[ppi] [ppiindia] Belajar Kasus Polio dari RRC

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/31/opini/2015052.htm


 
Belajar Kasus Polio dari RRC 

Oleh Nuke H Setiati



Tanggal 30 Agustus dan 27 September digelar Pekan Imunisasi Nasional. Kegiatan 
ini sekaligus mengingatkan surveilans AFP yang bermutu baik, meningkatkan 
sanitasi dan higiene masyarakat, dan mencontoh penanganan kasus reinfeksi virus 
polio liar di RRC dan Bulgaria.

Munculnya polio pada April 2005 membuat banyak pihak terenyak. Banyak pihak, 
termasuk kalangan medis dan paramedis, beranggapan, Indonesia menyandang status 
negara bebas polio sejak 1995.

Padahal menurut Global Certification Commission dan WHO yang menerbitkan 
laporan tahunan Global ERAPO (Global Polio Status), Indonesia berstatus no wild 
virus, tidak berstatus certified as polio-free.

Sertifikat bebas polio diberikan per wilayah kerja bukan negara. Kini 
sertifikat bebas polio baru diperoleh tiga dari enam wilayah WHO: wilayah 
Amerika (1994), Pasifik Barat (2000), dan Eropa (2002). Tiga wilayah lain yang 
belum mendapat sertifikat adalah Afrika, Mediterania Timur, dan Asia Tenggara 
(WHO-SEARO).

Tidak kaget

Munculnya kasus polio liar sebenarnya tidak mengagetkan. Mengapa? Pertama, 
meski secara nasional cakupan imunisasi polio di atas 80 persen, masih ada 27 
persen desa di Indonesia yang cakupan imunisasinya jauh di bawah 80 persen, 
terutama di daerah konflik. Pada putaran II PIN 2002, ada delapan provinsi yang 
cakupan imunisasinya di bawah 80 persen (Bidang Monev PIN 2002). Mengingat PIN 
terakhir diadakan tahun 2002, dikhawatirkan ada kelompok anak balita yang lahir 
kemudian belum mendapat imunisasi polio (immunity gap) sehingga rentan terhadap 
transmisi virus polio liar dan virus polio dari vaksin (VDPVs).

Kedua, kinerja surveilans (pengamatan) AFP (Acute Flaccid Paralysis=lumpuh 
layuh mendadak) belum memadai di beberapa daerah. Surveilans AFP adalah suatu 
survei yang dilakukan untuk menemukan kasus lumpuh layuh mendadak yang diderita 
anak usia di bawah 15 tahun. Jika ditemukan, tinjanya diperiksa di laboratorium 
untuk memastikan apakah terinfeksi virus polio atau tidak. Dapat dilihat pada 
Buletin Bulanan Surveilans AFP Indonesia (Subdit Surveilans, Depkes), banyak 
daerah tidak melakukan surveilans AFP secara konsisten, sering angka penemuan 
kasus AFP nonpolio 1/100.000 $>= 15 tahun kurang dari satu (antara lain di 
Nanggroe Aceh Darussalam, Riau, Bangka-Belitung, Lampung, Jakarta, Jawa Barat, 
Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, NTB, Maluku Utara, dan Papua). Selain itu, 
banyak provinsi menunjukkan proporsi penderita AFP dengan spesimen feses tidak 
adekuat/cukup ($<80%). Akibatnya, dikhawatirkan terjadi penularan secara 
tersembunyi virus polio liar atau virus polio yang berasal dar
 i vaksin (VDPVs).

Ketiga, sanitasi dan higiene sebagian masyarakat masih rendah, misalnya tidak 
tersedia WC/kakus memadai, tidak mencuci tangan sebelum makan, dan kebersihan 
makanan dan minuman yang kurang. Apalagi banyak warga tidak memiliki WC 
sehingga buang air besar di sungai atau tempat lain. Hal ini menjadi faktor 
penularan polio. Virus polio yang dikeluarkan melalui tinja dapat bertahan 48 
jam pada musim panas dan 14 hari pada musim hujan. Secara alami, virus polio 
ditularkan melalui air liur dan cemaran tinja yang terinfeksi, masuk melalui 
mulut.

Keempat, kelengkapan laporan nol (Zero Report) mingguan oleh tiap provinsi, 
baik dari RS maupun puskesmas, di bawah standar yang ditetapkan minimal 90 
persen (Subdit Surveilans-Depkes, 2002). Ini berarti, surveilans AFP kurang 
memadai.

Kelima, terputusnya rantai cold chain pada penyimpanan dan transportasi vaksin, 
terutama di daerah terpencil dan amat terpencil. Vaksin polio harus disimpan di 
bawah suhu 4 derajat Celcius. Di atas delapan derajat Celcius, kemampuan vaksin 
polio berkurang. Hal ini bisa diatasi dengan penyediaan cold chain.

Polio di RRC

Di China kasus polio terakhir dilaporkan tahun 1994. Pada 13 Oktober 1999 di 
Provinsi Qinghai, China, dilaporkan kasus acute flaccid paralysis (AFP) pada 
seorang anak lelaki berusia 16 bulan. Sampel feses diambil 14 hari setelah 
onset (muncul gejala) penyakit dan dianalisis, ditemukan virus polio tipe 1 
(Brunhilde).

Data ini menunjukkan kasus polio di Qinghai disebabkan impor virus polio liar 
dengan penyebaran terbatas. Tidak ada kasus lain yang dideteksi meski 
surveilans AFP bermutu tinggi dan dilakukan pencarian ekstensif pada rekam 
medis rumah sakit, pusat pelayanan kesehatan, dan langsung di masyarakat.

Vaksinasi (imunisasi aktif) massal sebagai tambahan program vaksinasi nasional 
dilakukan empat kali pada Desember 1999, Januari, Maret, dan April 2000. 
Laboratorium provinsi di Qinghai pada 1999 menerima akreditasi penuh dari 
jaringan laboratorium polio WHO.

Polio di Bulgaria

Tahun 2001 di Bulgaria, yang telah 10 tahun tidak ditemukan virus polio liar, 
Lab Enterovirus Nasional mengisolasi virus polio liar tipe 1 pada feses seorang 
pasien. Kasus kedua dan ketiga ditemukan pada anak kaum gipsi, dan analisis 
menunjukkan virus polio merupakan kasus impor.

Imunitas di bawah optimal dalam populasi gipsi (akibat cakupan imunisasi yang 
rendah) berperan dalam wabah polio pada tahun 1991 dan 2001. Setelah 
identifikasi, Kementerian Kesehatan Bulgaria melaksanakan investigasi, skrining 
anak yang berisiko tinggi, kajian retrospektif rekam medis, surveilans AFP 
intensif, dan vaksinasi massal.

Pemerintah Bulgaria segera melaksanakan Hari Imunisasi Nasional dalam 64 hari 
setelah onset paralisis (kelumpuhan) pada kasus pertama.

Kerja serius Pemerintah RRC dan Bulgaria menghasilkan buah positif bagi negara 
tetangga (negara-negara sewilayah WHO dengannya). Kerja keras itu membuat 
wilayah WHO Pasifik Barat (termasuk RRC) mendapat sertifikat bebas polio tahun 
2000. Untuk wilayah Eropa (termasuk Bulgaria) memperoleh sertifikat bebas polio 
tahun 2002.

Penanganan kelima faktor di atas dengan disiplin, tepat sasaran, konsisten, 
berkelanjutan, dan menghindari manipulasi data akan dapat menjamin tidak 
terulangnya kasus reinfeksi polio liar di Indonesia di masa datang.

Nuke H Setiati Alumni FK UGM; Dokter PNS di Puskesmas Sungai Sembilan, Dumai


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: