[ppi] [ppiindia] Akhirnya Aceh Damai?
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sun, 31 Jul 2005 22:14:21 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/8/1/o1.htm
Agaknya inti keberhasilan itu didorong oleh dua hal. Pertama, kali ini pada
pimpinan tertinggi pemerintah RI terdapat motivasi kuat untuk menemukan solusi
damai atas konflik di Aceh yang telah berlangsung begitu lama. Kedua, pada
tahap-tahap amat menentukan yang kadang-kadang menyangkut perumusan sebuah
kalimat, ataupun anak kalimat, maka suatu keputusan cepat dapat diambil di
Jakarta. Bukan saja karena kecanggihan teknologi komunikasi, tetapi wapres
sebagai salah satu dari dua tokoh utama di republik ini bertindak sebagai
dokter jaga.
Akhirnya Aceh Damai?
Oleh Sabam Siagian
APAKAH akhirnya akan tercapai damai di Naggroe Aceh Darussalam setelah propinsi
itu dilanda konflik selama praktis 30 tahun? Berita-berita dari Helsinki, ibu
kota Finlandia, mengungkapkan bahwa sebuah konsep final nota kesepahaman
tentang damai telah diparaf oleh delegasi RI dan delegasi GAM (Gerakan Aceh
Merdeka). Helsinki merupakan tempat perundingan sejak bulan Januari lalu,
karena mantan Presiden Finlandia Marti Ahtisaari yang sekarang menangani sebuah
lembaga penengah (Crisis Management Initiative) telah berperan sebagai
fasilitator perundingan.
Ketika Wakil Presiden Jusuf Kalla bulan Januari lalu menyatakan bahwa
perundingan dengan pihak GAM akan dimulai di Helsiki terasa bahwa pernyataan
tersebut disambut dengan semacam skeptisisme. Apalagi ketika disampaikan
nama-nama yang akan berperan sebagai tim perundingan mewakili pemerintah RI,
antara lain Hamid Awaluddin (Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia yang juga
bertindak sebagai Ketua Tim Perunding) dan Sofyan Djalil (Menteri Komunikasi
dan Informatika). Mereka tidak memiliki reputasi sebagai diplomat ulung,
bagaimana mungkin mereka mampu berhasil? Kira-kira demikian inti skeptisisme
tersebut.
Lima kali delegasi dari Jakarta itu berangkat ke Helsinki dan setelah lima
ronde perundingan, suatu kerangka kesepakatan muncul.
Agaknya inti keberhasilan itu didorong oleh dua hal. Pertama, kali ini pada
pimpinan tertinggi pemerintah RI terdapat motivasi kuat untuk menemukan solusi
damai atas konflik di Aceh yang telah berlangsung begitu lama. Tidak mungkin
rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh purna-tsunami dapat diselenggarakan dengan
baik, sementara konflik bersenjata tetap berlangsung. Pangkal tolak ini
tampaknya disepakati oleh RI-1 dan RI-2. Kedua, pada tahap-tahap amat
menentukan yang kadang-kadang menyangkut perumusan sebuah kalimat, ataupun anak
kalimat, maka suatu keputusan cepat dapat diambil di Jakarta. Bukan saja karena
kecanggihan teknologi komunikasi, tetapi wapres sebagai salah satu dari dua
tokoh utama di republik ini bertindak sebagai dokter jaga.
Delapan Bidang
Naskah lengkap kesepakatan damai di Naggroe Aceh Darussalam yang dikabarkan
terdiri atas delapan halaman diketik rapat pada waktunya akan diumumkan setelah
ditandatangani di Helsinki pada tanggal 15 Agustus. Itu berarti, dua hari
sebelum bangsa Indonesia yang juga mencakup eks pengikut GAM akan memperingati
60 tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Seorang teman di pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang telah
mempelajari konsep final nota kesepahaman tersebut dan dekat dengan tim
perunding RI menceritakan bahwa materinya mencakup delapan bidang, yakni:
Prinsip-prinsip Pokok, Pemberian Amnesti, Pengumpulan Senjata GAM dan Penarikan
TNI - Polri Nonorganik, Pemerintahan Daerah Aceh, Hak-hak Politik, Sarana dan
Integrasi Mantan GAM, Ekonomi dan Monitor.
Karena ''Prinsip-prinsip Pokok'' kesepakatan damai di Aceh ini bukan merupakan
ketentuan-ketentuan teknis yang masih perlu dirahasiakan sampai 15 Agustus
nanti, sedangkan ia secara jelas dan meyakinkan mencerminkan semangat ingin
damai yang meliputi dua belah pihak, maka teman itu bersedia membaginya dengan
saya.
Berikut ini ''Prinsip-prinsip pokok'' yang dimaksud.
- Penyelesaian konflik secara damai, komprehensif, menyeluruh dan bermartabat.
- Sepakat dengan jujur dan demokratis dalam rangka Negara Kesatuan dan
Konstitusi Republik Indonesia.
- Penyelesaian damai ini akan mempermudah dan mempercepat membangun kembali
Aceh pasca-tsunami.
Bagaimana tetap menghormati prinsip-prinsip yang baik itu dalam pelaksanaan
ketentuan-ketentuan politis dan teknis merupakan tantangan yang menuntut
ketabahan dan sikap yang menahan kecurigaan pada pihak sana.
Di pihak GAM, misalnya, apakah semua kelompok bersenjata di Aceh akan mematuhi
kesepakatan Helsinki ini yang dirundingkan atas nama mereka, seperti Malik
Machmood dan Zaini Abdullah (masing-masing menyebut dirinya sebagai ''perdana
menteri'' dan ''menlu''), yang belum tentu mereka akui sepenuhnya. Dikabarkan,
ada sebuah kelompok yang dipimpin seorang bernama Zakaria yang cenderung
bersikap independen.
Sementara di pihak TNI, Jenderal Endriartono Sutarto sebagai Panglima telah
menyatakan akan melaksanakan semua ketentuan kesepakatan Helsinki itu. Namun,
dapat saja terjadi bahwa beberapa perorangan, entah karena kepentingan bisnis
yang selama ini dikembangkan ataupun karena sekadar kejengkelan saja, akan
melakukan aksi proaktif. Akibatnya dapat merembet.
Penyuluhan meluas dan pengawasan ketat memang amat diperlukan. Yang interesan,
soal partai politik lokal yang menimbulkan reaksi meluas, menurut teman yang
mempelajari naskah kesepakatan itu sebenarnya dirumuskan secara fleksibel.
''Kok persoalan yang sebenarnya di buntut menjadi diutamakan,'' komentar teman
itu.
Ada Kemampuan
Apakah yang dapat disimpulkan dan perlu ditekankan pada tahap sekarang ini?
Pertama, daya mampu menyelesaikan sebuah konflik secara damai memang ada. Aset
nasional ini penting sekali untuk dikembangkan dan diterapkan terus-menerus,
karena masih ada sejumlah konflik membara di wilayah RI yang luas ini yang
mendesak untuk ditangani.
Kedua, saat tercapainya kesepakatan damai tentang konflik Aceh ini memang tepat
mengingat situasi di wilayah Thailand Selatan tambah memburuk. Kalau konflik di
Aceh terus berlangsung, sedangkan wilayah Thailand Selatan tambah parah dan
mungkin saja merembet ke Malaysia, maka wilayah sebelah-menyebelah bagian utara
Selat Malaka ini akan menjadi zone konflik yang dapat mengancam jalur
perkapalan internasional yang vital. Ketiga, berakhirnya konflik di Aceh
memungkinkan penanganan pembangunan Aceh pasca-tsunami secara besar-besaran.
Namun, pembangunan lembaga-lembaga pemerintahan, peradilan, sosial-ekonomi dan
sosial-budaya pascakesepakatan Helsinki terutama di lokasi-lokasi yang pernah
mengalami konflik-senjata juga penting untuk ditangani secara sistematis.
Tenaga-tenaga petugas yang perlu didatangkan dari luar Aceh patutlah mendapat
penyuluhan dan pendidikan tentang sejarah, adat-istiadat Aceh dan
persoalan-persoalan sosial-politik yang membebani Aceh.
Sekali ini janganlah kesempatan baru untuk membangun Aceh sehingga menjadi
daerah kebanggaan sebagai bagian Republik Indonesia, disia-siakan karena
kebodohan kita sendiri.
Penulis, pengamat perkembangan sosial politik di Indonesia, serta masalah
internasional, berdomisili di Jakarta
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hi22d82/M=362329.6886307.7839373.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122848067/A=2894324/R=0/SIG=11hia266k/*http://www.youthnoise.com/page.php?page_id=1998">1.2
million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Akhirnya Aceh Damai?