[ppi] [ppiindia] CATATAN BUDAYA: "BAPAK TELAH TIADA" [2]
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>,<wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>,"ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Wed, 25 Feb 2004 06:09:43 +0100
** ppi-india **
CATATAN BUDAYA:
"BAPAK TELAH TIADA" MENINGGALKAN "MASA KINI PENUH PENDERITAAN" [2]
Kesan Membaca Novel "TAPOL" karya Ngarto Februana
Judul buku: Tapol.
Tebal:viii + 176 hlm.
Penerbit: Media Pressindo, Yogyakarta, September 2002.
Dengan memilih tema tapol dan bahkan menjadikan kata Tapol sebagai judul
novelnya, aku memahaminya bahwa Ngarto Februana [selanjutnya kusebut Ngarto]
juga tidak bisa menutup mata nurani kemanusiaannya akan masalah bangsa dan
negeri serta jutaan korban yang belum berakhir hingga sekarang, yang dalam
kata-kata Ngarto Februana sendiri disebut sebagai "masa kini penuh
penderitaan", "Masa depan tak pasti" [hlm.1] ketika "bapak telah tiada"
[hlm.172].
Sekalipun demikian masih saja ada yang melihat duka ini sebagai "masa silam",
karena yang terpenting menurut pandangan ini adalah "hari ini".
"Membicarakannya sekarang sama dengan menambah beban bangsa". Yang lebih
menyedihkan lagi yaitu tetap adanya orang-orang yang tidak percaya bahwa
masakre itu benar-benar terjadi serta meminta bukti-buktinya. Sikap lain yang
tidak kurang negatifnya adalah mereka yang merasa bahwa masakre demikian
terutama terhadap PKI dan yang diduga PKI merupakan suatu kewajaran sebab PKI
pun melakukan pembunuhan sehingga masakre bisa dibenarkan. Pandangan-pandangan
begini mengingatkan aku akan pendapat Le Pen, pimpinan Front National, sebuah
ngerakan bertendes neo-Nazi di Perancis, yang memandang bahwa masakre atas
orang-orang Yahudi oleh Nazi Hitler dengan menggunakan kamargas pada waktu
Perang Dunia II, merupakan "rincian sejarah" [detail de l'histoire"] belaka.
Ada lagi yang melihat bahwa jika berbicara tentang masakre dalam Tragedi
Nasional September 1965 itu sama dengan "sikap mendendam". Yang terpenting
untuk kepentingan bangsa dan negara adalah "memaafkan" dan "melupakan" tragedi
nasional tersebut tanpa usah memahami duduk soal sebenarnya. Di satu pihak
berharap akan adanya permaafan dan agar dilupakan, tapi di pihak lain kenyataan
memperlihatkan bahwa untuk menguburkan kembali para korban, masih saja tidak
bisa dilangsungkan secara mulus. Tulang-belulalang yang sudah dikumpulkan dan
di masukkan ke dalam peti-peti khusus, oleh kelompok tertentu ditabur ke
jalan-jalan.Beberapa penyelenggaranya didatangi dan diancam.
Lebih luar biasa lagi, masalah-masalah yang dihadapi oleh angkatan sekarang,
ditimpakan juga kepada orang-orang yang dimasakre dan jutaan sudah jadi
tulang-belulang berserakan secara harafiah.
Rukun, damai, maaf, kepentingan bangsa dan negeri, kasihsayang sebagai sesama
mahluk Tuhan, toleransi, kemajemukan adalah kata-kata yang sering didengungkan,
tapi kehidupan memperlihatkan kenyataan lain. Kata dan makna dipisahkan
sehingga kebohongan, kemunafikan dan kekerasan mendominasi kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, bernegeri dan bernegara. Kemanusiaan diperosotkan
sampai ke batas paling rendah dan sering kurang kita sadari. Pemisahan makna
dan kata menjadikan negeri ini sebagai tempat di mana hukum rimba dilaksanakan
dan dipandang sebagai sikap berkebudayaan.
Kemerosotan ini juga diperlihatkan oleh kemerosotan nalar yang tercermin dalam
berbahasa. Sementara di satu pihak PKI yang sudah dibubarkan masih dinyatakan
sebagai partai terlarang, seperti halnya dengan Marxisme, tapi di pihak lain
kita membaca dan mendengar orang berbicara tentang adanya caleg PKI.
