[ppi] [ppiindia] Badai Kenaikan Harga BBM

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/29/opini/2086864.htm

 
Badai Kenaikan Harga BBM 

Oleh: Kurtubi

Menjelang kenaikan harga bahan bakar minyak yang direncanakan 1 Oktober 2005, 
badai yang menerpa negeri ini seolah kian kencang. Kelangkaan BBM yang sudah 
dialami masyarakat sebelum rencana kenaikan daerah cakupannya kini justru kian 
luas.

Beberapa bulan lalu, kelangkaan lebih disebabkan Pertamina selaku operator 
tunggal pemenuhan bahan bakar minyak (BBM) nasional mengalami masalah cash 
flow. Akibatnya, Pertamina saat itu tak mampu mengimpor BBM dalam jumlah dan 
waktu yang tepat. Kini, kelangkaan BBM disebabkan panic buying di tengah kian 
maraknya penyelewengan BBM rakyat.

Sebelum panic buying muncul sebagai penyebab kelangkaan BBM, pemerintah/ 
Pertamina lebih dulu menaikkan harga BBM untuk industri, langsung disamakan 
sesuai harga pasar, sementara BBM untuk rakyat tidak naik. Akibatnya, 
disparitas harga menjadi semakin melebar.

Untuk keperluan industri-semua pihak memaklumi-sepatutnya tidak disubsidi. 
Namun, penerapan strategi dan jadwal yang kurang cerdas dengan menaikkan harga 
amat besar untuk konsumen tertentu (industri) justru akan memperparah 
kelangkaan BBM untuk rakyat jika tidak dibarengi pengawasan lebih ketat. 
Praktik diskriminasi harga dengan disparitas mencolok baru efektif jika semua 
pihak bisa disiplin. Tetapi kita tahu, perilaku disiplin di negeri ini nyaris 
langka.

Jika disparitas harga yang mencolok diciptakan melalui kebijakan diskriminasi 
harga, konsekuensinya harus dibarengi dengan peningkatan pengawasan agar 
pasokan BBM untuk rakyat tidak dibelokkan.

Kita tahu, kenaikan harga BBM yang besar untuk industri terjadi sejak 1 Juli 
2005. Harga solar untuk industri dari Rp 2.200 per liter menjadi Rp 4.740 per 
liter (naik 115 persen). Tanggal 1 Agustus 2005, kenaikan harga minyak tanah 
untuk industri dari Rp 2.200/liter menjadi Rp 5.490/liter (naik 150 persen). 
Sedangkan bensin untuk industri naik dari Rp 2.400/liter menjadi Rp 4.640/liter 
(naik 93 persen).

Kini, dengan diumumkannya rencana kenaikan harga BBM sebagai bagian dari proses 
transparansi kebijakan publik, maka permintaan BBM menjadi melonjak. Kalau 
Pertamina tidak menambah jumlah pasokan, pasti kelangkaan BBM menjadi lebih 
parah.

Boleh jadi Pertamina enggan menambah pasokan, bukan karena kuota yang 
ditetapkan DPR, tetapi karena kesulitan mengimpor BBM dalam jumlah memadai. 
Pasalnya, jumlah impor BBM saat ini sudah sekitar 50 persen dari kemampuan 
produksi BBM dalam negeri.

Pengimpor terbesar

Kini Indonesia tidak hanya menjadi net oil importer untuk minyak mentah, tetapi 
juga sudah mendapat predikat baru sebagai negara pengimpor BBM terbesar di 
Asia. Ini amat memalukan sekaligus membahayakan ketahanan BBM nasional.

Negara-negara bukan penghasil minyak, seperti Jepang, Korea, Taiwan, dan 
lainnya sudah lama berswasembada BBM karena kapasitas kilang dalam negerinya 
dapat memenuhi kebutuhan rakyatnya. China dan India sebagai lokomotif baru 
ekonomi di Asia juga sudah berswasembada BBM.

Mereka berprinsip, seluruh minyak mentah sebagai bahan baku BBM boleh diimpor 
dari luar karena tanahnya tidak mengandung minyak. Tetapi untuk BBM yang 
langsung dibutuhkan industri dan rakyat, mereka berprinsip tidak boleh 
digantungkan ke pasar atau ke negara lain.

Status sebagai pengimpor BBM terbesar di Asia akan terus berlanjut sampai 
Indonesia mampu membangun kilang baru guna memenuhi seluruh BBM dalam negeri. 
Kini kekurangan kapasitas kilang Indonesia sekitar 400.000 barrel per hari.

Bagi Indonesia, amat mendesak untuk segera membangun kilang baru. Untuk 
membangun sebuah kilang dengan kapasitas 200.000 barrel per hari dibutuhkan 
waktu paling cepat sekitar tiga tahun.

Jika Indonesia tidak segera membangun kilang, jumlah impor BBM akan terus 
membengkak. Tahun 2010 impor BBM mencapai sekitar 60 persen dan tahun 2015 akan 
menjadi sekitar 70 persen. Jumlah ini amat membahayakan bagi ketahanan nasional 
karena sewaktu-waktu rakyat bisa parah kekurangan BBM yang dapat menghancurkan 
ekonomi nasional dan memunculkan kerawanan sosial.

Harga minyak dunia pun kini amat mahal dan cenderung terus naik. Kenaikan 
mencolok harga minyak terutama terjadi sejak tahun 2003, karena laju 
pertumbuhan permintaan minyak dunia melampaui laju pertumbuhan pasok. Pada 
tahun 2003 rata-rata harga sekitar 31 dollar AS per barrel, naik menjadi 
sekitar 42 dollar AS per barrel tahun 2004.

Memasuki tahun 2005, permintaan minyak amat tinggi. Padahal, semua negara 
penghasil minyak non-OPEC sudah berproduksi pada kapasitas penuh, begitu pula 
seluruh negara OPEC, kecuali Arab Saudi yang mempunyai sedikit kapasitas lebih 
(spare capacity). Namun, Indonesia dan Venezuela tidak mampu memenuhi kuotanya. 
Akibatnya, sepanjang tahun 2005 harga terus merayap naik dari sekitar 45 dollar 
AS per barrel pada awal tahun menjadi sekitar 64 dollar AS per barrel. Bahkan, 
pada awal Agustus 2005, harga itu sempat menembus 70 dollar AS per barrel. Jika 
tambahan produksi minyak dunia tidak mampu melampaui tambahan permintaan maka 
pasca-2008 boleh jadi harga minyak dunia dapat menembus 100 dollar AS per 
barrel.

Untuk jangka panjang, Indonesia harus siap mengimpor BBM dan minyak mentah 
dalam jumlah terus meningkat dan harga amat mahal. Soalnya, hampir mustahil 
mengandalkan pemenuhan kebutuhan BBM nasional hanya dari perut bumi Nusantara. 
Jumlah cadangan dan produksi minyak mentah nasional amat tidak memadai untuk 
mempertahankan kebijakan harga BBM yang murah.

Tergantung impor

Saat ini jumlah cadangan terbukti dan potensial minyak mentah hanya sekitar 10 
miliar barrel dan jumlah produksi per hari sekitar 1,1 juta barrel. Jika dibagi 
dengan jumlah penduduk sekitar 200 juta, jumlah cadangan minyak mentah di perut 
bumi hanya sekitar 50 barrel per penduduk.

Sedangkan jumlah produksi minyak mentah saat ini hanya 0,0055 
barrel/hari/kapita atau sekitar 0,8745 liter/hari/kapita. Dari jumlah produksi 
minyak mentah ini pun, yang menjadi milik RI hanya 0,5247 liter/hari/kapita. 
Jika minyak mentah ini dijadikan BBM, akan menghasilkan sekitar 0,45 liter 
BBM/hari/kapita.

Tentu saja jumlah BBM yang dihasilkan dari minyak mentah sendiri amat tidak 
mencukupi untuk seluruh rakyat. Kini, kebutuhan BBM sekitar 60 juta kiloliter. 
Dalam satu hari, kebutuhan BBM nasional menjadi sekitar 0,8 liter/hari/kepala.

Dengan demikian, kondisi nyata perminyakan nasional saat ini amat tidak 
mendukung bagi dipertahankannya kebijakan harga BBM murah. Karena, selain 
kapasitas kilang dalam negeri amat jauh di bawah kebutuhan BBM nasional, 
ternyata jumlah cadangan dan produksi minyak mentah (bahan baku BBM) dari perut 
bumi Nusantara ini juga relatif kecil.

Jika kebijakan harga BBM murah tetap dipertahankan, dalam jangka panjang justru 
dapat menjerumuskan bangsa ini ke perangkap kemiskinan dan menjadi 
bulan-bulanan bangsa lain. Pasalnya, ketergantungan pada minyak impor yang akan 
terus meningkat dan harus dibayar mahal, penyelundupan dan pengoplosan BBM 
terus marak tanpa mampu diberantas, sementara sumber energi alternatif tidak 
bisa berkembang. Selain negara kehilangan kemampuan membangun infrastruktur 
yang dibutuhkan rakyat, negara juga kehilangan kemampuan melakukan investasi 
pendidikan dan kesehatan secara memadai dan lebih baik bagi generasi mendatang. 
Semua ini, sebagian besar terjadi karena harga jual BBM amat murah.

Selain Indonesia, di dunia ini hanya ada beberapa negara yang menerapkan 
kebijakan subsidi dengan menjual BBM di bawah harga ke-ekonomi-annya. 
Negara-negara itu antara lain Venezuela, Iran, Irak, Libya, dan Brunei 
Darussalam. Negara-negara ini memang kaya minyak. Cadangan minyak mentahnya pun 
amat besar bila dibanding jumlah penduduk, 3.300-5.200 barrel per kapita. 
Bandingkan dengan Indonesia yang hanya mempunyai cadangan (terbukti dan 
potensial) minyak mentah sekitar 50 barrel per kapita.

Sudah saatnya kita melihat masalah kenaikan harga BBM secara lebih jernih guna 
kepentingan masa depan bangsa. Masalah kenaikan harga BBM adalah masalah kita 
semua, dan pernah dilakukan oleh semua presiden mulai dari Presiden Soekarno, 
Soeharto, Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan Yudhoyono.

Kurtubi Pengamat Perminyakan; Direktur Center for Petroleum and Energy 
Economics Studies (CPEES)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: