[ppi] [ppiindia] CATATAN BUDAYA: ANTARA PERINGATAN, KRITIK DAN HARAPAN [BELUM DIKOREKSI]

** ppi-india **

CATATAN BUDAYA:

ANTARA PERINGATAN, KRITIK DAN HARAPAN


Tanggal 26 Februari 2004, berbagai milis sastra, seperti panggung, penyair, 
bumimansia,bungamatahari, termasuk koran-sastra@xxxxxxxxxxxxxxx, menyiarkan 
pengumuman atau pemberitahuan dari Tim Penyunting Antologi Cerpen Temu Sastra 
Kota, "Kota yang Bernama dan Tak  Bernama", yang antara lain memuat cerpen 
karya Donny Anggoro berjudul "Olan". "Buku  tersebut diterbitkan oleh Dewan 
Kesenian Jakarta DKJ) bekerja sama dengan  Penerbit Bentang Yogyakarta), dalam 
rangkaian acara Temu Sastra Jakarta di  Taman Ismail Marzuki (TIM), 19-21 
Desember 2003, yang proses seleksi  cerpen-cerpen di dalamnya dilakukan oleh 
satu tim penyunting terdiri dari  Ahmadun Yosi Herfanda, Helvy Tiana Rosa, 
Jamal D. Rahman, Linda Christanty,  Maman S. Mahayana, Medy Loekito, Nur Zain 
Hae, dan Wowok Hesti Prabowo".

Dalam pemberitahuan atau pengumuman itu,  Tim Penyunting Antologi Cerpen cerpen 
tersebut mengatakan bahwa:

"Sebagian cerpen karya Donny Anggoro itu ternyata merupakan jiplakan dari 
cerpen karya Putu Setia berjudul "Sialan" (dalam Putu Setia, Intel dari 
Comberan [Jakarta: Pustaka Manikgeni, 1994], halaman 77-85)",

dan :

"Atas  keteledoran tersebut, tim penyunting mohon maaf kepada Putu Setia, 
penerbit,dan khalayak pembaca. Tim penyunting juga menyatakan bahwa cerpen 
"Olan"  karya Donny Anggoro ditarik dari buku Kota yang Bernama dan Tak 
Bernama. 

Selanjutnya, setelah memberikan penilaian bahwa "sebagian cerpen karya Donny 
Anggoro" merupakan jiplakan", dan melakukan otokritik, Tim Penyunting 
menggunakan sebuah alinea tersendiri menyampaikan peran khusus kepada Donny 
Anggoro dalam kata-kata berikut:

"Kepada Saudara Donny Anggoro kami peringatkan dengan keras agar  tidak 
mengulang perbuatan yang tidak etis tersebut. Perbuatan Saudara telah 
mencemarkan tradisi kreatif dalam kesastraan Indonesia".[Lengkapnya pengumuman 
atau pemberitahuan yang dimaksud, aku lampirkan pada Catatan ini].

Sebagaimana bisa diduga dan umum terjadi, setelah pengumuman tersebut lalu 
beberapa komentar pun datang menyusul yang sejauh ini nampak sangat menyudutkan 
Donny Anggoro.Catatan ini tentu saja bukan untuk secara khusus membela Donny 
Anggoro, tapi lebih bersifat harapan dan ajakan bagaimana menempatkan soal pada 
tempat yang selayaknya. Apakah pengumuman atau pemberitahuan Tim Penyunting 
Antologi Cerpen serta beberapa komentar yang sudah disiarkan, tidak menempatkan 
 soal pada tempat yang selayaknya yang juga bisa dikemukakan dalam pertanyaan 
secara lain: Persoalan-persoalan apa yang muncul dari pengumuman atau 
pemberitahuan Tim Penyunting?

Pertanyaan demikianlah  memang yang mengusik perenunganku sehingga Catatan ini 
kutulis, tanpa pretensi bahwa apa yang kukatakan sebagai yang paling layak, 
kecuali lebih merupakan ajakan mempertimbangkan sikap, penilaian dan kata. 
Sebelumnya perlu kujelaskan bahwa dalam berpendapat, aku melepaskan diri dari 
nama siapapun, tapi terutama mengangkat persoalan yang bersifat umum. Kalau 
terpaksa menyebut nama, maka ia kugunakan sebagai contoh kasus, ketika 
membicarakan soal yang umum dan kupandang lebih hakiki. Menghindar dari 
menyebut nama kulakukan dengan pertimbangan karena sepengetahuanku penyebutan 
nama, mempunyai maka khusus dan mengarah ke masalah yang lebih pribadi. 
Sedangkan pribadi mana gerangan yang luput dari kekurangan? Karena itu pula 
bagaimana menghadapi pribadi oleh pribadi lain mengandung masalah bagaimana 
kita menilai sifat kontradiksi dari masalah yang kemudian diikuti oleh metode 
pemecahannya atau bagaimana menyelesaikannya sesuai sifat masalah.


Aku mulai dari masalah yang disebut "jiplakan". Apakah "jiplakan itu? Untuk 
memahami masalah ini aku mengacu kepada "Kamus Besar Bahasa Indonesia" 
[Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan & Balai Pustaka, Jakarta, 1988], yang 
merumuskan bahwa "jiplak", "menjiplak" berarti "mencontoh atau meniru [tulisan, 
pekerjaan orang lain]; mencuri karangan orang lain dan mengakui sebagai 
,karangan sendiri; mengutip karangan orang lain tanpa seizin 
penulisnya[hlm.364]. [Mungkin yang dimaksudkan di sini adalah mengutip tanpa 
menyebut sumber, sebab kalau perumusan Kamus Umum demikian ditafsirkan secara 
harafiah maka akan terdapat banyak sekali tukang jiplak di dunia tulis-menulis! 
Perumusan seperti ini memperlihatkan bahwa perumusan sebuah Kamus pun tetap 
pintu terbuka bagi pertanyaan. Bukan suatu kemutlakan]. 

Sedangkan "jiplakan", dirumuskan oleh Kamus Umum sebagai "hasil menjiplak; 
salinan; tiruan. Penjiplakan: proses, perbuatan, cara menjiplak [Ibid].Mengenai 
rumusan "plagiat" Kamus Umum yang bermakna sama dengan "jiplakan" [hlm. 690].

Dari perumusan di atas, aku memahaminya bahwa karya jiplakan adalah semacam 
fotokopie karya orang lain dan mencantumkan nama diri sendiri sebagai pencipta 
karya tersebut. Dalam hal begini maka karya jiplakan memang akan setara dengan 
"pencurian".

Dari sini lalu timbul pertanyaan lain: Seandainya karya tersebut hanya sebagian 
saja yang jiplakan [dalam pengertian seperti fotokopie], apakah karya tersebut 
secara keseluruhan tetap dikategorikan sebagai karya jiplakan ataukah cuma 
terpengaruh oleh kekagumannya atau alasan-alasan lain, termasuk kebetulan. 
Kemudian yang disebut "sebagian", apakah benar-benar "fotokopie" ataukah 
dituturkan dalam bahasa sendiri. Jika diungkapkan dalam bahasa sendiri, cara 
penuangan sendiri, tidakkah hal ini merupakan kemampuan kreatif tersendiri, 
walaupun mungkin secara ide atau isi tidak orisinal. Sedangkan orisinalitas 
adalah suatu proses. Karena orisinalitas tidak lain dari penemuan diri oleh 
seorang seniman. 

[Mungkin sanjak Chairil Anwar "Antara Kerawang Dan Bekasi" bisa diambil  
sebagai contoh pertanyaan. Kalau misalnya karya yang dikategorikan sebagai 
"jiplakan" tapi diungkapkan dalam bahasa sendiri disesuaikan dengan ruang dan 
waktu lain, apakah karya begini tidak lebih baik disebut adaptasi [saduran] 
daripada dituding sebagai plagiat atau jiplakan. Juga perlu dipertanyakan 
[terutama dalam puisi, misalnya], yang disebut "jiplakan" itu termasuk di 
dalamnya adaptasi serta pengaruh. Padahal "pengaruh", boleh jadi seorang 
seniman yang mencari dirinya, hampir tanpa kekecualian terpengaruh oleh penulis 
sebayanya yang sudah jadi ataupun oleh penulis pendahulunya.Jika pengaruh 
dikategorikan ke dalam jiplakan, maka alangkah banyaknya plagiator di dunia 
ini. Dari segi kebudayaan, adakah di antara kita yang tidak di pengaruhi oleh 
kebudayaan orang tua sebelum berkembang sebagai diri sendiri. Selanjutnya karya 
yang terakhir ini bukan tidak mungkin bakal mempengaruhi angkatan seniman yang 
muncul pada periode berikutnya.

Bertolak dari pemahaman demikian, maka akan terasa adil, jika karena ada 
kemiripan bahkan kesamaan satu dua kalimat, lalu karya tertentu disebut sebagai 
karya plagiat atau jiplakan. Lebih tidak adil lagi jika kepada si penulis tidak 
dibiarkan memberikan penjelasan serta langsung dipojokan dengan predikat 
mematikan diiringi oleh tepuktangan. Sikap demikian kukira sama dengan sikap 
pemusnahan padahal kehidupan terlalu sederhana jika ditafsirkan secara 
hitam-putih yang polos dan sederhana. Kesalahan, kekeliruan, apalagi kejatuhan 
seseorang tidak selayaknya disambut dengan tepuktangan dan pemusnahan oleh 
orang yang merasa diri berbudaya dan mengaku sastrawan-seniman. 
Sastrawan-seniman adalah orang-orang yang paling tenggang rasa dan sangat 
manusiawi --ciri dari warga Republik Berdaulat Sastra-seni. Entah kalau aku 
keliru memahami arti sastrawant-seniman dan budayawan. Predator dan pemusnah 
bagiku bagian dari penghuni rimba dengan hukum rimbanya yang tak mengenal 
saling asih, saling asah dan saling asuh. Hukum rimba bisa tercipta antara lain 
dengan membentuk mayoritas yang lengah pada pencengkapan prinsip manusiawi. 
Sebagai contoh bisa kuambil pernyataan "kami peringatkan dengan keras agar  
tidak mengulang perbuatan yang tidak etis tersebut". 

Aku mencoba dengan keras memahami kalimat di atas. Memahami arti "kami 
peringatkan dengan keras". Terkesan padaku kata-kata tersebut menempatkan diri 
sebagai penguasa dunia sastra-seni. Sangat orotiriter. Pola pikir dan 
mentalitas yang justru asing dari dunia kebudayaan dan sastra-seni 
sesungguhnya. Apakah ini tinggalan dari militerisme dan otoritarianisme yang 
menguasai pola pikir dan mentalitas Indonesia sampai sekarang? Kalau benar ada 
kasus plagiat, apakah patut dihadapi dengan sikap penindasan? Apalagi jika 
diakui bahwa yang terjadi baru "jiplakan sebagian" dan itupun patut dirincikan 
dan mendengar keterangan penulis itu sendiri secara langsung sebagai 
pertangungjawaban moral.

Dengan ini aku sampai kepada masalah metode mengajukan kritik. H.B Jassin 
ketika mengkritik Chairil Anwar dengan sanjaknya "Kerawang-Bekasi" masih 
mencoba mengetengahkan berbagai pertimbangan dan mencoba melepaskan diri dari 
penggunaan istilah plagiat karena melihat apa yang dilakukan oleh Chairil lebih 
banyak sebagai saduran. Demikian juga Subagio Sastrowardojo ketika mengkritik 
keterpengaruhan Rendra oleh Federico Garcia Lorca dengan contoh-contoh 
kongkret. Dalam mengkritik, keduanya tidak mengambil mengambil posisi sebagai 
"penguasa sastra-seni" dengan nada ancaman. Juga tidak menggunakan sikap 
menyudutkan dan tidak memberi jalan keluar. Jassin dan Subagio menyampaikan 
kritik, bukan hujatan!, dengan rasa solidaritas sesama warga Republik Berdaulat 
SAstra-seni.

Kritik-mengkritik memang diperlukan oleh sesama warga Republik Berdaulat 
Sastra-seni. Tapi menghujat, membunuh, membinasakan  dan mengkritik adalah 
hal-hal yang berbeda. Perbedaan ini ditentukan oleh sifat kontradiksi masalah. 
Pemahaman akan sifat kontradiksi ini banyak ditetapkan oleh tingkat pemahaman 
dan pengertian seseorang akan masalah sosial-politik, ekonomi dan kebudayaan. 
Hakekat masyarakat. Melalui pemahaman hakiki terhadap masalah-masalah tersebut, 
maka pengkritik akan paham siapa kawan dan siapa lawan. Tahu bagaimana bersikap 
menghadap lawan dan kawan. Atas dasar inilah maka pengkritik tahu bagaimana 
melakukan kritik. Kritik hantam kromo membuktikan si pengkritik belum memahami 
masalah hakiki ini. Sebagai konsekwensi nalarnya, maka si pengkritik gampang 
terperosok ke dalam jeratan emosi dengan berbagai perwujudan seperti caci-maki, 
gagah-gagahan, berlagak penguasa dan ulah-ulah subyektif yang tak serius sama 
sekali sehingga tak lebih dari gonggongan anjing terhadap lalunya kafilah. Dari 
sudut pandang ini maka jiplakan [lebih-lebih jika bersifat sebagian], pengaruh, 
apalagi saduran, tidak bakal menempatkan yang dikritik pada posisi lawan warga 
Republik Berdaulat Sastra-seni sebagai lawan yang layak dihujat. Taraf kritik 
dan sifat kritik dengan demikian menunjukkan tingkat kematangan dan pemahaman 
sekaligus. Tepuk-tangan, sorak-sorai terhadap seorang saudara yang melakukan 
kesalahan dan kejatuhan, apakah ini sikap sesaudara? Tidakkah sikap begini 
ingin naik ke ketinggian dengan menginjak tubuh saudara sendiri yang jatuh dan 
melakukan kekeliruan?! Apakah cara mengkritik yang tidak membedakan sifat 
kontradiksi suatu masalah suatu sikap yang "etis"? Kesalahan, keleliruan memang 
patut diungkap dan ditunjukkan sebagai ujud solidaritas antar seniman. Tapi 
cara yang tidak sesuai dengan tujuan sering menggagalkan usaha mencapai tujuan. 
Siapa gerangan yang tidak tahu bahwa plagiat atau jiplakan itu tidak baik dan 
tidak etis? Tapi apakah semua orang bisa memahami dan mampu mewujudkan "saling 
asih [artinya atas dasar asih, bukan superioritas], saling asah dan saling 
asuh" [tiga saling]? Aku kira dengan sikap ini para warga Republik Berdaulat 
Satra-seni mampu melangkah bersama menuju visi dan misi sastra-seni dan 
merampungkan fungsinya dalam kehidupan. Kalau mau bicara soal "tradisi 
kreatif", aku kita kira metode "tiga saling" tidak lain dari kesimpulan yang 
ditarik oleh rakyat negeri yang bernama Indonesia dari pengalamannya yang tidak 
hanya berusia satu dua bulan. "Tiga saling" merupakan tradisi sesungguhnya dari 
proses kreatifitas penduduk negeri ini yang mempunyai nilai universal sekaligus 
menunjukkan bahwa rakyat dan massa luas yang merupakan dasar piramida 
masyarakat bukanlah kelompok yang dungu seperti diperkirakan oleh yang berada 
di puncak piramida, menara gading atau oleh si "anak raja" jika menggunakan 
istilah mpenyair Perancis, Paul Eluard.

Dengan meresapi arti "tiga saling", pengkritik bisa membedakan antara 
peringatan [termasuk peringtan keras, kritik dan jenis-jenisnya  serta harapan.

Menghancurkan lebih gampang dari membangun. Menjadi predator jauh lebih 
sederhana daripada menjadi pembangun kehidupan manusiawi dan memanusiawikan 
manusia. Menjadi sastrawan-seniman lebih gampang diproklamirkan,apalagi 
otoproklamir, daripada kemampuan menjunjung hakekat visi dan misinya. 
Kalimat-kalimat keprihatinan ini boleh jadi tersusun karena aku sedang mencoba 
merenung dengan segala  keprihatinan ketika memandang Indonesia, 
kampung-halaman, sambil melirik panjang dan jauhnya masih perjalanan harus 
ditapaki. Sangat jauh dan jauh masih ujungnya, itupun tanpa pasti kapan tibanya 
cahaya, kecuali keyakinan bahwa masih ada matahari! Masih ada bulan dan bintang 
menarung menyisihkan kelam sementara "tiga saling" kulihat seperti sabut timbul 
tenggelam di gelombang arus sungai. 

Paris, Februari 2004.
--------------------
JJ.KUSNI

--- In penyair@xxxxxxxxxxxxxxx, "Medy" <medyloekito@xxxx> wrote:
 
ACUAN:

* Cerpen Donny Anggoro dianggap tidak Ada
 
Antologi cerpen Temu Sastra Kota, Kota yang Bernama dan Tak  Bernama, antara 
lain memuat cerpen karya Donny Anggoro berjudul "Olan". Buku  tersebut 
diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta DKJ) bekerja sama dengan  Penerbit 
Bentang Yogyakarta), dalam rangkaian acara Temu Sastra Jakarta di  Taman Ismail 
Marzuki (TIM), 19-21 Desember 2003, yang proses seleksi  cerpen-cerpen di 
dalamnya dilakukan oleh satu tim penyunting terdiri dari  Ahmadun Yosi 
Herfanda, Helvy Tiana Rosa, Jamal D. Rahman, Linda Christanty,  Maman S. 
Mahayana, Medy Loekito, Nur Zain Hae, dan Wowok Hesti Prabowo.

Sebagian cerpen karya Donny Anggoro itu ternyata merupakan jiplakan dari cerpen 
karya Putu Setia berjudul "Sialan" (dalam Putu Setia, Intel dari Comberan 
[Jakarta: Pustaka Manikgeni, 1994], halaman 77-85). Atas  keteledoran tersebut, 
tim penyunting mohon maaf kepada Putu Setia, penerbit,dan khalayak pembaca. Tim 
penyunting juga menyatakan bahwa cerpen "Olan"  karya Donny Anggoro ditarik 
dari buku Kota yang Bernama dan Tak Bernama.
 
 
Kepada Saudara Donny Anggoro kami peringatkan dengan keras agar  tidak 
mengulang perbuatan yang tidak etis tersebut. Perbuatan Saudara telah 
mencemarkan tradisi kreatif dalam kesastraan Indonesia.
 
Demikian agar jadi maklum.
 

Jakarta, 25 Februari 2004
 
Atas Nama Team Penyunting,                                           Ketua
Komite Sastra DKJ
 
Ahmadun Yosi Herfanda
Maman S. Mahayana



Sent: Thursday, February 26, 2004 11:30 AM
Subject: [koran-sastra] Fwd: Re: CERPEN DONNY ANGGORO DIANGGAP TIDAK ADA


--- In penyair@xxxxxxxxxxxxxxx, "la_luta" <la_luta@xxxx> wrote:

* Renungan La Luta,

Betapa jelinya si mata tim-penyunting 'tuk meneliti kembali karya Antologi 
cerpen "Kota yang Bernama dan Tak Bernama". Judulnya aza sudah asyk menggelitik.

Peringatan "keras" bukan hanya dinilai mencemarkan tradisi kreatif dalam 
kesastraan Indonesia tapi juga bermakna pada proses devaluasi kemampuan karya 
kualitas sastra Indonesia. 

Baguus...kalangan seniman maupun inteletual harus bersih dari elemen penganut 
KKN-KEKERASAN. Mempertahankan posisi otonom akan tetap dihargai sikap 
netralitas dan objectivitasnya. Pasar bebaspun akan tetap terbuka pintunya 'tuk 
menghibur sang para konsumen "taman bacaan" yang dipercaya itu.

Bravo 'tuk tim-penyunting yang demokrat!

La Luta Continua!

biarpun terlambat tapi toh...patut di kasih jari jempol

 


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Other related posts: