[ppi] [ppiindia] Australia Bayari Para Pencari Suaka Anti Indonesia

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
Refleksi: Supaya tidak dibohongi oleh yang anamanya ahli intelejen dan 
cecunguk-cecunguk lainnya perlu diberitahukan bahwa setiap orang yang meminta 
suaka di Australia, selama  masih dalam urusan permohonan suaka diberikan uang 
saku untuk hidup.  Kedua harus dicatat bahwa bahwa Australia adalah salah satu 
negara yang mengakui pencaplokan Timor Timur ke dalam wilayah Indonesia. 

http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=241712&kat_id=23

Selasa, 28 Maret 2006  20:42:00



Australia Bayari Para Pencari Suaka Anti Indonesia



Jakarta-RoL -- Pemerintah Australia membayari para warga Papua yang mencari 
suaka politik melalui kantor urusan sosial negara itu untuk membuat 
pernyataan-pernyataan anti Indonesia, seperti tidak adanya kebebasan dan mereka 
terus dikejar aparat TNI dan Polri, kata seorang pengamat intelijen. 

"Berdasarkan data intelijen, saat ini jumlah warga Papua yang meminta suaka 
sebenarnya sudah lebih dari 42 orang mengingat jauh hari sebelumnya, sudah 
banyak orang Papua yang secara gelap masuk ke Australia atas keberhasilan 
rekruitmen intelijen," kata Dr.A.C.Manullang di Jakarta, Selasa. 

Menurut dia, para warga Papua Barat yang mendapatkan suaka itu dibekali dengan 
uang agar memberi pernyataan anti pemerintah Indonesia dan pernyataan tentang 
tidak adanya kebebasan bagi mereka yang terus menerus dikejar oleh aparat TNI 
dan Polri. Pemerintah Australia membayari melalui kantor urusan sosial. 

"Ada indikasi bahwa ada peranan Badan Intelijen Amerika Serikat, CIA (Central 
Intelligence Agency) dalam pelarian WNI asal Papua itu. Australia adalah 
perpanjangan tangan Amerika Serikat di Asia Pasifik." 

" Atas bantuan CIA melalui `LSM-LSM ilegal` di Papua, mereka merekrut dan 
mengindoktrinasi orang-orang Papua di hutan-hutan, bahkan mengajaknya dari kota 
lari ke hutan dan desa-desa supaya memberontak. Karena itu, muncul Organisasi 
Papua Merdeka," katanya. 

Namun, ia tidak bersedia menjelaskan siapa pihak yang ia maksud sebagai 
"LSM-LSM ilegal" itu,  Dalam pandangan Manullang, upaya pihak-pihak asing 
bersama antek-anteknya di provinsi paling timur Indonesia bisa saja berakhir 
dengan lepasnya wilayah itu dari NKRI jika pemerintah dan rakyat tidak 
mendukung terwujudnya angkatan bersenjata, khususnya TNI Angkatan Darat, yang 
profesional. 

Hanya dengan TNI-AD yang handal, "virus-virus dalam dan luar negeri" yang ada 
di Papua itu dapat ditumpas, katanya. Dalam bagian lain penjelasannya, 
Manullang mengatakan, intelijen Australia turut "mengobok-obok Indonesia" dan 
pemberian visa tinggal sementara bagi 42 dari 43 pencari suaka asal Provinsi 
Papua merupakan bagian dari upaya dan rencana Pemerintah Federal Australia 
mendukung pemisahan Papua dari NKRI. 

Apa yang dilakukan Pemerintahan PM John Howard saat ini sebenarnya hanya 
menegaskan kembali sikap asli Australia yang tidak mendukung perjuangan NKRI 
merebut Papua Barat (Irian Jaya) dari tangan Penjajah Belanda tahun 1960-an, 
katanya. 

"Indonesia tidak pernah mengetahui bahwa dulu Australia itu tidak suka dengan 
perjuangan kita tahun 1960-an di Papua (Barat). Australia dalam konteks (kasus 
pemberian visa bagi pencari suaka politik) ini benar-benar telah mengobok-obok 
Indonesia. Australia menginginkan Papua merdeka. Cara ini cenderung mirip 
dengan upayanya memerdekakan Timor Timur," kata Manullang. 

Dengan memberikan visa tinggal sementara itu, Australia, lanjut Manullang, 
ingin membentuk opini dunia bahwa warganegara Indonesia di Papua tidak 
mendapatkan "kenyamanan dan keamanan di negerinya" akibat adanya tekanan 
pemerintah melalui aparat keamanan yang telah melanggar hak azasi manusia 
berat. 

