[ppi] [ppiindia] Bangsa Terjangkit Spiritual Illness
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Fri, 31 Dec 2004 01:18:33 +0100
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=149191
Jumat, 31 Des 2004,
Bangsa Terjangkit Spiritual Illness
Oleh Yusdani *
Bangsa ini terjangkit sindrom akut berupa merajalelanya korupsi. Politik uang
dan sogok sangat dominan. Wakil rakyat asyik saling mencari pembenaran dengan
mengatasnamakan kubu yang paling kuat. Ke mana bangsa ini akan dibawa?
Pemerintah dan pejabat negara yang seharusnya menjadi sumber utama penyelesaian
segudang masalah bangsa ini justru menjadi bagian dari masalah itu, bahkan
menjadi sumber masalah.
Ke mana larinya etika politik mereka? Etika pada prinsipnya memiliki dua
implikasi ketakwaan. Yang pertama duniawi dan yang kedua ukhrawi, baik secara
vertikal maupun horizontal.
Dengan demikian, seseorang bisa dikatakan bertakwa saat di tengah kekhusyukan
ibadahnya kepada Tuhan, dia mampu menjaga atau mengendalikan diri dari segala
bentuk perbuatan dosa sosial seperti korupsi, kerusakan, kekerasan, kejahatan,
dan mandeknya kondisi politik negara yang tak menentu. Justru,
perbuatan-perbuatan semacam itulah yang akan mengerdilkan tingkat ketaatan
dirinya kepada Tuhan.
Hipotesisnya, etika adalah nilai-nilai moral yang merupakan buah agama.
Logikanya, bila krisis moral merebak, berarti itu merupakan buah dari krisis
spiritual-keagamaan.
Logika tersebut mengingatkan saya pada pakar ekonomi pembangunan E.F.
Schumacher yang menulis buku A Guide for the Perplexed (1981). Menurut dia,
orang baru sadar, segala krisis -baik krisis ekonomi, bahan bakar, makanan,
lingkungan, maupun krisis kesehatan- justru berangkat dari krisis spiritual
serta krisis pengenalan diri kita terhadap yang absolut: Tuhan.
Krisis Etika Politik
Krisis etika, moral, dan spiritual sedang menjangkiti kita saat ini. Psikolog
Carl Gustav Jung menyebutkan, kriris semacam itu merupakan existential illness
(penyakit eksistensial). Konsultan medis Dr Michael Kearney menamakannya
sebagai soul pain (penyakit jiwa).
Ungkapan lebih tragis dikemukakan psikolog Christina dan Stanislav Grof yang
menyebut kriris moral dan etika sebagai spiritual emergency. Masih banyak
istilah lain untuk menggambarkan problem eksistensial-spiritual dalam diri kita
dewasa ini. Misalnya, spiritual alienation, spiritual crisis, dan spiritual
illness. Semua itu, pada intinya, menunjukkan adanya krisis spiritual yang akut
dalam diri kita. Suatu kondisi di mana diri kita terfragmentasi secara
psikologis dan spiritual, khususnya terfragmentasi dari pusat diri (the center
of the self).
Setelah itu, terjadi krisis moral. Gejala dan realitas tersebut sekarang
merambah ke seluruh lini kehidupan bangsa. Hal itu bermuara pula menjadi krisis
spiritual yang bersemayam dalam diri kita.
Karena tak mau memetik dari sejarah masa silam, kita sering terjatuh dan bahkan
menjerumuskan diri ke lubang dosa serta nista. Kita secara sengaja berkorupsi
ria, memakan harta sesama, menciptakan kondisi politik yang stagnan, bahkan
dengan bangga mengebom rumah Tuhan seperti gereja dan masjid.
Ruang spiritual (spiritual space) dalam diri kita mengalami krisis yang luar
biasa hebat. Sebab, kita tidak pernah mengisi ruang spiritual tersebut dengan
hal-hal yang baik dalam kehidupan. Sebaliknya, kita terbiasa mengisinya dengan
hal-hal buruk yang menjadikan ekspresi kehidupan kita tampak beringas. Dengan
sendirinya, hal tersebut menjadikan hidup kita jauh di pinggir lingkaran
eksistensi diri.
Etika Politik yang Santun
Yang menjadikan hidup kita bahagia, harmonis, dan selalu cenderung berbuat baik
serta benar adalah dengan hidup di inti pusat eksistensi. Yakni, pusat
spiritual yang menjadi hakikat sejati sense of security.
Karena itu, etika berpolitik harus kembali ke pusat inti diri, ke pusat
spiritual, yang bersemayam dalam diri kemanusiawian yang disebut hati nurani.
Itulah jalan yang bisa memberikan keotentikan hidup dalam berpolitik.
Justru, kecenderungan yang kini terjadi adalah sebaliknya. Semua elite bisa
saja berbohong kepada sesama, bahkan kepada rakyat. Padahal, kepada hati
nurani, kita sulit bisa berbohong. Presiden, menteri, DPR, MPR, dan segenap
pejabat serta elite politik bisa berbohong kepada rakyat biasa. Tetapi, Anda
tidak bisa berbohong kepada hati nurani Anda.
Karena itu, kepada para pemimpin bangsa ini, mintalah fatwa kepada nuranimu.
Sebab, nurani itu tidak pernah bisa berbohong. Karena itu, untuk memerintah,
pemimpin politik perlu menjadikan hati nurani sebagai standar moral yang tinggi
dalam mewujudkan etika politik yang santun.
Dengan etika politik yang santun, kita menjadi berkomitmen pada hati nurani.
Hati merupakan inspirasi kesadaran manusia sekaligus sebagai puncak kecerdasan
yang oleh Danah Zohar dan Ian Marshall disebut-sebut sebagai kecerdasan
spiritual (spiritual intelligence).
Dengan kecerdasan spiritual, hidup kita menjadi damai dan harmonis. Jika
pejabat negara dan politisi bisa menciptakannya -kecerdasan spiritual-, kita
yakin mereka bisa menciptakan kondisi politik yang benar-benar mewakili
aspirasi rakyat. Tidak hanya mewakili kepentingan partai serta kelompok
tertentu.
Etika berpolitik menjadi hal yang utama, bila bangsa ingin menjadi negara yang
bermartabat.
* Yusdani MAg, dosen Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia
(UII), Jogjakarta
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Bangsa Terjangkit Spiritual Illness