[ppi] [ppiindia] CATATAN BUDAYA: ANTARA PERINGATAN, KRITIK DAN HARAPAN [BELUM DIKOREKSI]
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>,<wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>,"ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Fri, 27 Feb 2004 09:23:48 +0100
** ppi-india **
CATATAN BUDAYA:
ANTARA PERINGATAN, KRITIK DAN HARAPAN
Tanggal 26 Februari 2004, berbagai milis sastra, seperti panggung, penyair,
bumimansia,bungamatahari, termasuk koran-sastra@xxxxxxxxxxxxxxx, menyiarkan
pengumuman atau pemberitahuan dari Tim Penyunting Antologi Cerpen Temu Sastra
Kota, "Kota yang Bernama dan Tak Bernama", yang antara lain memuat cerpen
karya Donny Anggoro berjudul "Olan". "Buku tersebut diterbitkan oleh Dewan
Kesenian Jakarta DKJ) bekerja sama dengan Penerbit Bentang Yogyakarta), dalam
rangkaian acara Temu Sastra Jakarta di Taman Ismail Marzuki (TIM), 19-21
Desember 2003, yang proses seleksi cerpen-cerpen di dalamnya dilakukan oleh
satu tim penyunting terdiri dari Ahmadun Yosi Herfanda, Helvy Tiana Rosa,
Jamal D. Rahman, Linda Christanty, Maman S. Mahayana, Medy Loekito, Nur Zain
Hae, dan Wowok Hesti Prabowo".
Dalam pemberitahuan atau pengumuman itu, Tim Penyunting Antologi Cerpen cerpen
tersebut mengatakan bahwa:
"Sebagian cerpen karya Donny Anggoro itu ternyata merupakan jiplakan dari
cerpen karya Putu Setia berjudul "Sialan" (dalam Putu Setia, Intel dari
Comberan [Jakarta: Pustaka Manikgeni, 1994], halaman 77-85)",
dan :
"Atas keteledoran tersebut, tim penyunting mohon maaf kepada Putu Setia,
penerbit,dan khalayak pembaca. Tim penyunting juga menyatakan bahwa cerpen
"Olan" karya Donny Anggoro ditarik dari buku Kota yang Bernama dan Tak
Bernama.
Selanjutnya, setelah memberikan penilaian bahwa "sebagian cerpen karya Donny
Anggoro" merupakan jiplakan", dan melakukan otokritik, Tim Penyunting
menggunakan sebuah alinea tersendiri menyampaikan peran khusus kepada Donny
Anggoro dalam kata-kata berikut:
"Kepada Saudara Donny Anggoro kami peringatkan dengan keras agar tidak
mengulang perbuatan yang tidak etis tersebut. Perbuatan Saudara telah
mencemarkan tradisi kreatif dalam kesastraan Indonesia".[Lengkapnya pengumuman
atau pemberitahuan yang dimaksud, aku lampirkan pada Catatan ini].
Sebagaimana bisa diduga dan umum terjadi, setelah pengumuman tersebut lalu
beberapa komentar pun datang menyusul yang sejauh ini nampak sangat menyudutkan
Donny Anggoro.Catatan ini tentu saja bukan untuk secara khusus membela Donny
Anggoro, tapi lebih bersifat harapan dan ajakan bagaimana menempatkan soal pada
tempat yang selayaknya. Apakah pengumuman atau pemberitahuan Tim Penyunting
Antologi Cerpen serta beberapa komentar yang sudah disiarkan, tidak menempatkan
soal pada tempat yang selayaknya yang juga bisa dikemukakan dalam pertanyaan
secara lain: Persoalan-persoalan apa yang muncul dari pengumuman atau
pemberitahuan Tim Penyunting?
Pertanyaan demikianlah memang yang mengusik perenunganku sehingga Catatan ini
kutulis, tanpa pretensi bahwa apa yang kukatakan sebagai yang paling layak,
kecuali lebih merupakan ajakan mempertimbangkan sikap, penilaian dan kata.
Sebelumnya perlu kujelaskan bahwa dalam berpendapat, aku melepaskan diri dari
nama siapapun, tapi terutama mengangkat persoalan yang bersifat umum. Kalau
terpaksa menyebut nama, maka ia kugunakan sebagai contoh kasus, ketika
membicarakan soal yang umum dan kupandang lebih hakiki. Menghindar dari
menyebut nama kulakukan dengan pertimbangan karena sepengetahuanku penyebutan
nama, mempunyai maka khusus dan mengarah ke masalah yang lebih pribadi.
Sedangkan pribadi mana gerangan yang luput dari kekurangan? Karena itu pula
bagaimana menghadapi pribadi oleh pribadi lain mengandung masalah bagaimana
kita menilai sifat kontradiksi dari masalah yang kemudian diikuti oleh metode
pemecahannya atau bagaimana menyelesaikannya sesuai sifat masalah.
Aku mulai dari masalah yang disebut "jiplakan". Apakah "jiplakan itu? Untuk
memahami masalah ini aku mengacu kepada "Kamus Besar Bahasa Indonesia"
[Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan & Balai Pustaka, Jakarta, 1988], yang
merumuskan bahwa "jiplak", "menjiplak" berarti "mencontoh atau meniru [tulisan,
pekerjaan orang lain]; mencuri karangan orang lain dan mengakui sebagai
,karangan sendiri; mengutip karangan orang lain tanpa seizin
penulisnya[hlm.364]. [Mungkin yang dimaksudkan di sini adalah mengutip tanpa
menyebut sumber, sebab kalau perumusan Kamus Umum demikian ditafsirkan secara
harafiah maka akan terdapat banyak sekali tukang jiplak di dunia tulis-menulis!
Perumusan seperti ini memperlihatkan bahwa perumusan sebuah Kamus pun tetap
pintu terbuka bagi pertanyaan. Bukan suatu kemutlakan].
Sedangkan "jiplakan", dirumuskan oleh Kamus Umum sebagai "hasil menjiplak;
salinan; tiruan. Penjiplakan: proses, perbuatan, cara menjiplak [Ibid].Mengenai
rumusan "plagiat" Kamus Umum yang bermakna sama dengan "jiplakan" [hlm. 690].
Dari perumusan di atas, aku memahaminya bahwa karya jiplakan adalah semacam
fotokopie karya orang lain dan mencantumkan nama diri sendiri sebagai pencipta
karya tersebut. Dalam hal begini maka karya jiplakan memang akan setara dengan
"pencurian".
Dari sini lalu timbul pertanyaan lain: Seandainya karya tersebut hanya sebagian
saja yang jiplakan [dalam pengertian seperti fotokopie], apakah karya tersebut
secara keseluruhan tetap dikategorikan sebagai karya jiplakan ataukah cuma
terpengaruh oleh kekagumannya atau alasan-alasan lain, termasuk kebetulan.
Kemudian yang disebut "sebagian", apakah benar-benar "fotokopie" ataukah
dituturkan dalam bahasa sendiri. Jika diungkapkan dalam bahasa sendiri, cara
penuangan sendiri, tidakkah hal ini merupakan kemampuan kreatif tersendiri,
walaupun mungkin secara ide atau isi tidak orisinal. Sedangkan orisinalitas
adalah suatu proses. Karena orisinalitas tidak lain dari penemuan diri oleh
seorang seniman.
[Mungkin sanjak Chairil Anwar "Antara Kerawang Dan Bekasi" bisa diambil
sebagai contoh pertanyaan. Kalau misalnya karya yang dikategorikan sebagai
"jiplakan" tapi diungkapkan dalam bahasa sendiri disesuaikan dengan ruang dan
waktu lain, apakah karya begini tidak lebih baik disebut adaptasi [saduran]
daripada dituding sebagai plagiat atau jiplakan. Juga perlu dipertanyakan
[terutama dalam puisi, misalnya], yang disebut "jiplakan" itu termasuk di
dalamnya adaptasi serta pengaruh. Padahal "pengaruh", boleh jadi seorang
seniman yang mencari dirinya, hampir tanpa kekecualian terpengaruh oleh penulis
sebayanya yang sudah jadi ataupun oleh penulis pendahulunya.Jika pengaruh
dikategorikan ke dalam jiplakan, maka alangkah banyaknya plagiator di dunia
ini. Dari segi kebudayaan, adakah di antara kita yang tidak di pengaruhi oleh
kebudayaan orang tua sebelum berkembang sebagai diri sendiri. Selanjutnya karya
yang terakhir ini bukan tidak mungkin bakal mempengaruhi angkatan seniman yang
muncul pada periode berikutnya.
Bertolak dari pemahaman demikian, maka akan terasa adil, jika karena ada
kemiripan bahkan kesamaan satu dua kalimat, lalu karya tertentu disebut sebagai
karya plagiat atau jiplakan. Lebih tidak adil lagi jika kepada si penulis tidak
dibiarkan memberikan penjelasan serta langsung dipojokan dengan predikat
mematikan diiringi oleh tepuktangan. Sikap demikian kukira sama dengan sikap
pemusnahan padahal kehidupan terlalu sederhana jika ditafsirkan secara
hitam-putih yang polos dan sederhana. Kesalahan, kekeliruan, apalagi kejatuhan
seseorang tidak selayaknya disambut dengan tepuktangan dan pemusnahan oleh
orang yang merasa diri berbudaya dan mengaku sastrawan-seniman.
Sastrawan-seniman adalah orang-orang yang paling tenggang rasa dan sangat
manusiawi --ciri dari warga Republik Berdaulat Sastra-seni. Entah kalau aku
keliru memahami arti sastrawant-seniman dan budayawan. Predator dan pemusnah
bagiku bagian dari penghuni rimba dengan hukum rimbanya yang tak mengenal
saling asih, saling asah dan saling asuh. Hukum rimba bisa tercipta antara lain
dengan membentuk mayoritas yang lengah pada pencengkapan prinsip manusiawi.
Sebagai contoh bisa kuambil pernyataan "kami peringatkan dengan keras agar
tidak mengulang perbuatan yang tidak etis tersebut".
Aku mencoba dengan keras memahami kalimat di atas. Memahami arti "kami
peringatkan dengan keras". Terkesan padaku kata-kata tersebut menempatkan diri
sebagai penguasa dunia sastra-seni. Sangat orotiriter. Pola pikir dan
mentalitas yang justru asing dari dunia kebudayaan dan sastra-seni
sesungguhnya. Apakah ini tinggalan dari militerisme dan otoritarianisme yang
menguasai pola pikir dan mentalitas Indonesia sampai sekarang? Kalau benar ada
kasus plagiat, apakah patut dihadapi dengan sikap penindasan? Apalagi jika
diakui bahwa yang terjadi baru "jiplakan sebagian" dan itupun patut dirincikan
dan mendengar keterangan penulis itu sendiri secara langsung sebagai
pertangungjawaban moral.
Dengan ini aku sampai kepada masalah metode mengajukan kritik. H.B Jassin
ketika mengkritik Chairil Anwar dengan sanjaknya "Kerawang-Bekasi" masih
mencoba mengetengahkan berbagai pertimbangan dan mencoba melepaskan diri dari
penggunaan istilah plagiat karena melihat apa yang dilakukan oleh Chairil lebih
banyak sebagai saduran. Demikian juga Subagio Sastrowardojo ketika mengkritik
keterpengaruhan Rendra oleh Federico Garcia Lorca dengan contoh-contoh
kongkret. Dalam mengkritik, keduanya tidak mengambil mengambil posisi sebagai
"penguasa sastra-seni" dengan nada ancaman. Juga tidak menggunakan sikap
menyudutkan dan tidak memberi jalan keluar. Jassin dan Subagio menyampaikan
kritik, bukan hujatan!, dengan rasa solidaritas sesama warga Republik Berdaulat
SAstra-seni.
Kritik-mengkritik memang diperlukan oleh sesama warga Republik Berdaulat
Sastra-seni. Tapi menghujat, membunuh, membinasakan dan mengkritik adalah
hal-hal yang berbeda. Perbedaan ini ditentukan oleh sifat kontradiksi masalah.
Pemahaman akan sifat kontradiksi ini banyak ditetapkan oleh tingkat pemahaman
dan pengertian seseorang akan masalah sosial-politik, ekonomi dan kebudayaan.
Hakekat masyarakat. Melalui pemahaman hakiki terhadap masalah-masalah tersebut,
maka pengkritik akan paham siapa kawan dan siapa lawan. Tahu bagaimana bersikap
menghadap lawan dan kawan. Atas dasar inilah maka pengkritik tahu bagaimana
melakukan kritik. Kritik hantam kromo membuktikan si pengkritik belum memahami
masalah hakiki ini. Sebagai konsekwensi nalarnya, maka si pengkritik gampang
terperosok ke dalam jeratan emosi dengan berbagai perwujudan seperti caci-maki,
gagah-gagahan, berlagak penguasa dan ulah-ulah subyektif yang tak serius sama
sekali sehingga tak lebih dari gonggongan anjing terhadap lalunya kafilah. Dari
sudut pandang ini maka jiplakan [lebih-lebih jika bersifat sebagian], pengaruh,
apalagi saduran, tidak bakal menempatkan yang dikritik pada posisi lawan warga
Republik Berdaulat Sastra-seni sebagai lawan yang layak dihujat. Taraf kritik
dan sifat kritik dengan demikian menunjukkan tingkat kematangan dan pemahaman
sekaligus. Tepuk-tangan, sorak-sorai terhadap seorang saudara yang melakukan
kesalahan dan kejatuhan, apakah ini sikap sesaudara? Tidakkah sikap begini
ingin naik ke ketinggian dengan menginjak tubuh saudara sendiri yang jatuh dan
melakukan kekeliruan?! Apakah cara mengkritik yang tidak membedakan sifat
kontradiksi suatu masalah suatu sikap yang "etis"? Kesalahan, keleliruan memang
patut diungkap dan ditunjukkan sebagai ujud solidaritas antar seniman. Tapi
cara yang tidak sesuai dengan tujuan sering menggagalkan usaha mencapai tujuan.
Siapa gerangan yang tidak tahu bahwa plagiat atau jiplakan itu tidak baik dan
tidak etis? Tapi apakah semua orang bisa memahami dan mampu mewujudkan "saling
asih [artinya atas dasar asih, bukan superioritas], saling asah dan saling
asuh" [tiga saling]? Aku kira dengan sikap ini para warga Republik Berdaulat
Satra-seni mampu melangkah bersama menuju visi dan misi sastra-seni dan
merampungkan fungsinya dalam kehidupan. Kalau mau bicara soal "tradisi
kreatif", aku kita kira metode "tiga saling" tidak lain dari kesimpulan yang
ditarik oleh rakyat negeri yang bernama Indonesia dari pengalamannya yang tidak
hanya berusia satu dua bulan. "Tiga saling" merupakan tradisi sesungguhnya dari
proses kreatifitas penduduk negeri ini yang mempunyai nilai universal sekaligus
menunjukkan bahwa rakyat dan massa luas yang merupakan dasar piramida
masyarakat bukanlah kelompok yang dungu seperti diperkirakan oleh yang berada
di puncak piramida, menara gading atau oleh si "anak raja" jika menggunakan
istilah mpenyair Perancis, Paul Eluard.
Dengan meresapi arti "tiga saling", pengkritik bisa membedakan antara
peringatan [termasuk peringtan keras, kritik dan jenis-jenisnya serta harapan.
Menghancurkan lebih gampang dari membangun. Menjadi predator jauh lebih
sederhana daripada menjadi pembangun kehidupan manusiawi dan memanusiawikan
manusia. Menjadi sastrawan-seniman lebih gampang diproklamirkan,apalagi
otoproklamir, daripada kemampuan menjunjung hakekat visi dan misinya.
Kalimat-kalimat keprihatinan ini boleh jadi tersusun karena aku sedang mencoba
merenung dengan segala keprihatinan ketika memandang Indonesia,
kampung-halaman, sambil melirik panjang dan jauhnya masih perjalanan harus
ditapaki. Sangat jauh dan jauh masih ujungnya, itupun tanpa pasti kapan tibanya
cahaya, kecuali keyakinan bahwa masih ada matahari! Masih ada bulan dan bintang
menarung menyisihkan kelam sementara "tiga saling" kulihat seperti sabut timbul
tenggelam di gelombang arus sungai.
Paris, Februari 2004.
--------------------
JJ.KUSNI
--- In penyair@xxxxxxxxxxxxxxx, "Medy" <medyloekito@xxxx> wrote:
ACUAN:
* Cerpen Donny Anggoro dianggap tidak Ada
Antologi cerpen Temu Sastra Kota, Kota yang Bernama dan Tak Bernama, antara
lain memuat cerpen karya Donny Anggoro berjudul "Olan". Buku tersebut
diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta DKJ) bekerja sama dengan Penerbit
Bentang Yogyakarta), dalam rangkaian acara Temu Sastra Jakarta di Taman Ismail
Marzuki (TIM), 19-21 Desember 2003, yang proses seleksi cerpen-cerpen di
dalamnya dilakukan oleh satu tim penyunting terdiri dari Ahmadun Yosi
Herfanda, Helvy Tiana Rosa, Jamal D. Rahman, Linda Christanty, Maman S.
Mahayana, Medy Loekito, Nur Zain Hae, dan Wowok Hesti Prabowo.
Sebagian cerpen karya Donny Anggoro itu ternyata merupakan jiplakan dari cerpen
karya Putu Setia berjudul "Sialan" (dalam Putu Setia, Intel dari Comberan
[Jakarta: Pustaka Manikgeni, 1994], halaman 77-85). Atas keteledoran tersebut,
tim penyunting mohon maaf kepada Putu Setia, penerbit,dan khalayak pembaca. Tim
penyunting juga menyatakan bahwa cerpen "Olan" karya Donny Anggoro ditarik
dari buku Kota yang Bernama dan Tak Bernama.
Kepada Saudara Donny Anggoro kami peringatkan dengan keras agar tidak
mengulang perbuatan yang tidak etis tersebut. Perbuatan Saudara telah
mencemarkan tradisi kreatif dalam kesastraan Indonesia.
Demikian agar jadi maklum.
Jakarta, 25 Februari 2004
Atas Nama Team Penyunting, Ketua
Komite Sastra DKJ
Ahmadun Yosi Herfanda
Maman S. Mahayana
Sent: Thursday, February 26, 2004 11:30 AM
Subject: [koran-sastra] Fwd: Re: CERPEN DONNY ANGGORO DIANGGAP TIDAK ADA
--- In penyair@xxxxxxxxxxxxxxx, "la_luta" <la_luta@xxxx> wrote:
* Renungan La Luta,
Betapa jelinya si mata tim-penyunting 'tuk meneliti kembali karya Antologi
cerpen "Kota yang Bernama dan Tak Bernama". Judulnya aza sudah asyk menggelitik.
Peringatan "keras" bukan hanya dinilai mencemarkan tradisi kreatif dalam
kesastraan Indonesia tapi juga bermakna pada proses devaluasi kemampuan karya
kualitas sastra Indonesia.
Baguus...kalangan seniman maupun inteletual harus bersih dari elemen penganut
KKN-KEKERASAN. Mempertahankan posisi otonom akan tetap dihargai sikap
netralitas dan objectivitasnya. Pasar bebaspun akan tetap terbuka pintunya 'tuk
menghibur sang para konsumen "taman bacaan" yang dipercaya itu.
Bravo 'tuk tim-penyunting yang demokrat!
La Luta Continua!
biarpun terlambat tapi toh...patut di kasih jari jempol
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] CATATAN BUDAYA: ANTARA PERINGATAN, KRITIK DAN HARAPAN [BELUM DIKOREKSI]