[ppi] [ppiindia] AnwarM Syafi'i dan Obsesi Pluralisme
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Fri, 29 Jul 2005 23:44:43 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
AnwarM Syafi'i dan Obsesi Pluralisme
Oleh: SUBUR TJAHJONO dan IMAM PRIHADIYOKO
Wacana pluralisme kini kembali memperoleh relevansinya dengan terjadinya
berbagai peristiwa yang mengganggu hubungan antarpenganut agama-agama di
Indonesia. Namun, pluralisme sering dipahami secara salah dengan menganggap
menyamakan semua pandangan agama-agama yang berbeda.
Itu salah besar. Pluralisme itu mengakui keberagamaan orang lain, tanpa harus
setuju. Selain itu, yang terpenting, bukan sekadar menjadi toleran, melainkan
menghormati ajaran agama orang lain. Dan sadar betul bahwa keberagamaan orang
lain itu bagian yang sangat fundamental dan inheren dengan hak asasi manusia,
kata M Syafi'i Anwar (52), seorang intelektual Muslim yang sejak lama bergelut
dengan pluralisme.
Syafi'i Anwar mengkhawatirkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang
mengharamkan pluralisme bisa ditafsirkan lain di masyarakat bawah. Hal ini pada
gilirannya akan mengganggu hubungan antarpenganut agama-agama.
Konsep pluralisme yang tidak sekadar toleransi, tetapi lebih menuju kepada
penghormatan (respect) kepada yang lain (the others), diakui Syafiâ?Ti misalnya
dikemukakan Klaus-Jurgen Hedrich, salah seorang tokoh Partai CDU (Christian
Democratic Union) Jerman Barat yang juga mantan Wakil Menteri Kerja Sama
Ekonomi dan Pembangunan.
Pendapat Klaus ini saya setujui sepenuhnya. Namun, Islam sendiri sebetulnya
juga mengajarkan pluralisme, ujar pria kelahiran Kudus, Jawa Tengah, 27
Desember 1953, itu.
Akan tetapi, kegiatan untuk memperjuangkan pluralisme tersebut bukannya tanpa
hambatan. Ketika memimpin jurnal Ulumul Quran darah saya pernah dihalalkan oleh
sekelompok radikal yang meminta mencabut tulisan Cak Nur (Nurcholish Madjid),
tuturnya kepada Kompas pekan ini.
Warga Muhammadiyah ini sekarang menjadi Direktur Eksekutif International Centre
for Islam and Pluralism (ICIP), lembaga yang mendorong dan mempromosikan
pluralisme, toleransi, hak asasi manusia, dan demokrasi.
Di tengah kesibukannya memimpin ICIP, sejak tahun 1999, Syafi'i An`war
menyelesaikan studi S-3 di Universitas Melbourne, Australia, dan lulus tahun
2005. Ia menulis disertasi berjudul Negara dan Islam Politik di Indonesia:
Sebuah Studi Politik Negara dan Perilaku Politik Pemimpin Muslim Modernis di
Bawah Rezim Orde Baru Soeharto 1966-1998â??.
Disertasi itu berfokus pada berbagai perilaku politik para pemimpin Muslim
modernis dalam merespons kebijakan negara di bawah rezim Orde Baru.
Ada dua kelompok Islam yang bisa bertolak belakang satu sama lainnya, yakni
progresif-liberal, dan puritanisme-konservatif. Bagaimana pendapat Anda?
Munculnya kelompok liberal ini sebagai reaksi dari keberadaan kelompok Islam
garis keras. Kelompok garis keras ini dicirikan dengan sikap yang menafsirkan
segalanya dengan literal tekstual.
Ciri yang paling menyedihkan adalah dipakainya cara kekerasan, baik secara
simbolik maupun fisik. Sikap seperti ini tidak hanya bertentangan dengan hukum
nasional, tetapi juga bertentangan dengan hak asasi manusia. Padahal, dalam
agama Islam sendiri dilarang.
Akar masalahnya apa?
Pertama, muncul dari paradigma berpikir yang dibentuk oleh tafsir yang literal.
Contohnya, dalam kelompok garis keras itu masih percaya orang Yahudi atau
Nasrani itu tidak akan berhenti sebelum kamu masuk agamanya mereka. Nah, kalau
tafsirnya literal tekstual, jelas akan membentuk sikap garis keras apalagi jika
ini kemudian menjadi pola pikir (mindset).
Faktor kedua yang juga mendorong munculnya kelompok ini adalah masyarakat yang
tanpa hukum, krisis ekonomi yang berkepanjangan, dan ketidakpastian politik
sehingga kelompok garis keras melihat hukum yang tak berjalan ini perlu diganti
dengan syariah sebagai alternatif. Ini dilihat mereka sebagai obat mujarab yang
bisa dipakai untuk menyelesaikan semua masalah.
Apakah juga karena faktor paradoks globalisasi?
Ya, secara struktural adanya ketakadilan politik global, terutama di Timur
Tengah, khususnya krisis Israel dan Palestina, serta sikap standar ganda AS.
Globalisasi, dalam satu segi positif. Namun, pada saat yang sama juga
menyebabkan hal yang negatif. Di antaranya, terjadinya alienasi terhadap
masyarakat, yang kemudian menimbulkan resistensi yang tinggi. Terutama karena
kita melihat adanya ketidakadilan global, pendapatan, kontribusi dalam
diskursus.
Pada saat yang sama agama tidak muncul sebagai solusi, tetapi menjadi sarana
pelarian dari persoalan. Kelompok garis keras ini ingin segera keluar dari
masalah dan mencari jawaban di agama dan membentuk resistensi diri yang
memperkuat identitas diri yang hanya memperkuat keakuannya dan menghilangkan
keberagaman.
Bagaimana cara menjembatani dua kelompok itu?
Munculnya kelompok-kelompok progresif-liberal, seperti Jaringan Intelektual
Muda Muhammadiyah, Jaringan Islam Liberal (JIL), karena melihat cara-cara garis
keras tidak benar.
Persoalannya, apa yang dilakukan teman-teman di JIL ini memang
mendekonstruksikan semua hal dalam Islam.
Dekonstruksi terhadap syariat, dekonstruksi terhadap teks, pada beberapa aspek
memang menghasilkan hal yang positif karena mengembangkan diskursus, tetapi
pada level di masyarakat bawah menjadi shock.
Kritik saya, sebagai sesama pendukung Islam progresif-liberal, adalah dalam
melakukan dekonstruksi kurang diimbangi oleh metodologi yang kuat. Yang
dilakukan hanyalah dekonstruksi, tetapi tidak diiringi dengan rekonstruksi.
Makanya, saya lebih senang menggunakan istilah pluralisme. Dalam Islam sendiri,
pluralisme diberikan tempat. Ada Syiah, Sunni, dan sebagainya.
Pendidikan pluralisme
Syafiâ?Ti Anwar percaya, untuk mengubah pola pikir masyarakat tentang keragaman
keberagamaan, solusinya adalah pendidikan pluralisme dan multikulturalisme di
sekolah-sekolah.
Usulan pendidikan pluralisme itu berasal dari sambutannya di Regional
Conference yang diselenggarakan ICIP bekerja sama dengan Uni Eropa pada 25-28
November 2004.
Terlebih lagi ide tersebut sejalan dengan Deklarasi Bali tentang Membangun
Kerukunan Antar-agama dalam Komunitas Internasional dari 174 tokoh Asia-Eropa
yang mengikuti dialog antar-agama 21 Juli 2005. Dalam deklarasi itu diusulkan
antara lain membuat kurikulum di sekolah lanjutan mengenai studi antar-agama,
yang dimaksudkan untuk menumbuhkan pemahaman dan saling menghormati
antarpemeluk agama yang berbeda-beda.
Bagaimana menyatukan di dalam semangat pluralisme jika di masing-masing
kelompok itu saling melecehkan?
Menurut saya, solusi yang paling jitu adalah melalui pendidikan pluralisme dan
multikulturalisme. Hanya melalui pendidikanlah orang bisa mengubah mindset-nya.
Saya percaya betul dengan pendidikan pluralisme. Namun, karena psikologi
masyarakat Indonesia, untuk membicarakan level teologi akan lebih baik jika
sudah masuk SMA atau perguruan tinggi. Yang terutama diajarkan adalah sejarah
agama- agama. Saya kira orang yang tahu sejarah agama-agama tidak akan pernah
menjadi radikal.
Itulah yang sedang dikerjakan oleh ICIP, seperti membuat program di televisi
tentang dialog antar-agama. Juga pendidikan jurnalistik pluralisme.
Masa depan pluralisme dan multikulturalisme di Indonesia seperti apa?
Tidak selayaknya orang Islam mengklaim mayoritas karena sejak awalnya, masuknya
Islam ke Indonesia melalui dakwah kultural, tak melakukan pendekatan yang
mengutamakan syariah. Bahkan, unsur sufisme, tasawuf, sangat besar dalam
mengembangkan Islam di Indonesia karena Islam harus beradaptasi dengan kultur
lokal. Harus beradaptasi dengan kepercayaan- kepercayaan dan kebijaksanaan
lokal (local wisdom) lainnya.
Karena itulah, kalau kemudian Islam menjadi mayoritas, tidak selayaknya mereka
menilai rendah kepada minoritas. Nah, itu yang harus disadari. Karena itulah,
di Indonesia yang menjadi negara dengan mayoritas Muslim tidak selayaknya
menekan minoritas.
Sayangnya, dakwah Wali Songo yang terbukti dalam sejarah berhasil menyebarkan
Islam melalui kultural harusnya menjadi contoh. Bagaimana Sunan Kalijaga
memasukkan unsur Islam dalam cerita pewayangan. Tentu itu harus bisa dijadikan
pengalaman berharga dalam melakukan dakwah.
Bagaimana prospek politik Islam Indonesia ke depan?
Dari Pemilu 1999, ternyata mereka yang menggaungkan partai Islam terpuruk, di
Pemilu 2004 juga menurun. Kecuali Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang naik,
tetapi tidak membawa isu Islam secara spesifik.
PKS menggunakan semboyan kampanye bersih dan peduli. PKS bagus organisasinya,
selain pengurusnya banyak menjunjung moral. Tidak menerima sogokan, mereka
menonjol di tengah partai sekuler yang banyak korup.
Namun, harus dicatat, mampukah PKS tidak memperjuangkan syariah? Kalau itu
diperjuangkan, mereka akan kehilangan dukungan lagi. Saya khawatir PKS akan
seperti PAS (Partai Islam Semalaysia) di Malaysia.
Saya mengharapkan partai Islam itu inklusif, pluralis, terbuka. PKS itu punya
potensi untuk inklusif, mereka berpendidikan, bisa diajak dialog, serta punya
modal dan keinginan untuk maju.
Fundamentalisme itu dalam istilah adalah ideologi luar pagar. Ketika masuk
pemerintahan, mereka akan akomodatif. Masyarakat Indonesia itu sangat plural.
Kalau memaksakan kehendak, akan menghancurkan dan menimbulkan konflik yang luar
biasa.
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/30/Politikhukum/1937374.htm
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12he355oh/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122680686/A=2896129/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail">DonorsChoose.
A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in
public schools. Fund a student project in NYC/NC today</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] AnwarM Syafi'i dan Obsesi Pluralisme