[ppi] [ppiindia] Berpijak Pada Plato
- From: "Si Fu Lan" <fulan@xxxxxxxx>
- To: <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Sun, 30 May 2004 14:56:26 +0300
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
http://waspada.co.id/berita/pemilu/artikel.php?article_id=45260
--opini---
Capres; Berpijak Pada Plato
*oleh Aguk Irawan Mn
Dalam tinta sejarah ilmu pengetahuan, ada seorang manusia yang sepanjang
hidupnya ditakdirkan untuk terus berkutat pada masalah "filsafat" dan
"negara" yang pelik. Ia adalah sebuah nama yang tak terlupakan oleh sejarah
perdebatan ilmu pengetahuan. Karena berkat sumbangan pemikiran filsafatnya
dalam bidang politik cukup besar. Ia bernama Plato (429 -347 SM). Sumbangan
itu tertuang pada sebuah buku seperti Laches, Prothagoras, Phaedo, Republik,
Meno, Parmenides dan Undang-Undang. Bagi Athena, barangkali sebuah buku
Plato adalah kitab suci, yang sama berperan seperti Torah dan Alkitab,
bagaikan teks yang tak pernah selesai dikaji. Dan terus mengalir.
Salah satu sumbangan berharga dari murid Socrates ini adalah bagaimana ia
memberi syarat yang harus dicapai untuk menjadi Pemimpin. Dalam bukunya yang
populer berjudul The Republic (1936), karya ini menyulut gagasan tentang
rancang-bangun persemakmuran ideal dalam jajaran paling awal karya-karya
utopia. The Republic adalah sebuah upaya keras untuk mendefinisikan
keadilan, dengan membayangkan kemungkinan adanya negara terbaik yang harus
direalisasikan untuk mewujudkan nilai keadilan dan kemanusiaan. Dari sini
pula Plato memperlihatkan secara jelas bahwa menjadi seorang Pemimpin adalah
bukan sesuatu yang muda dicapai oleh seseorang.
Menjadi Pemimpin rakyat (baca; Presiden), Plato perlu memberi syarat
tertentu yang harus dipenuhi oleh seorang calon pemimpin, syarat-syarat itu
kembali pada kualitas manusia yang disandarkan kepada "nafs"' (jiwa) atau
akal manusia, dan tidak kembali pada aspek "jasadiah" (baca;aspek dlohir)
manusia. Sebab akal inilah yang nantinya menuntun pemimpin dalam empat
kebajikan pokok yang sepanjang masa terus dibutuhkan oleh rakyat, yakni
memiliki pengendalian diri, keberanian, kearifan dan keadilan. Keempat pokok
ini menurut Plato hanya ada dalam kelas sosial pertama, yaitu kelas filosof
atau kaum cerdik cendikia.
Pembagian Kelas Sosial
Plato membagi kelompok manusia (baca; rakyat) menjadi tiga kelas: Pertama,
kelas filosof (Aqliya'), yaitu suatu kelompok bermoral baik dan berakal
cerdas yang memiliki kepiawaian mengolah Negara. Kedua, kelas militer atau
prajurit (Junudiyah) yaitu kelompok yang bertugas melaksanakan pertahanan
negara baik dari musuh internal maupun eksternal. Ketiga, kelas Buruh
(Syahwaniyah) disebut dengan warga negara biasa yang harus menyediakan
barang dan jasa yang diperlukan untuk Bangsa (baca; produksi).
Teori Plato tentang kelas ini didasarkan pada pendirian pendapat bahwa
manusia secara perorangan tidak memadai dalam dirinya sendiri. Maka manusia
butuh berkumpul dan berkomunitas (baca; polis) untuk saling membantu demi
hajatan bersama dengan keuntungan masing-masing. Maka ketiga kelas sosial
yang berbeda secara realitas, adalah tugas rakyat yang tak boleh tercampur
satu sama lain. Ketiganya harus berjalan secara terpisah dalam ruang-lingkup
keahlihan manusia secara individu. Sebab komunitas yang menetap, akan
melahirkan keberagaman bentuk pekerjaan. Dan keberlangsungan corak kehidupan
yang berbeda ini, secara ideal seharusnya dilakukan oleh para individu yang
ahli dalam jenis pekerjaan tertentu. Ahli yang menerapkan kecakapannya di
berbagai bidang kegiataan kehidupan bermasyarakat yang sesuai dengan
sepesialisasinya.
Dalam The Republic, untuk mewujudkan Negara Ideal, Plato merasa perlu
menjalankan fungsi-fungsi utama negara- yaitu: menerapkan manajemen
adminitrasi (Idariyah), yang kembali pada kelas pertama. Fungsi benteng
pertahanan, yang kembali pada kelas kedua, serta pusat produksi, yang
kembali pada kelas ketiga. Dengan Trifungsi yang disebutkan Plato ini
berfungsi, maka niscaya terbentuklah suatu cita-cita bersama yang disebut
"negara sejahtra berkeadilan"
(David Meeling, dalam "Understanding Plato").
Syarat Menjadi Pemimpin
Plato telah membagi kelas sosial yang bertugas secara terpisah dalam
masyarakat. Maka dari sini pula ia perlu mengajukan syarat, kelas mana yang
paling layak menjadi pemimpin sebuah polis. Dan Plato tak ragu, bahwa
pilihannya jatuh pada kelas yang pertama, yaitu- kelas filosof. Dengan kata
lain, kelas yang paling berhak menjadi Pemimpin adalah filosof. Merekalah
yang membimbing masyarakat ke arah harmoni dan kebebasan yang sejati. Di
mata Plato hanya seorang Filosof yang memenuhi syarat yang disebut di atas.
Sifat dan sikap seperti itu membuat pemimpin mampu membedakan mana yang baik
dan mana yang buruk, apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari,
karena nilai-nilai keutamaan inilah yang dijadikannya sebagai prinsip dalam
memimpin. Dengan kemampuan untuk menahan diri seorang filosof mampu bersikap
netral terhadap persoalan-persoalan, dan mampu menjaga jarak dengan
materi-materi duniawi seperti harta benda dan kekayaan serta kekuasaan yang
ada di hadapannya.
Pertanyaan yang tentunya relevan diajukan, mengapa Plato harus memilih
seorang filosof menjadi pemimpin? Apa arti yang tersembunyi di balik
pemilihan orang yang memiliki kualitas "nafs" (baca; akal) sebagai syarat
mutlak pemegang kekuasaan. Barangkali sebagai jawaban, kita perlu
mendifinisakan soal "nafs" ke dalam bentuk yang lebih praktis dimengerti,
yaitu moralitas (Akhlaqiyah), maka sekurang-kurangnya ada dua hal yang bisa
dikemukakan sebagai jawaban di sini. Pertama, bagi Plato, bahwa kehidupan
bernegara itu perlu mengedepankan kualitas moral, yang menjadi pilar penting
komunitas. Dan yang pertama-tama harus memperlihatkan kualitas-kualitas
moral itu adalah Pemimpin. Karena itu dapat dimaklumi mengapa Plato
menganalogkan struktur negara dengan struktur tubuh manusia "Man is
Political Creature". Kedua, di belakang tuntutan ini tersirat pula makna
bahwa para pemimpin haruslah mampu menjadi teladan kebaikan dan kebajikan
bagi orang-orang yang dipimpinnya. Ia harus mampu menjadi tiruan moral bagi
masyarakat. Karena itu logislah menurut Plato, bahwa syarat mutlak seorang
menjadi pemimpin adalah sejauhmana keutamaan-keutamaan moralnya (Kasdin
Sihotang, dalam esai "Teladan Moral Pemimpin").
Mengembalikan soal kualitas "nafs" juga tidak hanya sebatas kecerdasan
akal, dan kebaikan moral, tapi menurut Plato juga pada daya feeling untuk
menangkap karya seni. Plato percaya bahwa seni sastra, seni rupa, seni
musik, dan seni teater memiliki kekuatan yang sangat besar untuk menempa
watak manusia, sebab seni secara formatis bisa mempengaruhi nilai, ide dan
emosi. Oleh karena itu seni tersebut memainkan peran yang signifikan dalam
mengambil keputusan seorang pemimpin. Maka ketika seoarang dihadapkan kepada
'soal' memiliki pengendalian diri, keberanian, kearifan dan keadilan, maka
feeling seni juga sebagai syarat yang sangat relefan pada pemimpin, dan
agaknya hanya seorang filosoflah yang memiliki sifat seperti ini.
Di negara Athena, saat Plato masih hidup, calon pemimpin (kaum aristokrat)
wajib diberi pendidikan seni, bahkan dengan ketentuan pelajaran yang sangat
mencukupi. Murid dididik dengan ajaran karya sastra mitos dan legenda,
terutama dalam cerita yang terkandung dalam puisi homerus dan hesoid. Bagi
Plato untuk menjadikan moral manusia yang beretika dan berjiwa luhur, maka
pendidikan kesenianlah syarat itu.
Relevansi Ke-Indonesian.
Sebagaimana terungkap diatas, bahwa yang berhak menjadi pemimpin bagi Plato
hanya pada kelas pertama, yaitu kelas filosof. Maka kelompok berikutnya,
kelas kedua; militer, dan kaum buruh tak punya hak untuk menjadi pemimpin
Negara. Dalam anologi yang sederhana, teori kepemimpinan Plato yang
mengusung gagasan kelas ini, setidaknya sudah tersiratkan dalam sejarah
bangsa kita. Tergambar jelas pada Bapak pemimpin Bangsa Indonesia pertama
kali, saat itu Indonesia baru mulai merangkak merdeka dari cengkraman
Penjajah. Ia adalah Presiden Soekarno, siapa yang pernah meragukan bahwa
Soekarno adalah kelas filosof sebagaimana yang dilukiskan Plato? Soekarno
dengan "kejeniusan" akalnya telah membawa Nusantara menjadi kesatuan
Republik yang berkedaulatan penuh, dan kemerdekaan yang sebenarnya merdeka.
Gagasan pemikiran Soekarno ini duniapun telah menjamahnya. Soekarno tidak
sekadar jenius, cerdik dan cerdas akalnya, tapi dia juga mempunyai daya
feeling kebudayaan dan seni yang luar biasa. Hal ini bisa dibuktikan saat
mula-mula sebagian masyarakat seniman berkumpul dalam organisasi Lekra.
Soekarno pada saat itu benar-benar memahami kemelut batin rakyatnya. Bahkan
saat Penyair Taufik Ismail (1966) mendobrak dan menggugat Soekarno dengan
sajak-sajak Tirani dan Benteng. Taufik tetap dibiarkan bebas dan "gemuk"
sebagai warga Indonesia. Tak ada teror politik kekuasaan di sana pada diri
Taufik Ismail.
Tapi sejarah berubah, saat pemegang kekuasaan beralih ke tangan kelompok
kelas kedua; yaitu militer. Presiden Soeharto yang berlatar belakang kelas
kedua ini, telah membuktikan kepemimpinannya yang diktator selama 32 tahun
di Republik Indonesia. Dan demokrasipun berhenti dilekuk kakinya.
Bertahun-tahun lamanya Soeharto berhasil memperkukuh kekuasaan otokrasi
militerisme yang dilaksanakan dengan sistem politik uang dan nepotisme
melalui Golkar. Suatu kenyataan bahwa seniman dan para penyairpun ikut
terancam dan hengkang menyelamatkan dirinya sendiri, menjadi eksil di negera
tetangga, seperti Hersi Setiawan, Sobron Aidit, JJ. Kusni, dll. Dan yang tak
beranjak dari bumi pertiwi, pasti terbuang dan terancam hidupnya, hal ini
sudah terbukti pada diri Pramoedya Ananta Toer. Bahkan tak sekedar dibuang,
Wijdi Thukul (1998) si penyair demonstran, dihilangkan jejaknya, entah
bersemayam dimana, hingga sekarang nasibnya masih dalam teka-teki hidup atau
mati.
Saat ini bursa calon Presiden, dan wakil Presiden menjadi berita yang gegap
gempita di negeri kita, akan tetapi jika menilik kriteria pemimpin menurut
Plato, agaknya belum nampak ada tanda-tandanya yang memenuhi persyaratan
itu. Meski demikian, kalau kita mau "jujur" syarat untuk menjadi Pemimpin
yang paling layak dan mendekati dalam pandangan Plato barangkali hanyalah
Gus Dur. Gus Dur dengan kekuatan "nalar nafs" sudah tak diragukan kiprahnya,
dalam hal membangun lintas Agama dan wacana kenegaraan di Indonesia. Gus Dur
tidak saja hadir sebagai ulama yang liberal, Tapi Gus Dur yang inklusif dan
pluralis itu, telah menjadi jiwa dan ruh dalam menatap hampir semua agenda
besar. Agenda demokrasi dan Pembaharuan sebuah konsep membangun Negara. Ia
masuk dalam sistem politik modern, justru berangkat dari wawasan keagamaan
yang sudah mencapai tahap "al-hanifiyat al-samhah" juga tak dipungkuri
keterlibatan yang cukup "berarti" dalam membangun kebudayaan dan Kesenian,
Gus Dur sempat menjadi dewan sensor Film dan Ketua DKJ (Dewan Kesenian
Jakarta). Bukankah seorang tokoh Pemikir (baca; juga filosof) yang komplit
seperti ini yang dikehandaki oleh Plato untuk memimpin Bangsa? Namun,
lagi-lagi karena ulah kekuasan pulalah, sejarah perjalanan demokrasi kita
terhenti.
Kini ironisnya di depan kita yang tampil justru kelas kedua, yaitu militer.
Bahkan, bursa capres dan cawpres kali ini dipenuhi oleh kelompok kelas yang
ketiga "Syahwaniyah" yang oleh Plato "diharamkan" untuk memimpin Bangsa.
Untuk itu, dalam taraf demikianlah KPU barangkali harus mengkaji ulang
persyaratan UU Pilpres, dengan mempertimbangkan kembali syarat "sehat".
Sebab kalau tidak, sejarah negara kita nanti akan terulang lagi. Akankah
teori Plato akan masih terus relevan pada "nasib" Indonesia. Mari Kita lihat
perkembangannya!
Kairo, 29 Mei 2004.
*Penulis Anggota Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) Yogyakarta, kini
Studi Filsafat Islam di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
- References:
- [ppi] [ppiindia] Re: 11 partai dukung AR-SYH...
- From: Zamhasari Jamil
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Berpijak Pada Plato
- [ppi] [ppiindia] Re: 11 partai dukung AR-SYH...
- From: Zamhasari Jamil