[ppi] [ppiindia] Akpol, Setelah Mencuat Kasus Taruna Senior Menyiksa Junior

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
CENDRAWASIH POS

Senin, 31 Juli 2006




































































Akpol, Setelah Mencuat Kasus Taruna Senior Menyiksa Junior 

Tertibkan Rumah Singgah, Bulan Depan Diajari HAM 



Akademi Kepolisian (Akpol) kembali menjadi sorotan. Ini setelah salah satu 
taruna di sana "diculik" dan disiksa beberapa seniornya. Mengapa kekerasan yang 
tak terkendali masih terjadi di sekolah para calon perwira polisi itu? 

FAROUK ARNAZ, Semarang 

Taruna Akpol yang menjadi korban itu bernama Hendra Saputra, duduk di tingkat 
II (sersan taruna). Pemuda 21 tahun ini masih menjalani perawatan di RS St 
Elizabeth Semarang. 

Hendra masih mengeluh sakit di kepala. Oleh dokter, dia didiagnosis mengalami 
pembengkakan pada otak. Sakit Hendra diderita setelah taruna angkatan 2004 itu 
dihajar oleh enam seniornya pada 24 Maret lalu. 

Penyebabnya pun sepele. Para senior, yang semuanya dari Sumatera Selatan 
(Sumsel) -seperti halnya Hendra- tidak bisa menerima sikap Hendra yang tak 
pernah melapor bila akan pesiar (kesempatan keluar asrama, Red). 

Para senior yang marah itu lantas "menculik" Hendra dan membawanya ke sebuah 
rumah singgah milik taruna Sumsel di Karang Bendo, Jatingaleh, Semarang. Di 
tempat itu Hendra disiksa hampir 3 jam. Matanya ditutup, badannya ditendang dan 
bahkan disetrum. 

Hendra, anak Mularis, mantan anggota Polda Sumsel ini pun kolaps dan sempat 
dirawat di RS Akpol. Dari sana dia dirujuk ke RS Elizabeth. 

Buntut dari peristiwa itu, enam taruna yang menyiksa Hendra terancam memperoleh 
dua sanksi. Secara akademis, pangkat sekaligus tingkat mereka diturunkan. Dan, 
secara pidana kasus ini dilaporkan ke Polres Semarang Selatan. Bila kelak 
pengadilan menyatakan keenam taruna itu bersalah, Akpol akan langsung memecat 
mereka. Ini untuk kali pertama Akpol melaporkan tarunanya secara pidana. 

Apa yang salah dengan taruna Akpol? Mengapa kekerasan tak terkendali masih 
terjadi di Akpol? Gubernur Akpol Irjen M.D. Primanto mengaku kaget dengan 
peristiwa itu. "Kami juga kaget dengan peristiwa ini. Kami sebenarnya sudah 
tidak mengajarkan budaya kekerasan kepada mereka. Kami sudah menghilangkan 
semuanya, karena mereka nanti menjadi polisi sipil," ujarnya. 

Menurut jenderal bintang dua ini, motif peristiwa tersebut tak lebih pada 
persoalan pribadi, yakni soal senioritas belaka. 

Apa langkah Akpol agar peristiwa seperti itu tak terulang di masa mendatang? 
Mantan Kapolda Lampung ini menjawab, peristiwa pemukulan itu terjadi di luar 
asrama. Karena itu, pihaknya agak sulit untuk memantau. Salah satu cara yang 
akan diterapkan adalah melarang keberadaan pos singgah yang umumnya dimiliki 
setiap daerah tempat taruna itu berasal. 

Bahkan, begitu sulitnya memantau kejadian di luar asrama, Primanto mengatakan, 
peristiwa yang dialami Hendra baru diketahui akhir Mei. Ini karena semua yang 
terlibat dalam peristiwa itu tutup mulut dan tidak berani melapor. "Sekali 
lagi, kami tidak pernah mengajarkan kekerasan pada mereka. Kalau hukuman 
semacam push up itu masih OK, karena untuk fisik. Tapi, tidak boleh ada 
pukulan," sambungnya. 

Primanto menambahkan, untuk menghapus budaya kekerasan di akademinya, pihaknya 
juga menggandeng beberapa pengajar dari luar untuk memberikan perspektif yang 
lebih luas kepada anak didik. Misalnya, para taruna di Akpol akan diberi materi 
seputar HAM (hak asasi manusia) dengan menggandeng PusHAM UII (Universitas 
Islam Indonesia) mulai bulan depan. Sebelumnya, mereka diajar tentang 
perspektif gender dengan menggandeng Psikologi UGM (Universitas Gajah Mada) dan 
materi Perpolisian Masyarakat (Polmas) bekerja sama dengan IOM (International 
Organization for Migration). 

Peristiwa semacam ini belum pernah terjadi selama satu tahun Primanto menjabat. 
"Kami selalu tegas. Untuk 2005-2006 saja ada 12 taruna Akpol yang dikeluarkan 
karena terbukti mencuri ATM, bertindak asusila, atau mengambil HP temannya. 
Kita langsung pecat. Tegas itu," katanya. 

Jumlah taruna dan perwira polisi sumber sarjana (PPSS) yang menuntut ilmu di 
Akpol saat ini 1.187 orang. Mereka terdiri atas Den X (calon bhayangkara 
taruna) 295 orang, 40 orang adalah taruni; lalu Den Tk I (bhayangkara taruna) 
278 orang, 38 di antaranya taruni; Den Tk II (sersan taruna) 290 orang, 30 di 
antaranya taruni; Den Tk III (sersan mayor taruna) 294 orang, 28 di antaranya 
taruni; dan PPSS 30 orang. 

"Saya jamin mereka tidak ada yang main uang. Makanya, kami terapkan semuanya 
secara normatif supaya mereka bisa menjadi abdi negara yang terpuji, mahir, dan 
patuh hukum," tambah Primanto. Untuk setiap taruna, Akpol menganggarkan Rp 2,3 
juta per bulan. Itu untuk mencukupi semua kebutuhan. "Makanya, kalau kami 
mendidik yang nakal atau bodoh, kami sendiri yang rugi," lanjutnya. 

Latar belakang para taruna juga cukup beragam. Tapi, diakui Primanto, anak 
polisi tetap paling banyak diterima Akpol. Di antaranya, untuk angkatan 2006 
-yang masih masuk tingkat Den X- ada 97 anak Polri, 10 orang anak TNI, 82 anak 
PNS, 3 anak pensiunan. Lalu anak petani dan pedagang 19 orang, anak tukang 
becak 1 orang, dan anak yatim 1 orang.(


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>

Other related posts: