[ppi] [ppiindia] ASIA AFRIKA 50 TAHUN MASIHKAH SEMANGAT MERDEKA TERSISA?

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **


ASIA AFRIKA 50 TAHUN MASIHKAH SEMANGAT MERDEKA TERSISA?

Oleh:
LUTFIYAH HANIM

Bulan April 2005 mendatang, tepat 50 tahun lalu Konferensi Asia=20
Afrika (KAA) diadakan di kota Bandung.=20

Poin penting dari konferensi yang seringkali disebut sebagai=20
Konferensi Bandung adalah adanya kesadaran di kalangan pemimpin=20
negara saat itu bahwa negara di kawasan Asia dan Afrika adalah=20
berbeda, memiliki ciri dan kekhasan budaya, sosial, ekonomi dan=20
politik. Adanya rasa solidaritas sebagai bangsa yang sama-sama pernah=20
mengalami masa penjajahan bertahun bahkan berabad telah membuat=20
semangat para pemimpin bersatu melintasi batas negara dan benua untuk=20
mewujudkan kedaulatan dan perdamaian.
=20
Apa yang ingin ditampilkan dalam KAA, seperti diucapkan dalam pidato=20
Presiden Soekarno saat itu adalah keinginan lahirnya Asia dan Afrika=20
yang baru, yang lebih baik. Deklarasi yang dikeluarkan dalam KAA atau=20
yang dikenal sebagai dasa sila Bandung.=20

Sepuluh sila tersebut adalah penghormatan kepada hak dasar manusia=20
seperti yang tercantum dalan piagam PBB; kedaulatan; persamaan ras;=20
persamaan antara negara kecil maupun negara besar; bebas intervensi;=20
Hak mempertahankan diri; kekuatan diplomasi;  Perdamaian; kerjasama=20
yang saling menguntungkan.

Mengapa poin-poin diatas yang dimunculkan dalam deklarasi? Mungkin=20
bisa ditarik sejarah sebelum tahun 1955. Paska perang dunia, negara-
negara di Asia dan Afrika, satu persatu mulai memerdekakan diri dari=20
penjajahan yang mengungkung selama selama berabad lamanya. Pada saat=20
yang sama, berakhirnya perang juga menandai dimulainya perang dingin=20
antara dua blok yaitu Barat yang dimotori oleh Amerika Serikat dan=20
Blok Timur dengan Uni Soviet. Perang dingin Barat versus Timur=20
membuat kedua negara tersebut melancarkan berbagai upaya untuk=20
menjadikan negara lainnya sebagai pendukung kekuatan salah satu blok=20
tersebut. Perang Dingin menempatkan negara Asia dan Afrika yang baru=20
merdeka menjadi obyek perebutan pengaruh politik dan ekonomi antar=20
dua blok tersebut.=20

Blok barat melalui AS meluncurkan kata kunci pembangunan untuk `dunia=20
yang terbelakang'. Ini tampak jelas dari pidato pengukungan presiden=20
Truman pada tahun 1949 (Abrahamsen 2004). Apa yang dikemukakan Truman=20
adalah perlunya menangani `wilayah terbelakang' agar terbebas dari=20
kemiskinan. Menurut  Truman kemiskinan dianggap sebagai noda yang=20
tidak hanya menjadi ancaman bagi si miskin itu sendiri karena=20
kekurangan pangan dan berbagai penyakit tetapi juga ancaman bagi=20
wilayah yang lebih makmur (selengkapnya lihat di=20
http://www.trumanlibrary.org/calendar/viewpapers.php?pid=3D1030).

Karena itu ideologi yang ditawarkan oleh AS adalah pembangunan=20
bagi `wilayah terbelakang'. Wilayah terbelakang versi AS, membentang=20
di Benua Asia dan Afrika. Negara-negara tersebut bagi  AS adalah=20
sama. Petani kopi di Sumatara, Suku Zulu di Afrika Selatan; Suku=20
Bella di pedalaman gurun Sahara Timbuktu Mali; Orang Dani di Papua,=20=20
Petani di India; Suku Badui di di Arabia; di mata AS adalah sama=20
bodoh, miskin, terbelakang, primitif, tidak beradab dan sebagainya.=20
Karena itu ratusan juta penduduk di benua tersebut dianggap perlu=20
kemajuan, kemakmuran, kecerdasan dan teknologi baru. Penduduk miskin=20
itu membutuhkan pembangunan yang sama karena masalahnya dianggap=20
sama; sehingga perlu resep yang sama) yang diatur oleh ahli=20
pembangunan dari Dunia Pertama agar mereka juga menjadi maju, makmur,=20
pintar  dan beradab seperti masyarakat di Dunia Pertama.

Kata Pembangunan pun diperkenalkan sebagai sesuatu yang netral, yaitu=20
upaya masyarakat kaya membantu si miskin.
=20
Tapi para Pemimpin negara-negara Asia dan Afrika melihatnya dengan=20
kritis wacana baru yang diluncurkan oleh AS itu. Wacana kritis inilah=20
yang kemungkinan besar  menjadi latar belakang munculnya dasa sila=20
Bandung.

Berikut adalah pandangan kritis mengenai ideology pembangunan ala AS=20
dari sisi pemimpin negara penggagas KAA. Ideologi pembangunan secara=20
langsung telah menempatkan negara Asia dan Afrika dalam posisi yang=20
lebih rendah dari Dunia=20
Pertama, yaitu sebagai penerima bantuan dengan negeri pemberi=20
bantuan. Serta menempatkan posisi Dunia Pertama sebagai `orang kaya=20
yang  baik' yang lebih superior, lebih maju dan modern.=20

Pidato Truman diatas juga menyiratkan pembenaran adanya intervensi=20
dari Dunia Pertama ke Dunia Ketiga atas nama pembangunan. Negara=20
dunia Ketiga harus dikontruksi ulang melalui intervensi pembangunan.=20
Karena pembangunan dalam kacamata AS menjadi tugas suci mengangkat=20
masyarakat Dunia Ketiga dari situasi yang dianggap `tidak normal' ke=20
tingkat Pertama yang `normal' agar setara dengan rekannya di dunia=20
Barat.=20=20

Ideology pembangunan dilihat sebagai upaya perluasan pasar karena=20
tujuan dari pembangunan adalah kemakmuran di Dunia Ketiga sehingga=20
dapat menjadi pasar baru bagi produk manufaktur dunia pertama.=20
Selain `pembangunan' sendiri menjadi proyek garapan baru bagi=20
investor asing, negara kaya  dan lembaga internasional untuk berperan=20
sebagai bank dan penyedia ahli pembangunan. Apalagi jumlah penduduk=20
di negara-negara berkembang jauh lebih besar, sehingga dilihat=20
sebagai adalah pasar bagi produk dari negara Utara  yang akan terus=20
tumbuh.=20

Ideologi pembangunan diciptakan untuk menjamin adanya keberlanjutan=20
suplai bahan-bahan mentah dan komoditi pertanian dari Dunia Ketiga=20
yang memang dikenal memiliki kekayaan alam luar biasa. Kemerdekaan di=20
negara-negara Asia dan Afrika telah mendorong nasionalisasi=20
perusahaan-perusahaan yang sebelumnya menjadi kepanjangan tangan dari=20
modal di negara penjajah. Berakhirnya kolonialisme dapat mengancam=20
keberlangsungan pasokan bahan mentah. Jaminan akan keberlanjutan=20
penguasaan sumberdaya alam sebagai bahan baku ini sangat penting agar=20
industrialisasi juga terus berjalan di negara-negara kaya.=20

Pemimpin negara Asia Afrika juga melihat bahwa, kata pembangunan=20
adalah salah satu alat politik yang digunakan oleh negara Blok Barat=20
sebagai upaya mencegah meluasnya bahaya komunisme yang ditawarkan=20
oleh Blok Timur. Paska perang dunia kedua, negara-negara miskin yang=20
kebanyakan adalah di Benua Asia dan Afrika seringkali diasosikan=20
dengan kerusuhan dan ketidakstabilan karenanya menjadi ancaman tata=20
dunia liberal. Seperti kata Truman diatas, ancaman bukan hanya pada=20
penduduk miskin tapi penduduk kaya. Ketidaksejahteraan materi juga=20
dianggap dapat menjerumuskan masyarakat negara-negara tersebut dalam=20
aliran politik yang berbahaya dalam hal ini komunisme. Karena itu=20
wacana pembangunan menjadi penting untuk diperkenalkan agar negara=20
Asia Afrika bebas dari kemiskinan dan pada saat yang sama, negara=20
yang diberi bantuan pembangunan dapat menjadi benteng untuk menahan=20
penyebaran komunisme.

Selain dengan ideology pembangunan, upaya memperluas wilayah Barat=20
dan Timur dalam perang dingin juga dilakukan dengan perang.=20
Pendudukan AS atas Vietnam Selatan menjadi contoh pencegahan=20
perluasan blok Timur ke Asia Tenggara dengan kekerasan. Demikian juga=20
dengan pendudukan Afganistan oleh Uni Soviet.=20=20

Dalam kerangka di atas, KAA dapat dilihat sebagai bentuk perlawanan=20
negara-negara  Selatan untuk membebaskan diri dari ideology=20
pembangunan yang di dikte oleh Utara dan anti perang. KAA menjadi=20
titik awal untuk menghentikan upaya Dunia Utara terus melakukan=20
dominasi, dan inetervensi dalam berbagai bentuknya atas dunia=20
Selatan. Sehingga tak heran salah satu pengagas KAA yaitu Presiden=20
Soekarno juga dikenal dengan slogannya go to hell with your aid,=20
yaitu penolakan keberlanjutan penjajahan dengan menampik hutang luar=20
negeri dan bantuan pembangunan karena sadar itu bukan sesuatu yang=20
netral.

Semangat KAA menjadi bibit solidaritas negara di Asia, Afrika dan=20
bahkan negara di luar benua tersebut untuk bekerjasama untuk=20
menyuarakan isu-isu perdamaian, kesejahteraan dan kedaulatan dari=20
perspektif mereka sendiri. Bebas dari pengaruh pertarungan blok Barat=20
dan Timur. Hasilnya pada tahun 1961, presiden Yugoslavia,  Soekarno=20
serta pemimpin dunia yang lain menggagas terbentuknya gerakan Non-
blok, sebagai wadah perjuangan gerakan politik yang berbeda, bukan=20
Timur juga bukan Barat. Lalu  tahun 1964, kelompok G77 yang=20
diprakarsai oleh negara berkembang untuk membangun kerjasama ekonomi=20
dan social setara antar Selatan-Selatan (South Centre, 2004}

Waktu terus berjalan, dan dunia terus berubah. Setelah 50 tahun masih=20
adakah semangat dan solidaritas untuk bekerja bersama untuk mencapai=20
kesejahteraan? Apakah proklamasi bahwa KAA akan dijadikan dasar dari=20
semangat menentukan nasib sendiri dan bebas penindasan masih relevan?

Berbeda dengan 50 tahun yang lalu, dunia saat ini dalam globalisasi=20
ekonomi, walaupun globalisasi bukanlah proses yang baru. Sejak lima=20
abad yang lalu perusahaan-perusaaan di di negara-negara yang=20
ekonominya maju telah meluaskan perdagangan dan aktivitas ekonominya=20
ke berbagai belahan dunia (Khor, 2000) Aspek penting dari globalisasi=20
adalah runtuhnya hambatan hambatan ekonomi nasional meluasnya=20
aktivitas produksi dan keuangan dan perdagangan secara internasional=20
serta semakin berkembangnya kekuasaan perusahaan transnasional dan=20
institusi moneter internasional. Walapun proses globalisasi itu=20
terjadi secara tidak merata tetapi  hampir semua negara di dunia=20
sangat dipengaruhi oleh proses tersebut. (Khor, 2000)=20

Lebih dari sejarah apapun sebelumnya, keberadaan dunia saat ini=20
bercirikan interdependensi antara negara dan masyarakatnya.=20
Globalisasi  secara bertahap telah mengikis integritas bangsa-bangsa=20
sebagai aktor yang independen dan otonom. Saat ini semakin banyak=20
keputusan yang berada di luar kendali langsung suatu negara. Lembaga-
lembaga tinggi negara seperti presiden, MPR, menteri dan bahkan=20
anggota legislative yang dipilih atas `pilihan' rakyat tidak bisa=20
lepas dari lembaga dan institusi internasional seperti IMF=20
(International Monetery Fund), Bank Dunia, WTO bahkan perusahaan=20
multinasional. Akibatnya seringkali negara dipaksa untuk mengadopsi=20
suatu kebijakan yang didasari lebih atas kepentingan internasional=20
dibandingkan dengan kepentingan nasional.

Berikut adalah beberapa hal yang menurut kami merupakan isu-isu dan=20
masalah yang dihadapi oleh negara-negara Asia Afrika dalam tingkatan=20
dampak yang berbeda.=20=20

Hutang luar negeri merupakan salah satu faktor penting yang=20
menyebabkan orang terus berada pada kemiskinan, kelaparan dan=20
kebodohan.=20

Hutang luar negera Dunia Ketiga melonjak dari 9 milyar dollar AS pada=20
tahun 1955 menjadi 572 milyar dolar pada 1980 dan lebih dari 2200=20
milyar dolar AS pada 1998. Untuk mengembalikan hutang-hutang tersebut=20
termasuk mambayar bunga dan modal negara-negara sedang berkembang=20
membutuhkan dana lebih dari 200 juta dollar AS per tahun atau empat=20
kali lipat dari besar bantuan pembangunan yang mereka terima.=20
(Madeley, 2005). Dana tersebut itu dimiliki negara-negara maju,=20
lembaga keuangan internasional, seperti IMF dan Bank Dunia. Lebih=20
dari 50 negara terutama negara-negara Afrika terutama Afrika sub=20
Sahara  harus menanggung pembayaran hutang plus bunga mencapai tiga=20
kali lipat dari nilai ekspor per tahunnya.

HDR 1997 memperkirakan bahwa jika negara-negara yang punya hutang=20
besar diringankan dalam melakukan pembayaran hutang setiap tahunnya=20
maka mereka bisa menggunakan dana-dana itu untuk keperluan investasi,=20
dan di Afrika dapat menyelamatkan hidup sekitar 20 juta anak pada=20
tahun 2000 (Madeley, 2004).

Krisis hutang yang terjadi di Dunia Ketiga ternyata bukan sesuatu=20
yang baru dan luar biasa tetapi merupakan bagian dari siklus ekspansi=20
dan kontraksi dari ekonomi kapitalis global (Stewart, 2000). Stewart=20
mengamati dalam abad 19 dan 20, telah terjadi 4 kali krisis hutang=20=20
di negara-negara pinggiran. Artinya setiap 50 tahun terjadi krisis=20
hutang, yaitu pada tahun 1825; 1873; 1932 dan 1982. Setiap terjadi=20
krisis selalu diikuti oleh adanya aturan darurat=20
untuk `menyelesaikan' hutang yang ditentukan oleh negara kreditur=20
(pemberi hutang).=20

Selama ini, negera debitur yang terjerat hutang mengikuti semua yang=20
saran dan petunjuk dari pemilik modal internasional pada tingkat ide=20
dan kebijakan, sehingga mereka terus terperangkap dalam lingkaran=20
hutang. Dari krisis hutang yang terjadi selama abad 19 dan 20 juga=20
menunjukkan bahwa masalah dan penyelesaian hutang lebih banyak=20
ditanggung oleh negera debitur. Sebaliknya setiap krisis hutang,=20
terjadi pemindahan sumberdaya yang luar biasa besar dari ke negara=20
debitur ke negeri kreditur.=20

Berdasarkan World Economic dan Social Survey 2003, yang dikutip dalam=20
laporan Konsensus Monterrey menyebutkan sejak tahun 1994 sampai 2003,=20
yang terjadi adalah mengalirnya dana keuangan dari negara berkembang=20
ke negara maju. Gejala yang sebenarnya sudah terjadi sejak dua abad=20
yang lalu.

Pada periode 1994 =96 1997, negara berkembang yang berasal dari benua=20
Asia, Afrika, Amerika Latin dan kepulauan Karibia masih menerima=20
transfer dana sebesar 30,4 trilyun dolar. Tetapi menurun drastis pada=20
periode 1998 =96 2000, dimana negara berkembang justru mengirimkan dana=20
dan sumberdaya keuangannya sebesar 11,3 trilyun ke negara-negara=20
maju. Situasinya semakin memburuk pada tahun 2001, transfer ke negara=20
maju bertambah menjadi 155,1 trilyun bahkan pada tahun 2002 mencapai=20
192,5 trilyun dolar.
=20
Saat ini Institusi internasional Bretton Woods, Bank Dunia dan IMF=20
mempunyai peran yang sangat besar di kebanyakan negara berkembang,=20
yang mempunyai hutang. Dua lembaga internasional itu saling=20
bekerjasama melalui penyusunan penerapan kebijakan penyesuaian=20
structural atau dikenal SAPs sebagai syarat pencairan hutang dan=20
penjadwalan hutang.  Paket reformasi yang dirancang oleh ekonom-
ekonom di Washington (tempat dimana kantor Bank Dunia dan IMF berada)=20
mengasumsikan bahwa pasar akan bekerja dengan baik untuk mengatur dan=20
mengontrol sumberdaya. Negara tidak perlu campur tangan ketika pasar=20
bekerja sehingga perannya harus direduksi. Maka muncullah kebijakan=20
liberalisasi, privatisasi dan deregulasi untuk menarik negara dari=20
aktivitas di bidang ekonomi dan social.=20=20

Dengan demikian negara yang memiliki hutang terjebak dalam dalam=20
aktivitas yang diinginkan oleh lembaga internasional sebagai upaya=20
mendapatkan hutang baru; memperoleh penjadwalan hutang dan membayar=20
hutang dan bunga. Demikianlah siklus selalu berulang-ulang sehingga=20
negara-negara penghutang terjebak dalam lingkaran kemauan negara-
negara kreditur. Hutang telah menjadi alat yang sangat efektif dalam=20
upaya kontrol atas satu negara yang memiliki kapital ke negara=20
lainnya. Hutang juga menjadi mekanisme perpanjangan kontrol kebijakan=20
ekonomi dan bahkan politik negara donor.=20=20

Pada tahun 1996, IMF dan Bank Dunia meluancurkan rencana (heavily=20
indebted poor countries) dimana negara tertentu dapat memperoleh=20
keringan hutang dengan syrat yang ketat. Skema) HIPC juga tidak cukup=20
untuk menyelesaikan hutang negara-negara miskin, sementara untuk=20
negara-negara yang berpendapatan menengah belum ada skema untuk=20
menyelesaikan hutang luar negeri mereka. Selain itu, resiko kegagalan=20
hutang juga lebih banyak ditanggung oleh masyarakat dan negara=20
kreditur, tidak ada pembagian resiko kegagalan.

