[ppi] [ppiindia] Australia Bayari Para Pencari Suaka Anti Indonesia
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Wed, 29 Mar 2006 02:59:37 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
Refleksi: Supaya tidak dibohongi oleh yang anamanya ahli intelejen dan
cecunguk-cecunguk lainnya perlu diberitahukan bahwa setiap orang yang meminta
suaka di Australia, selama masih dalam urusan permohonan suaka diberikan uang
saku untuk hidup. Kedua harus dicatat bahwa bahwa Australia adalah salah satu
negara yang mengakui pencaplokan Timor Timur ke dalam wilayah Indonesia.
http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=241712&kat_id=23
Selasa, 28 Maret 2006 20:42:00
Australia Bayari Para Pencari Suaka Anti Indonesia
Jakarta-RoL -- Pemerintah Australia membayari para warga Papua yang mencari
suaka politik melalui kantor urusan sosial negara itu untuk membuat
pernyataan-pernyataan anti Indonesia, seperti tidak adanya kebebasan dan mereka
terus dikejar aparat TNI dan Polri, kata seorang pengamat intelijen.
"Berdasarkan data intelijen, saat ini jumlah warga Papua yang meminta suaka
sebenarnya sudah lebih dari 42 orang mengingat jauh hari sebelumnya, sudah
banyak orang Papua yang secara gelap masuk ke Australia atas keberhasilan
rekruitmen intelijen," kata Dr.A.C.Manullang di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, para warga Papua Barat yang mendapatkan suaka itu dibekali dengan
uang agar memberi pernyataan anti pemerintah Indonesia dan pernyataan tentang
tidak adanya kebebasan bagi mereka yang terus menerus dikejar oleh aparat TNI
dan Polri. Pemerintah Australia membayari melalui kantor urusan sosial.
"Ada indikasi bahwa ada peranan Badan Intelijen Amerika Serikat, CIA (Central
Intelligence Agency) dalam pelarian WNI asal Papua itu. Australia adalah
perpanjangan tangan Amerika Serikat di Asia Pasifik."
" Atas bantuan CIA melalui `LSM-LSM ilegal` di Papua, mereka merekrut dan
mengindoktrinasi orang-orang Papua di hutan-hutan, bahkan mengajaknya dari kota
lari ke hutan dan desa-desa supaya memberontak. Karena itu, muncul Organisasi
Papua Merdeka," katanya.
Namun, ia tidak bersedia menjelaskan siapa pihak yang ia maksud sebagai
"LSM-LSM ilegal" itu, Dalam pandangan Manullang, upaya pihak-pihak asing
bersama antek-anteknya di provinsi paling timur Indonesia bisa saja berakhir
dengan lepasnya wilayah itu dari NKRI jika pemerintah dan rakyat tidak
mendukung terwujudnya angkatan bersenjata, khususnya TNI Angkatan Darat, yang
profesional.
Hanya dengan TNI-AD yang handal, "virus-virus dalam dan luar negeri" yang ada
di Papua itu dapat ditumpas, katanya. Dalam bagian lain penjelasannya,
Manullang mengatakan, intelijen Australia turut "mengobok-obok Indonesia" dan
pemberian visa tinggal sementara bagi 42 dari 43 pencari suaka asal Provinsi
Papua merupakan bagian dari upaya dan rencana Pemerintah Federal Australia
mendukung pemisahan Papua dari NKRI.
Apa yang dilakukan Pemerintahan PM John Howard saat ini sebenarnya hanya
menegaskan kembali sikap asli Australia yang tidak mendukung perjuangan NKRI
merebut Papua Barat (Irian Jaya) dari tangan Penjajah Belanda tahun 1960-an,
katanya.
"Indonesia tidak pernah mengetahui bahwa dulu Australia itu tidak suka dengan
perjuangan kita tahun 1960-an di Papua (Barat). Australia dalam konteks (kasus
pemberian visa bagi pencari suaka politik) ini benar-benar telah mengobok-obok
Indonesia. Australia menginginkan Papua merdeka. Cara ini cenderung mirip
dengan upayanya memerdekakan Timor Timur," kata Manullang.
Dengan memberikan visa tinggal sementara itu, Australia, lanjut Manullang,
ingin membentuk opini dunia bahwa warganegara Indonesia di Papua tidak
mendapatkan "kenyamanan dan keamanan di negerinya" akibat adanya tekanan
pemerintah melalui aparat keamanan yang telah melanggar hak azasi manusia
berat.
"Australia dalam soal ini mengacu pada pembentukan opini masyarakat dunia bahwa
telah terjadi penyeberangan orang-orang Indonesia ke Australia. Laporan
intelijen menunjukkan orang-orang Indonesia, dalam hal ini orang-orang Papua,
telah lama direkrut oleh intelijen asing, termasuk `Overseas National
Assessment (ONA)` Australia, untuk mengobok-obok Indonesia," katanya.
Menyudutkan TNI-Polri
Aksi orang-orang Indonesia di Papua itu dibuat dan dilatih sebagai pihak yang
dikejar-kejar TNI dan Polri. Setiap orang yang mendapat suaka politik dari
Pemerintah Australia harus mengatakan bahwa mereka dikejar-kejar TNI dan Polri,
katanya.
Terlebih lagi sesudah insiden di depan Kampus Universitas Cenderawasih Abepura
yang menewaskan lima aparat keamanan Indonesia itu, orang-orang Indonesia asal
Papua yang direkrut Australia sebaga tenaga ONA harus menyatakan dalam
wawancara mereka dengan media negara itu bahwa "orang-orang Papua telah banyak
berlarian ke hutan-hutan karena dikejar aparat keamanan Indonesia", katanya.
"Satu orang yang ditolak permohonan suaka politiknya itu bisa jadi adalah orang
intelijen yang disusupkan pihak Australia. Informasi lain menyatakan bahwa
penyiapan kapal untuk mengangkut mereka (43 warga Papua) adalah bagian integral
dari upaya intelijen Australia menciptakan opini bahwa tidak ada kenyamanan dan
kemanan di Papua," kata Manullang.
"Kebodohan kita dalam soal ini adalah adanya sejumlah besar tokoh politik yang
mendesakkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Australia, padahal adanya
pemutusan hubungan itu justru merupakan sasaran intelijen Australia. Mereka
menginginkan hal itu sendiri terjadi," katanya.
Kalau hubungan kedua negara putus akibat kasus pemberian suaka politik ini,
imej Indonesia akan memburuk dan menjadikan isu Papua mendapat perhatian
internasional, katanya. Menurut Manullang, Pemerintah Indonesia tidak mempunyai
cara lain kecuali harus mencari sumber gerakan separatis guna menghentikan
upaya Australia "mengobok-obok" Indonesia dengan memisahkan Papua.
"Dalam kasus Papua ini, Australia hanyalah perpanjangan tangan Amerika saja.
Jadi bagi Australia, apa yang terjadi dan apapun yang akan terjadi, ia tidak
akan kehilangan apa-apa. Putusnya hubungan diplomatik Indonesia-Australia
merupakan sasaran utama (target) negara sponsor Papua merdeka, yakni Amerika
Serikat," katanya.
Untuk itu, Indonesia harus mengadakan pendekatan pro-aktif kepada Amerika
Serikat yang sudah sejak lama ingin menguasai Papua dengan kekayaan sumberdaya
alamnya itu, kata Manullang.
Dalam kasus Papua, Pemerintah Federal Australia, seperti yang berulang kali
disampaikan Menlu Alexander Downer dan Dubesnya di Indonesia, Bill Farmer,
berjanji tidak akan mendukung gerakan separatis dan mengakui Papua Barat
sebagai bagian tak terpisahkan dari NKRI.
Keputusan Canberra yang memberikan visa tinggal sementara kepada 42 pencari
suaka asal Papua itu mengundang reaksi beragam di masyarakat Indonesia.
Gelombang demonstrasi yang melibatkan ratusan orang antara lain terjadi di
depan Kedubes Australia di Jakarta, dan Jawa Timur.
Jakarta pun telah meminta Dubes RI untuk Australia dan Vanuatu agar tidak
mengisi posnya di Canberra kendati seorang jurubicara kepresidenan RI telah
menegaskan bahwa Jakarta tidak akan memutuskan hubungan diplomatiknya dengan
Canberra.
Dalam kasus penentuan pendapat di Timtim tahun 1999, Australia dianggap rakyat
Indonesia sebagai pihak yang paling "getol" membantu terwujudnya pemisahan itu.
Setelah Timor Leste merdeka, Canberra dan Dili melanjutkan kerjasama
pengelolaan minyak di Celah Timor yang sebelumnya dilakukannya dengan Jakarta
ketika Timtim masih merupakan provinsi ke-27 NKRI. antara/pur
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Australia Bayari Para Pencari Suaka Anti Indonesia