"Australia dalam soal ini mengacu pada pembentukan opini masyarakat dunia bahwa 
telah terjadi penyeberangan orang-orang Indonesia ke Australia. Laporan 
intelijen menunjukkan orang-orang Indonesia, dalam hal ini orang-orang Papua, 
telah lama direkrut oleh intelijen asing, termasuk `Overseas National 
Assessment (ONA)` Australia, untuk mengobok-obok Indonesia," katanya. 

Menyudutkan TNI-Polri 
Aksi orang-orang Indonesia di Papua itu dibuat dan dilatih sebagai pihak yang 
dikejar-kejar TNI dan Polri. Setiap orang yang mendapat suaka politik dari 
Pemerintah Australia harus mengatakan bahwa mereka dikejar-kejar TNI dan Polri, 
katanya. 

Terlebih lagi sesudah insiden di depan Kampus Universitas Cenderawasih Abepura 
yang menewaskan lima aparat keamanan Indonesia itu, orang-orang Indonesia asal 
Papua yang direkrut Australia sebaga tenaga ONA harus menyatakan dalam 
wawancara mereka dengan media negara itu bahwa "orang-orang Papua telah banyak 
berlarian ke hutan-hutan karena dikejar aparat keamanan Indonesia", katanya. 

"Satu orang yang ditolak permohonan suaka politiknya itu bisa jadi adalah orang 
intelijen yang disusupkan pihak Australia. Informasi lain menyatakan bahwa 
penyiapan kapal untuk mengangkut mereka (43 warga Papua) adalah bagian integral 
dari upaya intelijen Australia menciptakan opini bahwa tidak ada kenyamanan dan 
kemanan di Papua," kata Manullang. 

"Kebodohan kita dalam soal ini adalah adanya sejumlah besar tokoh politik yang 
mendesakkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Australia, padahal adanya 
pemutusan hubungan itu justru merupakan sasaran intelijen Australia. Mereka 
menginginkan hal itu sendiri terjadi," katanya. 

Kalau hubungan kedua negara putus akibat kasus pemberian suaka politik ini, 
imej Indonesia akan memburuk dan menjadikan isu Papua mendapat perhatian 
internasional, katanya. Menurut Manullang, Pemerintah Indonesia tidak mempunyai 
cara lain kecuali harus mencari sumber gerakan separatis guna menghentikan 
upaya Australia "mengobok-obok" Indonesia dengan memisahkan Papua. 

"Dalam kasus Papua ini, Australia hanyalah perpanjangan tangan Amerika saja. 
Jadi bagi Australia, apa yang terjadi dan apapun yang akan terjadi, ia tidak 
akan kehilangan apa-apa. Putusnya hubungan diplomatik Indonesia-Australia 
merupakan sasaran utama (target) negara sponsor Papua merdeka, yakni Amerika 
Serikat," katanya. 

Untuk itu, Indonesia harus mengadakan pendekatan pro-aktif kepada Amerika 
Serikat yang sudah sejak lama ingin menguasai Papua dengan kekayaan sumberdaya 
alamnya itu, kata Manullang. 

Dalam kasus Papua, Pemerintah Federal Australia, seperti yang berulang kali 
disampaikan Menlu Alexander Downer dan Dubesnya di Indonesia, Bill Farmer, 
berjanji tidak akan mendukung gerakan separatis dan mengakui Papua Barat 
sebagai bagian tak terpisahkan dari NKRI. 

Keputusan Canberra yang memberikan visa tinggal sementara kepada 42 pencari 
suaka asal Papua itu mengundang reaksi beragam di masyarakat Indonesia. 
Gelombang demonstrasi yang melibatkan ratusan orang antara lain terjadi di 
depan Kedubes Australia di Jakarta, dan Jawa Timur. 

Jakarta pun telah meminta Dubes RI untuk Australia dan Vanuatu agar tidak 
mengisi posnya di Canberra kendati seorang jurubicara kepresidenan RI telah 
menegaskan bahwa Jakarta tidak akan memutuskan hubungan diplomatiknya dengan 
Canberra. 

Dalam kasus penentuan pendapat di Timtim tahun 1999, Australia dianggap rakyat 
Indonesia sebagai pihak yang paling "getol" membantu terwujudnya pemisahan itu. 
Setelah Timor Leste merdeka, Canberra dan Dili melanjutkan kerjasama 
pengelolaan minyak di Celah Timor yang sebelumnya dilakukannya dengan Jakarta 
ketika Timtim masih merupakan provinsi ke-27 NKRI. antara/pur


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>

Other related posts: