[ppi] [ppiindia] Artikel Colin L Powell Hitam Putih
- From: "vincentliong" <vincentliong@xxxxxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Fri, 30 Jan 2004 09:18:04 -0000
** ppi-india **
Artikel Colin L Powell Hitam Putih
Artikel dengan judul "Strategi Kemitraan (1)"...(2) ditulis oleh=20
Colin L Powell (Menteri Luar Negeri Amerika Serikat) di KOMPAS,=20
Kamis 29 Januari 2004 dan Jumat 30 Januari 2004 di bagian OPINI
Untuk anda yang berlangganan KOMPAS bisa dilihat di halaman 4.
=20
Dalam artikel tersebut terdapat catatan kecil dari redaksi:
Artikel yang ditulis Menlu AS Colin Powell ini selain dikirimkan=20
untuk jurnal "Foreign Affairs" edisi Januari / Februari 2004, secara=20
khusus dikirimkan ke redaksi "KOMPAS". Terjemahan dimuat dalam dua=20
bagian.
=20
Saya sendiri bukan lulusan FISIP, urusan politik saya tidak tahu apa-
apa. Tapi setelah membaca artikel tersebut secara nalar ada yang=20
ganjil atau hanya karena artikel tersebut terjemahan sehingga=20
bahasanya terlihat gamblang. Gamblang dalam arti terlihat isinya,=20
sudah tidak bisa lagi menggunakan permainan kata-kata. Bagaimana=20
Colin L Powell menyebut pihak-pihak yang menentang sebagai "musuh-
musuh kami" sehingga seolah-olah presiden AS pusat kebenaran.=20
Semuanya terlihat dangkal tanpa penjabaran yang mendetail.
Dalam artikel tersebut Colin L Powell menulis "Sebagai hasilnya,=20
kami membentuk kuartet sebuah bentuk kemitraan lainnya yang terdiri=20
atas AS, Uni Eropa, Rusia dan PBB." Padahal hubungan AS-Rusia=20
sendiri sebenarnya kurang baik dengan adanya NATO yang mendekati=20
wilayah Rusia, mengingatkan trauma masa lampau, trauma perang dingin.
=20
Sampai pada penyebutan bahwa AS tidak akan menghalangi upaya Israel=20
untuk mempertahankan diri dari terorisme Palestina (?), bukankah=20
justru Israel yang berusaha menduduki wilayah Palestina karena sejak=20
dulu Israel memang tidak punya wilayah sendiri.
=20
Saya tidak ingin mengutip kata per kata atau kalimat per kalimat=20
lebih baik dibaca sendiri saja.=20
Kalau ibaratnya buah terlihat manis ternyata setelah dimakan rasanya=20
pahit, begitu juga bahasa mungkin terlihat indah dengan bahasa=20
ibunya sendiri dengan permainan kata-kata isipun bisa tertutupi atau=20
justru intinya tidak ada. Tapi bahasanya akan terlihat kosong,=20
transparan dan jelas bila diterjemahkan dalam bahasa lain (Jeni=20
tawang_lintang@xxxxxxxxx)
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/2242
Koran Kompas >> Kamis, 29 Januari 2004 >> Opini
Strategi Kemitraan AS (1)
Oleh Colin L Powell
Pengantar Redaksi:
Artikel yang ditulis Menlu AS Colin Powell ini selain dikirimkan
untuk jurnal Foreign Affairs edisi Januari/Februari 2004, secara
khusus dikirimkan ke Redaksi Kompas. Terjemahan dimuat dalam dua
bagian
Mengamati politik luar negeri Amerika Serikat, kadang orang hanya
berpikir perihal aspek- aspek perang melawan terorisme, seperti
rekonstruksi Irak dan Afghanistan, kekacauan di Timur Tengah, dan
sel-sel teror yang membayangi Asia Tenggara, Eropa, bahkan AS. Hal
seperti itu wajar.
Terorisme internasional secara telak menyerang Amerika Serikat (AS)
pada tanggal 11 September 2001. Penduduk AS yang marah meminta agar
para pelakunya diadili. Mereka juga ingin tahu mengapa serangan itu
bisa terjadi. Mereka menuntut adanya kebijakan luar negeri yang
menjamin hal itu tak terulang.
Oleh karena itu, wajarlah perang melawan terorisme lalu menjadi
prioritas utama kebijakan luar negeri AS; dan tetap begitu selama
dianggap perlu, karena terorisme-yang potensial berkaitan dengan
proliferasi senjata pemusnah massal (WMD)-saat ini merupakan ancaman
terbesar bagi rakyat AS. Menumpas terorisme, selain bisa menggunakan
aksi militer untuk melumpuhkan individu teroris dan negara yang
menjadi pendukungnya, juga perlu kerja sama multilateral dalam hal
penegakan hukum dan berbagi informasi intelijen. Upaya tersebut
meliputi stigmatisasi terorisme sebagai instrumen politik dan
mereduksi sumber-sumber yang bisa memotivasi kegiatan mereka.
Strategi AS bukan sekadar menangani ancaman nyata; yang lebih tandas
dari itu adalah mengalahkan sumber ancaman itu. Namun sayangnya,
fokus yang amat terarah ke garis depan dalam memerangi terorisme
membuat orang sulit memahami strategi AS. Walau pemerintah tampaknya
berhasil mengembangkan strategi kebijakan luar negeri yang masuk
akal, tak mudah membuat orang mengerti kebijakan tersebut.
Visi Presiden Bush
Bagi para pengritik Pemerintah AS, hal tersebut merupakan kesempatan
untuk menuduh bahwa presiden tak memiliki visi tentang dunia, tak
memiliki strategi. Padahal sebenarnya Presiden George Bush punya
semua itu.
Strategi presiden pertama kali dijabarkan secara terbuka pada bulan
September 2002 dalam Strategi Keamanan Nasional AS (National
Security Strategy of the United States/NSS). Dalam dokumen setebal
hampir 40 halaman itu, NSS menjabarkan prioritas kebijakan AS
menjadi delapan bab sebagai sebuah strategi yang terintegrasi secara
luas dan dalam, sesuai kesempatan maupun tantangan yang dihadapi AS.
Tentu saja sebuah dokumen strategi yang ditujukan bagi publik tak
akan bisa sepenuhnya terbuka supaya tidak diketahui musuh-musuh
kami. Meskipun demikian, dokumen ini dengan jujur merefleksikan
kepribadian presiden, yang dengan konsistensinya mengatakan apa yang
dia maksudkan dan meyakini apa yang dia katakan.
Oleh karena itu, sangatlah ganjil bila strategi kebijakan luar
negeri kami sering disalah mengerti, baik oleh pengamat di dalam
negeri maupun di luar negeri. Strategi AS secara meluas dituduh
sebagai unilateralis. Strategi kami sering dituduh sebagai tak
berimbang dan lebih mengutamakan metode-metode militer. Strategi
kami juga sering digambarkan terobsesi oleh terorisme sehingga bias
terhadap perang preemtif (preemptive war). Namun sesungguhnya semua
dugaan dan tuduhan itu tidak benar.
Distorsi semacam itu sebagian dijelaskan oleh keadaan. NSS membuat
konsep preemtif setelah terjadinya tragedi 11 September 2001 dan hal
itu dilakukan dengan alasan jelas. Salah satu alasannya adalah untuk
meyakinkan rakyat AS bahwa pemerintah memiliki akal sehat. Yakni,
kalau ada ancaman nyata yang tak bisa dilumpuhkan dengan cara-cara
yang ada padahal harus ditangani, janganlah menunggu serangan datang
baru kemudian bertindak. Itulah dasar strategi preemtif.
Alasan lainnya adalah untuk mengirimkan "pesan" kepada musuh bahwa
mereka dalam kesulitan besar, maka sebaiknya menghentikan
aktivitasnya. Situasi itu juga bisa mendorong mereka berbuat
kesalahan sehingga kemudian tertangkap. Lebih dari itu, ada sejumlah
negara melibatkan diri dalam terorisme bukan karena alasan
ideologis, tetapi oportunistik. Mereka ini harus disadarkan bahwa
sikap oportunis mereka akan sia-sia.
Dalam hal cakupannya, preemption (tindakan preemtif-Red) hanya
diterapkan bagi ancaman yang tidak dapat dihalangi, yaitu yang
berasal dari para pelaku bukan negara (nonstate actors), seperti
kelompok-kelompok teroris. Preemption tak pernah dimaksudkan untuk
menggantikan kebijakan deterrence (upaya penangkalan-Red) melainkan
hanya bersifat melengkapi. Preemption juga bukan hal sentral dalam
strategi AS. Di dalam NSS, pembicaraan mengenai preemption hanya
muncul dalam dua kalimat dari dokumen yang seluruhnya berjumlah
delapan bab tersebut.
Keunggulan kemitraan
NSS membenarkan dilaksanakannya preemption dalam batas-batas
tertentu. Namun, strategi AS tidak dijabarkan berdasarkan upaya
preemtif semata. Strategi presiden yang paling utama adalah satu
bentuk kemitraan yang mengukuhkan peran vital Organisasi Pakta
Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan sekutu-sekutu AS lainnya,
termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Tak percaya? Mungkin ini akibat klaim commentariat (kalangan yang
tugasnya mengomentari kebijakan luar negeri AS-Red) bahwa keputusan
presiden yang mencari dukungan rekonstruksi pascaperang Irak melalui
resolusi Dewan Keamanan PBB dianggap sebagai upaya "pemutusan
hubungan" dari kebijakan AS (a sharp break with policy).
Kalau seseorang berpikir dengan pola seperti itu berarti ia menutup
mata terhadap fakta bahwa Presiden Bush telah meminta persetujuan
PBB pada tanggal 12 September 2002 agar PBB menjalankan sejumlah
resolusinya (jumlah keseluruhannya 16); bahwa Resolusi DK PBB 1441-
yang memperingatkan rezim Irak untuk tunduk terhadap kewajibannya
yang tertuang dalam resolusi-resolusi sebelumnya-lolos dengan suara
bulat pada bulan November 2002; bahwa kami telah mencoba mengusulkan
resolusi lainnya untuk menyatukan komunitas internasional beberapa
bulan sebelum Operation Iraqi Freedom dimulai; bahwa kami meminta
dukungan PBB pada bulan Mei 2003 setelah berlangsungnya Operation
Iraqi Freedom untuk mengukuhkan Resolusi 1483, mencabut sanksi
terhadap Irak; dan kami juga mengusulkan dan mengukuhkan Resolusi
1500 pada bulan Agustus 2003 untuk mengakui Dewan Pemerintahan Irak.
Seandainya kami tidak melakukan semua itu-presiden memutuskan untuk
mencari dukungan Dewan Keamanan PBB pada September 2003 dan terus
berupaya sampai Resolusi 1511 disetujui dengan suara 15-0 tanggal 16
Oktober-barulah bisa dikatakan bahwa kami telah "memutuskan
hubungan" secara signifikan dengan kebijakan kami. Nyatanya,
pemerintah telah melakukan semua upaya itu. Jika ada
yang "memutuskan hubungan" di sini, itu adalah commentariat
yang "memutuskan hubungan" dari aturan dasar logika.
Perdagangan bebas dan prakarsa baru AS bagi perkembangan ekonomi
juga tergambar secara jelas dalam strategi presiden. The Free Trade
Area of the Americas, Africa Growth and Opportunity Act yang
diperluas dan khususnya The Millenium Challenge Account yang menjadi
garda depan kebijakan kami di bidang ini.
Upaya kami untuk mengawasi proliferasi senjata pemusnah massal (WMD)
juga menjadi bagian dari strategi presiden. Upaya-upaya ini mengarah
pada terbentuknya Prakarsa Proliferasi Keamanan (Proliferation
Security Initiative) di bulan Mei 2003, yang merupakan kesepakatan
11 negara untuk menghentikan pengiriman bahan-bahan yang berkaitan
dengan WMD ke negara-negara tertentu. Pada September 2003, para
penandatangan kesepakatan ini menyetujui pedoman dasar implementasi.
Dalam pidato di depan Majelis Umum PBB pada 24 September, presiden
mengimbau negara-negara lain untuk bergabung.
Strategi Presiden Bush juga menuntut AS untuk berperan dalam
penyelesaian konflik regional. Konflik semacam itu bisa menyebar ke
negara-negara yang dalam keadaan damai dan dapat memercikkan api
terorisme. Dari seluruh ikhtiar AS untuk membantu penyelesaian
konflik regional, tak ada yang lebih penting daripada upaya
mewujudkan kesepakatan damai yang langgeng antara Israel dan
Palestina.
Pemerintahan Bush secara luas dikritik karena dalam dua tahun
pemerintahannya dinilai tidak aktif menyelesaikan konflik Arab-
Israel. Bagi sebagian kalangan sebutan "lebih aktif" berarti secara
aktif melakukan kunjungan kenegaraan dan berfoto bersama. Seakan-
akan aktivitas seperti itu-yang sudah berlangsung selama satu dekade
tanpa hasil-belum pernah dicoba. Padahal, diplomasi bisa diwujudkan
dalam berbagai bentuk yang lebih tepat. Dalam kenyataannya, kami
bekerja sangat keras untuk mewujudkan perdamaian, yang kadang
dilakukan secara diam-diam, untuk menganalisis keadaan secara cermat
dan menentukan taktik yang sesuai.
Sebagai hasilnya, kami membentuk Kuartet-sebuah bentuk kemitraan
lainnya-yang terdiri atas AS, Uni Eropa, Rusia, dan PBB. Kami
mengembangkan "peta perdamaian" berdasarkan kemitraan ini. Presiden
Bush pergi ke Aqaba, Yordania, pada bulan Juni 2003 untuk mengajak
pihak-pihak yang bertikai menyepakati komitmennya.
Hal yang terpenting, kami menyadari perlunya reformasi fundamental
di dalam Otoritas Palestina bagi terwujudnya perdamaian yang
langgeng. Setelah jelas bahwa AS tidak akan menghalangi upaya Israel
untuk mempertahankan diri dari terorisme Palestina, tekanan untuk
melakukan reformasi muncul dari dalam komunitas Palestina. Situasi
ini menghasilkan kepemimpinan Mahmoud Abbas yang penuh harapan.
Sayang, upaya Abbas digagalkan oleh Yasser Arafat. Pengganti Abbas,
Ahmad Qurei, juga mengalami rintangan serupa. Meskipun harapan kami
bagi sebuah kemajuan saat ini terhambat, setidaknya sekarang jelas
di mana sebetulnya sumber masalah itu.
Konflik di wilayah lain juga membutuhkan perhatian dan kepedulian
kami. AS tidak pernah memalingkan diri dari penderitaan rakyat
Liberia dan kami juga secara aktif berupaya mengakhiri konflik di
Sudan dan Republik Demokratik Kongo. Kami pun tak lupa akan perlunya
kemajuan berkesinambungan di Balkan, Irlandia Utara, dan Timor Timur.
Colin L Powell, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat
Copyright =A9 2004 Harian KOMPAS
Koran Kompas >> Jumat, 30 Januari 2004 >> Opini
Strategi Kemitraan AS (2)
Oleh Colin L Powell
PRIORITAS kami yang tak kalah penting adalah determinasi untuk
mengembangkan hubungan kooperatif di antara kekuatan-kekuatan besar
di dunia (major powers). Di sinilah kunci kesuksesan dalam memerangi
terorisme.
Pendapat yang mengatakan "dunia telah berubah" adalah benar: dunia,
betapa pun, selalu berubah. Tidaklah terlalu sepele untuk menetapkan
bagaimana perubahan itu terjadi. Sebagaimana yang saya lihat, titik
terpenting adalah malam 9 November 1989, tanggal di mana Tembok
Berlin runtuh, menandai berakhirnya era Perang Dingin dan, tak
berapa lama, Uni Soviet. Peristiwa ini mengakhiri pertarungan yang
menegangkan antara kebebasan dan totalitarianisme yang mempengaruhi
perjalanan abad ke-20.
Presiden menangkap pentingnya peristiwa bersejarah itu. Seperti ia
tulis dalam NSS, "hari ini, komunitas internasional memiliki
kesempatan terbaik sejak kebangkitan negara-bangsa di abad ke-17
untuk membangun dunia, di mana kekuatan-kekuatan besar bersaing
dalam perdamaian dan bukan dalam persiapan peperangan. Hari ini,
kekuatan-kekuatan besar dunia berada di sisi yang sama".
Perkembangan itu revolusioner. Untuk sekian lama, bahkan sampai
berabad- abad, kekuatan besar memiliki kebiasaan membuang-buang
sumber daya dan bakatnya dengan bertarung demi tanah, kemasyhuran,
dan emas. Di abad ke-21 ini, kebiasaan seperti itu makin tampak sia-
sia. Kepemilikan wilayah yang luas, sumber daya, dan kekuasaan tak
menjamin kemakmuran maupun perdamaian. Namun, investasi sumber daya
manusia, kepercayaan sosial, perdagangan, kerja sama antar dan di
dalam negaralah yang menjamin perdamaian dan kesejahteraan.
Salah satu problem bersama saat ini adalah terorisme, dan AS
berupaya mengatasinya dengan mengintegrasikan masalah ini ke dalam
manajemen hubungan internasional. Kami tidak menganggap perang
melawan terorisme dan memelihara hubungan konstruktif dengan
kekuatan-kekuatan besar sebagai tugas terpisah satu sama lain. Kami
memerangi terorisme dengan kerja sama antarkekuatan besar dan kami
berupaya memperkuat kerja sama dengan tujuan memenangi perang
melawan terorisme.
Logika pendekatan ganda ini terletak pada fakta, terorisme mengancam
tatanan dunia. Menarik garis tegas antara sipil dan kombatan
merupakan bagian penting dalam proses ini. Namun, terorisme telah
menghapus garis tegas itu. Dan kami tak boleh membiarkan ini
terjadi, bukan karena kami ingin "membuat dunia aman" dari perang
besar konvensional, tetapi karena kami harus meyakinkan siapa pun,
dengan berakhirnya Perang Dingin dunia tidak bisa menukar sebuah
bahaya dengan bahaya lain. Kemenangan sebuah kebebasan tak akan
bermakna bila kekhawatiran baru muncul menggantikan kekhawatiran
lama.
Adanya kepentingan bersama seluruh kekuatan besar untuk memerangi
terorisme merupakan peluang yang luar biasa dan langka. Tentu saja,
kami telah memiliki awal yang baik dalam hal ini karena kami
dikaruniai sejumlah persahabatan yang langgeng. Tak ada yang lebih
penting daripada apa yang terabadikan dalam NATO.
Sejumlah pengamat memperkirakan NATO akan "layu" setelah Perang
Dingin; yang lain berpendapat, hubungan AS dan Eropa akan berujung
pada "bentrokan". Pandangan seperti itu belum pernah dan tak akan
terjadi. Bukan saja NATO tetap bertahan, tetapi baik misi maupun
keanggotaannya telah diperluas. Belum pernah dalam hubungan AS-Eropa
agenda bersama kami begitu signifikan satu sama lain seperti saat
ini.
Betul, kami memiliki perbedaan dengan sejumlah sekutu kami di NATO.
Namun ini adalah perbedaan antarteman. Kemitraan transatlantik yang
didasarkan pada kepentingan bersama dan nilai-nilai kuat tak mungkin
dilemahkan oleh kepribadian yang bermusuhan maupun perbedaan
persepsi.
Sejumlah pihak mengatakan, kami harus bergerak ke dunia yang
multipolar. Kami tidak setuju-bukan karena tidak menghargai
kompetisi dan perbedaan, tetapi karena kami beranggapan tidak perlu
ada kutub di antara keluarga negara-negara yang menganut nilai-nilai
dasar yang sama. Kami percaya, lebih bijaksana bekerja sama
mengatasi perbedaan daripada memolarisasikannya.
Merengkuh kekuatan besar
Kami bekerja keras untuk menjalin hubungan sebaik mungkin dengan
negara-negara kecil maupun besar, lama atau baru. Namun, untuk
tujuan-tujuan praktis, kami memusatkan perhatian pada hubungan
antarkekuatan besar, khususnya dengan negara-negara di mana kami
memiliki kesulitan di masa lalu, seperti dengan Rusia, India, dan
Cina.
Hubungan kami dengan Rusia berubah secara dramatis sejak November
1989. Amerika dan Rusia tidak lagi saling mengarahkan rudalnya satu
sama lain. Berkat kepemimpinan Presiden Bush dan Presiden Vladimir
Putin, kami secara radikal mengurangi penyimpanan persenjataan
strategis. Moskwa juga merupakan mitra yang komit dalam memerangi
terorisme dan penyebaran global senjata pemusnah massal.
Hubungan baru antara Rusia dan NATO juga sama pentingnya. Mulai dari
berbagi informasi intelijen yang berkaitan dengan terorisme hingga
penanganan krisis kemanusiaan dan pemeliharaan perdamaian; NATO
bersama Dewan Rusia sudah melaksanakannya.
Hubungan seperti itu bisa berkembang sejauh kreativitas dan upaya
timbal balik keduanya. Belum pernah kami bisa sedekat ini dengan
Eropa, bebas, dan damai. Eropa yang dimaksud di sini tentu saja
termasuk Rusia dan sejumlah republik baru yang berasal dari Uni
Soviet.
Hal terpenting di sini adalah bertemunya filosofi ekonomi dan
politik AS dengan Rusia. Saat ini, Rusia lebih demokratis, lebih
berorientasi pada ekonomi pasar. Tentu saja bukan berarti kami
setuju terhadap semua itu. Kami tetap berharap Rusia mendukung
kebijakan kami di Irak dan kami berharap Rusia akan mengubah
sikapnya terhadap program nuklir Iran. Kami juga berbeda soal
kebijakan Rusia di Chechnya.
Sementara Rusia masih terus mengembangkan demokrasinya, di India
demokrasi sudah berlangsung sejak kemerdekaannya tahun 1947. Dengan
reformasi ekonomi yang mulai mengakar, India sedang berkembang
menuju ekonomi pasar yang matang. Namun, seperti diakui sendiri oleh
warga India, negeri ini masih menghadapi sejumlah kendala. Tingkat
buta huruf, kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan infrastruktur yang
tak memadai menghambat kemajuan itu.
Kami ingin membantu India untuk mengatasi tantangan-tantangan ini
dan kami ingin mewujudkannya melalui hubungan yang lebih dekat.
Karena itu, kami berupaya mengeratkan hubungan dengan India. Dua
negara demokrasi terbesar di Bumi tidak lagi berjauhan. Di saat
bersamaan, kami telah meningkatkan hubungan dengan Pakistan, negara
yang memiliki tantangannya sendiri.
Mengutip pernyataan Presiden Bush, apa yang AS telah lakukan di Asia
Selatan merupakan contoh bagaimana "mengubah kesukaran menjadi
kesempatan". Dalam cara berbeda, kami menerapkan hal serupa terhadap
Cina.
Hubungan AS-Cina diawali dengan hal buruk saat satu penerbangan AS
melakukan kunjungan tak terjadwal ke Pulau Hainan, April 2001. Meski
demikian, hubungan AS-Cina kini merupakan yang terbaik yang pernah
terjadi sejak Presiden Richard Nixon pertama kali mengunjungi
Beijing 30 tahun lalu.
Strategi Keamanan Nasional (NSS) AS menyebutkan, "Kami menyambut
baik munculnya Cina yang kuat, damai, dan makmur." Kami juga
berupaya membangun hubungan yang konstruktif. Tentu, kami menyambut
peran global Cina, selama Cina memikul tanggung jawab yang sepadan
dengan perannya.
Salah satu contoh kasus adalah Korea. Kepentingan AS dan Cina di
Semenanjung Korea tumpang tindih meski mungkin tidak secara
keseluruhan. Kedua pihak tak pernah menginginkan Korea Utara
mengembangkan persenjataan nuklir, tetapi juga tak ingin menyaksikan
ekonomi Korea Utara hancur. Kedua pihak tak menginginkan krisis
pengungsi di perbatasan Cina kian memburuk dan tak menginginkan
rezim Korea Utara menyelundupkan obat-obat terlarang maupun
persenjataan, memalsukan mata uang, dan beberapa kali mengobarkan
ancaman perang dengan tetangganya.
Kami juga bekerja sama dengan Jepang, Rusia, dan Korea Selatan dalam
masalah ini. Agenda kami cukup ambisius, namun berurutan, terbukti
dengan terwujudnya kerangka kerja enam pihak yang membicarakan
program nuklir Korea Utara. Kami menetapkan kerangka kerja ini bulan
September 2003 dan kami akan melakukannya lagi dalam waktu dekat.
Kami masih harus menempuh jalan panjang guna menangani program
persenjataan nuklir Korea Utara. Seperti pernah kami katakan kepada
Korea Utara, kami tidak berniat menyerang Korea Utara. Dalam
kunjungannya ke Asia, Oktober 2003, Presiden Bush bahkan mengatakan,
ia bersedia menyatakan niatnya itu secara tertulis. Kami telah
menyatakan kebijakan kami secara jujur dan terbuka: kami
menginginkan perdamaian, bukan perang, dan kami menginginkan
keamanan-bukan ketakutan-menyelimuti Semenanjung Korea dan
tetangganya. Namun, kami tak akan menyerah pada ancaman atau
pemerasan; karena bila kami menyerah, ancaman maupun upaya pemerasan
akan lebih banyak lagi.
Kepentingan dan tanggung jawab
Perdamaian dunia tidak bisa berjalan dengan sendirinya. Kami harus
ikut memeliharanya dengan kesabaran, mengingat perang besar di masa
lalu tetap berlangsung meski pada saat itu muncul keyakinan bahwa
perang tak akan terjadi lagi.
Kami ingin mengembangkan martabat kemanusiaan dan demokrasi di
dunia, untuk menolong masyarakat bangkit dari kemiskinan dan untuk
mengubah sistem kesehatan publik yang tidak memadai. Namun,
keinginan itu hanya bisa terwujud bila perdamaian di masa ini
bisa "dipelihara, dipertahankan, dan diperluas".
Jangan salah, inilah yang menjadi tujuan utama kebijakan AS di abad
ke-21. Kami memerangi terorisme bukan hanya karena kami
berkewajiban, namun juga karena kami mampu melakukannya demi
mewujudkan dunia yang lebih baik. Itu sebabnya kami komit terhadap
demokrasi, pembangunan, kesehatan masyarakat global, dan hak asasi
manusia sebagai syarat mutlak perdamaian global.
Dengan demikian, reputasi AS dalam hal kejujuran dan kepedulian akan
terus berlangsung. Saat ini, niat AS itu diragukan di sejumlah
tempat. Namun, seraya kami memelihara, mempertahankan, dan
memperluas perdamaian yang dimenangi manusia-manusia bebas di abad
ke-20; kebenaran akan terbukti di abad ke-21. Kami senantiasa
mengejar kepentingan rakyat AS yang mengedepankan kebenaran maupun
dalam prinsip serta tujuan kami yang benar.
Kepentingan yang mengedepankan kebenaran telah membuat kami
berseberangan dengan para teroris, para tiran, dan pihak-pihak lain
yang ingin melihat kami lemah. Dari mereka, kami tidak mengejar rasa
hormat dan kepada mereka kami tak memberi ampun. Kepentingan kami
yang mengedepankan kebenaran telah menjadikan kami mitra bagi siapa
pun yang menghargai kebebasan, martabat kemanusiaan, dan perdamaian.
Kami tahu di sisi mana semangat manusia benar- benar kekal dan kami
memperoleh dorongan darinya. Akhirnya, hanya inilah satu-satunya
dukungan yang kami perlukan.
Colin L Powell Menteri Luar Negeri Amerika Serikat
Copyright =A9 2004 Harian KOMPAS
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
=20
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=3D5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
Yahoo! Groups Links
To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/=20
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Artikel Colin L Powell Hitam Putih