[ppi] [ppiindia] Aku Berdosa karena Tidak Korupsi

** ppi-india **
Republika
29 Jan. 2004

  
Aku Berdosa karena Tidak Korupsi


Oleh ALEX DINUTH

Suatu ungkapan yang kontradiktif namun menyentuh hati... "aku berdosa karena 
tidak pernah korupsi..." terkuak jelas di atas secarik kertas peninggalan 
kawanku Pak Budi (bukan nama sebenarnya) setelah ajal menjemputnya.
Walaupun tanpa alamat, aku yakin surat wasiat itu ditujukan terutama kepada 
keluarganya sendiri, karena memang kehidupan mereka susah sekali, hidupnya amat 
pas-pasan walaupun sebagai pensiunan pegawai negeri dengan jabatan terpandang.
Mantan pegawai tinggi itu meninggal dunia antara lain karena tak mampu lagi 
membiayai harga obat dan rumah sakit, sedangkan keinginan putra-putrinya untuk 
memasuki perguruan tinggi juga gagal karena ketiadaan dana. Padahal kawan 
seangkatan dia yang dulu rajin "bermain" kehidupan mereka sekarang, masih 
gemerlap dan makmuir berkecukupan.
Anehnya ada saja orang yang menuding Pak Budi sebagai si tolol, si sok jujur, 
"itu salahnya sendiri, kurang memanfaatkan kesempatan yang datangnya cuma 
sekali, itu sudah garis tangannya", dsb.
Memang di masa aktif dulu, Pak Budi punya jabatan, punya kuasa, punya wewenang 
dan kesempatan luas untuk korupsi. Tetapi prinsip beliau tetap teguh 
antikorupsi. Tragisnya, menjelang sisa-sisa hidupnya, Pak Budi sempat jalan 
terseok-seok mencari taksi sambil melewati rumali mewah pribadi kawan satu 
departemen. Inilah realita sisi gelap dari wajah negara tercinta Indonesia. Apa 
sih binatang "korupsi" itu?
Sesungguhnya berbagai teori, ulasan, analisis, seminar, diskusi dan buku-buku 
tentang korupsi sudah banyak beredar. Definisi tentang korupsi pun beragam, 
bervarian. Salah satu pengertian sederhana untuk menjawab pertanyaan di atas 
ialah,... korupsi adalah suatu sistem penyalahgunaan kekuasasan, wewenang, 
kepercayaan, dan kesempatan untuk mengeruk keuntungan (uang dan materi) demi 
kepentingan pribadi serta kelompoknya. Umumnya para pakar sependapat bahwa 
praktik "penyalahgunaan kekuasaanlah" (abuse of power) merupakan satu-satuiiya 
penyebab korupsi, selain lemahnya sistem penegakan hukum. Memang, tidak ada 
korupsi tanpa kekuasaan. Niat untuk korupsi perlu lindungan kekuasaan!
Kini kecanggihan sistem korupsi telah berkembang sedemikian rupa sehingga mampu 
menggoncang nilai-nilai budaya masyarakat. Sebagai contoh, di mana-mana tumbuh 
gejala pengagungan status kekayaan seseorang (uang maupun materi) tanpa peduli 
dari mana asal mulanya. Dengan kata lain sebagian masyarakat kita sudah 
tercemar, bahkan terperosok ke dalam kubangan nilai-nilai materialistis 
neo-kapitalisme global.
Sikap masyarakat yang mengagungkan kekayaan uang dan materi haram tersebut, 
tentu ikut menyuburkan praktik korupsi oknum-oknum penguasa sipil, swasta, 
aparat keamanan dan BUMN.
Fenomena di atas ternyata semakin akut karena virus praktik korupsi telah 
menyebar ke semua daerah dan merambat hampir di semua lapisan masyarakat kita. 
Apabila kita teliti secara cermat maka di saat-saat menjelang kampanye Pemilu 
2004, semakin jelas tampak lebarnya jarak antara agenda para elite dan agenda 
mayoritas rakyat karena kedua kutub tak pernah nyambung.
Di satu pihak agenda rakyat sangat mendambakan kemudahan kebutuhan pokoknya 
seperti peningkatan pelayanan kesehatan, kemudahan anak-anak masuk sekolah, 
kemudahan angkutan umum, air bersih, dsb.
Di pihak lain agenda para elite belum sempat atau belum mau menampung agenda 
rakyat tadi, karena sedang sibuk mengurusi dirinya masing-masing, termasuk 
praktik korupsi dan politik uang. Mereka inilah yang digolongkan sebagai "elite 
busuk" tapi kemudian dipoles ulang dengan sebutan "elite bermasalah". Selain 
itu hasil riset membuktikan bahwa semakin banyak jumlah partai dalam suatu 
negara, terutama di saat menjelang pemilihan umum, akan terbuka peluang bagi 
para elite, pejabat pemerintah, gubernur, menteri, bupati dan oknum-oknum 
partai untuk melakukan praktik-praktik korupsi yang bisa saja melibatkan dana 
perusahaan-perusahaan nasional maupun transnasional.

Tandingan
LALU bagaimana upaya kita untuk melawan dan memberantas praktik-praktik korupsi 
tersebut? Secara konseptual strategis apabila korupsi dianggap sebagai suatu 
sistem tentu harus dilawan dengan sistem tandingan pula, serta merupakan 
gerakan budaya pembasmian total, bukan sebagai gerakan moral semata, karena 
secara sadar atau tidak, praktik-praktik korupsi sudah menjadi bagian dan 
budaya masyarakat. Untuk maksud itu tentu diperlukan suatu kepemimpinan 
nasional yang kokoh (strong leadership) dan berani. Maka melalui proses 
pemilihan umum 2004 yang mahalnya bermiliar-miliar rupiah itu rakyat sangat 
mengharapkan munculnya sosok kepemimpinan nasional yang kuat, cerdas, punya 
integritas, bersih, tidak serakah duit dan kekuasaan, tetapi mendahulukan 
kepentingan rakyatnya.
Jadi suatu sosok kepemimpinan yang sederhana, populis, tidak semuluk 
persyaratan-persyaratan kepemimpinan menara gading, dalam lembar-lembar naskah 
seminar yang marak akhir-akhir ini. Yang terpenting dia harus mampu membangun 
suatu sistem tandingan untuk melawan dan menyapu bersih kanker korupsi 
nasional. Dalam kaitan ini, sungguh menarik janji seorang calon presiden kita, 
bahwa "sebagai seorang pemimpin kita harus mampu menunjukkan, satu rupiah pun 
harus dapat dipertanggungjawabkan. Dengan performa seperti itu kita bisa 
bertindak tegas terhadap koruptor". Semoga demikian!
Kalau begitu halnya, apakah kualitas kepemimpinan yang ada sekarang sudah 
merosot dan menciut? Apakah kepemimpinan itu untuk diri sendiri? Apakah tidak 
lagi dianggap sebagai missi? Ataukah sekadar okupasi sesaat demi gaji, 
fasilitas dan nama? Anda-andalah yang berhak menilai, Anda-andalah yang patut 
menjawabnya secara jujur, berani, kritis, transparan dan punya argumentasi 
masing-masing.
Sebelum akhir tulisan ini, marilah kita bersama menilai ulang surat wasiat 
almarhum Pak Budi..."Aku berdosa karena tidak korupsi..." Bukankah tersirat di 
dalamnya ungkapan kritik dan sinisme terhadap praktik-praktik korupsi yang 
difasilitasi sistem yang ada? Bukankah nilai-nilai luhur bangsa, bekerja, 
berkarya, hidup dari hasil keringat sendiri, tidak dari hasil tipu, telah 
tergeser jauh?

Mencolok
Kini secara mencolok para elite terus jor-joran menambah kekayaan mereka tanpa 
henti, tanpa keringat dan rasa malu, karena bisa menipu rakyat melalui 
fasilitas dan koneksi kekuasaan. Namun jangan lupa, rakyat makin cerdas dan 
awas. Kondisi korupsi ini pernah membuat frustrasi beberapa kawanku yang 
hidupnya juga senin-kemis, karena mereka pernah berucap "apakah neraka masih 
ada?" Pertanyaan mereka terlalu falsafati dan tidak kujawab, namun siapa tahu, 
sebelum maut menjemput napas para koruptor, mungkin ada di antaranya yang 
sempat bertobat dan meninggalkan surat wasiat yang juga kontradiktif tapi jujur 
terpaksa:
".aku berdosa karena sering korupsi..." "..aku berdosa karena sering menipu 
rakyat..." Heaven Knows !

Penulis adalah maheswara Lemhanas

  


  




[Non-text portions of this message have been removed]


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 

Yahoo! Groups Links

To visit your group on the web, go to:
 http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

To unsubscribe from this group, send an email to:
 ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

Your use of Yahoo! Groups is subject to:
 http://docs.yahoo.com/info/terms/ 



Other related posts: