[ppi] Fwd: [ppiindia] Re: SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI
- From: Mario Gagho <gagho@xxxxxxxxx>
- To: ppi@xxxxxxxxxxxxx
- Date: Wed, 31 Mar 2004 02:55:42 -0800 (PST)
** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
Note: forwarded message attached.
Mario Gagho
Political Science,
Agra University, India
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Finance Tax Center - File online. File on time.
-- Attached file included as plaintext by Ecartis --
X-Apparently-To: gagho@xxxxxxxxx via 66.218.93.170; Tue, 30 Mar 2004 23:39:55
-0800
Return-Path:
<sentto-4893767-10984-1080710048-gagho=yahoo.com@xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx>
Received: from 66.218.66.76 (HELO n20.grp.scd.yahoo.com) (66.218.66.76)
by mta316.mail.scd.yahoo.com with SMTP; Tue, 30 Mar 2004 23:39:55 -0800
X-eGroups-Return:
sentto-4893767-10984-1080710048-gagho=yahoo.com@xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Received: from [66.218.66.97] by n20.grp.scd.yahoo.com with NNFMP; 31 Mar 2004
05:14:11 -0000
X-Sender: tsari2003@xxxxxxxxx
X-Apparently-To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
Received: (qmail 55779 invoked from network); 31 Mar 2004 05:14:05 -0000
Received: from unknown (66.218.66.217)
by m14.grp.scd.yahoo.com with QMQP; 31 Mar 2004 05:14:05 -0000
Received: from unknown (HELO n23.grp.scd.yahoo.com) (66.218.66.79)
by mta2.grp.scd.yahoo.com with SMTP; 31 Mar 2004 05:14:04 -0000
Received: from [66.218.66.118] by n23.grp.scd.yahoo.com with NNFMP; 31 Mar 2004
05:13:02 -0000
To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
In-Reply-To: <OFB72AAF29.9892DD12-ON47256E67.002E8AB4@xxxxxxxxx>
User-Agent: eGroups-EW/0.82
X-Mailer: Yahoo Groups Message Poster
X-eGroups-Remote-IP: 66.218.66.79
From: "tsari2003" <tsari2003@xxxxxxxxx>
X-Originating-IP: 193.242.192.9
X-Yahoo-Profile: tsari2003
MIME-Version: 1.0
Mailing-List: list ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx; contact
ppiindia-owner@xxxxxxxxxxxxxxx
Delivered-To: mailing list ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
Precedence: bulk
List-Unsubscribe: <mailto:ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx>
Date: Wed, 31 Mar 2004 05:13:00 -0000
Subject: [ppiindia] Re: SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI
Reply-To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
Content-Type: multipart/alternative;
boundary="Dj1nVsa8MRVoHLqokALfhK8GGhFQr4xxQIWIpxH"
Content-Length: 10237
--Dj1nVsa8MRVoHLqokALfhK8GGhFQr4xxQIWIpxH
Content-Type: text/plain; charset=ISO-8859-1
Content-Transfer-Encoding: 7bit
Setuju sekali analisis Bung Ym ini dan saya juga kewatir akan nasib
220 juta rakyat Indonesia jika yang jadi nomer satu kok orang yang
kurang disenangi LN karena track record kelompoknya .... Kemampuan
berakrobat politik - ada yang menyebut plin planisme politik -
sungguh amat berbahaya nantinya.... Belum lagi motif
dibelakang "pengkultusan" SBY atau Pengagum aguman SBY - jangan2 ada
apa apanya ayng lain? Siapa mereka sebetulnya? Golongan apa mereka?
Yang saya lihat kok golongan Islamnya boleh dikata tidak banyak,
kalau dikatakan tidak ada ya kurang benar? Tidak representatiflah...
Lha ini juga perlu dilihat... Jangan jangan ada motif lain terutama
dari non-muslim . Lha ini yang harus kita lihat dan cermati. Coba
lihat para petinggi Nomer 9 ini dari "golongan" apa mereka
kebanyakan?///
Sejelek-jeleknya pemimpin sipil masih jauh lebih baik dari pemimpin
militer. Ingat, Bung Karno, sipil, dianggap jelek. Suharto militer.
