[ppi] [ppiindia] Berapa Jam Kerja Seorang Guru SMA Satu Minggu
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Fri, 19 Aug 2005 22:20:07 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.indomedia.com/bpost/082005/20/opini/opini1.htm
Berapa Jam Kerja Seorang Guru SMA Satu Minggu
Oleh:
Sufian Noor
Banyaknya siswa tidak lulus dalam Ujian Nasional (Unas), diindi kasikan orang
sebagai rendahnya mutu pendidikan. Sedangkan mutu pendidikan sering dikaitkan
dengan faktor guru.
Sebenarnya mutu pendidikan tergantung banyak faktor. Guru hanya salah satunya,
tapi justru yang paling banyak mendapat sorotan. Isu utamanya adalah: rendahnya
mutu guru; ketidaklayakan guru; kurang penguasaan terhadap materi yang
diajarkan, metode, kurang persiapan, dan terakhir rendahnya kesejahteraan.
Substansi permasalahan yang sebenarnya adalah kurang adilnya perlakuan terhadap
guru. Selama ini guru diperlakukan secara tidak adil baik dari kesejahteraannya
maupun penghargaan terhadap profesi mereka. Di satu pihak guru dituntut
meningkatkan mutu pendidikan dan keterampilan profesionalnya, tetapi di lain
pihak kesejahteraannya masih di bawah standar. Sedangkan penghargaan terhadap
profesi guru masih minim.
Apa pun alasannya, pemerintah belum menghargai profesi guru sebagai profesi
keilmuan dan keahlian yang peranannya menentukan, melainkan masih sebagai
faktor produksi (tenaga kerja) dalam industri pendidikan kita. Masyarakat dan
orangtua murid pun masih banyak yang memandang guru tidak lebih dari sekadar
tukang getek yang menyeberangkan anak-anak mereka ke jenjang pendidikan lebih
tinggi. Tidak heran jika banyak di antara orangtua lebih mengenal montir yang
menangani kendaraan pribadi mereka, daripada guru yang menangani dan membina
anak mereka. Karena itu, banyak orangtua yang tidak peduli andai kata
penghasilan guru itu hanya setingkat tukang getek atau montir.
Guru pernah bangkit menentang ketidakadilan itu. Terjadi unjuk rasa menuntut
perbaikan nasib. Namun gerakan itu tidak mudah. Perhatian pemerintah masih jauh
dari harapan. Dukungan pihak lain pun masih belum seberapa. Bahkan banyak yang
keberatan kalau penghasilan guru lebih tinggi. Banyak yang belum mengerti
seberapa berat tugas guru. Dikira pekerjaan guru itu hanya mengajar di depan
kelas, banyak libur, sering menyuruh murid mencatat di papan tulis dan
sebagainya. Padahal (orangtua itu) menghadapi satu dua orang anak saja di rumah
kewalahan, apalagi menghadapi sekian ratus murid.
Salah satu ketidakadilan yang sangat terasa antara tugas guru dengan pegawai
kantor adalah banyaknya jam kerja yang dibebankan kepada guru. Memang, sebagai
pegawai negeri jam kerja guru dan pegawai kantor sama. Tapi kenyataannya, guru
harus kerja ekstra di luar jam kerja resmi tanpa imbalan apa-apa. Jika tidak
demikian, tugas sebanyak itu tidak mungkin terselesaikan. Bagi guru, membawa
pekerjaan ke rumah dan mengerjakannya sampai larut malam adalah hal biasa.
Sebagai gambaran, penulis menghitung jam kerja seorang guru SMA satu minggu.
Hitungan ini berdasarkan pengalaman penulis selaku guru SMA dan instruktur PKG
(Pemantapan Kerja Guru). Seorang guru dibebani tugas mengajar minimal 18 jam
pelajaran seminggu. Alokasi waktu untuk tiap mata pelajaran berkisar antara dua
sampai delapan jam pelajaran. Dua jam pelajaran, misalnya PPKn dan Pendidikan
Agama. Enam jam pelajaran, misalnya Biologi, Fisika, Ekonomi. Delapan jam
pelajaran untuk Matematika. Setiap jam pelajaran selama 45 menit. Guru yang
mengajar PPKn harus mengajar pada sembilan kelas dengan satu kali tatap muka
per kelas (sekali tatap muka dua jam pelajaran). Sedangkan guru yang mengajar
Biologi harus mengajar di tiga kelas dengan tiga kali tatap muka per kelas.
Demikian seterusnya.
Kegiatan guru dimulai pada awal tahun pelajaran. Guru biasanya berkumpul untuk
membuat sejumlah perangkat pembelajaran yang akan digunakan selama satu tahun.
Tugas guru yang pertama adalah mempelajari Buku Kurikulum untuk mata pelajaran
masing-masing. Dengan mengacu pada kurikulum, guru menyusun materi pelajaran
berdasarkan topik dan subtopiknya dalam suatu format yang disebut Analisis
Materi Pelajaran (AMP). Dari AMP ini dibuat Program Tahunan (Prota) yang
diperinci dalam format lain yang disebut Program Catur Wulan (Proca) atau
Program Semester (Prosem). Jadi, sebelum memasuki tahun pelajaran baru guru
harus memiliki minimal empat perangkat pembelajaran yaitu Buku Kurikulum, AMP,
Prota, dan Proca/Prosem.
Sebelum masuk kelas, guru harus menyiapkan beberapa perangkat tambahan. Untuk
setiap topik materi pelajaran, guru harus membuat Program Satuan Pelajaran
(PSP), dan setiap tatap muka guru harus menyiapkan Rencana Pembelajaran (RP),
Lembaran Tugas Rumah (PR) dan soal tes. Semua perangkat ini wajib dibuat dan
dimiliki oleh setiap guru. Apabila pengawas berkunjung ke sekolah, semua
perangkat ini yang pertama ditanyakan.
Dalam pelaksanaan tugas mengajar, pada setiap kali tatap muka guru harus
memberikan tugas rumah (PR) dan tes. Hasil tes harus dikoreksi dan dianalisis
untuk mengukur daya serap dan ketuntasan belajar siswa. Setiap akhir bulan,
guru harus memberikan ulangan bulanan untuk menilai hasil belajar siswa. Setiap
akhir cawu atau semester, guru harus memberikan soal ulangan umum. Setiap
minggu guru harus mengikuti pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP),
dan sekali seminggu atau dua minggu guru bertugas piket. Selain itu, guru harus
bertugas sebagai walikelas, pengelola laboratorium dan sebagainya.
Dari sejumlah tugas itu penulis menghitung waktu yang diperlukan guru untuk
menyelesaikannya. Penulis mengambil dua contoh, yaitu guru yang mengajar di
sembilan kelas dengan satu kali tatap muka per kelas dan yang mengajar di tiga
kelas dengan tiga kali tatap muka per kelas.
Guru yang mengajar di sembilan kelas: Tatap muka 9 x 2 jam pelajaran x 45 menit
= 810 menit; Membuat RP, Tugas PR dan soal tes 1 x 30 menit = 30 menit;
Mengolah hasil tes meliputi koreksi jawaban siswa, menghitung skor, mengolah
nilai, dan analisis nilai 9 kelas x 40 siswa x 5 menit = 1.800 menit; Koreksi
PR 9 kelas x 40 siswa x 3 menit = 1.080 menit; Pertemuan MGMP 4 x 60 menit =
240 menit; Tugas Piket, misalnya sekali 2 minggu 1/2 x 8 jampel x 45 menit =
180 menit. Jumlah 4.140 menit = 69 jam.
Guru yang mengajar di tiga kelas: Tatap muka 3 x 3 x 2 jam pelajaran = 810
menit; Membuat RP, Tugas PR dan soal tes 3 x 30 menit = 90 menit; Mengolah
hasil tes meliputi koreksi jawaban siswa, menghitung skor, mengolah nilai, dan
analisis nilai 3 x 3 kelas x 40 siswa x 5 menit = 1.800 menit; Koreksi PR 3
kelas x 3 x 40 siswa x 3 menit = 1.080 menit; Pertemuan MGMP 4 x 60 menit = 240
menit; Tugas Piket 1/2 x 8 jam pelajaran x 45 menit = 180 menit. Jumlah 4.200
menit = 70 jam.
Penghitungan ini penulis lakukan secara umum. Tentunya ada lebih kurangnya.
Misalnya pada tiga kali tatap muka dalam satu minggu, guru mungkin hanya
memberikan satu kali tes atau PR. Waktu yang diperlukan untuk mengoreksi hasil
tes atau PR mungkin kurang dari lima menit atau bisa juga lebih. Yang belum
diperhitungkan antara lain waktu untuk membuat PSP. Kegiatan ini biasanya
dilakukan dalam pertemuan MGMP. Demikian pula waktu yang diperlukan untuk
membuat AMP, Prota, Proca/Prosem yang biasanya menggunakan waktu libur. Juga
belum diperhitungkan waktu yang diperlukan guru untuk melakukan tugas sebagai
walikelas, menangani permasalahan siswa, konsultasi dengan orangtua murid,
menyiapkan soal ulangan bulanan/ulangan umum, menyiapkan alat dan bahan
laboratorium untuk praktik, dan sebagainya.
Dari penghitungan ini terlihat perbedaan yang cukup besar antara jam kerja guru
dengan jam kerja kantor. Untuk guru yang mengajar lebih dari 18 jam, perbedaan
ini lebih besar lagi. Ini dengan asumsi, baik guru maupun pegawai kantor
betul-betul melaksanakan tugasnya sesuai ketentuan. Kalau ada penyimpangan
tentu perbedaan itu lain lagi. Misalnya korupsi waktu. Guru korupsi waktu
paling-paling lima menit sebelum masuk kelas, atau 5-10 menit sebelum jam
pelajaran berakhir. Ini pun hanya terjadi pada sekolah yang tidak tertib.
Sedangkan bagi pegawai kantor, kemungkinan itu mungkin lebih banyak. Misalnya
datang pukul 08.00 mengisi absen, sekitar pukul 09.00 keluar. Toh, mesin tik
dengan pesawat telepon tidak akan berkelahi, kertas dan pulpen tidak akan
saling mengganggu, surat-surat tidak akan berpacaran.
Tapi ini hanya kemungkinan dan tidak bisa diukur. Banyak juga pegawai kantor
yang bekerja tekun dan disiplin waktu. Kalau ada pegawai kantor dengan seragam
tertentu berkeliaran di pasar pada saat jam kerja, mungkin sedang dalam tugas.
Misalnya membeli suatu barang untuk keperluan kantor. Namun dengan anggapan,
baik guru maupun pegawai kantor bekerja sesuai ketentuan, sekali lagi jam kerja
guru (SMA) lebih banyak daripada jam kerja kantor.
Oleh karena itu wajar guru menuntut penghasilan yang lebih tinggi. Belum lagi
kalau guru dipandang sebagai tenaga profesional seperti dokter, hakim, dan
sebagainya. Tetapi dari pengalaman masa lalu, bila gaji guru lebih besar maka
timbul kecemburuan. Akibatnya kenaikan pangkat dipersulit, rapel disunat,
segala macam usul dipungli. Guru selalu dicurigai. Kalau berani melakukan
pungli seribu rupiah saja ributnya bukan main, sementara di kantor uang seribu
rupiah itu tidak ada artinya.
Hal ini, sekali lagi karena tugas guru itu dianggap paling ringan, banyak
libur, hanya menyuruh murid mencatat dan sebagainya. Padahal kenyataannya tidak
demikian. Yang libur itu sebenarnya hanya murid, sedangkan guru tidak pernah
libur dalam arti sebenarnya (terutama guru SMP dan SMA). Di waktu libur sekolah
guru biasanya mengadakan kegiatan antara lain: menyiapkan perangkat
pembelajaran seperti disebutkan di atas, menulis laporan, membenahi
laboratorium, workshop dan sebagainya. Guru berlibur ke kampung biasanya lembur
menyelesaikan semua tugas itu, sebelumnya atau setelah liburan berakhir.
Menyuruh murid mencatat, bukan zamannya lagi. Sekarang buku banyak dijual di
pasar. Mesin fotokopi ada di mana-mana. Tidak ada lagi murid yang mau disuruh
mencatat.
Penulis mengimbau semua pihak, agar tidak terlalu mengecilkan fungsi dan
peranan guru dalam menyiapkan generasi penerus bangsa ini. Hanya dengan
pendidikan yang baik kehidupan bangsa di masa depan akan menjadi lebih baik.
Tanpa penghargaan terhadap guru maka ilmu akan kehilangan makna dan berkahnya,
sehingga tidak akan bermanfaat baik untuk pribadi, keluarga, maupun bangsa.
Jika sekolah hanya dijadikan sebagai ajang untuk mencari ijazah dan titel
supaya bisa bekerja, dapat jabatan dan naik gaji tanpa prestasi yang dapat
diandalkan, maka SDM Indonesia akan lebih rendah mutunya dibanding bangsa lain.
Kapan lagi menyadari kekeliruan ini?
Pengamat masalah pendidikan, tinggal di Banj
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12ha7bh9j/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124490010/A=2896129/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail">DonorsChoose.
A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in
public schools. Fund a student project in NYC/NC today</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Berapa Jam Kerja Seorang Guru SMA Satu Minggu