Pada tahun 2002, diadakan konferensi Keuangan untuk Pembangunan di=20
Monterrey, salah satu keinginannya adalah upaya menyelesaikan=20
perangkap hutang di negara-negara berkembang. Tetapi satu tahun=20
setelah konferensi dilakukan, kelompok masyarakat sipil menilai bahwa=20
tindak lanjut dari Konferensi Monterrey sangat buruk dan sedikit=20
sekali tindak lanjut yang serius dalam implementasi.=20

Problem kunci seperti yang diidentifikasi oleh banyak kalangan adalah=20
langkanya keinginan politik di negara maju dan tidak ada satu pun=20
perjanjian untuk memperkuatnya. Untuk negara yang terjebak dalam=20
hutang, langkah `penghentian hutang' adalah yang minimal untuk=20
memutus siklus ketergantungan.

Harga Komoditas dan Nilai Tukar Perdagangan. Masalah ini adalah salah=20
satu yang menjadi perhatian pada KAA tahun 1955. Terbukti dari adanya=20
salah butir keputusan untuk mencari upaya penyelesaian masalah=20
turunnya nilai tukar perdagangan pada saat itu. Setelah 50 tahun,=20
situasi ini ternyata tidak banyak berubah.=20

Pola perdagangan kolonial dimana negara selatan menjadi pengekspor=20
berbagai komoditas sebagai bahan mentah untuk industrialisasi di=20
negara Utara masih berlangsung. Sebaliknya negara Utara adalah=20
pengekspor utama produk-produk manufaktur ke negara Selatan. Bahkan=20
banyak negara-negara Selatan yang tergantung pada satu atau dua=20
komoditi ekspor dalam pendapatan masyarakatnya.

Tetapi dengan turunnya secara konsisten nilai tukar produk bahan=20
mentah terhadap produk manufaktur telah merugikan negara-negara=20
pengekspor bahan mentah.=20

Dalam produk kopi misalnya,  pada tahun 1990, produsen kopi hanya=20
menerima  spertiga dari dari total penjualan kopi dunia atau 10=20
milyar dollar dari total penjualan 30 milyar dollar. Tetapi saat ini,=20
produsen kopi hanya menerima 5 milyar dari total penjualan kopi dunia=20
yang sebesar 70 milyar dollar.=20

Laporan UNCTAD 2004, perbandingan antara harga produk mentah=20
pertanian dibandingkan dengan pangan dan minuman yang menjadi produk=20
akhir dari komoditas pertanian turun drastis. Dibandingkan dengan=20
harga produk pangan dan minuman tahun 1980 dengan tahun 2003, harga=20
produk pertanian jatuh sampai tingkat 60 persen dan 73 persen. Harga=20
kopi pada tahun 2003 hanya 17 persen dari nilai tahun 1980, harga=20
kapas hanya 33 persen dari nilai 1980.=20

Secara umum, dari tahun 1997 =96 2001, indeks harga rata-rata komodtas=20
turun 53 persen.=20

Situasi ini berakibat buruk bagi negara produsen. Pertama, negara=20
produsen akan kehilangan pendapatan dari turunnya harga komoditas,=20
yang mungkin merupakan andalan pendapatan devisa satu-satunya dari=20
negara tersebut. Situasi ini menjadi lebih memperburuk ketergantungan=20
akan hutang; memperumit pembayaran kembali hutang dan semakin=20
melanggengkan kemiskinan di kelompok-kelompok masyarakat. Kedua,=20
negara produsen terpaksa harus memproduksi lebih banyak lagi, dan ini=20
berarti lebih banyak sumbedaya (lebih banyak tanah dikonversi, lebih=20
banyak air, dan kebutuhan lainnya) yang diperlukan untuk mendapatkan=20
hasil yang minimal sama. Ini berarti ancaman kerusakan lingkungan.=20

Apalagi bagi negara-negara yang banyak memiliki ketergantungan hutang=20
dengan institusi internasional seperti Bank Dunia dan IMF. Salah satu=20
sarannya dalam SAPs adalah mengganti tanaman pangan dengan tanaman-
tanaman yang bisa menghasilkan devisa dengan dijual ke luar negeri,=20
agar hutang luar negeri bisa terbayar. Tetapi dengan sistem=20
perdagangan dunia yang tidak berpihak pada produsen bahan mentah,=20
akan semakin banyak lagi lahan pertanian pangan yang dikonversi untuk=20
menanam produk ekspor. Bagaimana mencukupi pangan? Prinsip lembaga=20
seperti Bank Dunia adalah kalau impor lebih murah maka  lebih baik=20
menanam tanaman yang bisa dieskpor. Maka ketika harga jatuh, petani=20
katakanlah bunga, tidak bisa makan bunga tapi juga tidak punya uang=20
untuk membeli bahan makanan. Sehingga penurunan harga komoditas di=20
banyak tempat mengancam ketahanan pangan. Seperti terjadi pada petani=20
kopi di berbagai negara seringkali terancam kelaparan ketika harga=20
kopi jatuh.=20

Berbagai upaya telah dilakukan oleh negara berkembang untuk=20
mendapatkan harga yang layak dan kondisi permintaan yang stabil=20
melalui perjanjian komoditas. Perjanjian ini melibatkan negara=20
produsen yaitu negara Berkembang dan negara konsumen yang merupakan=20
negara industri di bawah pengawasan UNCTAd. Tetapi perjanjian ini=20
gagal ketika negara industri menarik dukungannya  pada tahun 1980-an=20
(Khor, 2000).  Saat ini negara produsen bahan mentah lebih banyak=20
tunduk pada perilaku pasar komoditas tersebut.

Liberalisasi Perdagangan dan Sistem perdagangan Multilateral.  Apakah=20
liberalisasi perdagangan akan menguntungkan, merupakan perdebatan=20
yang belum selesai. Menurut saya, pernyataan bahwa perdagangan bebas=20
akan menguntungkan semua pihak terlalu menyederhanakan masalah.=20

Hanya sedikit negara yang menikmati pertumbuhan yang sedang atau=20
tinggi dalam dua decade terakhir sementara sejumlah negara mengalami=20
penururnan standar hidup (diukur dari angka pendapatan nasional per=20
kapita) Hanya ada 33 negara mampu mempertahankan pertumbuhan sebesar=20
3 persen pertahun selama 1980-1986. Sementara untuk 59 negara=20
(kebanyakan adalah negara afrika dan Eropa Timur bekas CIS) lainnya=20
mengalami penurunan dalam pendapatan per kapita. (Khor, 2000).

Trade and Development Report yang diterbitkan oleh UNCTAD tahun 1999=20
dan Human Development Repost tahun 1999 menunjukkan fakta-fakta bahwa=20
tidak semua negara mendapatkan keuntungan dari liberalisasi=20
perdagangan. Tetapi justru sebaliknya.

Forum Organisasi Perdagangan dunia atau WTO adalah forum=20
internasional dimana negara anggotanya berniat untuk melakukan=20
perdagangan bebas. Lembaga ini merupakan paket dengan lembaga Bretton=20
Woods lainnya yaitu IMF dan Bank Dunia. IMF dan Bank Dunia mendorong=20
liberalisasi melalui paket persyaratan dan penyesuaian struktural=20
melalui pemberian hutang atau penjadwalan hutang. Sementara WTO=20
melakukannya melalui teks-teks legal dalam negosiasi.

WTO yang proses perundingan dimulai sejak 1986 merupakan sistem yang=20
bertujuan untuk menerapkan pasar bebas dan perdagangan bebas. Sistem=20
tersebut diyakini akan meningkatkan arus perdagangan antar negara=20
sehingga ide dsarnya adalah mengurangi sebanyak mungkin hambatan=20
tarif dan non tarif agar arus barang dan jasa lancar. Dengan=20
peningkatan perdagangan maka akan mendorong produksi karena produksi=20
meningkat maka penyerapan tenaga kerja juga akan naik. Bagi konsumen=20
peningkatan arus produk dari luar akan memperbanyak pilihan, dan=20
mungkin akan mendapatkan harga yang lebih murah. Tapi keuntungan yang=20
dikatakan itu belum tahu kapan datangnya, yang muncul adalah sederet=20
perubahan kebijakan industri dan perdagangan di dalam negeri untuk=20
memenuhi pasal-pasal dalam WTO.=20

Pada saat yang sama, negara maju juga tidak konsisten. Mendorong=20
negara lain membuka pasar tetapi terus memberikan subsidi pada sektor=20
pertanian sehingga mengancam kelangsungan produsen pertanian di=20
negara lain. Demikian juga dengan di liberalisasi sektor jasa.=20
Kebanyakan negara berkembang adalah net importir. Pembukaan pasar=20
yang agresif sepeerti yang terjadi saat ini dalam WTO hanya akan=20
menguntungkan pemasok jasa dari negara maju yang dikuasai oleh=20
segelintir perusahaan multinasional penyedia jasa. Sementara=20
masayarakat dan publik negara berkembang menjadi sekedar konsumen=20
karena proses privatisasi pada sektor publik. Juga perundingan akses=20
pasar non pertanian yang bisa mengakibatkan deindustrialisasi di=20
negara Selatan.
=20
Di Konferensi Tingkat Menteri (KTM) WTO ke V Cancun, aliansi negara=20
berkembang menggagalkan upaya negara maju untuk memperluas cakupan=20
perundingan. Negara Maju justru menjadikan kegagalan KTM Cancun dan=20
lambatnya perundingan multilateral dengan memindahkan perundingan ke=20
kesepakatan-kesepakatan regional dan bilateral.=20

Sehingga muncul istilah atau WTO-plus yaitu implementasi perjanjian=20
WTO yang lebih luas dan lebih dalam. WTO-plus selalu menjadi bagian=20
dari pelaksanaan kesepakatan-kesepakatan perdagangan bebas bilateral,=20
terutama yang diadakan negara maju seperti UE dan AS dengan partner=20
dagangnya yang berasal dari negara berkembang.

Tantangan ke depan bagi negara Asia dan Afrika adalah bagaimana=20
menyatukan langkah bersama dalam agenda pembangunan yang di rancang=20
oleh negara Selatan sendiri. Selama ini menurut saya, tidak ada=20
pembangunan, yang ada adalah kontrol kepentingan dari negera Utara ke=20
negara Selatan. Ketika perang dingin, agenda pembangunan hanya=20
dilakukan ketika negara Selatan berada dalam satu jalur yang sama=20
dengan salah satu blok. Setelah perang dingin usai, dimana kemenangan=20
blok Barat atas blok Timur, agenda pembangunan yang ditawarkan dan=20
dilakukan dilekatkan dengan sejauh mana akses pasar yang dibuka untuk=20
negara-negara Utara.=20

Sejauh apa meliberalkan pasar uang dan perdagangan barang dan jasa=20
maka, negara Anda akan dapat pembangunan. Ini adalah logika aneh,=20
karena menyamakan antara pembangunan dengan perdagangan bebeas.=20
Apabila dua hal tersebut disamakan maka semakin bebas berarti semakin=20
anda membangun. Jadi  tidak ada agenda pembangunan yang murni, yang=20
ada adalah membangun dan membuka pasar seusai dengan kepentingan=20
negara maju.

Agenda pembangunan haruslah berasal dari agenda dan kebutuhan negara-
negara Selatan  sesuai dengan langkah dan kecepatan yang ditentukan=20
oleh Selatan. Untuk itu lembaga penelitian dan lembaga bantuan teknis=20
atau lembaga peningkatan kapasitas haruslah datang dari negara=20
Selatan. Karena kalau bantuan teknis datang dari Bank dunia, itu=20
adalah bantuan untuk bagaimana memperbesar hutang; bagaimana negara=20
membayar kembali hutang; cara memprivatisasi atau kalau bantuan itu=20
datang lembaga multilateral seperti WTO, maka bantuan adalah=20
bagaimana meningkatkan kapasitas dalam membuka pasar dalam negeri.=20
Fakta empiris menunjukkan bahwa bukan kepentingan pembangunan negara-
negara yang dibantu tetapi pembangunan di negara lain yang menjadi=20
konstituen lembaga internasional tersebut.

Karena itu, penghentian Hutang baru menjadi langkah awal yang=20
penting. Karena sejak dari awal hutang menjadi alat kendali atas masa=20
depan berbagai bangsa. Ketika kolonialisme berakhir hutang menjadi=20
perpanjangan tangan upaya campur tangan negara lain dalam penentuan=20
kebijakan dalam negeri. Di saat globalisasi, hutang juga menjadikan=20
negara-negara Selatan tidak punya kemampuan tawar di depan negara=20
maju dalam negosiasi perdagangan. Karena hutang harus dihentikan=20
untuk memulai bangsa yang bedaulat.=20

Dalam forum PBB, negara berkembang punya aliansi G77 yang telah ada=20
sejak tahun 1964. Sedangkan gerakan non blok yang lahir pada tahun=20
1961 menjadi alternatif bagi negara berkembang untuk tidak mendukung=20
salah satu blok dalam perang dingin. Gerakan non blok lebih pada=20
politik sedangkan G77 untuk masalah ekonomi dan sosial terutama dalam=20
forum PBB. Tetapi dengan berakhirnya perang dingin dan perkembangan=20
globalisasi ala lembaga Bretton Woods, maka negara berkembang perlu=20
membentuk aliansi yang serupa dengan G77 di forum multilateral=20
lainnya seperti di WTO.=20

Kelompok atau aliansi dibutuhkan agar perjuangan dalam forum WTO=20
lebih kuat. Apalagi AS dan EU selalu bersatu padu dalam banyak=20
perundingan. Dibandingkan dengan dengan forum IMF dan Bank Dunia,=20
dalam forum WTO, negara berkembang lebih punya posisi karena `satu=20
negara satu suara'. Apalagi jumlah engara berkembang jauh lebih=20
banyak. Saat ini diperlukan lebih dari G33 atau G20 karena dua=20
kelompok itu masih terbatas untuk perundingan pertanian. Sementara=20
masih banyak perundingan dimana negara-negara berkembang terpecah=20
belah.

Institusi pendukung seperti lembaga pemikiran yang benar-
benar `buatan Selatan" menjadi penting. Selama ini, nasehat dan saran=20
bagaimana pembangunan dan perdagangan dijalankan merupakan saran dari=20
lembaga penelitian dan pemikiran negara maju atau yang berorientasi=20
pada pola pikir arus utama di negara maju. Sehingga yang dijalankan=20
pun merupakan cetak biru sesuai kepentingan dari negara-negara maju.=20
Institusi penelitian yang diperlukan adalah lembaga penelitian yang=20
berpihak pada kepentingan negara berkembang.=20

Semangat merdeka yang disuarakan oleh KAA masih relevan. Itu akan=20
jadi sekedar romantisme kalau dari bangsa Afrika Asia sendiri merasa=20
bahwa semangat merdeka hanya sekedar slogan. Bukankah 50 tahun lalu=20
pemimpin kita telah membuktikan.

Sumber:

Abrahamsen, R. (2004). Sudut Gelap Kemajuan Relasi Kuasa dalam wacana=20
Pembangunan. Terjemahan oleh Lafadl. Yogyakarta=20
BRIDGES weekly Trade News Digest, vol. 8, no. 6, 19 February 2004.=20
High level=20
talks on Doha Round ongoing.
BRIDGES Weekly Trade News Digest, vol. 8, no. 7, 26 February 2004.=20
UNCTAD=20
Releases Report on Commodity Dependence in Afrika.
BRIDGES Weekly Trade News Digest - Vol. 8, No. 7 26 February, 2004,=20
CTD:=20
Declining Commodity Prices In The Spotlight.

Greenfield, G. (2004).  Free Market Freefall: Declining Agricultural=20
Commodity Prices=20
And The 'Market Access' Myth, Focus on The Global South Bangkok.
Institute for Global Justice (2004). SP/SSM masih merupakan=20
Pengecualian=20
Terbatas, Kertas Posisi, Jakarta, Mei.=20
Institute for Global Justice (2004). Paket Juli Malapetaka Negara=20
Berkembang.=20
Kertas Posisi. Jakarta. Agustus.=20
Khor. M. (2000). Globalisation and The South: Some Critical Issues,=20
Third World=20
Network, Penang.=20
Khor. M. (2001). Globalisation and the Crisis of Sustainable=20
Development. Third=20
World Network, Penang.=20
Laporan Sekretaris Jendral Konferensi Pembiayaan untuk Pembangunan.=20
(2003). Implementation of and Follow-up to Commitments and Agreements=20
Made at the International Conference on Financing for Development"=20
(A/58/216) dalam website Financing for Development FfD=20
http://www.un.org/esa/ffd/=20
Madeley. J. (2005) . Loba, Keranjingan Berdagang Kaum Miskin Tumbal=20
Perdagangan=20
Bebas. Diterjemahkan oleh Cindelaras Pustaka Cerdas. Yogyakarta.=20=20
South Centre. (2004) . The group of 77 at Forty Championing=20
Multilateralism, A=20
Democratic and Equitable World Order South-South Cooperation and=20
Development. Download dari www.southcentre.org. Jenewa.
Stewart. T. (2000) The Third World Debt Crisis: A Continuity of=20
Imperialism. South=20
Centre, Jenewa.
SUNS #5521 Friday 27 February 2004. Trade: Agriculture Talks Must=20
Also Tackle=20
Domestic Subsidies, Says Ricupero   (Chakravarthi Raghavan, Geneva).
SUNS #5521 Friday 27 February 2004. Africa: Boxed Into Unfair Trade=20
Structures,=20
Says UNCTAD Report (Chakravarthi Raghavan, Geneva).
SUNS #5510 Thursday 12 February 2004. Agriculture: US Dumping Exports=20
On=20
World Markets, Says Study (Chakravarthi Raghavan, Geneva).
Widyatmaja. J.P, Longchar. A.W (Ed). (2002). Sprituality of Common=20
future Asia=20
Africa Beyond Globalisation.
Widyatmaja. J. (2004). Dari Lima Sila ke Semangat Bandung. Dimuat=20
dalam Suara=20
Pembaruan edisi 8 Juli 2004.

Lutfiyah Hanim adalah Programme Officer Informasi dan Dokumentasi=20
pada Institute for Global Justice (IGJ).






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->=20
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospit=
al's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->=20

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
 Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
=20
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
=20



--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts:

  • » [ppi] [ppiindia] ASIA AFRIKA 50 TAHUN MASIHKAH SEMANGAT MERDEKA TERSISA?