[ppi] [ppiindia] 'Anak Cucu Naga' Merusak Sungai
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Fri, 30 Sep 2005 22:16:25 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.indomedia.com/bpost/102005/1/opini/opini1.htm
'Anak Cucu Naga' Merusak Sungai
Oleh:
Ahmad Barjie B
BPost edisi Sabtu 24 Sepetember 2005 menurunkan tulisan Marko Mahin berjudul
'Menunggu Naga Di Sungai Martapura'. Sebagai pengajar Agama-Budaya Dayak di
Sekolah Tinggi Teologi GKE dan Antropologi di FKIP Unlam, bung Marko memang pas
dan kompeten menyoal misteri naga secara mitologis dan antropologis. Saya
tertarik menanggapi dan menyambung tulisan Marko, karena menurut saya, mitos
naga penting direaktualisasi sekarang. Tidak saja dalam bentuk seremoni lomba
jukung hias atau atraksi perahu naga yang marak digelar Pemko Banjarmasin
bersama BPost dan sponsor lain dalam rangkaian hari jadi kota, tetapi lebih
daripada itu. Naga harus lebih dihargai dari sisi esensi.
Diceritakan Marko, paling tidak ada tiga etnis yang sangat berkaitan dengan
mitos naga, yaitu Cina, Banjar dan Dayak. Pertama, etnis Cina (Tionghoa) paling
dominan dalam urusan mitologi naga. Dalam budaya Cina, naga merupakan makhluk
legendaris yang menakjubkan. Ia ruh atau dewa air yang selalu membasahi bumi,
bahkan ada kalangan etnis Cina beranggapan mereka adalah keturunan atau titisan
naga. Itu sebabnya, untuk menghormatinya ada Tahun Naga dalam penanggalan
Imlek. Dapat ditambahkan dalam rangkaian Hari Raya Peh Tjun (Twan), terdapat
lomba perahu naga (Peh Liong Tjun) yang ditandai dengan bergembira di sungai,
pinggir pantai, makan-makan, bernyanyi, menari, bermain catur sambil menikmati
atau ikut lomba perahu naga. Selain tempat ibadah (klenteng) yang berhias naga,
berbagai produk kerajinan tempo dulu seperti tembikar, keramik dan sejenisnya
hampir selalu berhias naga. Hingga kini barang antik seperti itu bernilai
historis, magis dan berharga tinggi.
Kedua, etnis Banjar dalam mitos klasik adalah keturunan Putri Junjung Buih
(istri Pangeran Suryanata) titisan dari Jata, makhluk misterius penguasa alam
bawah air. Ia adalah naga penyangga bumi. Di balik riak dan gelombang, di situ
Jata bertahta. Jata merupakan naga utama, dan punya bawahan sejumlah naga lain.
Apabila Jata marah dan menggeliat, bisa terjadi gempa bumi, banjir dan bencana
lain. Cuma misteri naga di kalangan etnis Banjar juga dicampur dengan misteri
buaya kuning, datu dan ikan Nun yang pernah menelan dan menyelamatkan Nabi
Yunus. Ikan Nun dipercaya sekarang tetap ada dan menyangga bumi. Bila ia
menggeliat, walau sekadar menggerakkan ekor karena kecapean, akan terjadi
gempa. Bila penghuni bumi (manusia) gemar bermaksiat, beban bumi semakin berat.
Saat terjadi gempa dan tsunami Aceh, ada orang tua berpendapat itu adalah
geliatnya ikan Nun.
Ketiga, suku Dayak, terutama Dayak Ngaju di Kalteng menurut Marko juga memiliki
misteri naga. Konon di Sungai Katingan ada seseorang yang berubah menjadi naga
bernama Naga Andoh, dan di Sungai Kahayan juga ada seseorang menjelma menjadi
naga dengan nama Naga Tambing. Pulau Nusa Tambing dekat Tumbang Nusa, dipercaya
berasal dari bangkai naga yang mati karena menggigit dirinya sendiri yang
semula dikira musuh.
Dari tiga mitos di atas dapat disimpulkan, ketiga etnis; Cina, Banjar dan Dayak
merupakan keturunan 'naga'. Naga tersebut merupakan penghuni alam bawah air,
yaitu sungai, delta, telaga, rawa dan berbagai daerah berair. Sungai yang dalam
(Banjar: lu-uk) merupakan tempat naga senang bersarang dan hidup dengan tenang.
Menjadi menarik dipertanyakan sekarang: Masihkah anak cucu ketiga suku
keturunan naga ini setia kepada leluhurnya? Dengan rusaknya sungai sekarang,
tidakkah itu berarti mereka telah merusak kediaman dan tempat pertapaan
leluhur? Mempersoalkan suku di sini tentu bukan menghidupkan SARA, tetapi
semata untuk renungan dan kebaikan bersama.
Semakin tidak peduli
Kita mulai dengan etnis Cina (Tionghoa). Walau asal muasal mereka di negeri
leluhur merupakan pekerja agraris, tetapi setelah merantau ke Indonesia
berabad-abad silam, lebih memilih bergerak di sektor perdagangan dan industri.
Termasuk yang berdomisili di Banjarmasin, sejak lama menggeluti sektor ekonomi
bisnis. Kampung Pecinan di Indonesia termasuk di Banjarmasin, identik dengan
kawasan bisnis. Konsekuensi profesi ini, etnis Tionghoa berlomba membangun
toko, rumah toko dan pusat bisnis. Bila kita amati di berbagai sudut kota dan
sepanjang Jl Jend Ahmad Yani, banyak sekali ruko milik etnis Tionghoa. Dengan
kemampuan keuangan yang lebih unggul, mereka mampu membeli tanah di tempat
strategis dan pinggir jalan raya, yang semuanya hampir selalu ada anak sungai
atau paritnya. Dari hari ke hari mereka makin agresif pula membangun mal dan
pusat belanja besar. Kondisi Banjarmasin yang sudah jenuh dengan pasar terus
diramaikan dengan pasar baru.
Sayang sekali bangunan itu banyak memakan daerah rawa yang semula berfungsi
sebagai serapan air. Hampir semuanya membangun dengan teknis uruk. Nyaris tidak
ada yang membangun dengan sistem rumah panggung seperti dulu disarankan Pemko
Banjarmasin dan Pemprop Kalsel, agar bisa menyerap air. Mengingat makin
meroketnya harga tanah, sungai semakin terdesak, baik sungai besar, kecil
maupun parit. Akibatnya, Banjarmasin semakin sering banjir. Hujan lebat
satu-dua jam saja sudah cukup membuat banjir di sana-sini, sebab tidak ada lagi
tempat air berlari.
Sama dan serupa dengan sikap etnis Banjar. Selain ikut berpacu membangun
perumahan, toko dan ruko, gudang dan pusat belanja, urang Banjar juga paling
ahli dalam mematikan sungai. Mula-mula mereka membangun rumah/gubuk di tepi
atau bantaran sungai, lalu sungai menjadi sempit. Di saat sama, mereka
menjadikan sungai sebagai tong sampah raksasa. Akhirnya secara berangsur sungai
menjadi mati. Maka Banjarmasin yang sempat berjuluk Kota Seribu Sungai, kini
mungkin hanya tinggal seratus atau sepuluh sungai yang masih berfungsi baik dan
lancar. Selebihnya sungai tidak kondusif lagi untuk dilayari, dan dijadikan
tempat mandi. Beberapa bulan lalu, rombongan Alvin Lie dari DPR-RI ingin
mengelilingi Banjarmasin lewat sungai karena tertarik menikmati kota sungai
ini. Tetapi setelah melihat kondisi sungai yang sangat jorok, ia membatalkan
niatnya. Ia heran mengapa ciri khas Banjarmasin sebagai kota sungai justru
dimatikan oleh penduduk Banjar sendiri. Dari ketiga etnis, barangkali hanya Day
ak yang masih tinggi kepeduliannya terhadap sungai.
Akumulasi antara kepentingan sebagian pengusaha dan masyarakat yang tidak ramah
terhadap sungai, akhirnya tidak sekadar membuat hilangnya fungsi dan keindahan
sungai, tetapi mengantar kepada kehidupan sosial ekonomi dan kesehatan yang
berat. Ratusan keluarga di sekitar tempat tinggal penulis menjerit, karena
sungai yang mereka tempati tidak lagi fungsional. Adanya bangunan raksasa
perbelanjaan di kawasan Jl Jend A Yani, membuat sungai mereka mati dan berhenti
mengalir. Ibu-ibu pedagang kecil yang biasanya menyisir rumah penduduk dengan
jukung tidak ada lagi, karena tidak ada tempat lewat. Pasang surut yang semula
menjadi harapan pembawa sirkulasi air tidak berjalan lagi. Airnya berbau dan
hitam pekat seperti oli (andai bisa jadi oli, tinggal dicabuk, mumpung BBM lagi
mahal). Ikan dan mikroba tidak sanggup hidup, sehingga limbah masyarakat lambat
hancur. Akibatnya masyarakat setempat tidak bisa lagi MCK di sungai tersebut.
Beban ekonomi mereka yang sudah susah bertambah berat,
karena setiap hari harus membeli air leding untuk MCK. Protes masyarakat
belum mendapat tanggapan memadai dari manajemen perusahaan. Padahal sekiranya
perusahaan mau menanganinya dengan alat berat, bukan manual, masalah ini masih
dapat diatasi, mumpung belum musim banjir. Kalau musim banjir, dampaknya makin
fatal. Kita tidak dapat lagi memprediksi, sebab saat aliran sungai masih
lancar, banjir menjadi langganan.
Tidak Sekadar Simbol
Sungai sesungguhnya sangat vital. Ia adalah aliran darah bagi kehidupan
masyarakat. Begitu aliran darah tersendat, otomatis mekanisme tubuh terganggu
dan akhirnya sakit. Rusaknya sungai sangat berisiko, tidak saja terhadap
lingkungan hidup, kesehatan, sanitasi dan keindahan, tetapi juga sosial
ekonomi. Baru sebagian kecil dari 700 ribu penduduk Kota Banjarmasin yang
berlangganan air PDAM. Selebihnya masih menggunakan air sungai untuk berbagai
keperluan, kecuali minum dan masak. Bahkan bagi yang sungainya relatif steril,
air sungai masih dapat diendapkan untuk dimasak.
Karena itu meski sudah terlambat, kita tetap berharap agar semua pihak baik
pemerintah, pengusaha maupun masyarakat benar-benar konsen dan punya komitmen
tinggi untuk memelihara sungai. Aruh dan atraksi budaya sungai yang digelar
saban tahun, sudah bagus karena itu bagian dari khazanah budaya. Tetapi
hendaknya dibarengi dengan pemaknaan esensi dan substansi sungai. BPost dan
media lain harus terus gencar melakukan publikasi dan pressure agar sungai di
kota ini tetap terjaga. Aparat harus betul-betul menegakkan aturan secara
konsisten dan tidak silau terhadap duit, sekiranya ada yang mau menyogok dengan
kompensasi rusak dan terdesaknya sungai. Fatwa MUI Kalsel tentang haramnya
merusak sungai dan membangun di bantaran sungai sudah positif, tetapi akan
lebih mengena jika juga disosialisasi oleh dai dan tokoh masyarakat.
Alangkah eloknya pejabat kota, pengusaha dan aktivis peduli lingkungan rajin
turun ke pelosok kota, memeriksa sungai lalu menindaklanjuti dan mengatasi
sungai yang bermasalah. Jangan hanya bangga melihat Sungai Martapura sambil
menyaksikan lomba jukung hias dan perahu naga. Sebab sungai di Banjarmasin
bukan hanya Sungai Martapura, tetapi ada ratusan anak sungainya yang kini
sekarat dan merana. Kerusakan sungai yang demikian parah cukup menjadi alasan
marahnya dewa naga dan penghuni alam bawah air. Tetapi yang kita takutkan dan
prihatinkan bukan amuk naga, karena itu hanya legenda. Melainkan rusaknya
sungai juga riskan membawa wabah penyakit, derita masyarakat dan banjir yang
akan menenggelamkan kota.
Pemerhati masalah kemasyarakatan, tinggal di Banjarmasin
e-mail: barjie_b@xxxxxxxxx
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] 'Anak Cucu Naga' Merusak Sungai