[ppi] [ppiindia] Apa Jadinya Jika Pejabat Buta, Tuli Dan Bisu
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sat, 27 May 2006 02:05:17 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.indomedia.com/bpost/052006/26/opini/opini1.htm
Apa Jadinya Jika Pejabat Buta, Tuli Dan Bisu
Oleh: Zulkifli
Konsultan Pengembangan masyarakat
Betapa banyak mulut berbicara hingga berteriak-teriak, menyuarakan keadilan,
perjuangan dll, bernyanyi, berdakwah bahkan menyeru pujian keagungan Yang
Kuasa, atau melantunkan dan membaca ayat tertentu tetapi suara yang keluar
murni dari mulut, tidak bersumber dari hati dan nurani yang dalam.
Maaf, sedikit pun penulis tidak bermaksud untuk merendahkan mereka yang secara
fisik ada gangguan fungsi penglihatan, pendengaran ataupun berbicara.
Beruntunglah kita yang diberi oleh Yang Kuasa penglihatan bagus, pendengaran
jelas dan mulut yang sempurna untuk bisa berbicara dengan baik.
Tetapi alangkah mulianya lagi mereka yang memang secara fisiknya ada kekurangan
dan sejumlah gangguan alat indera. Mereka melihat dengan mata hati (batin)
untuk terus bisa berbuat yang terbaik bagi lingkungannya, dan tidak membuat
kegaduhan atau keonaran. Contoh kecil, walaupun berjalan dengan bantuan tongkat
kecil sebagai pemandu (sensor - guide), tidak pernah terdengar orang buta
menabrak manusia apalagi sampai menimbulkan korban.
Sementara orang yang mempunyai penglihatan normal bisa saja membuat kegaduhan,
keributan bahkan membuat cedera atau celaka orang lain hingga mati. Seperti
pejalan kaki yang menyeberang jalan ditabrak mobil atau sepeda motor, atau
sesama pengendara yang saling tabrak. Ada pula orang yang secara fisik tidak
bisa mendengar, tetapi dengan bahasa isyarat atau tubuh mampu sempurna
'menangkap' yang terbaik harus dilakukannya. Begitu juga mereka yang tidak bisa
berbicara secara fisik menggunakan mulut, justru 'suaranya' (baca: sikapnya)
bisa terdengar sangat jauh. Bahkan mengalahkan mereka yang mempunyai kemampuan
berbicara normal.
Betapa banyak mulut berbicara hingga berteriak-teriak, menyuarakan keadilan,
perjuangan dll, bernyanyi, berdakwah bahkan menyeru pujian keagungan Yang
Kuasa, atau melantunkan dan membaca ayat tertentu tetapi suara yang keluar
murni dari mulut, tidak bersumber dari hati dan nurani yang dalam. Tong kosong
nyaring bunyinya! Apa yang ia ucapkan tidak membekas dan merefleksi ke dalam
jiwanya, tidak ada sedikit pun duplikasi ucapan menjadi pola tindakan dalam
prilaku, sikap, dan etika untuk menuju sebuah karakter insan kamil.
Bagaimana dengan kondisi pejabat di negeri ini? Apakah sudah menggunakan mata,
telinga dan mulutnya dengan benar? Indonesia dikenal sangat kaya sumber daya
alam (SDA), tetapi sampai sekarang masih terdapat sekian puluh juta penduduk
miskin. Dan memiliki sejumlah comparative advantage terhadap negara yang sudah
makmur dan kaya raya seperti Jepang, Singapura dll. Apa yang salah terhadap
pengelolaan dan tatapemerintahan di negeri ini? Jepang yang tidak memiliki
sedikit pun deposit alamnya seperti minyak bumi, emas, batu bara, malah hancur
lebur akibat kalah perang pada 1945 masih bisa bangkit. Dibandingkan, Indonesia
yang merdeka di tahun yang sama dan dengan sejumlah keunggulan komparatif.
Ternyata, keunggulan komparatif bukan jaminan untuk bisa memiliki keunggulan
kompetitif.
Siapkah kita terutama pejabat publik, mewujudkan sebuah tatanan bangsa yang
mandiri dan masyarakat madani di era globalisasi ini. Kalau tidak, bangsa kita
akan terus dibodohi bangsa lain. Jangan-jangan, kita sudah kehilangan sikap
mental semangat Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing, lunturnya nilai luhur dan
moralitas seperti kejujuran, keadilan, kepedulian dll.