Kemerosotan demi kemerosotan begini kukira tidak lain berawal dari masih
berdominasinya pola pikir dan mentalitas otoritarianisme di negeri ini.Pola
pikir dan mentalitas, tidakkah mereka merupakan hakekat dari wajah manusia dan
bangsa sebagai penghuni, obyek garapan terpenting dari sastra-seni?! Berangkat
dari pandangan inilah dahulu Lu Sin, meninggalkan rencananya menjadi dokter
medikal dan memilih menjadi penulis guna menyambut tantangan sebagai putera
Tiongkok. Sedangkan sastrawan-seniman Indonesia hari ini?!
Dibandingkan dengan sikap dan pandangan-pandangan di atas, maka di sini aku
melihat kebesaran dan keluhuran jiwa Gus Dur yang berani secara terbuka dan
terus-terang mengaku kesalahan dan minta maaf kepada para korban masakre itu.
Sampai sekarang, adakah dan siapakah lainnya yang berani berterus-terang
seperti Gus Dur [lepas dari segala kekurangan Gus Dur?!].
Bagaimana sikap dan pandangan Ngarto dalam fiksi Tapol-nya?
Ngarto nampak berhati-hati bahkan mendekati sangat berhati-hati. Ia juga punya
niat jujur terutama pada dirinya sendiri sebelum jujur kepada orang lain.
Artinya ia mencoba melihat materi olahannya secara obyektif. Berusaha
mengatakan putih terhadap yang memang putih, dan hitam terhadap yang memang
hitam. Seberapa jauh usaha dan percobaan bersikap nalar dan obyektif ini
berhasil adalah soal lain, tapi Ngarto sudah mencoba dan berusaha. Apalagi
obyektivitas mutlak kiranya sesuatu yang hampir tidak ada, lebih-lebih di dunia
sastra-seni yang tak bisa bercerai dari subyektivitas dan atau subyektivisme.
Untuk mewujudkan maksud tersebut, Ngarto mulai menghimpun bahan mentah bagi
novelnya dengan memanfaatkan "data sejarah dan penelitian" Tulis Ngarto dalam
"Ucapan Terima Kasih"nya:
"Antara lain, saya menggunakan data dari buku Menyingkap Kabut Halim 1965
[Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2000], terutama yang berkaitan dengan
"keterlibatan" oknum Angkatan Udara dalam Peristiwa G30S.Tentang pembantaian
anggota PKI dan ormasnya, antara lain saya menggunakan keterangan mantan wakil
sekjen Gerwani, Sulami, dalam majalah D&R No.39/10-15 Mei 1999. Adapun mengenai
gerakan aksi sepihak di Klaten, saya merujuk pada penelitian Dr. Soegijanto
Padmo, dalam bukunya Landreform dan Gerakan Protes Petani Klaten 1959-1965
[Media Pressindo, Yogyakarta, 2000]. Penggambaran kehidupan pemulung jalanan di
Yogyakarta, saya mendasarkan diri pada hasil penelitian Y.Argo Twikromo yang
telah dibukukan dengan judul pemulung Jalanan Yogyakarta [Media Pressindo,
Yogyakarta, 1999]" ["Ucapan Terima Kasih, hlm.v].
Kecuali itu, Ngarto juga melakukan "riset di internet" dan merujuk pada buku
"Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku: Pledoi Omar Dani [ISAI,
2001], "Kesaksianku tentgang G-30-S" karangan Dr.H. Soebandrio; "Gerakan 30
September di Hadapan Mahmillub I [Pusat Pendidikan Kehakiman A.D., Mei 1966],
"Koreksi/Pembaruan/Pembangunan" karangan Dr.A.H.Nasution [1974].
Metode yang digunakan oleh Ngarto dalam menghimpun bahan mentah tulisan seperti
di atas bukanlah metode asing dalam sejarah sastra Indonesia dan dunia.
Pramoedya A. Toer di Indonesia dalam tidak sedikit karyanya seperti "Hoakiau Di
Indonesia" bahkan serie tulisan Pulau Burunya telah menggunakan metode
tersebut. Penelitian dan studi dilakukan oleh Pram semasa ia belum di buang ke
Buru, pada masa ia memimpin ruang Lentera Bintang Timur, Jakarta. Pulau Buru
merupakan tempat di mana ia menulis kembali yang masih teringat dari hasil
penelitian dan studinya selama di Jakarta. Emile Zola, Balzac dari Perancis
untuk menyebut beberapa nama saja, juga sudah menterapkan metode demikian.
