang adalah raja". Indonesia, 
Republik dan manusia dilupakan di kamar kecil bersama bau ketengikan. Apa yang 
ditulis oleh panitya seminar sehari tentang "ekspresi erotis" yang 
diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas 
Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta bahwa "ekspresi erotis ini sudah 
dianggap sebagai bumbu yang tanpanya sesuatu menjadi tidak sedap" tidak lain 
merupakan bukti dari konstatasiku ini. 


"Ekspresi erotis yang merajalela dan cenderung tak terkendalikan selama ini" 
kukira sebab utamanya berawal dari konsep "uang sebagai raja" yang dianut oleh 
Orba dan merasuk ke kalangan angkatan yang tumbuh pada masa Orba. Jika membahas 
masalah "ekspresi erotis" ini dilepaskan dari masalah hal yang paling hakiki, 
sebatas masalah tekhnis, tidak akan menjawab masalah secara hakiki dan tidak 
akan memecahkan masalah atau mengerti masalah sesungguhnya. Pembahasan tekhnis 
tidak lain dari bentuk munafik para akademisi yang penakut tanpa orientasi yang 
teguh dan jelas mengenai "fungsi ilmu".  Ujud dari ketakutan dan sikap cari 
selamat belaka. Bukan sikap ilmuwan sejati yang setia pada kebenaran dan jujur 
pada diri sendiri. Sikap ilmuwan begini tentu mempunyai dasar sosial dan 
politik. Dalam konteks ini, aku jadi teringat akan anjuran seseorang yang 
mengusulkan kepadaku agar "hidup asal hidup" dan "jangan memikirkan soal sosial 
dan politik jika ingin kembali ke Indonesia dengan aman ta
 npa persoalan".Apa bedanya pendapat ini dengan politik depolitisasi Orba? 
Anjuran ini bertentangan dengan pendapat Chairil Anwar yang mengatakan "sekali 
berarti sudah itu mati" atau pendapat bahwa hidup "Not for bread alone", dan 
ditunjukkan dengan nyata oleh Yassser Arafat yang pemimpi dan setia pada 
mimpinya sampai akhir khayat. Dalam hubungan ini lagi-lagi aku melihat 
kebesaran Rendra, guru dan sahabat dekatku yang masih setia pada misi 
kesastrawanannya ketika ia menulis: 


"Ya, ya! Akulah seorang tua!
Yang capek tapi belum menyerah pada mati.
Kini aku berdiri di perempatan jalan
Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing
Tapi jiwaku menulis sajak
Sebagai seorang manusia" 

[Dari: Rendra, "Potret Pembangunan Dalam Puisi"] 


Apa artinya hidup jika kita asal hidup? Apa bedanya  hidup asal hidup daripada 
tubuh dan jiwa seekor anjing? Malangnya, di Indonesia sekarang sangat banyak 
anjing. Juga di dunia sastra.Anjuran kepadaku agar aku jangan memikirkan soal 
politik dan sosial kukira tidak lain dari anjuran seorang bertubuh manusia tapi 
berjiwa anjing.Indonesia yang Indonesia dan republiken tidak bisa dibangun oleh 
anjing.


Paris, Nopember 2004.
--------------------
JJ.KUSNI


[Bersambung...]







[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: