[ppi] [ppiindia] Apa Jadinya Jika Pejabat Buta, Tuli Dan Bisu

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.indomedia.com/bpost/052006/26/opini/opini1.htm

Apa Jadinya Jika Pejabat Buta, Tuli Dan Bisu

Oleh: Zulkifli
Konsultan Pengembangan masyarakat



Betapa banyak mulut berbicara hingga berteriak-teriak, menyuarakan keadilan, 
perjuangan dll, bernyanyi, berdakwah bahkan menyeru pujian keagungan Yang 
Kuasa, atau melantunkan dan membaca ayat tertentu tetapi suara yang keluar 
murni dari mulut, tidak bersumber dari hati dan nurani yang dalam.

Maaf, sedikit pun penulis tidak bermaksud untuk merendahkan mereka yang secara 
fisik ada gangguan fungsi penglihatan, pendengaran ataupun berbicara. 
Beruntunglah kita yang diberi oleh Yang Kuasa penglihatan bagus, pendengaran 
jelas dan mulut yang sempurna untuk bisa berbicara dengan baik.

Tetapi alangkah mulianya lagi mereka yang memang secara fisiknya ada kekurangan 
dan sejumlah gangguan alat indera. Mereka melihat dengan mata hati (batin) 
untuk terus bisa berbuat yang terbaik bagi lingkungannya, dan tidak membuat 
kegaduhan atau keonaran. Contoh kecil, walaupun berjalan dengan bantuan tongkat 
kecil sebagai pemandu (sensor - guide), tidak pernah terdengar orang buta 
menabrak manusia apalagi sampai menimbulkan korban.

Sementara orang yang mempunyai penglihatan normal bisa saja membuat kegaduhan, 
keributan bahkan membuat cedera atau celaka orang lain hingga mati. Seperti 
pejalan kaki yang menyeberang jalan ditabrak mobil atau sepeda motor, atau 
sesama pengendara yang saling tabrak. Ada pula orang yang secara fisik tidak 
bisa mendengar, tetapi dengan bahasa isyarat atau tubuh mampu sempurna 
'menangkap' yang terbaik harus dilakukannya. Begitu juga mereka yang tidak bisa 
berbicara secara fisik menggunakan mulut, justru 'suaranya' (baca: sikapnya) 
bisa terdengar sangat jauh. Bahkan mengalahkan mereka yang mempunyai kemampuan 
berbicara normal.

Betapa banyak mulut berbicara hingga berteriak-teriak, menyuarakan keadilan, 
perjuangan dll, bernyanyi, berdakwah bahkan menyeru pujian keagungan Yang 
Kuasa, atau melantunkan dan membaca ayat tertentu tetapi suara yang keluar 
murni dari mulut, tidak bersumber dari hati dan nurani yang dalam. Tong kosong 
nyaring bunyinya! Apa yang ia ucapkan tidak membekas dan merefleksi ke dalam 
jiwanya, tidak ada sedikit pun duplikasi ucapan menjadi pola tindakan dalam 
prilaku, sikap, dan etika untuk menuju sebuah karakter insan kamil. 

Bagaimana dengan kondisi pejabat di negeri ini? Apakah sudah menggunakan mata, 
telinga dan mulutnya dengan benar? Indonesia dikenal sangat kaya sumber daya 
alam (SDA), tetapi sampai sekarang masih terdapat sekian puluh juta penduduk 
miskin. Dan memiliki sejumlah comparative advantage terhadap negara yang sudah 
makmur dan kaya raya seperti Jepang, Singapura dll. Apa yang salah terhadap 
pengelolaan dan tatapemerintahan di negeri ini? Jepang yang tidak memiliki 
sedikit pun deposit alamnya seperti minyak bumi, emas, batu bara, malah hancur 
lebur akibat kalah perang pada 1945 masih bisa bangkit. Dibandingkan, Indonesia 
yang merdeka di tahun yang sama dan dengan sejumlah keunggulan komparatif. 
Ternyata, keunggulan komparatif bukan jaminan untuk bisa memiliki keunggulan 
kompetitif.

Siapkah kita terutama pejabat publik, mewujudkan sebuah tatanan bangsa yang 
mandiri dan masyarakat madani di era globalisasi ini. Kalau tidak, bangsa kita 
akan terus dibodohi bangsa lain. Jangan-jangan, kita sudah kehilangan sikap 
mental semangat Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing, lunturnya nilai luhur dan 
moralitas seperti kejujuran, keadilan, kepedulian dll.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia oleh Em Zul Fajri & Ratu Aprilia Senja, kata 
pejabat mengandung arti pegawai pemerintah yang memegang jabatan penting. 
Memegang jabatan, merupakan kata kerja yang mengandung makna memegang amanah 
untuk melayani, bukan sebaliknya dilayani. Makna kedua adalah memegang jabatan 
penting, orang yang mengemban jabatan atau ditunjuk sebagai pejabat itu adalah 
benar-benar ahli dan mumpuni di bidangnya.

Sebelum lahirnya konsep manajemen the right man and the right place. Allah 
memperingatkan kepada manusia bahwa suatu urusan (perkara) diserahkan kepada 
yang bukan ahlinya, maka tunggu kehancurannya. Buruknya fasilitas dan pelayanan 
publik di sektor pendidikan, kesehatan, transportasi dll, bisa jadi urusannya 
dipegang oleh orang yang bukan capable dan ahli di bidangnya, termasuk tidak 
dimilikinya attitude yang positif.

Pada 6 Mei 2006 lalu, penulis mengikuti simposium pendidikan di Martapura. 
Ternyata, menurut data Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar, sekitar 15 persen 
guru yang mengajar di daerah itu tidak sesuai dengan keahliannya (mismatch). 
Ppertanyaannya, bagaimana pola perencanaan pendidikan, rekrutmen, penempatan 
dan penugasan. Ini baru contoh kecil, bagaimana dengan sektor lainnya? 
Bagaimana ramainya tarik menarik 'kepentingan partai', ketika Susilo Bambang 
Yudhoyono berpasangan dengan Jusuf Kalla sebagai pemenang Pilpres, dibuat repot 
untuk menyusun menteri kabinetnya. Termasuk mengakomidasi sejumlah desakan lain 
seperti keberagaman dan aspirasi asal daerah menteri yang diangkat.

Jangan heran, jika konsep manajemen the right man and the right place tidak 
diterapkan dengan benar, sangat sulit untuk bisa meraih yang terbaik. Malah 
sebaliknya, bisa membawa kerugian. Belum lagi berbicara tentang sejumlah 
jabatan publik atau jabatan penting lain seperti penataan dan penegakan hukum, 
bisa jadi kalau dilakukan sebuah survai akan ditemukan mismatch. Atau ketika 
ditanyakan job description-nya, tidak bisa menjabarkan dan menguraikan tugas 
dan wewenangnya dengan jelas.

Bagaimana di daerah seperti di Kalsel termasuk Banjarmasin, apakah pemegang 
jabatan publik diukur sebatas kepangkatan atau ada indikator dan nilai plus 
lainnya? Atau ada semacam fit and proper test dan penyampaian visi misi semata? 
Bagaimana dengan track record calon pejabat itu?

Betapa banyak sistem, aturan, rambu, sanksi dsb, namun itu saja belum cukup 
membuat dan menjamin orang bekerja profesional dan bisa membendung mental 
koruptor. Atau ada tudingan, pengawasan yang lemah, bagaimana kalau oknum 
pengawasnya juga bermental sama atau lebih bejat lagi? Kalau demikian, di mana 
akar persoalannya. Mari kita merenung dan merefleksikan, apakah menciptakan 
sistem yang bagus dulu atau mencari orang jujur dulu?

Memang diperlukan sebuah tatanan, aturan atau sistem yang bagus untuk bisa 
mengikat orang yang duduk di jabatan tersebut agar bisa bekerja profesional dan 
jujur. Saatnya kita membiasakan(membudayakan) dan suatu keharusan untuk 
menerapkan sebagai sarat utama, seseorang diperkenankan memegang jabatan publik 
dan atau sejumlah jabatan penting lain pada aspek moralitas, yaitu kejujuran 
plus pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill).

Dengan demikian diharapkan, adanya sikap mental positif (attitude) yaitu akhlak 
mulia pejabat publik yang dapat menggunakan mata, telinga. 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
You can search right from your browser? It's easy and it's free.  See how.
http://us.click.yahoo.com/_7bhrC/NGxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>

Other related posts: