[ppi] [ppiindia] Antara Kambing Hitam dan Mimpi Inlanders

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
http://www.oposisionline.com/php/news.php?newsid=61

Republik Maluku Selatan
Antara Kambing Hitam dan Mimpi Inlanders

      Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) sebenarnya kelanjutan dari 
pertentangan antara golongan nasionalis-republikein dan golongan federalis 
ekstrim yang berkembang sejak tahun 1946. Pemberontakan ini juga bagian dari 
pemberontakan di Makassar, sejak pemberontakan Andi Azis pada awal bulan April 
1950. 
--------------------------------------------------------------------------

     

      Inti pemberontakan RMS ialah usaha mempertahankan secara ekstrim ide 
federalisme melalui perjuangan bersenjata. Pemberontakan ini melibatkan 
kesatuan-kesatuan KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger--Tentara Kerajaan 
Hindia Belanda-red) di Ambon. Sebenarnya ada segi lain dari peristiwa ini, 
yaitu tindakan indisipliner dari kesatuan-kesatuan KNIL.

      Peralihan ke pemerintahan Indonesia yang berwujud RIS, menimbulkan 
ketegangan pada pegawai-pegawai negeri di daerah ini. Lantaran di Ambon juga 
terdapat pihak-pihak yang pro-Republik dan pihak-pihak yang pro-Belanda. 
Ditambah lagi, tiadanya suatu badan yang dapat mengatasi ketegangan-ketegangan 
secara damai. Di antara pihak-pihak yang bertentangan, terdapat 
organisasi-organisasi pemuda semi militer (laskar-laskar) yang sewaktu-waktu 
bisa menimbulkan bentrok-bentrokan fisik.

      Dalam keadaan yang demikian kehidupan masyarakat tidak aman. Apalagi bila 
diingat bahwa masyarakat Ambon sejak dahulu hidup dalam semacam dualisme. Pada 
suatu pihak terdapat orang-orang yang mengikuti keyakinan Kristen. Pada 
masa-masa sebelumnya keadaan tersebut tidak terlalu dirasakan sebagai suatu 
dualisme karena rupanya ada usaha-usaha dari pemerintah Belanda untuk mencegah 
pertentangan yang nyata antara kedua belah pihak. Tapi, sejak zaman Jepang dan 
Proklamasi Kemerdekaan, perbedaan ini mulai nyata.

      Banyak orang Islam yang masuk ke Partai Indonesia Merdeka (PIM) dan 
berjuang bersama orang-orang Kristen di dalamnya. Golongan Kristen yang 
menentang mereka tergabung dalam organisasi "Gabungan Sembilan Serangkai dan 
Persatuan Timur Besar".

      Pada awal tahun 1950 kesatuan-kesatuan KNIL dari suku Ambon dipindahkan 
ke Ambon. Ditambah dengan kesatuan-kesatuan yang sudah ada di Ambon, jumlah 
mereka mencapai 2000 orang lebih. Namun yang lebih penting lagi, di antara 
mereka ada kesatuan komando "Baret Merah dan Baret Hijau" yang berkemampuan 
tempur tinggi. Mereka juga merupakan kesatuan KNIL yang paling mengalami 
indoktrinasi sebagai pengawal kolonialisme Belanda paling tangguh. Mereka sama 
sekali tak dapat membayangkan bahwa suatu waktu Indonesia akan diperintah oleh 
orang pribumi. Dalam keadaan mental demikian, taklah mengherankan, mengapa 
terjadi perkelahian-perkelahian antara mereka dengan golongan yang berpaham 
nasionalisme.

      Pembunuhan-pembunuhan dan penganiayaan banyak dialami oleh tokoh-tokoh 
dan anggota-anggota organisasi-organisasi nasionalis. Selain KNIL, terdapat 
pula kesatuan Polisi Negara ciptaan Dr Soumokil dengan mental dan 
tindakan-tindakan yang sama. Situasi itu sangat menguntungkan Soumokil sewaktu 
tiba di Ambon.

      RMS Berdiri

      Pemberontakan RMS adalah peristiwa berdirinya Republik Maluku Selatan 
yang mencoba lepas dari Negara Indonesia Timur (NIT). Peristiwa terjadi di 
Ambon, 25 April 1950, oleh orang-orang bekas KNIL dan pro-Belanda di bawah 
pimpinan Mr. Dr. Ch. R. Soumokil, bekas Jaksa Agung Negara Indonesia Timur. 
Terbentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS) yang diikuti pembentukan Angkatan 
Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) telah menimbulkan masalah, terutama 
dari tentara KNIL yang tidak bersedia bergabung dengan Tentara Nasional 
Indonesia (TNI) sebagai pasukan inti APRIS. 

      Soumukil yang memimpin gerakan separatis ini telah mempersiapkan secara 
matang "Proklamasi RMS" dengan memindahkan pasukan KNIL dan pasukan Baret Hijau 
yang terlibat pemberontakan Andi Azis ke Ambon. Maka pada 25 April 1950, mereka 
mengumumkan berdirinya Republik Maluku Selatan, setelah sebelumnya melakukan 
teror dan pembunuhan.

      Pemerintah Pusat mencoba menyelesaikan peristiwa dengan mengirim misi 
yang diketuai Dr. Leimena. Pengiriman misi berdasar hasil Konferensi Maluku di 
Semarang, 13 Juli tahun itu juga. Konferensi ini diikuti para politikus asal 
Ambon yang menganjurkan agar dikirim misi perdamaian ke Ambon yang terdiri dari 
para politikus, pendeta, dokter dan wartawan. Rupanya, misi damai itu dianggap 
gagal, sehingga pemerintah memutuskan untuk menumpas pemberontakan dengan 
kekuatan senjata.

      Pemerintah lantas membentuk sebuah pasukan di bawah pimpinan Kolonel A.A 
Kawilarang. Tanggal 14 Juli 1950, pasukan Expedisi APRIS/TNI mulai melakukan 
penumpasan di pos-pos penting RMS yang memusatkan kekuatan pasukannya di Pulau 
Seram dan Ambon. Selain di darat RMS menguasai perairan laut Maluku Tengah 
dengan memblokade dan menghancurkan kapal-kapal kecil milik pemerintah. 
Akhirnya, setelah melalui pertempuran-pertempuran sengit, pada tanggal 18 
November kota Ambon dapat dikuasai pasukan-pasukan APRIS.

      Setelah APRIS berhasil merebut kota Ambon dan menangkap tokoh mereka yang 
terlibat, sisa-sisa pasukan RMS yang masih ada melarikan diri ke hutan-hutan 
dan untuk beberapa tahun lamanya melakukan kegiatan pengacauan. Soumokil yang 
berhasil menyelamatkan diri, pada tahun 1962 berhasil ditangkap dan dijatuhi 
hukuman mati, 12 April 1964.

      Mitos RMS

      Sesungguhnya anggapan bahwa masyarakat Maluku di Belanda merupakan 
?sarang RMS? adalah mitos besar. RMS sudah lama mati di Maluku, sedang gerakan 
dan kegiatan RMS di Belanda lama-kelamaan menjadi semacam "dokumen hidup" dan 
ritual politik. RMS di Belanda, makin berkurang popularitas maupun dukungan 
aktifnya. Dinamika Eropa dan Belanda menciptakan warna warni politik. Namun, 
perubahan Indonesia pasca 1998 dan perang saudara di Maluku Utara dan Ambon 
sejak 1999, membawa dampak besar. Pertumpahan darah itu melukai masyarakat 
Maluku di Belanda.

      Komunikasi meningkat antara pemuka gereja, masjid dan aktivis LSM di 
Belanda dan Indonesia untuk meningkatkan upaya perdamaian dan rekonsiliasi. 
Namun ada kekhawatiran, segelintir pemuda Maluku yang radikal bisa kehilangan 
kesabaran. Yang terpenting sekarang adalah perdamaian dan rekonsiliasi di 
Maluku, bukan RMS, demikian konsensus komunitas Maluku di Belanda, termasuk 
kalangan RMS sendiri. Dengan demikian gravitasi atau bobot perhatian mulai 
beralih ke Maluku sendiri. Dulu RMS berpretensi menjadi semacam pelopor atau 
perintis bagi rakyat Maluku di Maluku. Kini, untuk pertama kali, mereka 
menyadari bahwa masa depan Maluku berada di tangan masyarakat Maluku di 
Indonesia. (Sarat Dinamika Emosi 50 tahun Masyarakat Maluku Di Belanda, 
Aboeprijadi Santoso)

      Di sisi lain muncul ketakutan dan prasangka yang berlebihan dari pihak 
Indonesia terhadap orang-orang Maluku di Belanda. Menurut Wiem Manuhutu 
Direktur Museum Maluku di Belanda, ada suatu gambaran yang terbatas dan 
prasangka yang salah tentang masyarakat Maluku di Belanda. Masyarakat Maluku 
sekarang sangat majemuk. Dan persepsinya tentang RMS sendiri berbeda-beda. 
Memang ketika datang di Belanda, mayoritas dari mereka adalah bekas anggota 
KNIL. Tetapi tidak semuanya RMS, tidak semuanya orang-orang yang berpolitik dan 
tergolong RMS seperti dalam gambaran di Indonesia. (Tidak Semua Warga Maluku Di 
Belanda Pendukung RMS, Radio Nederland di Hilversum, 21 Maret 2001)

      RMS dan Kondisi Maluku Saat ini

      Saat ini, terutama sejak pecah Prahara 19 Januari 1999 (kerusuhan antara 
warga kampung Batumerah Atas --Kariu, Aboru, Oma, Halalu-- dan Batumerah Bawah 
--Kailolo, Pelau, One, Kabau-- di Kota Madya Ambon, hari pertama Idul Fitri. 
Kerusuhan ini memicu pembentukan Kodam XVI/Pattimura, 15 Mei --red), nama 
Republik Maluku Selatan kembali mencuat dan disebut sebut sebagai dalang dari 
tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah manusia modern itu.

      Republik Maluku Selatan kemudian diidentikkan dengan Kristen atau 
Republik Maluku Sarani. Artinya bahwa Kristen Maluku adalah RMS. Padahal, 
sesuai fakta sejarah, tahun 1960, Gereja Protestan Maluku (GPM) ikut merespon 
penolakan seluruh rakyat Maluku melalui pesan tobat. Langkah ini diambil karena 
GPM sungguh menyadari keberadaan RMS ditolak seluruh rakyat Maluku. Dengan 
demikian mengidentikkan kalangan Kristen dengan Republik Maluku Selatan 
sebetulnya merupakan stigma yang sangat merugikan kalangan Kristen di Maluku. 
Stigmatisasi itu pelan-pelan mulai luntur setelah penandatanganan Perjanjian 
Maluku di Malino awal 2002 lalu.

      Presiden RMS Dr Soumokil yang berada di Kairatu, ketika itu juga menerima 
pesan tobat GPM yang diantar oleh Pendeta Dr. Piet Tanamal dkk. Inti pesan 
tobat yang diserukan GPM adalah ikrar menyahuti masalah-masalah di Maluku. 
Pokok pertobatan itu sebagai usaha badan tertinggi gereja sinodal (muktamar 
gereja-red) guna mengambil langkah berdiri sebagai gereja Tuhan yang 
memberitakan kedamaian, keadilan (Sejarah Maluku, J. Pattikayhatu).

      Banyak orang percaya bahwa RMS hanyalah sebuah upaya mencari kambing 
hitam, ketika pemerintah tak mampu menangani konflik dan kekerasan yang 
berkecamuk di masyarakat.

      Banyak pihak percaya bahwa isu RMS sengaja diangkat untuk menghilangkan 
atau menghapus ingatan masyarakat terhadap keterlibatan aparat negara dalam 
konflik dan kekerasan di Maluku, selama tahun 1999 sampai tahun 2002. RMS 
bersama-sama Forum Kedaulatan Maluku, sengaja dijadikan kambing hitam. Isu RMS 
menjadi kenyataan yang sengaja digembar-gemborkan saat konflik di Maluku, 
sehingga menjadi dalih dan legitimasi gerakan dan pengamanan aparat keamanan di 
Maluku yang diboncengi oleh kelompok tertentu. Isu FKM/RMS juga dipercaya 
banyak kalangan sebagai sarana untuk melegitimasi peran TNI dalam Komando 
Operasi Pemulihan Keamanan di Maluku. (Sammy Supit: Berpolitik Perlu 
Perjuangan, silutlink.com, April 18, 2004)

      Bagi orang Maluku, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah 
keputusan final. Maluku adalah satu dari delapan provinsi yang mula-mula 
mendirikan Republik Indonesia. Maka kalau ada yang ingin merdeka, maka 
kemedekaan masyarakat dalam NKRI.

      Jadi pemerintah tak perlu ragu terhadap komitmen nasionalisme orang 
Maluku. Karena sejak tahun 1928, Jong Ambon sudah menyatakan komitmennya dalam 
Sumpah Pemuda. Lebih dari itu, orang Maluku masih tetap mengenang ucapan Bung 
Karno di Kota Masohi Maluku Tengah, tahun 1950-an. "Indonesia tanpa Maluku 
bukan Indonesia. Maluku tanpa Indonesia bukan Maluku." [ ]

        
      Penulis : Dino F. Umahuk
      Jurnalis dan Sastrawan, tinggal di Ambon
      Tanggal publikasi : 2004-04-26 02:57:58
      Berita ini telah 8 kali dibaca
            Nilai Artikel:   
            3   
            Ikut menilai:  5 ^ 4 3 2 1     
     

Kolom lainnya:
Antara Kambing Hitam dan Mimpi Inlanders
Belajar Menerima Kekalahan dalam Pemilu 2004
Capres Sungguh-sungguh vs Jadi-jadian
Bharata Yudha 2004

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com.  Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts:

  • » [ppi] [ppiindia] Antara Kambing Hitam dan Mimpi Inlanders