Dalam Kamus Bahasa Indonesia oleh Em Zul Fajri & Ratu Aprilia Senja, kata
pejabat mengandung arti pegawai pemerintah yang memegang jabatan penting.
Memegang jabatan, merupakan kata kerja yang mengandung makna memegang amanah
untuk melayani, bukan sebaliknya dilayani. Makna kedua adalah memegang jabatan
penting, orang yang mengemban jabatan atau ditunjuk sebagai pejabat itu adalah
benar-benar ahli dan mumpuni di bidangnya.
Sebelum lahirnya konsep manajemen the right man and the right place. Allah
memperingatkan kepada manusia bahwa suatu urusan (perkara) diserahkan kepada
yang bukan ahlinya, maka tunggu kehancurannya. Buruknya fasilitas dan pelayanan
publik di sektor pendidikan, kesehatan, transportasi dll, bisa jadi urusannya
dipegang oleh orang yang bukan capable dan ahli di bidangnya, termasuk tidak
dimilikinya attitude yang positif.
Pada 6 Mei 2006 lalu, penulis mengikuti simposium pendidikan di Martapura.
Ternyata, menurut data Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar, sekitar 15 persen
guru yang mengajar di daerah itu tidak sesuai dengan keahliannya (mismatch).
Ppertanyaannya, bagaimana pola perencanaan pendidikan, rekrutmen, penempatan
dan penugasan. Ini baru contoh kecil, bagaimana dengan sektor lainnya?
Bagaimana ramainya tarik menarik 'kepentingan partai', ketika Susilo Bambang
Yudhoyono berpasangan dengan Jusuf Kalla sebagai pemenang Pilpres, dibuat repot
untuk menyusun menteri kabinetnya. Termasuk mengakomidasi sejumlah desakan lain
seperti keberagaman dan aspirasi asal daerah menteri yang diangkat.
Jangan heran, jika konsep manajemen the right man and the right place tidak
diterapkan dengan benar, sangat sulit untuk bisa meraih yang terbaik. Malah
sebaliknya, bisa membawa kerugian. Belum lagi berbicara tentang sejumlah
jabatan publik atau jabatan penting lain seperti penataan dan penegakan hukum,
bisa jadi kalau dilakukan sebuah survai akan ditemukan mismatch. Atau ketika
ditanyakan job description-nya, tidak bisa menjabarkan dan menguraikan tugas
dan wewenangnya dengan jelas.
Bagaimana di daerah seperti di Kalsel termasuk Banjarmasin, apakah pemegang
jabatan publik diukur sebatas kepangkatan atau ada indikator dan nilai plus
lainnya? Atau ada semacam fit and proper test dan penyampaian visi misi semata?
Bagaimana dengan track record calon pejabat itu?
Betapa banyak sistem, aturan, rambu, sanksi dsb, namun itu saja belum cukup
membuat dan menjamin orang bekerja profesional dan bisa membendung mental
koruptor. Atau ada tudingan, pengawasan yang lemah, bagaimana kalau oknum
pengawasnya juga bermental sama atau lebih bejat lagi? Kalau demikian, di mana
akar persoalannya. Mari kita merenung dan merefleksikan, apakah menciptakan
sistem yang bagus dulu atau mencari orang jujur dulu?
Memang diperlukan sebuah tatanan, aturan atau sistem yang bagus untuk bisa
mengikat orang yang duduk di jabatan tersebut agar bisa bekerja profesional dan
jujur. Saatnya kita membiasakan(membudayakan) dan suatu keharusan untuk
menerapkan sebagai sarat utama, seseorang diperkenankan memegang jabatan publik
dan atau sejumlah jabatan penting lain pada aspek moralitas, yaitu kejujuran
plus pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill).
Dengan demikian diharapkan, adanya sikap mental positif (attitude) yaitu akhlak
mulia pejabat publik yang dapat menggunakan mata, telinga.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
You can search right from your browser? It's easy and it's free. See how.
http://us.click.yahoo.com/_7bhrC/NGxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Apa Jadinya Jika Pejabat Buta, Tuli Dan Bisu