[ppi] [ppiindia] 60 Tahun, Nasib Guru Masih Juga Terabaikan
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sun, 28 Aug 2005 11:36:35 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **Suara Indonesia Baru
22 Agustus 2005
60 Tahun, Nasib Guru Masih Juga Terabaikan
Enam puluh tahun sudah Indonesia merdeka. Di usia cukup panjang itu masih
banyak anak bangsa belum merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Angka
pengangguran masih tinggi, nasib guru terabaikan, sistem peradilan yang
diskriminatif maupun pelanggaran HAM. Berikut komentar sejumlah tokoh
masyarakat dari berbagai kalangan menyambut HUT ke-60 Republik Indonesia;
Indra Sahnun Lubis, praktisi hukum
Saya harus jujur mengatakan bahwa masalah hukum sudah banyak kemajuan dan
peningkatan. Lembaga-lembaga pemberantasan korupsi semakin banyak dibentuk.
Tetapi harus diakui diskriminasi dalam hal penegakan hukum masih terjadi
terutama di daerah-daerah. Masyarakat masih memerlukan rasa keadilan dalam
penegakan hukum. Kebrutalan, pemerasan oleh aparat penyidik masih terjadi di
mana-mana. Hal-hal seperti ini hendaknya menjadi perhatian khusus pemerintah.
Idrus Marham (Ketua Umum DPP KNPI):
Bangsa Indonesia dalam usia 60 tahun harus berani membenahi kembali hal-hal
mendasar yang sangat menentukan eksistensi Indonesia ke depan. Maksudnya agar
bisa tetap survive menghadapi globalisasi. Sekarang masyarakat tengah diuji
tentang bagaimana agar tetap memiliki nasionalisme yang tinggi, ketika
dihadapkan pada ujian yag terkait dengan kesejahteraan. Ke depan seluruh
komponen bangsa dituntut berkorban, misalnya yang berkaitan dengan kenaikan
BBM.
Prof Dr Muhammad Surya, Ketua PGRI
Saya merasakan sampai saat ini posisi guru belum ditempatkan pada hal yang
paling sentral. Kalau berbicara mengenai UU Tentang Pendidikan, sering kali
posisi guru terlupakan. Memang saat ini sudah banyak kemajuan tetapi tetap saja
kesejahteraan guru secara umum belum memadai. Padahal guru adalah pejuang
sejati, tidak hanya memberikan pendidikan dan membebaskan buta huruf pada awal
kemerdekaan tapi guru benar-benar angkat senjata. Kami berharap 60 tahun
Indonesia merdeka, akan lahir UU yang mengatur tentang guru.
Dr Marius Widjajarta, LSM Kesehatan
Saya melihat memang sudah ada kemajuan dalam bidang pelayanan kesehatan
terutama dilihat UU-nya bahwa warga miskin ditanggung oleh pemerintah dalam hal
jaminan kesehatannya. Hal ini sesuai dengan amandemen UUD 1945 Pasal 28 dan
Pasal 34 tentang fakir miskin. Tetapi, implementasinya harus tetap dimonitor
dan dievaluasi.
Agus M Santoso, Pengusaha Muda
Enam puluh tahun Indonesia ternyata masih banyak persoalan mendasar yang
dihadapi Indonesia. Era demokratisasi ternyata bukan jaminan dapat
menyelesaikan persoalan yang dihadapi bangsa ini, khususnya masalah
disintegrasi bangsa, menyusul lepasnya Timor Timur dan yang di depan mata
adalah Papua. Kalau pemerintah SBY tidak segera mengambil langkah nyata dengan
menjaga dan meningkatkan kesejahteraan kepada seluruh rakyat, maka tidak
mustahil keruntuhan bangsa ini tidak dapat dibendung.
Prof Budyatna, pengamat politik
Jujur harus diakui cukup banyak kemajuan yang kita capai terutama dalam
berdemokrasi. Kendati demikian, masih banyak yang harus dibenahi. Saat ini
boleh dikatakan rakyat kita baru melek setelah sekian lama terkungkung pada era
pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru. Hal itu membuat reformasi yang digerakkan
beberapa waktu lalu menjadi kebablasan. Untuk menjadikan masyarakat melek
politik, hukum dan sosial budaya maka perlu pembelajaran yang benar kepada
masyarakat. Saat ini masih terlihat, pergerakan politik yang dilakukan
masyarakat dikoordinir kelompok tertentu yang punya kepentingan. Contoh, lihat
saja demo-demo yang hampir setiap hari dilakukan rakyat. (Tbt/f)
an
Enam puluh tahun sudah Indonesia merdeka. Di usia cukup panjang itu masih
banyak anak bangsa belum merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Angka
pengangguran masih tinggi, nasib guru terabaikan, sistem peradilan yang
diskriminatif maupun pelanggaran HAM. Berikut komentar sejumlah tokoh
masyarakat dari berbagai kalangan menyambut HUT ke-60 Republik Indonesia;
Indra Sahnun Lubis, praktisi hukum
Saya harus jujur mengatakan bahwa masalah hukum sudah banyak kemajuan dan
peningkatan. Lembaga-lembaga pemberantasan korupsi semakin banyak dibentuk.
Tetapi harus diakui diskriminasi dalam hal penegakan hukum masih terjadi
terutama di daerah-daerah. Masyarakat masih memerlukan rasa keadilan dalam
penegakan hukum. Kebrutalan, pemerasan oleh aparat penyidik masih terjadi di
mana-mana. Hal-hal seperti ini hendaknya menjadi perhatian khusus pemerintah.
Idrus Marham (Ketua Umum DPP KNPI):
Bangsa Indonesia dalam usia 60 tahun harus berani membenahi kembali hal-hal
mendasar yang sangat menentukan eksistensi Indonesia ke depan. Maksudnya agar
bisa tetap survive menghadapi globalisasi. Sekarang masyarakat tengah diuji
tentang bagaimana agar tetap memiliki nasionalisme yang tinggi, ketika
dihadapkan pada ujian yag terkait dengan kesejahteraan. Ke depan seluruh
komponen bangsa dituntut berkorban, misalnya yang berkaitan dengan kenaikan
BBM.
Prof Dr Muhammad Surya, Ketua PGRI
Saya merasakan sampai saat ini posisi guru belum ditempatkan pada hal yang
paling sentral. Kalau berbicara mengenai UU Tentang Pendidikan, sering kali
posisi guru terlupakan. Memang saat ini sudah banyak kemajuan tetapi tetap saja
kesejahteraan guru secara umum belum memadai. Padahal guru adalah pejuang
sejati, tidak hanya memberikan pendidikan dan membebaskan buta huruf pada awal
kemerdekaan tapi guru benar-benar angkat senjata. Kami berharap 60 tahun
Indonesia merdeka, akan lahir UU yang mengatur tentang guru.
Dr Marius Widjajarta, LSM Kesehatan
Saya melihat memang sudah ada kemajuan dalam bidang pelayanan kesehatan
terutama dilihat UU-nya bahwa warga miskin ditanggung oleh pemerintah dalam hal
jaminan kesehatannya. Hal ini sesuai dengan amandemen UUD 1945 Pasal 28 dan
Pasal 34 tentang fakir miskin. Tetapi, implementasinya harus tetap dimonitor
dan dievaluasi.
Agus M Santoso, Pengusaha Muda
Enam puluh tahun Indonesia ternyata masih banyak persoalan mendasar yang
dihadapi Indonesia. Era demokratisasi ternyata bukan jaminan dapat
menyelesaikan persoalan yang dihadapi bangsa ini, khususnya masalah
disintegrasi bangsa, menyusul lepasnya Timor Timur dan yang di depan mata
adalah Papua. Kalau pemerintah SBY tidak segera mengambil langkah nyata dengan
menjaga dan meningkatkan kesejahteraan kepada seluruh rakyat, maka tidak
mustahil keruntuhan bangsa ini tidak dapat dibendung.
Prof Budyatna, pengamat politik
Jujur harus diakui cukup banyak kemajuan yang kita capai terutama dalam
berdemokrasi. Kendati demikian, masih banyak yang harus dibenahi. Saat ini
boleh dikatakan rakyat kita baru melek setelah sekian lama terkungkung pada era
pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru. Hal itu membuat reformasi yang digerakkan
beberapa waktu lalu menjadi kebablasan. Untuk menjadikan masyarakat melek
politik, hukum dan sosial budaya maka perlu pembelajaran yang benar kepada
masyarakat. Saat ini masih terlihat, pergerakan politik yang dilakukan
masyarakat dikoordinir kelompok tertentu yang punya kepentingan. Contoh, lihat
saja demo-demo yang hampir setiap hari dilakukan rakyat. (Tbt/f)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] 60 Tahun, Nasib Guru Masih Juga Terabaikan