[ppi] [ppiindia] CATATAN BUDAYA: "BAPAK TELAH TIADA"

** ppi-india **
CATATAN BUDAYA:

"BAPAK TELAH TIADA" MENINGGALKAN "MASA KINI PENUH PENDERITAAN" [1]

Kesan Membaca Novel "TAPOL" karya Ngarto Ferbruana

Judul buku: Tapol.
Tebal:viii + 176 hlm.
Penerbit: Media Pressindo, Yogyakarta, September 2002.

Tapol singkatan dari tahanan politik, sudah merupakan istilah baru yang 
menambah perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia merujuk kepada orang-orang 
yang ditahan karena sebab-sebab berlatarkan sebab dan dugaan politik. Kosakata 
ini mulai mencuat ke permukaan menyusul meletusnya Tragedi September 1965 dan 
di di seluruh dunia dilancarkan kampanye pembelaan sampai ketika Jimmy Carter, 
menjadi Presiden Amerika Serikat dengan politik kemanusiaannya telah turut 
turuntangan. Campurtangan Jimmy Carter -- pemenang Nobel Perdamaian, dengan 
politik kemanusiaannya -- menghasilkan "pembebasan" ribuan tapol PKI serta yang 
dituduh PKI dari pulau pembuangan Buru, serta berbagai penjara yang tersebar di 
berbagai pulau tanahair sekalipun setelah "pembebasan" mereka dan keluarganya 
seperti dikatakan oleh Duta Besar Italia untuk Indonesia pada waktu itu "tetap 
sebagai warga kelas dua". Mereka "dibebaskan" dengan "kebebasan" penuh pagar 
larangan. Tidak boleh bekerja ini dan itu serta harus terus melaporkan diri. 
Salah satu bentuk masakre terselubung.

Jika dikaitkan dengan sejarah lahir dan populernya kosakata tapol, maka nampak 
bahwa ia telah melukiskan wajah sejarah politik, ekonomi dan sosial serta 
kebudayaan Indonesia pada suatu periode yang dampaknya sampai sekarang. 
Kosakata dan pergeseran makna kata, termasuk "pemisahan makna dan kata" 
[menggunakan ungkapan Max Steiner] bahkan penghapusan sederetan kosakata, jika 
diusut-usut pada akhirnya tidak lain merupakan salahsatu bentuk catatan sejarah 
sebuah bangsa dan negeri, bahkan merupakan catatan kehidupan itu sendiri secara 
menyeluruh.

Kalau kosakata ini sampai tahun 1988,di mana Orde Baru yang muncul ke panggung 
kekuasaan, menyusul Tragedi Nasional September 1965, bertanggakan jutaan 
bangkai dan pakaian bersimbah darah mereka yang dimasakre serta airmata mereka 
yang menderita olehnya, masih berkuasa dengan "pongahnya" sehingga belum masuk 
ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia [terbitan resmi Departemen Pendidikan Dan 
Kebudayaan" & Balai Pustaka] sebabnya gampang dipahami. Dan kalau sampai 
sekarang kosakata tersebut tetap tidak terdapat, maka keadaan demikian selain 
mencerminkan situasi politik negeri dan imbangan kekuatan nyata dalam 
masyarakat pada suatu waktu tertentu dan hari ini, iapun memperlihatkan betapa 
perlunya kata sebuah bahasa, jadinya tak obah sebagai katalog lengkap lukisan 
sejarah dan konsep bangsa serta negeri pada suatu zaman atau dari zaman ke 
zaman. Dari segi ini, maka kamus bisa berfungsi sebagai salah sebuah sumber 
sejarah, seperti halnya legenda, sastra lisan, paling tidak membantu para 
sejarawan mengusut data lebih lanjut.

Setelah Soeharto terpaksa meninggalkan secara resmi panggung kekuasaan, 
karya-karya tentang Tragedi Nasional September 1965, dan Tapol PKI  dalam 
berbagai bentuk makin banyak beredar serta diterbitkan, termasuk dalam bentuk 
karya sastra-seni. Sampai-sampai pihak yang merasa terancam melancarkan operasi 
"Sweeping Buku-buku Kiri" yang dalam praktek dan secara konsepsional sangat 
menggelikan. Sastrawan-seniman yang menjadi korban Tragedi Nasional tersebut 
ataupun yang bukan, makin berani menulis dengan tema tapol sesuai pandangan 
masing-masing. Bukti bahwa kehidupan tapol sangat menyentuh nurani dan juga 
ujud dari pemberontakan nurani anak manusia yang masih ada di Indonesia.

Karya-karya sastra-seni dengan tema tapol nampak seperti menampilkan warna baru 
dalam kehidupan sastra-seni Indonesia kekinian yang jika disatukan, ingin 
kunamakan sebagai "sastra-seni luka".  

Kukatakan sebagai "sastra-seni luka" karena mereka, karya-karya tersebut, 
banyak bertutur tentang kehidupan yang dilukai oleh salah satu penindasan dan 
pembunuhan terbesar di abad ke-20. Menurut angka Jendral Sarwo Edi, yang 
langsung turut melakukan masakre,jumlah yang terbunuh saja dalam Tragedi 
Nasional September 1965 mencapai 3 juta jiwa. Yang tidak terbunuh, di buang ke 
Pulau Buru, Pulau Nusakambangan, disekap tanpa diadili di berbagai penjara di 
seluruh tanahair. Yang hidup di penjara dan pulau-pulau pembuangan serta 
keluarga mereka yang berada di luar, hidup dalam keadaan sangat menderita. 
Dikucilkan, diawasi, dihina dan tidak dipandang sebagai anak manusia. Tkidak 
sedikit percintaan harus diputuskan karena salah satu adalah dari keluarga 
tapol. Salah seorang korbannya yang waktu itu masih berusia 12 tahun, harus 
berusaha mencari hidup sendiri ketika orangtuanya pada jam lima subuh ditangkap 
di rumah lalu dijebloskan ke penjara. "Waktu itu kita dipandang lebih rendah 
dari tai!", ujar korban penindasan itu menuturkan pengalaman dan perasaannya. 
Kesakitan luka yang luarbiasa inilah yang umumnya dituturkan oleh karya-karya 
bertemakan tapol itu ditambah dengan kemestian bagaimana bisa terus hidup. 
Salah seorang tapol yang dibuang di Nusakambangan [sekarang sudah almarhum] 
bahkan berkata: "Aku tidak ingin mati, aku ingin terus hidup, sampai bisa 
menyaksikan Soeharto jatuh!". Keinginannya terkabul dan ketika meninggal, 
lelaki tua jangkung tenang yang sudah patah tulang rusuknya oleh siksaan 
itu,meninggil dengan senyum seakan mengatakan "Aku tidak kalah!".

"Tidak kalah! Tidak menyerah. Harus hidup!" merupakan ide yang merasuk nadi dan 
pembuluh-pembuluh darah para korban militerisme Orde Baru yang memberikan para 
tapol dan keluarganya elan hidup. Elan ini kukira bukanlah perlawanan dalam 
pengertian melawan rezim yang berkuasa. Jika mau dikatakan sebagai perlawanan 
maka ia adalah perlawanan mengalahkan duka demi bisa hidup, sikap minimal dan 
primer dari seorang anak manusia demi kemanusiaannya. Elan hidup dan cinta ini 
jugalah yang diteriakkan oleh Susan Hayward [dalam filem Holywood berjudul: "I 
Want To Live!] yang memerankan tokoh pesakitan yang dihukum mati karena tuduhan 
palsu: "I want to live!" ketika ia ditanya permintaan terakhir. Tingkat ini 
kukira juga tidak bisa disejajarkan dengan periode "strategis defensif" dalam 
peperangan [bukan pertempuran!]. Ia berada di bawah tingkat tersebut. Karena 
itu, karya-karya bertema tapol yang banyak terbit menyusul jatuhnya Soeharto, 
tidak kusebut sebagai "sastra-seni perlawanan" tapi "sastra-seni luka", 
karya-karya yang umumnya muncul setelah penindasan dan masakre  besar luar 
biasa bersifat gugatan dan penelanjangan.

Seperti halnya Khayam, Satyagraha Hoerip, Yudistira, Pramoedya A. Toer, Hersri 
Setiawan, Putu Oka Sukanta, Martin Aleida dan lain-lain nama lagi... Ngarto 
Februana telah memilih tema tapol bahkan menjadikan Tapol sebagai judul 
karyanya yang diterbitkan dalam September 2002.

[Bersambung....]

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Other related posts: