[ppi] [ppiindia] AnwarM Syafi'i dan Obsesi Pluralisme

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com ** 
AnwarM Syafi'i  dan Obsesi Pluralisme 
Oleh: SUBUR TJAHJONO dan IMAM PRIHADIYOKO



Wacana pluralisme kini kembali memperoleh relevansinya dengan terjadinya 
berbagai peristiwa yang mengganggu hubungan antarpenganut agama-agama di 
Indonesia. Namun, pluralisme sering dipahami secara salah dengan menganggap 
menyamakan semua pandangan agama-agama yang berbeda.

Itu salah besar. Pluralisme itu mengakui keberagamaan orang lain, tanpa harus 
setuju. Selain itu, yang terpenting, bukan sekadar menjadi toleran, melainkan 
menghormati ajaran agama orang lain. Dan sadar betul bahwa keberagamaan orang 
lain itu bagian yang sangat fundamental dan inheren dengan hak asasi manusia, 
kata M Syafi'i Anwar (52), seorang intelektual Muslim yang sejak lama bergelut 
dengan pluralisme.

Syafi'i Anwar mengkhawatirkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang 
mengharamkan pluralisme bisa ditafsirkan lain di masyarakat bawah. Hal ini pada 
gilirannya akan mengganggu hubungan antarpenganut agama-agama.

Konsep pluralisme yang tidak sekadar toleransi, tetapi lebih menuju kepada 
penghormatan (respect) kepada yang lain (the others), diakui Syafiâ?Ti misalnya 
dikemukakan Klaus-Jurgen Hedrich, salah seorang tokoh Partai CDU (Christian 
Democratic Union) Jerman Barat yang juga mantan Wakil Menteri Kerja Sama 
Ekonomi dan Pembangunan.

Pendapat Klaus ini saya setujui sepenuhnya. Namun, Islam sendiri sebetulnya 
juga mengajarkan pluralisme, ujar pria kelahiran Kudus, Jawa Tengah, 27 
Desember 1953, itu.

Akan tetapi, kegiatan untuk memperjuangkan pluralisme tersebut bukannya tanpa 
hambatan. Ketika memimpin jurnal Ulumul Quran darah saya pernah dihalalkan oleh 
sekelompok radikal yang meminta mencabut tulisan Cak Nur (Nurcholish Madjid), 
tuturnya kepada Kompas pekan ini.

Warga Muhammadiyah ini sekarang menjadi Direktur Eksekutif International Centre 
for Islam and Pluralism (ICIP), lembaga yang mendorong dan mempromosikan 
pluralisme, toleransi, hak asasi manusia, dan demokrasi.

Di tengah kesibukannya memimpin ICIP, sejak tahun 1999, Syafi'i An`war 
menyelesaikan studi S-3 di Universitas Melbourne, Australia, dan lulus tahun 
2005. Ia menulis disertasi berjudul Negara dan Islam Politik di Indonesia: 
Sebuah Studi Politik Negara dan Perilaku Politik Pemimpin Muslim Modernis di 
Bawah Rezim Orde Baru Soeharto 1966-1998â??.

Disertasi itu berfokus pada berbagai perilaku politik para pemimpin Muslim 
modernis dalam merespons kebijakan negara di bawah rezim Orde Baru.

Ada dua kelompok Islam yang bisa bertolak belakang satu sama lainnya, yakni 
progresif-liberal, dan puritanisme-konservatif. Bagaimana pendapat Anda?

Munculnya kelompok liberal ini sebagai reaksi dari keberadaan kelompok Islam 
garis keras. Kelompok garis keras ini dicirikan dengan sikap yang menafsirkan 
segalanya dengan literal tekstual.

Ciri yang paling menyedihkan adalah dipakainya cara kekerasan, baik secara 
simbolik maupun fisik. Sikap seperti ini tidak hanya bertentangan dengan hukum 
nasional, tetapi juga bertentangan dengan hak asasi manusia. Padahal, dalam 
agama Islam sendiri dilarang.

Akar masalahnya apa?

Pertama, muncul dari paradigma berpikir yang dibentuk oleh tafsir yang literal. 
Contohnya, dalam kelompok garis keras itu masih percaya orang Yahudi atau 
Nasrani itu tidak akan berhenti sebelum kamu masuk agamanya mereka. Nah, kalau 
tafsirnya literal tekstual, jelas akan membentuk sikap garis keras apalagi jika 
ini kemudian menjadi pola pikir (mindset).

Faktor kedua yang juga mendorong munculnya kelompok ini adalah masyarakat yang 
tanpa hukum, krisis ekonomi yang berkepanjangan, dan ketidakpastian politik 
sehingga kelompok garis keras melihat hukum yang tak berjalan ini perlu diganti 
dengan syariah sebagai alternatif. Ini dilihat mereka sebagai obat mujarab yang 
bisa dipakai untuk menyelesaikan semua masalah.

Apakah juga karena faktor paradoks globalisasi?

Ya, secara struktural adanya ketakadilan politik global, terutama di Timur 
Tengah, khususnya krisis Israel dan Palestina, serta sikap standar ganda AS.

Globalisasi, dalam satu segi positif. Namun, pada saat yang sama juga 
menyebabkan hal yang negatif. Di antaranya, terjadinya alienasi terhadap 
masyarakat, yang kemudian menimbulkan resistensi yang tinggi. Terutama karena 
kita melihat adanya ketidakadilan global, pendapatan, kontribusi dalam 
diskursus.

Pada saat yang sama agama tidak muncul sebagai solusi, tetapi menjadi sarana 
pelarian dari persoalan. Kelompok garis keras ini ingin segera keluar dari 
masalah dan mencari jawaban di agama dan membentuk resistensi diri yang 
memperkuat identitas diri yang hanya memperkuat keakuannya dan menghilangkan 
keberagaman.

Bagaimana cara menjembatani dua kelompok itu?

Munculnya kelompok-kelompok progresif-liberal, seperti Jaringan Intelektual 
Muda Muhammadiyah, Jaringan Islam Liberal (JIL), karena melihat cara-cara garis 
keras tidak benar.

Persoalannya, apa yang dilakukan teman-teman di JIL ini memang 
mendekonstruksikan semua hal dalam Islam.

Dekonstruksi terhadap syariat, dekonstruksi terhadap teks, pada beberapa aspek 
memang menghasilkan hal yang positif karena mengembangkan diskursus, tetapi 
pada level di masyarakat bawah menjadi shock.

Kritik saya, sebagai sesama pendukung Islam progresif-liberal, adalah dalam 
melakukan dekonstruksi kurang diimbangi oleh metodologi yang kuat. Yang 
dilakukan hanyalah dekonstruksi, tetapi tidak diiringi dengan rekonstruksi.

Makanya, saya lebih senang menggunakan istilah pluralisme. Dalam Islam sendiri, 
pluralisme diberikan tempat. Ada Syiah, Sunni, dan sebagainya.

Pendidikan pluralisme

Syafiâ?Ti Anwar percaya, untuk mengubah pola pikir masyarakat tentang keragaman 
keberagamaan, solusinya adalah pendidikan pluralisme dan multikulturalisme di 
sekolah-sekolah.

Usulan pendidikan pluralisme itu berasal dari sambutannya di Regional 
Conference yang diselenggarakan ICIP bekerja sama dengan Uni Eropa pada 25-28 
November 2004.

Terlebih lagi ide tersebut sejalan dengan Deklarasi Bali tentang Membangun 
Kerukunan Antar-agama dalam Komunitas Internasional dari 174 tokoh Asia-Eropa 
yang mengikuti dialog antar-agama 21 Juli 2005. Dalam deklarasi itu diusulkan 
antara lain membuat kurikulum di sekolah lanjutan mengenai studi antar-agama, 
yang dimaksudkan untuk menumbuhkan pemahaman dan saling menghormati 
antarpemeluk agama yang berbeda-beda.

Bagaimana menyatukan di dalam semangat pluralisme jika di masing-masing 
kelompok itu saling melecehkan?

Menurut saya, solusi yang paling jitu adalah melalui pendidikan pluralisme dan 
multikulturalisme. Hanya melalui pendidikanlah orang bisa mengubah mindset-nya. 
Saya percaya betul dengan pendidikan pluralisme. Namun, karena psikologi 
masyarakat Indonesia, untuk membicarakan level teologi akan lebih baik jika 
sudah masuk SMA atau perguruan tinggi. Yang terutama diajarkan adalah sejarah 
agama- agama. Saya kira orang yang tahu sejarah agama-agama tidak akan pernah 
menjadi radikal.

Itulah yang sedang dikerjakan oleh ICIP, seperti membuat program di televisi 
tentang dialog antar-agama. Juga pendidikan jurnalistik pluralisme.

Masa depan pluralisme dan multikulturalisme di Indonesia seperti apa?

Tidak selayaknya orang Islam mengklaim mayoritas karena sejak awalnya, masuknya 
Islam ke Indonesia melalui dakwah kultural, tak melakukan pendekatan yang 
mengutamakan syariah. Bahkan, unsur sufisme, tasawuf, sangat besar dalam 
mengembangkan Islam di Indonesia karena Islam harus beradaptasi dengan kultur 
lokal. Harus beradaptasi dengan kepercayaan- kepercayaan dan kebijaksanaan 
lokal (local wisdom) lainnya.

Karena itulah, kalau kemudian Islam menjadi mayoritas, tidak selayaknya mereka 
menilai rendah kepada minoritas. Nah, itu yang harus disadari. Karena itulah, 
di Indonesia yang menjadi negara dengan mayoritas Muslim tidak selayaknya 
menekan minoritas.

Sayangnya, dakwah Wali Songo yang terbukti dalam sejarah berhasil menyebarkan 
Islam melalui kultural harusnya menjadi contoh. Bagaimana Sunan Kalijaga 
memasukkan unsur Islam dalam cerita pewayangan. Tentu itu harus bisa dijadikan 
pengalaman berharga dalam melakukan dakwah.


Bagaimana prospek politik Islam Indonesia ke depan?

Dari Pemilu 1999, ternyata mereka yang menggaungkan partai Islam terpuruk, di 
Pemilu 2004 juga menurun. Kecuali Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang naik, 
tetapi tidak membawa isu Islam secara spesifik.

PKS menggunakan semboyan kampanye bersih dan peduli. PKS bagus organisasinya, 
selain pengurusnya banyak menjunjung moral. Tidak menerima sogokan, mereka 
menonjol di tengah partai sekuler yang banyak korup.

Namun, harus dicatat, mampukah PKS tidak memperjuangkan syariah? Kalau itu 
diperjuangkan, mereka akan kehilangan dukungan lagi. Saya khawatir PKS akan 
seperti PAS (Partai Islam Semalaysia) di Malaysia.

Saya mengharapkan partai Islam itu inklusif, pluralis, terbuka. PKS itu punya 
potensi untuk inklusif, mereka berpendidikan, bisa diajak dialog, serta punya 
modal dan keinginan untuk maju.

Fundamentalisme itu dalam istilah adalah ideologi luar pagar. Ketika masuk 
pemerintahan, mereka akan akomodatif. Masyarakat Indonesia itu sangat plural. 
Kalau memaksakan kehendak, akan menghancurkan dan menimbulkan konflik yang luar 
biasa.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/30/Politikhukum/1937374.htm


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12he355oh/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122680686/A=2896129/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>DonorsChoose.
 A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in 
public schools. Fund a student project in NYC/NC today</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: