[ppi] [ppiindia] Bencana Aceh: Pasokan mayat yang tak pernah henti
- From: radityo djadjoeri <radityo_dj@xxxxxxxxx>
- To: wanita-muslimah <wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>, wartawan <wartawan@xxxxxxxxxxxxxxx>, wartawangaul <wartawangaul@xxxxxxxxxxxxxxx>, wartawanindonesia <wartawanindonesia@xxxxxxxxxxxxxxx>, afsyogya <afsyogya@xxxxxxxxxxxxxxx>, binabud <binabud@xxxxxxxxxxxxxxx>, communicationsindonesia <communicationsindonesia@xxxxxxxxxxxxxxx>, mediacare <mediacare@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Thu, 30 Dec 2004 20:11:43 -0800 (PST)
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Bencana Aceh: Pasokan mayat yang tak pernah henti
=20
Lia Achmadi <lianamaku@xxxxxxxxx>, kontributor Associated Press,=20
menuliskan pengalamannya saat bertugas meliput Bencana Tsunami di kota=20
Banda Aceh. Shahnaz Haque pun menangis saat baca kisah yang dituliskan=20
oleh Lia. "Membaca ceritanya saja dapat membuat saya menangis, ini=20
betul-betul guncangan besar untuk kemanusiaan," ucap Shahnaz.
=20
Berikut kisah Lia:
Senin 27 desember lalu saya berangkat ke Banda Aceh untuk liputan=20
buat Associated Press Television Nnews (salah satu media tempat saya=20
menjadi kontributor). Ternyata apa yang saya saksikan disana jauh=20
lebih mengenaskan daripada sekedar menyaksikannya lewat layar kaca.=20
=20
Disini saya bisa berinteraksi langsung dengan pada korban, baik yang=20
masih hidup maupun yang sudah mati. Dengan yang hidup saya masih bisa=20
berbincang-bincang seadanya (tak etis rasanya saya menanyai mereka=20
panjang lebar karena mereka baru tertimpa bencana, dan saya tau=20
mungkin mereka belum makan sejak minggu pagi saat bencana itu=20
terjadi). Saya juga bisa merasakan langsung kesedihan yang terpancar=20
dari wajah-wajah kuyu yang kecapaian dan masih trauma itu. Mungkin=20
kalau saya mengerti bahasa Aceh kesedihan itu bisa jadi berlipat-
lipat. Sedangkan dengan si mati, saya bisa melihat langsung kondisi=20
mereka yang sangat mengenaskan, mencium aroma yang konon=20
bisa "melekat" di tubuh Anda selama sepekan. Saya mendapat informasi=20
ini dari seorang dokter yang kebetulan sering berurusan dengan mayat.
=20
Dalam kunjungan singkat itu (sekitar 2,5 jam saja, sekitar satu jam=20
saya habiskan dengan terbengong di bandara Iskandar Muda karena tak=20
adanya alat transportasi ke kota), saya sempat menyaksikan kepanikan=20
luar biasa dari warga kota Serambi Mekah itu. Beberapa tenda militer=20
didirikan tak jauh dari pintu keluar bandara. Di jalan-jalan warga=20
bersileweran seperti orang linglung. Mungkin masih trauma, atau=20
mungkin ada keluarganya yang hilang. Atau malah sudah mati... kondisi=20
ini memaksa kendaraan yang melintas untuk berjalan pelan. Waktu biasa=20
sekitar 20 menit dalam perjalanan dari bandara ke kantor gubernuran=20
terasa menjadi lebih lama.=20
=20
Di Lambaro saya bersama rombongan (3 dokter dari Medan, seorang=20
anggota DPR RI asal Aceh, kadis kesehatan Pemprov NAD, dan 2=20
jurnalis kantor berita Xinhua Beijing) singgah di lokasi pemakaman=20
massal. Saat tiba disana, areal sekitar 20 m x 15 m itu sedang digali=20
dengan menggunakan excavator. Penggalian belum selesai, 5 kantong=20
berisi mayat teronggok di pinggir lubang raksasa itu. Sekitar 5 menit=20
mengambil gambar, kami melanjutkan perjalanan.
=20
Semakin jauh mendekati kota suasana chaos semakin terasa. Kerumunan=20
manusia yang kebingungan semakin banyak terlihat. Tak sedikit dari=20
mereka yang membawa buntalan-buntalan besar. Mungkin pakaian, atau=20
harta yang tersisa. Mobil-mobil dan sepeda motor lalu lalang dengan=20
lampu dihidupkan. Sesekali ambulans melintas kencang. Entah membawa=20
korban yang masih hidup, atau mayat yang sudah mulai membengkak. Saya=20
tidak sempat memeriksa.
=20
Sebelumnya saya dengar banyak beredar rumor bakalan terjadi gempa dan=20
tsunami susulan. Berita-berita seperti ini tentu menyesatkan karena=20
bisa saja menimbulkan hal tak diinginkan. Entah siapa yang=20
menghembuskan, yang jelas banyak warga yang menjadi korban. Mungkin=20
karena mereka masih trauma. Sedikit saja terdengar jeritan "air..."=20
niscaya orang-orang langsung berlarian menyelamatkan diri. Si anggota=20
DPR RI sempat bercerita kalau dia juga sempat menjadi korban.=20
Mendekati bundaran Lambaro di Aceh Besar, aura kehancuran dan kematian=20
semakin terasa. Beberapa kali saya melihat mayat teronggok di pinggir=20
jalan. Aroma udara yang terhirup juga mulai tak sedap. Saya menduga=20
pasti ada konsentrasi pengumpulan mayat. Dugaan saya benar. Di=20
sebelah kiri simpang Lambaro yang dikenal dengan sebutan bundaran=20
itu, tepatnya di depan kantor PMI teronggok sekitar 700-an mayat dari=20
berbagai tempat di kota Banda Aceh.=20
=20
Ya tuhan... saya hampir tak percaya dengan penglihatan sendiri. Selama
saya bekerja sebagai jurnalis, inilah konsentrasi mayat terbanyak yang=20
saya lihat. Mayat-mayat itu membusuk lebih cepat=20
karena terendam air. Saya sempat terbodoh sebentar, apalagi saat=20
melihat jejeran mayat anak kecil (mungkin berusia 5 tahunan). Ada=20
lagi mayat anggota polisi yang masih berpakaian lengkap. Ada mayat=20
seorang wanita yang biji matanya hampir mencelat. Ada mayat yang=20
mulutnya masih mengeluarkan darah dan buih. Ah, saya tidak tahu=20
kenapa saya begitu kuat siang itu. Entah dimana air mata saya.=20
Sebelumnya saya mendengar cerita seorang kameramen SCTV yang menangis=20
sambil mengambil gambar. ada juga cerita seorang jurnalis lain yang=20
sampai tak sanggup mengambil gambar. Bisa anda bayangkan?
Tapi saya teringat saya tidak punya waktu banyak disitu. Apalagi si=20
pemilik mobil Kijang yang kami tumpangi juga sedang tergesa-gesa=20
hendak melanjutkan perjalanan mengantarkan 3 orang dokter yang=20
bersama saya itu. Akhirnya camcorder saya hidupkan dan lensa kamera=20
mulai saya arahkan dengan beberapa variasi shoot. Kamera saya juga=20
sempat merekam seorang bapak yang berusaha mengenali sesosok mayat=20
anak kecil dengan meraba-raba bagian belakang kepalanya. Mungkin dia=20
berharap bisa mengenali si anak dari tanda lahir di belakang kepala=20
itu. Sejenak dia seperti tidak yakin kalau itu putranya. Dia terdiam.=20
Tapi tiba-tiba dia menangis kencang dan terisak. Sayang saya tidak=20
mengerti ucapannya. Mata saya sempat berkaca-kaca...
=20
Sore itu orang-orang hilir mudik berusaha mengenali mayat demi mayat.=20
Sedangkan tentara dan relawan palang merah indonesia mengangkati=20
mayat ke truk untuk diantarkan ke tempat pemakaman. truk lain masuk=20
ke lokasi mengantarkan mayat baru. entah dari mana. Pasokan mayat=20
sepeti tak berhenti. Sinar matahari yang lumayan terik membuat aroma=20
tak sedap semakin menyeruak. Untunglah seorang teman yang terbiasa=20
dengan liputan yang berhubungan dengan orang mati pernah memberikan=20
resep. Saat saya coba, ternyata memang mujarab.=20
=20
"Kalau berada di dekat mayat, bagaimanapun kondisi dan bau nya,=20
jangan sekali-kali membuang ludahmu. Karena itu bisa memancing=20
muntah. Sebaiknya telanlah ludahmu kalau merasa ingin muntah,=20
bagaimanapun mualnya. Mudah-mudahan kau tak akan muntah," kata si=20
teman.
=20
Teman yang memberikan resep adalah stringer salah satu kantor berita=20
asing di NAD. Ingat dia saya sempat kuatir karena saya belum melihat=20
seorang pun jurnalis yang saya kenal disana. Ada cerita kalau=20
kebanyakan para jurnalis tinggal di daerah dekat pantai. Padahal=20
itulah lokasi yang paling ringsek dihantam tsunami. Saya ngeri=20
membayangkan kalau dia ikut menjadi korban.=20
=20
Perjalanan lalu berlanjut. konsentrasi orang semakin banyak. Di=20
sebuah SPBU saya melihat antrian panjang orang. tak sedikit dari=20
mereka membawa jirigen plastik. Antrian itu semakin tak tertib.=20
Petugas spbu sepertinya sengaja menjatah karena persediaan tak banyak.
Di sebelah kiri dan kanan jalan saya melihat gedung permanen=20
bertingkat yang rubuh karena gempa. Kalau tidak salah, bangunan yang=20
di sebelah kiri gedung keuangan dan yang di sebelah kanan bangunan=20
gedung asuransi. Saya ngeri membayangkan seandainya bencana terjadi=20
pada saat hari kerja. Berapa banyak korban yang bakalan tertimpa?
=20
O iya, si kadis kesehatan yang menyetir mobil yang kami tumpangi cerita=20
kalau air (bah) sampai ke lokasi yang saya lihat. Padahal jarak bibir=20
pantai dengan tempat tersebut hampir mencapai 15 kilometer. Sebegitu=20
jauh, tapi air sampai kesitu. Tinggi pula lagi. Saya bisa melihat=20
bekas air bercampur lumpur dari tembok-tembok itu...=20
=20
Sampah-sampah dan kayu-kayu teronggok di pinggir jalan membuat=20
pemandangan semakin kumuh. "Tadi pagi sampah-sampah masih di tengah=20
jalan. Tapi barusan dibersihkan pakai buldoser," tambah si kadis.
Beberapa mayat masih teronggok di pinggir jalan. Sayang saya tak bisa=20
melihat detail ke seluruh tempat karena duduk terjepit di tengah-tengah
mobil. Saya juga tak bisa mengambil gambar=20
dengan posisi seperti itu. Ah, seandainya tadi saya bisa mencarter
sebuah sepeda motor untuk berjalan sendiri. Tentu gambar yang=20
saya dapat bisa jauh lebih bagus. Tapi saya ingat juga tak punya=20
waktu lama karena paling tidak mesti mengirimkan kaset untuk segera=20
dikirimkan ke Jakarta.
=20
Mobil kami lalu berbelok mengarah ke kantor Gubernuran. Si kadis=20
rupanya hendak bertemu seseorang di sana sehingga tak sempat membawa=20
kami berkeliling lebih jauh. Di pendopo Gubernuran sudah banyak warga=20
yang mengungsi. Tempat itu memang jauh lebih manusiawi dibanding=20
tempat-tempat yang saya lihat sebelumnya.=20
=20
Dalam sekian menit itu saya sempat menimbang-nimbang untuk terus=20
jalan sendirian atau ikut balik ke bandara dengan rombongan wapres=20
Jusuf Kalla. Tapi tenggat waktu memaksa saya mengambil keputusan cepat.=20
Apalagi cuma ada satu bus yang bisa saya tumpangi untuk=20
kembali ke bandara.=20
=20
Pertimbangannya, kalau saya tinggal saya mesti mencari sepeda motor=20
untuk dicarter. Jangan berharap ada angkot atau taksi disana. Kalau=20
saya tinggal, saya pasti akan kesusahan mencari penginapan dan=20
makanan. Jangankan untuk saya, warga setempat saja sudah 2 hari tidak
makan. Belum lagi saya betul-betul tidak mengenal medan Banda Aceh.=20
Saya terakhir berkunjung ke kota ini hampir 17 tahun lalu. Sudah=20
banyak perubahan bukan?=20
=20
Melihat orang-orang mulai menaiki bus yang akan kembali ke bandara=20
naluri saya memaksa untuk ikut. Sempat saya kuatir, bagaimana kalau=20
Paspampres memaksa saya untuk turun? Tapi saya teringat deadline=20
untuk mengirimkan kaset hasil rekaman. Tanpa berpikir panjang lagi=20
saya ikut naik ke bus. Di dalam, saya melihat Najwa Shihab (presenter=20
Metro TV), beberapa wartawan dan fotografer lain dan seorang reporter=20
perempuan yang membawa-bawa camcorder berstiker TV7. Belakangan saya=20
tahu kalau dia ternyata Uni Z. Lubis.=20
=20
Perjalanan setengah jam kembali ke bandara ternyata belum berbeda=20
dengan saat saya menuju Gubernuran tadi. Selain orang-orang semakin=20
banyak dan jalanan semakin padat, saat melintas dari lokasi pemakaman=20
massal saya sempat melihat kalau pemakaman belum dilakukan. Padahal=20
sore itu rencananya mesti dikuburkan karena mayat bertambah dan yang=20
jelas semakin menebar bau tak sedap. Saya berharap iring-iringan mobil
Wapres singgah di situ. Tapi rombongan jalan terus.
=20
Rombongan akhirnya berhenti di hanggar lanud Iskandar Muda. Rupanya=20
Wapres mau melihat pasokan bantuan yang baru tiba dari medan. Sore=20
itu, 1 pesawat Hercules baru saja landing membawa ratusan kardus=20
makanan dan obat-obatan. Prajurit TNI tampak hilir mudik mengangkuti=20
kardus-kardus itu dari lambung pesawat. Tak lama Wapres berangkat=20
naik helikopter untuk meninjau beberapa lokasi yang tak terjangkau=20
lewat jalan darat.=20
=20
Kesempatan itu lalu saya manfaatkan dengan berbincang-bincang dengan=20
Kapolda NAD Irjen Bachrumsyah. "Bencana ini memang sangat mengerikan=20
dik. Saya juga turut menjadi korban. Saya kehilangan kontak dengan=20
banyak saudara-saudara saya. Saya tak bisa berharap banyak. Kalau=20
mereka masih hidup tentu mujizat. Kalaupun sudah tak ada, saya tak bisa
berbuat apa-apa," katanya.=20
=20
Polisi berbintang dua dan berkumis lebat itu sepertinya memang sedang=20
depresi ringan. Wajar-wajar saja karena dia mesti berkeliling kesana-
kemari. Belum lagi laporan banyak anak buahnya yang hilang. Termasuk=20
sekitar 1 kompi saat mereka mau apel pagi di Minggu naas itu.=20
Kelelahan terpancar dari wajahnya. Celana lapangan yang dikenakannya=20
belepotan lumpur. Sangat jarang saya melihat pemandangan seperti itu.=20
Menyadari itu saya urungkan untuk menanyai hal-hal lain.=20
=20
Sore menjelang malam itu juga, sekitar pukul 18.30 akhirnya saya jadi=20
terbang ke Medan menumpang pesawat Pelita Air yang disulap menjadi=20
pesawat RI-2. Sebelumnya saya sempat cemas, bagaimana saya=20
mengirimkan kaset saya. Untuk menumpang di pesawat Wapres rasanya=20
mustahil karena saya belum diregistrasi.
=20
Sambil mencari akal bagaimana caranya untuk ikut pulang tiba-tiba=20
seorang bapak menegur saya. Saya tidak mengenalnya, selain baju=20
safari coklat yang dikenakannya dan pin kecil di ujung kerahnya.=20
Seingat saya, seluruh anggota pasukan pengamanan presiden/ wakil=20
presiden mengenakan pin tersebut. Tapi, dia terlihat lebih tua dari=20
anggota Paspampres lainnya.=20
=20
"Mau pulang dik?" katanya sambil menepuk pundak saya.
=20
"Iya pak, kalau memang ada seat," kata saya ragu-ragu.
=20
"Ya udah, kalau mau pulang ikut saja. Jangan berlama-lama lagi. Ayo=20
ikut aja," katanya ramah.=20
=20
Mendengar tawaran tersebut saya berbinar dan melangkah pasti ke=20
tangga pesawat. Akhirnya pikiran saya soal bagaimana mengirimkan=20
kaset mendapat jawaban.=20
=20
*****
=20
=20
=09=09
---------------------------------
Do you Yahoo!?
The all-new My Yahoo! =96 Get yours free!=20=20=20=20
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->=20
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->=20
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
=20
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
=20
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Bencana Aceh: Pasokan mayat yang tak pernah henti