[ppi] [ppiindia] CATATAN BUDAYA: "BAPAK TELAH TIADA" [4]

** ppi-india **
CATATAN BUDAYA:

"BAPAK TELAH TIADA" MENINGGALKAN "MASA KINI PENUH PENDERITAAN" [4]

Kesan Membaca Novel "TAPOL" karya Ngarto Februana

Judul buku: Tapol.
Tebal:viii + 176 hlm.
Penerbit: Media Pressindo, Yogyakarta, September 2002.

Sebagai lokasi berlangsungya cerita, Ngarto memilih tiga tempat yaitu Jakar=
ta, Yogyakarta dan desa Mlese, Kalten, Jawa Tengah. Seperti diketahui oleh =
umum, Jawa Tengah pada tahun 1960an oleh PKI dipandang sebagai salah satu "=
daerah tinju". Dalam pidatonya di alun-alun Klaten pada tahun 1964,di depan=
 puluhan ribu kaum tani, disertai oleh pertunjukan tiga penyanyi terbaik da=
ri ensemble tari-nyanyi Maju Tak Gentar, Medan, Njoto, salah seorang anggot=
a Politbiro CC PKI, mengatakan bahwa "di daerah segitiga Yogyakarta-Solo-Bo=
yolali, dari saban tiga orang yang kita temui, salah satu di antara mereka =
pasti adalah anggota atau simpatisan PKI". Sedangkan di kabupaten Klaten, h=
anya satu kecamatan saja dari 21 kecamatannya  pada waktu itu di mana PKI t=
idak menang mutlak dalam pemilihan umum. Selama gerakan aksi sepihak, Baris=
an Tani Indonesia, BTI -- organisasi massa PKI yang bergerak di kalangan ka=
um tani -- paling lama hanya dalam satu jam  sudah mampu memobilisasi kaum =
tani dalam jumlah puluhan ribu. Polisi, sekalipun sudah mengerahkan pasukan=
 tambahan dari Semarang, sama sekali tidak berdaya menindas kebangkitan kau=
m tani yang melancarkan "gerakan aksi sepihak untuk melaksanakan UU Perobah=
an Agraria dan Bagi Hasil [UUPA & UUPBH]" yang sudah disahkan oleh parlemen=
. Hal yang membuktikan bahwa sekali suatu ide diresapi oleh massa maka ia a=
kan menjadi kekuatan material yang tangguh di samping menunjukkan kekuatan =
riil kaum tani itu sendiri. Disebut "gerakan aksi sepihak" karena aksi ini =
bersifat gerakan dan bukan aksi spontan. Ia disebut "sepihak" karena ia dil=
ancarkan oleh para petani di bawah pimpinan BTI secara sepihak setelah meli=
hat bahwa pihak kekuasaan politik daerah tidak mungkin melaksanakan UUPA da=
n UUPBH itu. Tujuannya memang sebatas yang ditentukan oleh kedua UU tersebu=
t, sekaligus sebagai dasar legalitas gerakan [Lihat: dokumen-dokumen BTI pa=
da 1963-'65; Polemik Harian Rakjat dan Harian Merdeka, Jajasan Pembaruan, J=
akarta,1965].  Tapi justru di daerah ini pulalah kemudian masakre besar-bes=
aran dilakukan dan masih membekas di hati dan ingatan penduduk sampai sekar=
ang. Ladang tembakau, kebun tebu, sungai dan parit berobah jadi kuburan mas=
sal dan lapangan pembantaian manusia oleh manusia.

Dengan latarbelakang keadaan demikian maka pemilihan Klaten dan Yogyakarta =
sebagai lokasi berlangsungnya cerita untuk mengisahkan Tragedi Nasional Sep=
tember 1965 oleh Ngarto, kukira sangatlah nalar dan tepat, sama tepatnya de=
ngan pemilihan Yogyakarta sebagai lokasi dalam melukiskan kegiatan para pem=
uda-mahasiswa dalam menentang Orde Baru.=20

Ngarto memulai ceritanya dengan menggambarkan seorang lelaki bernama Kardjo=
no, biasa dipanggil Djon, kelahiran Nganjuk, Jawa Timur, 1934.Setelah Trage=
di September 1965 ia menjadi seorang pemulung antara Yogya-Solo. Malam itu,=
 malam bulan Agustus 1989, Djon melangkah pelan di tepi jalan Solo-Yogyakar=
ta. Tangan kanannya memanggul karung berisi kardus bekas dan botol-botol ai=
r mineral serta pecahan ember plastik. Tangan kiri memegang gancu. Sebuah t=
as butut, berisi selembar sarung, satu celana, dan kaus serta kemeja, berga=
ntung pada bahu [hlm-hlm. 1-2]. Sebelum  Tragedi Nasional September 1965, D=
jon adalah seorang bintara AURI yang turut memberikan pelatihan di Lubang B=
uaya kemudian ditangkap dalam Operasi Kalong, disiksa dan dijebloskan ke da=
lam penjara tanpa melalui proses hukum apapun. Memalui Djon sebagai tokoh s=
entral, Ngarto menggambarkan kilas-balik [flash back] peristiwa-peristiwa s=
ebelum Tragedi Nasional September 1965, segala kejadian yang menyusul kemud=
ian sampai munculnya perlawanan pemuda-mahasiswa terhadap rezim Orde Baru y=
ang diwakili oleh Mirah dan teman-temannya sebagai lambang dari angkatan mu=
da dengan mencoba kembali merujuk kepada Marxisme.=20

Dengan kilas-balik melalui Djon, sang tokoh utama, atas dasar dokumen-dokum=
en yang digunakannya, Ngarto menjelaskan latarbelakang serta berbagai gejol=
ak pikiran dan perasaan serta sikap para korban baik yang anggota PKI dan o=
rmasnya maupun yang bukan anggota PKI, bahkan yang tidak tahu apa-apa tenta=
ng PKI. Ngarto menulis misalnya:

"Markas  Operasi Kalong! Gadis-gadis belasan tahun diambil paksa dari jalan=
-jalan, digebuki dengan rotan yang dibelah-belah, dipukul, dan diinjak.

"Ayo, mengaku: kalian anggota Gerwani! Kalau tidak, kami siksa terus. Sampa=
i mampus!
"Saya bukan Gerwani. Bapak salah tangkap. Saya pelacur di Planet Senen. Dit=
angkap di Jatinegara."
"Kamu kemari!"
Perempuan muda maju.
"Kamu Indah, kan. Kamu istri Angkatan Udara."
"Saya pelacur, Pak. Di Jembatan dekat rumah sakit."=20=20
Wanita itu dipukuli. Dijambak rambutnya. Diinjak kakinya.
"Ayo, kalian yang di situ, cepat mengaku".
"Kami anak-anak panti sosial. Tak tahu-menahu soal Gerwani."
"Pokoknya kalian harus mengaku Gerwani!"

Hitam pekat. Sesaat kemudian pelan-pelan berubah terang. Orang-orang disemb=
elih. Kepala terpenggal, terpisah dari badan.Mayat  bergelimpangan bersimba=
h darah.Mayat-mayat diseret ke sungai. Api, darah, luka, airmata menyertai =
kejadian demi kejadiaan" [hlm.4].

Di bagian lain, Ngarto menulis:=20

"Masyarakat disodori "horor" tentang pembantaian tujuh perwira tinggi Angka=
tan Darat. Koran-koran Angkatan Darat memberitakan penculikan yang disertai=
 penyiksaan terhadap tujuh jenderal. Harian Berita Yudha dan Angkatan Berse=
njata menulis bahwa Pemuda Rakyat dan Gerakan Wanita Indonesia [Gerwani] tu=
rut menyiksa para jenderal itu. Anggota Gerwani dikatakan sebagai gerombola=
n perempuan jalang yang mengumbar nafsu seksual rendah. Mereka juga disebut=
 sebagai pelacur bejat moral yang menyilet kemaluan dan mencongkel mata par=
a jenderal sambil menari tarian "harum bunga" dan menyanyi lagu Genjer-Genj=
er. Masyarakat menelan mentah-mentah berita-berita tersebut.

Sejumlah surat kabar menurunkan laporan tentang kesaksian "anggota" Gerwani=
 bernama Emi, Inah, Jossy. Emi sebenarnya adalah pelacur dari Planet Senen.=
 Ia ditangkap di Jatinegara. Inah pelacur di kolong jembatan. Dalam kesaksi=
annya, mereka mengaku melayani 200 tentara sukarelawan. Emi mengaku memoton=
g-motong kemaluan para jenderal" [hlm-hlm.54-55].

Cerita-cerita para pelacur yang dipaksa mengaku setelah disiksa inilah kemu=
dian diabadikan dalam bentuk monumen Lubang Budaya .

Tanpa menggunakan slogan, dengan lukisan demikian Ngarto telah memperlihatk=
an kebuasan militerisme dan menunjukkan penolakan Ngarto pada militerisme d=
an otoritarianisme. Otoritarianisme dan militerisme dengan praktek-praktek =
demikian, melakukan pemutar-balikan kenyataan dan sejarah. Segala cara dila=
kukan dan dibenarkan dan disahkan dengan undang-undang langgengnya kekuasaa=
n.Jika menggunakan perumusan Carl Schmitt "Negara tetap merupakan hakim dan=
 musuh" [Lihat: Harian Metro, Paris, 26 f=E9vrier 2004].=20

Dengan penuturan seperti di atas, Ngarto melaksanakan apa yang disebut oleh=
 Salman Rushdi bahwa sastrawan "mengungkapkan apa yang orang lain tidak ber=
ani ungkapkan atau tidak diungakapkan oleh orang lain". Dengan demikian, Ng=
arto mencoba menempatkan kembali sastra-seni negeri ini pada visi dan misin=
ya.Memperlihatkan bahwa Ngarto bukanlah seorang Malinkundang terhadap ibuka=
ndung sastra-seni yaitu kehidupan anak manusia dan manusia serta kemanusiaa=
n itu sendiri. Agaknya Ngarto tidak berhenti pada ratap tangis, luka, duka =
dan airmata. Dengan segala kepedihan luka pada nuraninya, penulis mencoba m=
elihat ke depan mencari cahaya suatu perspektif baru. Untuk keperluan ini m=
aka Ngarto menampilkan tokoh sekunder melalui Mirah yang tidak lain kemudia=
n ternyata adalah puteri sulung Kardjono sendiri. Bukan tidak mungkin bahwa=
 Mirah adalah wajah jiwa, pikir dan perasaan Ngarto sendiri.=20

Ngarto melukiskan Mirah sebagai "perempuan yang senantiasa gelisah. Sangat =
gelisah seperti ayam termakan rambut" "sejak ia masih duduk di bangku sekol=
ah dasar, kelas lima" [hlm.13].Ketika itu, Bu Halimah, sang guru, meminta m=
urid-muridnya bercerita di depan kelas secara bergiliran. Ketika sampai pad=
a giliran Mirah, ia tak kuasa bangkit dari duduk. Kepala menunduk... kering=
at mengucur dari dahi dan punggung dan bahkan ingin kencing. Mirah akhirnya=
 menelungkupkan kepala di bangku sambil menangis karena ia tidak bisa berce=
rita tentang ayahnya. Ibunya selalu bercerita bahwa ketika ia usia tiga tah=
un, ayahnya mati dan mayatnya dibuang ke laut. Karena itu Mirah merasa malu=
 ketika tidak bisa bercerita tentang ayahnya seperti anak-anak lain di kela=
s.

Selesai SMA, Mira belajar ilmu sosiologi di Gadjah Mada dan menjadi aktivis=
 ornop. Ia suka belajar sejarah , terutama Tentang Tragedi Nasional Septemb=
er 1965.=20

"Aku tertarik pada sejarah yang oleh Soerhato disebut "Orde Lama", sejarah =
kepartaian pada masa Soekarno, dan terutama sejarah tentang Peristiwa 65. T=
ernyata pelajaran sejarah yang kuperoleh di bangku sekoklah menengah, denga=
n yang kupelajari dari buku-buku alternatif, banyak perbedaan. Dalam perist=
iwa G30S misalnya, seperti yang dipertontonkan film Pemberontakan G30S/PKI =
karya Arifin C.Noor, jenderal pahlawan rfevolusi itu disiksa terlebih dahul=
u, dengan cara sadis sebelum dimasukkan ke sumur tua. Tetapi sumber sejarah=
 alternatif yang kubaca, berdasarkan otopsi dokter, mengatakan bahwa para j=
enderal itu tidak disiksa sebagaimana ditunjukkan oleh film dan buku-buku s=
ejarah versi pemerintah. Dari sumber Cornell Papers, aku mengetahui bahwa s=
ebenarnya Soeharto sebelumnya sudah mengetahui rencana penculikan pada dini=
 hari 1 Oktober 1965" [hlm-hlm.17-18].

Melalui bacaan-bacaan alternatif demikian, pikiran Mirah menjadi radikal da=
n mulai mempelajari Marxisme bersama teman-teman sebayanya. Ia juga kian ak=
tif di ornop serta selalu hadir pada setiap unjuk rasa yang membuat ibunya =
selalu gelisah. Secara naluriah, Djon yang bergelandangan di Yogya merasa b=
ahwa Mirah adalah anak kandungnya maka ia selalu mengamati dan mengikuti ke=
giatan Mirah dan teman-temannya, sampai-sampai ia dituduh oleh para pemuda-=
mahasiswa itu sebagai mata-mata intelijen yang menyamar sebagai pemulung. S=
edangkan dari pihak Mirah, ia mempertanyakan mengapa lelaki tua itu selalu =
membayangnya dan selalu jadi buah pikiran.=20

Sebagai pemanis cerita, dan suatu hal wajar, pada suatu ketika Mirah ketemu=
 Sujarwanto, seorang mahasiswa Indonesia yang sedang belajar sosiologi di C=
ornell University. Sujarwanto, ponakan Sriharti yang banyak membantu keluar=
ga Mirah di puncak kesulitan, kembali ke Indonesia untuk melakukan peneliti=
an Program S2 tentang pemulung. Mirah membantunya dan bahkan Sujarwanto  ti=
nggal di rumah mereka di Klaten. Tapi kelangsungan percintaan ini sangat me=
ncemaskan Mirah karena antara Sujarwanto dan Mirah terdapat perbedaan prins=
ip sangat besar. Mira belajar Marxisme dan Mirah memperkirakan Anto justru =
anti Marxis.[hlm.132]

Lastri, ibu Mirah dan adik lelakinya Hernowo, merupakan tokoh figuran yang =
melukiskan ketabahan dan kemampuan seorang perempuan bangkit secara mandiri=
 sehingga mampu mengantar kedua anaknya menyelesaikan pendidikan akademi me=
lalui usaha berjualan dari kecil hingga bisa memberikan mereka jaminan hidu=
p. Tokoh Lastri membantah anggapan bahwa perempuan adalah manusia lemah dan=
 menjadi bukti bahwa perempuan sungguh-sungguh "penyangga separo langit". L=
astri pun dalam perjalanan hidupnya sebelum kembali bertemu dengan Djon, se=
mpat menerima pinangan seorang duda. Perkawinan jadi batal oleh pertemuan k=
embali keluarga yang justru terjadi begitu pinangan sang duda diterima oleh=
 Lastri dengan persetujuan kedua anaknya. Kejadian yang memperlihatkan bahw=
a hidup tetap merupakan misteri yang sering berada di luar jangkauan tangan=
 hitungan nalar. Tetap merupakan teka-teki tak pernah usai dijawab dan mena=
mpilkan pertanyaan demi pertanyaan yang mengalir seperti arus tak punya hen=
ti di mana anak manusia menemukan dirinya berada di antara rupa-rupa traged=
i dan komedi.

Sedangkan tokoh figuran lain adalah Harjono, Subekti dan Gatot yang pernah =
disekap di satu penjara selama 10 tahun bersama Djon. Melalui tokoh-tokoh m=
antan tapol ini, Ngarto memperlihatkan sikap dan perkembangan sikap di hada=
pan cobaan setelah terjadinya Tragedi Nasional. Ada yang teguh, ada yang me=
nyesal , ada yang goyang dan bahkan meninggalkan PKI serta berkhianat. Djon=
 termasuk tokoh yang memperlihatkan penyesalannya walaupun ia bukan anggota=
 PKI tapi bintara AURI yang hanya patuh pada perintah atasan. Ketika Djon t=
ahu bahwa puterinya aktif di gerakan mahasiswa yang bertendens kiri, Djon m=
enjadi sangat gelisah. Takut malapetaka yang dialaminya menurun ke kehidupa=
n puteri tunggalnya.

Permasalahan novel Ngarto sebenarnya sangat sederhana yaitu bagaimana Djon =
mencari keluarganya kembali dan bagaimana Lastri,istrinya, menghidupi diri =
dan mengasuh anak-anaknya. Saling mencari dan merindukan ini akhirnya berak=
hir dengan pertemuan kembali walaupun hanya berlangsung untuk suatu periode=
 sangat singkat sebab tak lama kemudian Djon meninggal karena sakit di ruma=
h sakit.

Begitu ayahnya meninggal, Mirah  memutuskan untuk meninggalkan aktivitasnya=
 sebagai seorang penganut Marxisme.

Berikut adalah dialog Mirah dan ibunya yang menjelaskan keputusan Mirah men=
inggalkan Marxisme dan lebih mendekat kepada paham sosialisme-demokrasi, so=
sdem [hlm-hlm.159-160].

"Kini saatnya bapak hidup layaknya manusia. Ibu akan berusaha agar bapak ba=
hagia.Apa pun akan ibu lmakukan untiuk bapak. Kasihan sepuluh tahun dalam t=
ahanan,ditambah  lagi lima belas tahun hidup tak menentu, jadi gelandangan.=
 Tidur di sembarang tempat. Hidup dari sampah. Dianggap samoah masyarakat. =
Kamu mengerti, kan?"

"Ya, Mirah mengerti, Bu."
"Sekarang bapak sakit. Kamu bisa membantu agar lekas sembuh. Ibu tidak ingi=
n bapa menderita tekanan batin. Tolong pahami perasaannya. Bapakmu sangat m=
emprihatikanmu, Nak". Nada suaranya begitu menyentuh perasaanku.
"Saya akan berusaha, Bu", kataku pada akhirnya.
Ibu tampak lega mendengar ucapakanku itu, yang mengandung suatu janji. Tiga=
 hari aku bergulat hebat untuk mengambil keputusan. Akhirnya aku memutuskan=
: meninggalkan komunisme, apapun konsekwensinya. Membela rakyat tertindas b=
ukan monopoli kaum komunis. Lalu aku buru-buru ke rumah sakit. Ingin segera=
 kukabarkan keputusanku pada bapak. Kubayangkan bapak akan lega dan gembira=
 mendengar kabar ini.

Aku melangkah tergesa-gesa. Halaman rumah sakit kulintasi. Koridor rumah sa=
kit kutelusuri. Begitu sampai di depan kamar tempat bapak dirawat, aku berd=
iri terpana. Seluruh tubuhku seakan kaku. Sulit digerakkan. Kakiku gemetar.=
=20

Aku dengan tangis ibuku. Aku dengar jeritan Hernowo. Aku tubruk pintu. Mene=
robos kamar.
Bapak telah tiada".

Ngarto mengakhiri novelnya di sini dengan kematian Djon dan ditinggalkannya=
 komunisme oleh Mirah.

"Apa yang salah pada komunisme, Pak? Cita-citanya sungguh mulia: membebaska=
n rakyat dari penindasan kaum borjuis-kapitalis. Menciptakan masyarakat tan=
pa kelas..."
"Komunisme tidak cocok untuk negara kita. Negara-negara komunis sudah pada =
ambruk. Meskipun bapak ini pemulung, bapak mengikuti perkembangan. Cina sud=
ah mulai kompromi. Tidak murni menerapkan sosialisme-komunisme. Kuba miskin=
. Eropa Timur ambruk. Apa yang bisa diharapkan dari komunisme, Nak. Rakyat =
di negara komunis tidak mempunyai hak atas hidupnya sendiri. Rakyat dikotak=
-kotakkan dan dibuat saling mencurigai" [hlm.169].

Demikianlah alasan Mirah dan juga mungkin merupakan pandangan Ngarto yang d=
iucapkan melalui tokoh-tokohnya.

Konflik yang menonjol pada novel ini adalah konflik pikiran dan perasaan, t=
entu juga pertarungan untuk hidup mengalahkan kemiskinan serta kepapaan, ba=
ik sebagai pemulung,maupun sebagai sebagai seorang ibu yang seorang diri [s=
ingle parent]  harus menghidupi dan mengasuh anak-anaknya.=20

"Bapak telah tiada" [hlm.172] dan kepergiannya meninggalkan "Masa kini penu=
h penderitaan. Masa depan tak pasti". Dan sejarah selalu saja menampilkan w=
ajah gandanya: arif dan kejam, lurus dan bengkok, benar dan salah" [hlm. 1]=
.

Ketika mengakhiri novelnya dengan kematian Djon dan berpisahnya Mirah dari =
Marxisme atau komunisme, ditambah lagi  dengan kata-kata Ngarto di awal cer=
ita tentang :"kesalahan masa lalu tak terampuni ketika menapaki masa kini",=
 padaku timbul pertanyaan: Apa sesungguhnya yang jadi inti pesan Ngarto mel=
alui novel Tapol-nya? Bagaimana sebenarnya Ngarto melihat masa silam dan ha=
ridepan bangsa dan negeri bernama Indonesia ini? Apakah Indonesia termasuk =
"seperti Sisipus yang terpaksa menjalani hukuman dewa?" [hlm.1]. Apa arti p=
ernyataan ini jika dihubungkan dengan Tragedi Nasional September 1965? Meng=
apa Djon dan Mirah dijadikan pahlawan novel berjudul Tapol?

Paris, Februari 2004.
--------------------
JJ.KUSNI



[Bersambung...]



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=3D5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
 Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
=20
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
=20


Other related posts: