[ppi] [ppiindia] Akbar yang Saya Kenal

** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
http://www.suarapembaruan.com/News/2004/03/26/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Akbar yang Saya Kenal
Oleh Sunaryono Basuki Ks 

TENTU saja judul di atas hanyalah sebuah bualan orang dusun seperti saya, yang 
mengaku-aku kenal dengan tokoh besar yang sekarang menjadi sorotan publik. 
Bekas bosnya, BJ Habibie menganjurkan agar kita menghormati keputusan Mahkamah 
Agung (MA), sedangkan Ketua MA menganggap permintaan mundur bekas hakim yang 
mengadili Akbar remeh belaka. 

Saya tidak mempersoalkan masalah hukum yang menimpa Akbar Tandjung, tetapi 
sekadar bercerita tentang Akbar sebagai sosok manusia, dan sosok-sosok lain 
yang serupa Akbar. 

Sebagai pejabat, Akbar Tandjung adalah pribadi yang simpatik. Saya tidak 
mengenal tokoh ini, apalagi Akbar tentu tidak mengenal saya. Pada bulan Oktober 
tahun 1992, saya diundang oleh Pusat Bahasa yang merayakan Bulan Bahasa. Pada 
saat itu saya mendapat tiket pesawat gratis serta penginapan dan konsumsi dari 
Pusat Bahasa lantaran sebuah tulisan saya yang dimuat di Suara Pembaruan 
dinyatakan berhak mendapat predikat esei sastra terbaik tahun itu. 

Menpora Akbar Tandjung yang bertindak sebagai salah seorang Ketua Panitia Bulan 
Bahasa (ketua lainnya adalah Mendikbud) menyampaikan hadiah kepada para penulis 
esei yang dianggap oleh Pusat Bahasa tulisannya bermutu. Ketika sampai giliran 
saya, Akbar menyalami saya dengan menyebut nama saya selengkapnya. Padahal saya 
bukan orang terkenal dan tentu walau saya banyak menulis Akbar pasti tidak 
punya waktu untuk membaca tulisan saya. 


Menyenangkan Bawahan 

Sikap profesionalnya sebagai pejabat, yakni suka menyenangkan para bawahan, 
saya kagumi. Berbeda dengan Prof Dr Anton Moeliono, mantan Kepala Pusat Bahasa 
(yang baru saja dirayakan ulang tahunnya yang ke-75 dengan sebuah Seminar 
Internasional tanggal 23 Februari lalu di Unika Atma Jaya Jakarta dan mendapat 
persembahan buku Karya Bahasa memuat 56 makalah). 

Pada kesempatan yang sama Pak Anton menyalami saya dan menganjurkan agar saya 
melanjutkan studi saya ke S3 karena beliau yakin bahwa saya akan dengan mudah 
dapat menyelesaikannya, sebab, katanya, saya sudah biasa menulis. Ternyata Pak 
Anton adalah pembaca tulisan-tulisan saya yang setia. Tentu saya merasa 
tersanjung. Pada pertemuan-pertemuan lain beliau selalu menanggapi sapaan saya, 
karena itu saya merasa nyaman berbicara dengan beliau, walaupun saya sadar 
harus mundur saat orang-orang TV mengerumuninya. 

Ini sama dengan sikap Ibu Prof Dr Edi Sediawati yang dalam kunjungannya ke 
kampus kami di Singaraja dengan diiringi para pejabat pendidikan lengkap TK 
Provinsi Bali. Dengan enteng Ibu Edi (yang saya panggil Mbak Edi dalam sebuah 
kolom saya di koran ini)) mengatakan kepada para pejabat bawahannya itu: 
"Bapak-bapak, Ibu-Ibu harus membaca novel Pak Sunaryono.'' 

Yang disebut adalah sebuah cerita bersambung yang dimuat di Suara Pembaruan di 
ujung tahun 1997. Tentu saja saya merasa kikuk sebab pasti para bapak dan ibu 
tadi tak mengenal saya, sebab saya bukan tokoh publik seperti Akbar Tandjung. 
Yang saya kagumi, Bu Edi bahkan sudah memberi penilaian mendetail tentang 
cerber itu. 

Saya kagum, sebab seorang Dirjen masih sempat membaca sebuah cerita bersambung 
dari seorang pengarang tak terkenal (tapi mungkin sebelumnya kami menyambung 
ingatan perkenalan ketika kami bertemu di rumah Dubes Prancis saat merayakan 
Hari Bastilles) tahun 1994. Bahkan tahun berikutnya Bu Edi masih ingat memberi 
saya undangan menghadiri Kongres Kesenian I di Jakarta. 

Seorang tokoh lagi, Prof Soewojo S Wojowasito, juga berkesan bagi saya. Ketika 
beliau menjabat sebagai Dekan Fakultas Keguruan Sastra Seni IKIP Malang dan 
saya sebagai mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris di FKSS, beliau pernah memanggil 
saya dengan nama lengkap karena hendak minta tolong mencarikan mahasiswa lain. 
Saya terkejut sebab saya hanyalah seorang mahasiswa dan bukan murid beliau. 


Mirip 

Seorang tokoh lain yang mirip Akbar adalah Prof Ida Bagus Oka, waktu itu Rektor 
Unud. Saya memang warga Universitas Udayana (Unud), tetapi fakultas kami di 
Singaraja, dan saya bukanlah pejabat yang layak dikenal oleh rektor. Namun, 
ketika saya berada di kampus Unud di Denpasar, dengan ramah menyapa dengan "Apa 
kabar, Pak. (menyebut nama lengkap saya)." Saya sekali lagi merasa tersanjung. 

Ketika saya menjalani studi di Inggris, saya menulis surat laporan pendek 
kepada beliau. Saya tak berharap surat ini akan dijawab, tetapi ternyata surat 
itu dijawab langsung oleh beliau dalam tulisan tangan, bukan ketikan 
sekretarisnya. Waktu menjabat sebagai Rektor Unud, tak lupa dia mengirim kartu 
hari raya kepada seluruh warga Unud. 

Luar biasa, tentu hal itu mudah dilakukan asal ada niat, sebab data tentu 
lengkap di Bagian Kpegawaian. Namun, ketika beliau menjabat sebagai gubernur 
Bali dan berkunjung ke rumah keluarga istri saya dalam sebuah upacara, tidak 
ada kesan bahwa beliau pernah mengenal saya ketika saya ajak bercanda 

Sayang, kedua tokoh yang saya sebut pada awal dan akhir tulisan ini mengalami 
musibah perkara hukum, sementara yang saya sebutkan di antaranya, tetap 
bersahabat dengan saya. Keduanya memang mengetahui ilmu bergaul sebagai 
pejabat, dan mereka berhasil menarik simpati banyak orang. 

Setiap pejabat patut belajar dari Akbar dan Ida Bagus Oka dalam hal menghadapi 
orang lain, terutama mereka yang berada pada jajaran di bawahnya. Namun sayang, 
sebagaimana kata Ryonosuke Akutagawa dalam karyanya yang saya terjemahkan 
(Rumahku di Sorga, Balai Pustaka , 1971): "Karenanya, bukankah mereka yang 
mengenal hari akhir Lorenzo yang mengenal seluruh hidup-nya?" 


Penulis adalah novelis dan mantan kolumnis, tinggal di Singaraja. 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 26/3/04 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Other related posts: