[ppi] [ppiindia] BOS untuk Pendidikan Gratis!

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **LAMPUNG POST

      Sabtu, 30 Juli 2005 
     

      OPINI 
     
     
     

BOS untuk Pendidikan Gratis!
* Akbar Setia, staf Pengajar MTsN Serupa Indah, Pakuanratu, Waykanan, Alumnus 
FKIP Unila 


      Bagi wali murid sekolah dasar dan menengah, negeri maupun swasta, berita 
turunnya BOS (biaya operasional sekolah) yang diperkirakan Agustus 2005 adalah 
kabar baik yang tentunya meringankan beban orangtua.

      Provinsi Lampung yang mendapat kucuran BOS Rp187 miliar diharapkan bisa 
direalisasikan dengan baik tanpa bocoran atau manipulasi dalam penyaluran dana 
tersebut. Ini penting diadakan tim audit yang akan memeriksa kelancaran dan 
kebenaran di lapangan. Dana yang masuk sekolah yang tidak sesuai dengan jumlah 
murid atau rekayasa lain tentunya perlu diminta pertanggungjawaban. Untuk ini, 
posisi kepala sekolah tentu saja "rentan".

      Langkah mewujudkan pendidikan gratis sepertinya tidak sekadar mimpi. 
Sebab, diperkirakan dana ini lebih dari cukup untuk kebutuhan siswa-siswa SD/MI 
dan SMP/MTs baik negeri maupun swasta. Berangkat dari sini kalau ada sekolah 
yang masih memungut dana dari murid sebaiknya segera mengembalikan dana itu 
setelah BOS cair.

      Secara pribadi saya menyambut positif pernyataan Kepala Dinas P dan P 
Kota Bandar Lampung Zaini Nurman yang mengancam kepala sekolah akan 
diberhentikan jika tetap memungut dana dari siswa. Termasuk juga sekolah yang 
tetap mengenakan SPP tinggi. Padahal, biaya BOS sudah turun.

      Kalau memang pemungutan biaya dari siswa dilakukan sebelum BOS turun ini 
masih wajar. Tetapi, jika dana BOS sudah turun dan uang murid tidak 
dikembalikan, perlu ada tindakan khusus untuk menangani sekolah tersebut, 
paling tidak diberi sanksi atau dicopot jabatan sebagai kepala sekolah.

      Yang perlu diketahui, tidak semua sekolah mendapat BOS. Sekolah yang 
sudah masuk dan didata itulah yang memperoleh prioritas mendapat kucuran BOS. 
Sehingga jangan salah menafsirkan seluruh siswa di Provinsi Lampung ini bebas 
pungutan.

      Memang perkiraan untuk sekolah yang mendapat kucuran BOS cukup untuk 
menutup SPP, bangunan atau pembelian buku dan perlengkapan sekolah. Kalau 
melihat nominal yang ratusan miliar, saya pikir ini cukup untuk seluruh siswa 
di Provinsi Lampung.

      Tetapi, statistik jumlah sekolah plus murid secara pasti pengetahuan saya 
sangat terbatas untuk mengetahui data itu. Yang jelas, harapan saya dan harapan 
semua pihak khususnya wali murid tentu saja dana yang ada ini dapat 
diimplementasikan dengan baik. Wajar jika diberikan sanksi jika alokasi dana 
ini sampai keluar dari koridor yang laiknya untuk operasional sekolah, bukan 
kepentingan pribadi!

      Biaya pendidikan kini memang dirasa cukup mencekik, terutama bagi 
orangtua murid yang berada di daerah terpencil. Penghasilan yang tidak jelas 
setiap bulannya akan mempersulit ekonomi jika anaknya yang sekolah 
terus-menerus meminta biaya untuk sekolah.

      Demi pendidikan anaknya, sebagai orangtua yang bertanggung jawab dan 
berpikir ke depan tentu semaksimal mungkin anaknya dapat mengenyam pendidikan. 
Dan tentu saja perlu pemikiran sekaligus pekerjaan tambahan untuk dapat 
membiayai anaknya ini.

      Menjadi hal yang sangat miris jika kondisi orangtua murid yang demikian 
tetap "memaksa" murid untuk membayar sekolah. Padahal, biaya BOS sebenarnya 
sudah lebih dari cukup jika dibandingkan besarnya dana yang dikumpulkan seluruh 
murid meskipun membayarnya tepat waktu. Artinya apa?

      Jika biaya BOS memang lebih besar dari dana yang dikumpulkan murid, untuk 
apa memungut biaya kepada murid? Persoalan akan menjadi lain jika memang 
penghasilan orangtua murid bisa dibilang stabil. Saya pikir ini hanya sedikit 
sekali dapat kita temukan. Dan itu pun (mungkin) hanya tersebar disekolah yang 
maju seperti Bandar Lampung atau Metro. Tetapi, tentu akan jauh berbeda ketika 
bicara dengan sekolah yang ada di Lampung Barat dan Waykanan serta beberapa 
kabupaten lainnya.

      Secara geografis tentu saja operasional sekolah di daerah yang masuk 
kategori tertinggal atau terpencil tentu akan berbeda dengan sekolah yang 
berada di daerah yang geografisnya lebih maju dan ditunjang sarana dan 
prasarana yang sesuai. Saya pikir wajar jika dalam alokasi BOS, letak sekolah 
laik diperhitungkan.

      Maksudnya, keterbelakangan sekolah juga dipertimbangan karena mengingat 
akan tingkat kesejahteraan murid. Dan saya pikir ini perlu prioritas khusus 
dibandingkan sekolah yang sudah maju.

      Sebuah hal positif jika prioritas memajukan daerah yang terbelakang untuk 
kepentingan bangsa ke depan. Sebab, kemajuan daerah memang akan sulit jika 
tidak ditunjang dengan SDM yang memadai.

      Kalau daerah itu tidak dapat menelurkan generasi mendatang karena 
terbentur biaya pendidikan. Tentu saja perkembangan daerah itu akan lambat 
karena SDM yang masuk hanyalah "susupan" dari daerah yang sudah maju. Kalau 
demikian, kapan daerah bisa memiliki kader yang kelak memperjuangan daerahnya?

      Berangkat dari sini, tentu perlu pertimbangan khusus dalam persentase 
sekolah mana yang layak dan patut yang mendapat alokasi BOS. Meskipun 
pengawalan dana BOS yang juga ketat juga sangat diperlukan untuk memastikan 
dana tersebut benar-benar sampai kepada yang dimaksud. Sehingga sekolah 
tersebut terwujud bahwa pendidikan yang sedang dijalani benar-benar gratis!

      Memang untuk memastikan alokasi BOS sesuai dengan rencana sangatlah 
sulit. Meskipun akan diadakan tim pemantau atau audit yang akan mengecek 
kebenaran dari alokasi dana yang disalurkan sepertinya ini tidak akan mendapat 
hasil memuaskan.

      Terlebih apa, bagaimana, dan dari mana tim audit itu sendiri belum jelas? 
Artinya, sangat mungkin keberadaan tim audit ini sekadar memenuhi formalitas 
mengawal dana. Sebagai gambaran ke depan, mungkin akan lebih baik tim yang 
mengontrol dana ini diserahkan kepada LSM yang dapat dipercaya atau badan 
khusus yang memang kompeten di bidang pendidikan dan independensinya terjamin.

      Sehingga benar-benar mengerti dan memahami seluk beluk pendidikan. Ini 
penting untuk menghidari kebocoran dana atau ada "permainan" dapat 
diminimalisasi dengan tim yang memang sudah ketahuan kapabelitasnya.

      Sedangkan asal dan bagaimana keberadaan tim audit yang sekarang itu, 
belum diketahui secara pasti apa dan fungsinya serta diambil mana? Dan ini 
sangat mungkin sekali kalau tim pemantau sekadar formalitas belaka.

      Tentu kekecewaan besar manakala alokasi dana tidak sesuai dengan yang 
diharapkan. Semula biaya yang dibebankan kepada murid sudah tertolong dengan 
adanya BOS, sangat mungkin kembali dibebankan kepada murid.

      Dan ini tentunya bisa menjadi kusut yang imbasnya mengerucut kalau BOS 
ujung-ujungnya hanya sekadar angin segar bagi wali murid. Bisa saja dana ini 
hanya dinikmati segelintir orang.

      Selain pengawas yang benar-benar kapabel, juga diperlukan sanksi yang 
benar-benar tegas. Artinya, sanksi yang berupa teguran saya pikir kurang tepat 
di sini. Akan lebih mengena jika langsung mencopot atau denda dua kali lipat 
kepada yang "melipat" dana ini.

      Saya yakin untuk memberantas "pelipat" ini tidaklah mudah. Terlebih bagi 
murid dan wali murid di daerah tertinggal sangat terbatas dengan pengetahuan 
dengan adanya BOS ini. Sebab itu, untuk memberangus hal ini, jangan 
setengah-setengah.

      Sebab, pelaku yang demikian justru dilakukan sekolah yang notabene 
menelurkan anak didik. Tetapi, jika di lapangan justru "menelan" makanan anak 
didik, patutlah diberi hukuman yang setimpal.

      Semoga saja apa yang dikehedaki pemerintah dan wali murid dapat berjalan 
sesuai dengan yang direncanakan. Selama ini, hal-hal yang menyangkut dana yang 
sifatnya bantuan sering tidak sampai pada sasaran. Sebut saja dana BKM yang 
tidak sedikit sekolah yang menyelewengkan dana itu.

      Apakah dengan BOS ini akan benar-benar menjadi "bos" untuk anak didik 
kita? Semoga saja begitu! Sungguh sebuah perbuatan yang tidak terpuji jika 
"bibit" korup sudah menetas di lahan yang kelak akan mencecak kader bangsa. 
Kalau tempat ngadernya sudah bermasalah.

      Apakah kelak anak didik bisa menyelesaikan masalah? Atau justru akan 
menjadi masalah karena berasal dari didikan yang sudah bermasalah?

      Sebab itu, posisi sekolah yang tentunya dipercaya masyarakat karena 
penyelenggara pendidikan sebaiknya benar-benar berupaya mempertahankan citra 
sekolah.

      Kepercayaan masyarakat yang disalahgunakan bisa membuat murid pindah ke 
sekolah yang memang lingkungan pendidikannya bisa dipercaya. Atau justru yang 
paling parah membuat orang tua murid tidak mengizinkan anaknya sekolah, 
alasanya sederhana. Buat apa sekolah di sarang maling?

      Semoga tulisan ini berimbas baik seperti yang saya maksudkan. Alokasi BOS 
benar-benar menolong sekolah yang khususnya berada dikabupaten tertinggal. Dan 
citra kepada pendidik atau guru yang selalu digugu dan ditiru benar adanya. 
Janganlah guru mempunyai citra buruk yang kelak akan ditiru anak-anak. 
Waallahualam.
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h69u84d/M=362329.6886307.7839373.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122850381/A=2894324/R=0/SIG=11hia266k/*http://www.youthnoise.com/page.php?page_id=1998";>1.2
 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: