[ppi] [ppiindia] CATATAN BUDAYA:SASTRA-SENI DAN PENGUNGKAPAN POLITIK
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>,<wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>,"ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Mon, 23 Feb 2004 09:46:02 +0100
** ppi-india **
CATATAN BUDAYA:
POLITIK DALAM UNGKAPAN SASTRA & SENI
Disukai atau tidak, dimaui atau tidak, kelahiran sastra-seni, tidak bisa di=
lepaskan dari keadaan masyarakat di mana sastrawan-senimannya hidup. Apalag=
i jika kita mau jujur pada diri sendiri, tidak pernah kita saksikan bahwa a=
da sastrawan-seniman yang hidup di luar masyarakat seperti Robinson Cruso=
=E9 atau diawang-awang. Paling-paling mereka berada di menara gading dan pu=
ncak piramida masyarakat. Karena itu, langsung atau tidak langsung, melalui=
karya sastra-seni, kita akan mengetahui keadaan masyarakat pada periode di=
mana sastrawan-seniman itu hidup, termasuk keadaan dunia politik pada saat=
tersebut.=20
Di dalam masyarakat, di mana sastra lisan masih berkembang dan berfungsi, h=
ubungan antara sastra-seni dan masyarakat, termasuk dengan masalah politik,=
sebenarnya tidak pernah diperdebatkan karena sudah merupakan kewajaran. Ap=
akah tidak karena ini maka misalnya, terutama masyarakat Jawa lapisan bawah=
, pada saat menonton dan mendengar wayang kulit selalu menunggu adegan "gor=
o-goro" di mana melalui dialog Semar, Gareng, Petruk, masalah keseharian ak=
tual diungkapkan secara bercanda. Karena itu aku memberanikan diri mengatak=
an bahwa jika ada sastrawan-seniman yang mentabukan diri, mentabukan sastra=
-seni berbicara soal politik atas nama sastra dan seni, sesungguhnya mereka=
tidak kenal sejarah, lupa atau sengaja melupakan sejarah perkembangan masy=
arakat, tidak paham sejarah sastra-seni, dan tidak lain dari ujud mengasin=
gkan diri, mengucilkan secara sukarela sastra-seni dari kehidupan yang bisa=
berdampak fatal terhadap diri mereka sendiri, tidak bisa membaca sejarah s=
astra dunia. Beberapa contoh saja: pelarangan karya-karya Pramoedya A.Toer =
dan sastrawan-seniman Lembaga Kebudayaan Rakyat [Lekra] yang tidak pernah d=
icabut sampai sekarang, pembakaran karya Tisna Sanjaya baru-baru ini di Ban=
dung, pemasungan sederetan karya dan pementasan oleh penguasa politik, tida=
kkah itu merupakan tindakan politik yang langsung berdampak langsung pada =
sastrawan-seniman? Jika harga-harga naik, apakah kenaikan harga tidak langs=
ung mempengaruhi aktivitas berkreasi sastrawan-seniman?=20
Berdasarkan keadaan dan latar-belakang sejarah sastra-seni yang demikian, a=
ku kira memisahkan diri dari politik, tidak ingin tahu politik atas nama ke=
murnian sastra-seni tidak lain merupakan kedunguan sikap para sastrawan-sen=
iman. Tahu politik tidak berarti menjadi politisi dan penggiat politik. Tah=
u politik akan sangat membantu perkembangan sastrawan-seniman sebagai sastr=
awan dan seniman. Dengan tahu dan paham politik, sebenarnya mereka terbantu=
dalam memahami perkembangan masyarakat di mana mereka hidup. Akan memperku=
at posisi mereka sebagai warga dari "Republik Merdeka Sastra-Seni". Bagaima=
na sastrawan-seniman Indonesia bisa menulis tentang Indonesia jika mereka t=
idak mengenal masyarakat Indonesia? Paling-paling yang ditulis tidak lain b=
erputar-putar sekitar perasaan cinta kepada seorang lelaki atau perempuan, =
perkawinan yang tidak jadi karena perbedaan agama,serta rupa-rupa masalah p=
ribadi yang ditulis dengan penuh kecengengan anak berangkat gede[ABG] tanpa=
memahami mengapa segalanya itu bisa terjadi. Mengenal masyarakat dan menya=
tu dengan kehidupan masyarakat merupakan kunci utama untuk meningkatkan tar=
af kesenimanan seorang sastrawan dan seniman serta mutu sebagai warga "Repu=
blik Merdeka Sastra-Seni".=20
Sastrawan-seniman sesungguhnya adalah manusia yang berprinsip yang mengungk=
apkan diri melalui sarana artistik. Dengan sarana ini, mereka berani mengun=
gkapkan apa yang tidak berani diungkapkan dan dibungkamkan atau dicuekkan o=
leh orang lain dengan segala alasan, karena pedoman yang mereka ikuti adala=
h kebenaran dan kemanusiaan. Jika demikian, kepada mereka yang sedang tumbu=
h jadi satrawan-seniman, aku anjurkan hentikan sikap dengki, iri dan maki-m=
aki sesama seniman atau calon seniman, secara tidak perlu. Sikap demikian t=
erlalu dungu, kekanak-kanakan dan tidak beralasan bahkan mendekati penyusup=
an para cross-boyist atau banditisme dalam dunia sastra-seni -- sikap yang=
memang mendominasi negeri ini sekarang sehingga gampang dipahami jika memp=
engaruhi mereka yang mengaku diri sastrawan-seniman dan budayawan, terutama=
dari angkatan muda. Tapi sastrawan-seniman sejati bukan pengikut atau ala=
t jinak banditisme! [Padahal crossboyime tidak ada sangkut-pautnya dengan k=
ebudayaan apalagi sastra dan seni.Cross-boyisme dan banditisme yang biasa d=
engan kekerasan adalah bertentangan dengan kebudayaan]. Mereka, sastrawan-s=
eniman sejati adalah warga "Republik Merdeka Sastra-seni" yang jujur pada d=
iri sendiri dan kehidupan. Yang menjadikan seseorang itu sastrawan dan se=
niman bukan karena ulah demikian [yaitu cross-boyisme dan bandistisme], tap=
i karena karya dan karya.=20
Sehubungan dengan sikap ini, hendaknya tidak perlu serta-merta memandang kr=
itik identik dengan kekerasan [violent, violence cross-boyisme dan banditis=
me] sebagai usaha menjatuhkan martabat, mencari-cari kesalahan orang lain,=
dan lain-lain.. sehingga menggerakkan mesin otomatis pembelaan diri. Kalau=
takut dikritik, berhentilah berkarya! Ketakutan, penolakan dan sikap tak t=
epat pada kritik, kukira tidak lain dari sikap yang belum dewasa dan belum =
paham arti karya yang sudah disiarkan atau diedarkan. Tidakkah sangat mengg=
elikan jika seseorang yang mengaku sastrawan-seniman tapi hanya ingin dipuj=
i?! Sulit dibayangkan bagaimana kehidupan sastra-seni negeri ini bisa berke=
mbang jika didominasi oleh ketakutan akan kritik dan pandangan salah tentan=
g kritik. Adanya "fans" tidak identik dengan mutu karya. Hanya mengharapkan=
"pujian" yang belum tentu berdasarkan obyektifitas, apalagi menggunakan da=
lih adanya "fans", aku khawatir sastra-seni menjadi sebuah kelompok egois p=
ara pemabuk, bandit dan cross-boy atau yang bermental cross-boy yang tak ad=
a kaitannya dengan budaya, sastra dan seni.Kata-kata ini kuucapkan tidak le=
bih dari suatu keprihatinan membaca keadaan satra-seni di kalangan generasi=
terbaru negeri ini. Inipun dengan penuh harapan bahwa aku salah baca! Jika=
bacaanku benar, maka yang akan kita saksikan tidak lain dari kekonyolan an=
gkatan konyol tinggalan dari sistem konyol bersimbah darah.Kalau bacaanku b=
enar, belum tentu bacaan ini bisa diterima sebagai kaca karena dengan berka=
ca orang sering ngeri melihat wajah diri sendiri! Ujud dari mentalitas peng=
ecut yang total diselubungi oleh kekerasan yang antara lain mengungkapkan d=
iri dengan caci-maki dalam bentuk bahasa.
Kembali kepada masalah politik dan pengungkapannya dalam karya sastra-seni.=
Dahulu pada tahun 1960-an, Lekra, sudah memperingatkan para anggotanya den=
gan slogan "tinggi mutu ideologi dan tinggi artistik", "meluas dan meninggi=
", "tahu keadaan dan tahu Marxisme", "tahu segala tentang sesuatu dan tahu =
sesuatu tentang segala", "menerima semua bentuk kesenian asal setia pada ke=
benaran", "turun ke bawah", "lima metode penciptaan", "pemaduan realisme re=
volusioner dan romantisme revolusioner dan bukan realisme sosialis seperti =
yang diklaim oleh orang-orang non-Lekra yang berlagak tahu tentang Lekra se=
bagai ide-ide Lekra, [Lihat: "Mukadimah Lekra dan semua dokumen Lekra lainn=
ya].. Rumusan-rumusan ini memperlihatkan bahwa tidak asal menulis yang dise=
but sanjak , cerpen, roman, novel tentang politik maka serta-merta karya-ka=
rya tersebut menjadi karya sastra-seni yang bermutu sebagai sastra dan seni=
. Sastra-seni, termasuk puisi, seperti dikatakan oleh Amarzan Ismail Hamid,=
sekarang editor senior Majalah Tempo, Jakarta, tetap mempunyai standar sas=
tra-seni dan puisi yang tidak bisa tidak diindahkan. Bagaimana mengungkapka=
n masalah politik ke dalam karya sastra-seni bukanlah masalah sederhana. Ia=
menuntut kematangan dan pengetahuan politik, menuntut kedewasaan berpikir =
sebagai anak manusia serta kematangan secara tekhnis sebagai sastrawan dan =
seniman. Sayang Lekra tidak punya cukup waktu untuk mewujud-nyatakan ide-id=
enya karena keburu dihancurkan oleh Orde Baru Soeharto [Tentang Lekra ini a=
ku anjurkan agar sebelum berpendapat dan mencaci serta mengkritik, lakukan =
studi yang sungguh-sungguh sehingga ketika berpendapat, pendapat yang dikem=
ukakan mempunyai dasar yang bebas emosi sehingga layak dipertimbangkan. Jan=
gan asal-asalan seperti yang banyak dilakukan sampai hari ini yang umumnya =
masih masih bertaraf celotehan! Hal ini kukira perlu direnungkan jika kita =
masih mencinta Indonesia dan memahami apa itu kebudayaan Indonesia dan bag=
aimana membangun kebudayaan Indonesia. Sikap ilmiah dan berbudaya perlu dil=
akukan oleh yang merasa diri berbudaya apalagi yang merasa diri sebagai sas=
trawan dan seniman. Kalau tidak tahu jangan berlagak tahu. Jangan mengukur =
dalam laut dengan kail panjang sejengkal.Boleh jadi aku salah dengan menggu=
nakan istilah "jangan" karena yang sebaiknya adalah membiarkan orang mengun=
gkapkan dir sehingga dengan demikian kita nleloperoleh kaca, di mana berbag=
ai pihak bisa melihatg wajah diri masing-masing].
Aku sendiri tidak sepakat bahwa dalam mengkategorikan sastra-seni sudah bis=
a digolongkan sebagai karya sastra-seni hanya dilihat dari isi karya terseb=
ut. Satra-seni mempunyai patokan-patokan umumnya sendiri seperti halnya den=
gan bidang-bidang lain. Aku kira, Lekra yang dituduh secara tidak semena-me=
na mengabaikan patokan umum sastra-seni ini juga sudah sejak awaln menyadar=
i dan menuntut terpenuhinya patokan ini terbukti dari pandangan "tinggi mut=
u ideologi dan mutu artistik" atau tuntutan "dua tinggi"nya. Mana ada organ=
isasi kebudayaan sekarang yang bersikap sejelas dan setegas demikian? Deng=
an tuntutan ini, artinya Lekra sadar benar akan kaidah-kaidah umum sastra d=
an seni.
Sungguh-sungguh menggembirakan bahwa di kalangan sastrawan dan seniman muda=
sekarang -- walaupun bukan tendensi umum -- masih ada pemahaman bahwa satr=
a-seni tidak bisa dipisahkan dari politik seperti sikap jelas yang diperli=
hatkan oleh Grup Taring Padi Yogyakarta dan Media Kerja Budaya,Jakarta. Tap=
i tetap permasalahan lama atau klasik bagaimana mengungkapkan masalah-masal=
ah politik ke dalam bahasa serta ungkapan artistik masih jauh dari tercapai=
. Masalah ini kukira tidak lepas dari kemampuan serta kematangan politik da=
n artistik seorang sastrawan dan seniman [Dalam hal ini untuk sementara, de=
ngan berbagai pertimbangan, kuhindari memasuki soal-soal rinci!]. Melalui C=
atatan ini yang ingin kugaris-bawahi bahwa masalah politik yang diungkapka=
n dalam sastra-seni selayaknya memenuhi standar umum satra-seni. Sastra-sen=
i tingkat dunia sudah memperlihatkan perwujudannya, tapi terutama bagi gene=
rasi sastrawan-seniman Indonesia sekarang masih merupakan persoalan yang be=
lum terpecahkan. Persoalan akan menjadi kian runyam jika keangkhuan angkata=
n usia tidak ditanggalkan! Apakah aku salah mengajukan permasalahan?
Paris, Februari 2004=20=20=20=20
--------------------
JJ.KUSNI
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=3D5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
=20
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
=20
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] CATATAN BUDAYA:SASTRA-SENI DAN PENGUNGKAPAN POLITIK