Mengumpulkan bahan mentah melalui metode penelitian bibliografi atau
perpustakaan merupakan periode persiapan penulisan dan sangat membantu penulis
dalam membentuk pikiran dan perasaannya dengan mencoba menangkap suasana pada
periode yang sedang digarapnya. Pengetahuan dan bayangan yang didapatkan
dengan metode seperti di atas, akan menjadi lebih hidup lagi dalam pelukisan
jika penulis sudah sangat menghayatinya.Boleh jadi penghayatan intensif begini
akan lebih terbentuk lagi jika sang penulis pernah menghidupi langsung suatu
gerakan massa yang dihadang ajal, siksa dan penjara. Sebab pengalaman langsung
akan lebih lanjut mengembangkan imajinasi bahkan perbandingan-perbandingan
serta ungkapan-ungkapan yang digunakan dalam bertutur atau berkarya bakal
sangat orisinal dan hidup. Pengalaman langsung akan membuat penulis mampu
menangkap api, roh, jiwa kejadian dan situasi serta manusia yang terlibat.
Karena itu di samping metode penelitian bibiligorafis dan atau perpustakaan,
aku masih memandang bahwa metode penyatuan diri dengan kehidupan masih
merupakan metode yang relevan bagi dunia penciptaan sampai hari ini.
Sastrawan-seniman umumnya di negeri manapun selalu diburu dan ditagih oleh
sejarah. Lebih-lebih di Indonesia, hutang seniman kepada sejarah makin menumpuk
dari hari ke hari. Padahal kehidupan dan sejarah menyediakan bergudang-gudang
bahan mentah yang menanti garapan tangan seniman. Dengan ini, yang ingin
kukatakan bahwa sangat mustahil jika sastrawan-seniman merasa diri ketiadaan
ilham dan bahan mentah. Masalahnya terletak pada kejelian dan kepekaan
sastrawan-seniman terhadap kehidupan dan sejarah serta masyarakat. Adanya
timbunan bahan mentah dan sumber ilham demikian, sewajarnya pula jika tema yang
diolah serta yang diangkat sangat mungkin kaya akan variasi.
Sekalipun metode yang diterapkan oleh Ngarto memang bukan metode baru, tapi
boleh jadi ia belum umum dilakukan di kalangan penulis seangkatan Ngarto.Dengan
metode pengumpulan bahan mentah demikian, Ngarto memperlihatkan bahwa dirinya
telah bisa keluar dari lingkaran kecil tema yang banyak dikerjakan oleh penulis
seangkatannya, yaitu tema cinta, dan sering diolah secara monoton bernada
ratapan patahhati tanpa renungan penggalian makna.
Hal lain yang juga kulihat melalui metode yang digunakan oleh Ngarto bahwa
sastra-seni itu sesungguhnya bukanlah hanya masalah emosi, imajinasi serta
tekhnik pengungkapan tapi mengandung unsur wawasan. Konsep. Wacana. Wawasan,
wacana dan atau konsep yang kemudian dituangkan tidak dalam bentuk karya ilmiah
tapi dalam ujud karya artistik. Wawasan, konsep atau wacana ini tidak lain
merupakan mimpi seorang seniman tentang kehidupan manusia yang manusiawi.
Lukisan sebuah dunia lain yang baru lebih baik dari yang sedang dihidupinya.
Oleh mimpi ini maka sastrawan-seniman melangkah setapak di depan dari
kenyataan, tanpa pretensi menempatkan sastrawan-seniman sebagai manusia supra
karena sastrawan-seniman tidak lain dari putera-puteri masyarakatnya, anak-anak
kehidupan itu sendiri yang diasuh dan dibesarkan oleh ibu kandungnya tersebut.
Dengan novel Tapol ini, terdengar kepadaku bahwa Ngarto sedang mengucapkan
kasihsayangnya kepada sang ibu kandung dan pengasuh, bukan si Malinkundang.
Tidakkah kasihsayang kepada ibu kandung ini yang terdapat di balik kata-kata
sejarawan Dr. Anhar Gonggong:
"Tapol merupakan novel yang didasari oleh fakta sejarah. Dan ini dioleh oleh
penulisnya dengan sangat baik. Dari situ kita dapat membaca sketsa tragedi
manusia yang terjadi dalam lingkaran peristiwa sejarah manusia Indonesia yang
tragis, yaitu G30S/PKI, 1965".
Atau yang diucapkan oleh pengamat dan pemerhati sastra dan teater, Dr. C.Bakdi
Soemanto, S.U.:
"Membaca novel ini seperti melihat sejarah tetapi memiliki dimensi kedalaman"
[Lihat: Ngarto, "Tapol", hlm. belakang].
[Bersambung....]
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] CATATAN BUDAYA: "BAPAK TELAH TIADA" [2]