Mana yang lebih baik? Saya lebih milih B Karno - tapi bukan
keturunannya lho .....
Salam.
--- In ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx, Yustam@xxxx wrote:
>
> SBY adalah orang hebat yang dalam sepak terjang perpolitikannya
sangat
> mulus dan licin sekali, terutama dalam peristiwa-peristiwa genting.
Beliau
> pintar berakrobat, apalagi pada saat sekarang ini, akibat kegagalan
(bisa
> dibilang demikian) pemerintahan sekarang ini mengakibatkan rakyat
> merindukan suatu pemerintahan yang mapan dan mempunyai sikap
tegas, ini
> sebenarnya menjadi peluang SBY untuk dapat melenggang ke depan.
>
> Dapatkah SBY melnggang ke depan dengan masa lalunya yang sering
berlindung
> di ketiak presiden dalam hal-hal genting atau melompat pagar saat
> dibutuhkan. Suatu contoh bagaimana darurat militer yang dirancang
oleh SBY
> tapi pelaksanaannya tidak berani dilakukan karena berusaha
berlindung
> dengan payung kebesarannya.
>
> Saya khawatir apabila SBY dalam melenggang menjadi orang nomor satu
di
> negeri ini maka payung yang diciptakan adalah mengorbankan rakyat
indonesia
> sebagai payung kebesarannya pada saat-saat kritisnya. Karena tidak
ada lagi
> yang akan menjadi tameng selain dari rakyat yang telah memberikan
> legitimasi untuk memerintah.
>
> Sebaiknya dengan pemerintahannya sipil sekarang ini indonesia telah
menjadi
> suatu negara yang benar-benar berdaulat, rakyat sudah dapat
merasakan
> kebebasan berekspresinya dengan system demokrasi yang sekarang ini.
Apabila
> muncul pemimpin yang berlatar belakang militer maka suasana kondusip
> indonesia akan menjadi kaku kembali sehingga hanya akan menjadikan
> indonesia berjalan ke belakang, bukan maju ke depan.
>
> salam
> yb
>
>
>
>
>
>
> http://www.suarapembaruan.com/News/2004/03/29/index.html
>
> SUARA PEMBARUAN DAILY
>
> --------------------------------------------------------------------
------------
>
>
> SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI
>
>
> Atmadji Sumarkidjo
>
> ANYAK persepsi salah mengenai sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
yang
> dibentuk oleh pendapat para pengamat yang di antaranya cuma
diperoleh dari
> bacaan di media, sementara media sendiri membentuk opini (yang
belum tentu
> benar) dari analisis "pengamat ahli" tadi. Jadi sering kedua belah
pihak
> saling mengambil kesimpulan yang sumbernya kurang akurat.
>
> SBY adalah garda terakhir lulusan Akabri (Akademi Angkatan
Bersenjata RI)
> yang memasuki bidang non-militer berkat tersedianya doktrin serta
jalur
> dwifungsi ABRI. Sebagai catatan, Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto
yang
> juga masuk dalam daftar calon presiden (capres) memang juga adalah
lulusan
> Akabri, tetapi sampai ia berhenti dari dinas aktif, belum pernah
terekspos
> pada karir non-militer dan malah miskin pada tugas-tugas
teritorial. Mantan
> Panglima Kostrad itu masuk politik jauh setelah pensiun.
>
> Prabowo yang masuk Akabri sama-sama dengan SBY ketika masih dinas
aktif
> tercatat tidak pernah mendapat penugasan di bidang teritorial.
Bahkan ia
> termasuk sedikit dari perwira TNI yang belum pernah menjadi perwira
> teritorial. Sementara itu, SBY adalah gambaran dari perwira yang
lengkap
> bidang penugasannya: pernah bertugas di satuan tempur, mempunyai jam
> terbang panjang di bidang pendidikan, cukup lama bekerja di staf
serta
> akhirnya punya pengalaman di teritorial.
>
> Menarik untuk mengkaji anatomi lulusan Akabri 1973. Angkatan itu
boleh
> dikata salah satu dari kelompok lulusan yang paling cemerlang dalam
TNI
> tetapi sekaligus juga yang bernasib sial. Dikatakan cemerlang karena
> orang-orang seperti almarhum Letjen Agus Wirahadikusumah, Jenderal
> Ryamizard Ryacudu (Kasad sekarang) , SBY serta juga Prabowo
(menurut buku
> alumni Cadaka Dharma) adalah lulusan dari tahun itu yang mampu
mendapat
> pangkat bintang pada usia produktif (umur 40-an) dan relatif cepat.
>
> Ini belum termasuk para alumni yang berkiprah di matra yang lain
seperti
> Wakasau Marsdya Herman Prayitno atau Laksda Djoko Sumaryono di TNI-
AL atau
> Mayjen Marinir Yus Solichin di Korps Marinir.
>
>
> Banyak Faktor
>
> Ada banyak faktor yang menyebabkan lulusan 1973 mempunyai karier
yang
> cemerlang. Pertama, Akabri menerima para lulusan SKTA yang
berprestasi
> sangat baik dan bermotivasi tinggi yang lulus tahun 1968-1969 baik
dari
> Jakarta maupun daerah. Banyak di antara mereka melamar karena
terpengaruh
> nama harum ABRI pada waktu itu.
>
> Kedua, suasana pendidikan di Magelang sangat kondusif di bawah
kepemimpinan
> Gubernurnya yang flamboyan, yaitu Mayjen Sarwo Edhie Wibowo. Sarwo
tidak
> hanya memberi perhatian pada para taruna darat tetapi juga membina
para
> taruna matra laut, udara dan polisi.
>
> Ketiga, para alumni tahun 1973 terhimpun dalam organisasi alumni
yang aktif
> (Yayasan Cadaka Dharma) dengan "lurah" nya adalah SBY sendiri,
praktis yang
> memimpin mereka sejak menjadi Taruna Akabri hingga ia pensiun dari
jabatan
> militer dengan pangkat Letjen TNI.
>
> Kelompok alumni tersebut sejak semula sangat giat melakukan
aktivitas
> memperluas wawasan dan olah pikir ketimbang sekadar kumpul-kumpul
reuni,
> mulai dari membahas situasi negara sampai me review buku-buku yang
dianggap
> menarik. Dan semua mengakui, ini berkat kepemimpinan "ki lurah" SBY.
>
> Keempat, sewaktu mereka masih berpangkat Mayor dan Letkol, Komandan
Seskoad
> (waktu itu) Mayjen TNI Feisal Tandjung sengaja menarik para perwira
> angkatan 1973 menjadi dosen di Bandung. Bukan itu saja, Kasad
seperti
> Jenderal Edi Sudradjat dan Jenderal Wismoyo Arismunandar juga
memanfaatkan
> otak mereka. Gerakan Back to Basic yang mula-mula dicanangkan oleh
Edi dan
> diteruskan oleh Wismoyo, konsep dasarnya dikembangkan oleh orang-
orang
> seperti Agus Wirahadikusuma dan SBY.
>
> Dalam alam pancaroba seperti itu, para perwira eks 1973 yang
bersikap
> reformis atau tidak konservatif mudah terekspos dan masuk pada
> tarik-menarik politik yang ada. Buku berjudul ABRI Profesional dan
> Dedikatif (Pustaka Sinar Harapan, 1998) yang sebetulnya adalah
produk
> intelektual sebagai peringatan 25 tahun pengabdian mereka tanpa
disengaja
> mengekspos mereka menjadi para alumni yang high profile. Dan
puncaknya
> adalah buku kedua yang berjudul Indonesia Baru dan Tantangan TNI
(PSH,
> 1999) yang terbit pada alam yang lebih demokratis.
>
>
> Buku Kontroversi
>
> Tulisan-tulisan dalam buku tersebut, terutama buku kedua,
menimbulkan rasa
> kagum bagi para pengamat masalah militer, tetapi banyak tidak
disukai oleh
> para jenderal konservatif dalam tubuh TNI sendiri. Buku yang
pemikiran
> mainstream-nya adalah wacana ke depan (alternative future thinking)
Agus
> Whk dan sejumlah perwira lain secara tegas menolak dwifungsi, Orde
Baru dan
> semua produk masa sebelum itu; padahal kelompok konservatif-
orthodoks masih
> banyak pada posisi yang menentukan Cilangkap dan di pojok Jl
Merdeka Utara.
>
>
> Begitu kerasnya isi tulisan-tulisan itu, sehingga SBY yang tadinya
> memberikan kata pengantar, mencabut tulisannya pada saat-saat akhir
ketika
> buku sudah dicetak. Agus agak kecewa, tapi buku tetap diterbitkan
tanpa ada
> jejak serta keterlibatan SBY. Padahal pada awalnya, SBY-lah yang
mendorong
> penerbitan buku yang sering disebut kontroversi itu.
>
> Celakanya, Presiden Abdurrahman Wahid yang amat tertarik dengan
> pemikiran-pemikiran "maju" dari para perwira dalam buku itu,
> terang-terangan memberikan dukungan kepada Agus Whk. Perwira yang
> sifat-sifat pribadinya lebih eksplosif dibanding SBY sudah menjadi
sorotan
> media sejak ia menjadi Pangdam Wirabuana di Makasar. Promosinya
menjadi
> Panglima Kostrad yang terang-terangan didorong oleh Gus Dur akhirnya
> menjadi bumerang bagi karirnya.
>
> Akhirnya ia diganti sebelum waktunya oleh sahabat satu angkatan
juga, yaitu
> Mayjen Ryamizard Ryacudu. Meski demikian, sejumlah perwira teman
dekat atau
> yang pemikirannya sejalan, juga terlempar dari jalur promosi. Di
sini awal
> "kesialan" yang menimpa mereka dan itu baru terakhir satu tahun
terakhir
> ini.
>
> Dalam konteks di ataslah kita harus melihat bagaimana SBY berperan
dan
> mengambil sikap dalam badai politik antara 1992-1999. Ia jelas
belajar
> banyak bagaimana penga-laman pahit yang dialami oleh sang mertua,
Letjen
> TNI Sarwo Edhie yang sangat high profile, dan tidak mau
berkompromi, lurus
> dan cenderung tidak mengerti military politics yang terjadi pada
eranya.
> Sarwo kemudian terlempar dari orbit, sementara yang memperoleh
kepercayaan
> Soeharto adalah para perwira TNI-AD yang lain.
>
> Pada sisi yang lain, ia sadar harapan yang diletakkan oleh rekan-
rekan
> sekelas untuk secepatnya memperoleh kepercayaan pimpinan TNI
menduduki
> posisi yang strategis, cukup besar. Ia sadar satu-satunya cara untuk
> menjunjung kepercayaan rekan-rekannya itu sebagai pembawa bendera
adalah
> mengambil sikap hati-hati dan harus pula menampilkan sosok yang
sedikit
> "konservatif" mesk bumbu moderat masih ada di dalamnya. Ia harus
> menjalankan peran itu, karena Prabowo yang waktu itu justru sangat
high
> profile karena adalah menantu Soeharto mempunyai kelompok pertemanan
> sendiri, dan tidak pernah mengidentikkan dirinya sebagai "anggota"
kelompok
> 1973.
>
>
> Sosok SBY
>
> Salah satu gambaran yang diciptakan ketika ia masuk dalam sorotan
media
> mengenai sosok SBY adalah ia seorang militer-intelektual yang andal
tetapi
> peragu dan tidak mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tegas .
> Budayaan Emha Ainun Nadjib, umpamanya, dalam sebuah talkshow di
radio
> menyebut SBY sebagai sosok yang "kurang militer dan terlalu sipil".
Tetapi
> profil demikian sebetulnya adalah yang mampu membawa SBY selamat
dari
> kecurigaan berbagai kelompok pemikiran atau kepentingan dalam tubuh
ABRI.
> Bahkan mampu lolos dari kecurigaan dari Soeharto yang tidak pernah
> menyenangi perwira yang punya kepribadian atau yang mandiri.
>
> Dengan caranya, ia akhirnya dijadikan sebagai benchmark bagi karir
seorang
> perwira "masa depan" sebagai imbangan karier Prabowo yang melesat
cepat di
> jalur yang lain. Bila kita teliti membaca arah karir keduanya
antara tahun
> 1992-1999, maka kita bisa lihat kenaikan pangkat mereka selalu
hampir
> bersamaan. Ketika Prabowo dipromosi menjadi Brigjen, SBY mendapat
promosi
> di Bosnia dalam pasukan PBB.
>
> Dan sewaktu Prabowo "harus" berpangkat Mayjen, maka SBY pun diplot
menjadi
> Pangdam Sriwijaya (jabatan Mayjen), dengan akibat Brigjen Agus
Widjojo yang
> harusnya menjadi Pangdam di sana akhirnya terlempar dari promosi
secara
> menyakitkan. Untunglah, Pangab Feisal Tandjung cepat menyelamatkan
karier
> Agus Widjojo dan buru-buru menariknya ke Cilangkap.
>
> Baik SBY maupun Prabowo mendapat pangkat Letjen pada waktu yang
tidak
> banyak berbeda. SBY menjadi Kepala Staf Sosial-Politik ABRI
sementara
> Prabowo menjadi Panglima Kostrad. Fakta menunjukkan bahwa SBY mampu
lolos
> dari badai kedua dalam ABRI, ketika terjadi pergantian rezim,
sementara
> Prabowo terpental dari posisinya yang kuat.
>
> Bila kita bisa menempatkan sikap SBY pada konteks ruang dan waktu
pada
> periode yang serba sulit itu, maka kita sulit pula mengambil
kesimpulan
> bahwa SBY adalah seorang "peragu" atau "tidak decisive" atau "tidak
berani
> mengambil keputusan" seperti apa yang digambarkan oleh media atau
yang
> diungkap oleh para pengamat.
>
> Paling tidak, menurut pengamatan saya, SBY tidak berubah sikapnya
sejak
> tahun 1990-an hingga sekarang. Hanya sejalan dengan kenaikan
karirnya, ia
> harus menghindari adanya pandangan yang mengategorikannya sebagai
perwira
> yang berada pada titik-titik ekstrem sebuah pendulum sikap.
Akibatnya,
> memang SBY seolah-olah kurang cocok dengan almarhum Agus Whk;
tetapi adakah
> sikap yang lebih tepat yang harus diambil oleh orang seperti dia
pada
> situasi demikian?
>
> Sejak 12 Maret 2004 lalu SBY sebetulnya terbebas dari beban-beban
yang kita
> sebutkan di atas. Ia bukan perwira TNI aktif, bukan pula seorang
Menteri
> yang harus mengikuti arahan Presiden. Ia adalah pribadi sipil
mandiri yang
> memperbolehkan nya untuk bicara apa saja. Pertanyaanya adalah,
apakah tanpa
> beban di atas kita akan mendapatkan seorang SBY yang "asli" yang
dikenal
> dan justru mulai digaumi banyak kalangan ketika masih berpangkat
Kolonel?
>
>
> Penulis adalah pengamat masalah militer pada RIDEP Institute. Kini
bekerja
> di RCTI.
>
>
>
> --------------------------------------------------------------------
------------
>
>
> Last modified: 29/3/04
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
>
**********************************************************************
*****
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju
Indonesia yg
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
>
**********************************************************************
*****
>
______________________________________________________________________
____
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
> 5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
> 6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
> 7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
>
> Yahoo! Groups Links
--Dj1nVsa8MRVoHLqokALfhK8GGhFQr4xxQIWIpxH
Content-Type: text/html; charset=ISO-8859-1
Content-Transfer-Encoding: 7bit
<html><body>
<tt>
<BR>
Setuju sekali analisis Bung Ym ini dan saya juga kewatir akan nasib <BR>
220 juta rakyat Indonesia jika yang jadi nomer satu kok orang yang <BR>
kurang disenangi LN karena track record kelompoknya .... Kemampuan <BR>
berakrobat politik - ada yang menyebut plin planisme politik - <BR>
sungguh amat berbahaya nantinya.... Belum lagi motif <BR>
dibelakang "pengkultusan" SBY atau Pengagum aguman SBY - jangan2 ada
<BR>
apa apanya ayng lain? Siapa mereka sebetulnya? Golongan apa mereka? <BR>
Yang saya lihat kok golongan Islamnya boleh dikata tidak banyak, <BR>
kalau dikatakan tidak ada ya kurang benar? Tidak representatiflah... <BR>
Lha ini juga perlu dilihat... Jangan jangan ada motif lain terutama <BR>
dari non-muslim . Lha ini yang harus kita lihat dan cermati. Coba <BR>
lihat para petinggi Nomer 9 ini dari "golongan" apa mereka <BR>
kebanyakan?/// <BR>
Sejelek-jeleknya pemimpin sipil masih jauh lebih baik dari pemimpin <BR>
militer. Ingat, Bung Karno, sipil, dianggap jelek. Suharto militer. <BR>
Mana yang lebih baik? Saya lebih milih B Karno - tapi bukan <BR>
keturunannya lho .....<BR>
Salam.<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
--- In ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx, Yustam@xxxx wrote:<BR>
> <BR>
> SBY adalah orang hebat yang dalam sepak terjang perpolitikannya <BR>
sangat<BR>
> mulus dan licin sekali, terutama dalam peristiwa-peristiwa genting. <BR>
Beliau<BR>
> pintar berakrobat, apalagi pada saat sekarang ini, akibat kegagalan <BR>
(bisa<BR>
> dibilang demikian) pemerintahan sekarang ini mengakibatkan rakyat<BR>
> merindukan suatu pemerintahan yang mapan dan mempunyai sikap <BR>
tegas, ini<BR>
> sebenarnya menjadi peluang SBY untuk dapat melenggang ke depan.<BR>
> <BR>
> Dapatkah SBY melnggang ke depan dengan masa lalunya yang sering <BR>
berlindung<BR>
> di ketiak presiden dalam hal-hal genting atau melompat pagar saat<BR>
> dibutuhkan. Suatu contoh bagaimana darurat militer yang dirancang <BR>
oleh SBY<BR>
> tapi pelaksanaannya tidak berani dilakukan karena berusaha <BR>
berlindung<BR>
> dengan payung kebesarannya.<BR>
> <BR>
> Saya khawatir apabila SBY dalam melenggang menjadi orang nomor satu <BR>
di<BR>
> negeri ini maka payung yang diciptakan adalah mengorbankan rakyat <BR>
indonesia<BR>
> sebagai payung kebesarannya pada saat-saat kritisnya. Karena tidak <BR>
ada lagi<BR>
> yang akan menjadi tameng selain dari rakyat yang telah memberikan<BR>
> legitimasi untuk memerintah.<BR>
> <BR>
> Sebaiknya dengan pemerintahannya sipil sekarang ini indonesia telah <BR>
menjadi<BR>
> suatu negara yang benar-benar berdaulat, rakyat sudah dapat <BR>
merasakan<BR>
> kebebasan berekspresinya dengan system demokrasi yang sekarang ini. <BR>
Apabila<BR>
> muncul pemimpin yang berlatar belakang militer maka suasana kondusip<BR>
> indonesia akan menjadi kaku kembali sehingga hanya akan menjadikan<BR>
> indonesia berjalan ke belakang, bukan maju ke depan.<BR>
> <BR>
> salam<BR>
> yb<BR>
> <BR>
> <BR>
> <BR>
> <BR>
> <BR>
> <BR>
> <a
href="http://www.suarapembaruan.com/News/2004/03/29/index.html">http://www.suarapembaruan.com/News/2004/03/29/index.html</a><BR>
> <BR>
> SUARA PEMBARUAN DAILY<BR>
> <BR>
> --------------------------------------------------------------------<BR>
------------<BR>
> <BR>
> <BR>
> SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI<BR>
> <BR>
> <BR>
> Atmadji Sumarkidjo<BR>
> <BR>
> ANYAK persepsi salah mengenai sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) <BR>
yang<BR>
> dibentuk oleh pendapat para pengamat yang di antaranya cuma <BR>
diperoleh dari<BR>
> bacaan di media, sementara media sendiri membentuk opini (yang <BR>
belum tentu<BR>
> benar) dari analisis "pengamat ahli" tadi. Jadi sering kedua
belah <BR>
pihak<BR>
> saling mengambil kesimpulan yang sumbernya kurang akurat.<BR>
> <BR>
> SBY adalah garda terakhir lulusan Akabri (Akademi Angkatan <BR>
Bersenjata RI)<BR>
> yang memasuki bidang non-militer berkat tersedianya doktrin serta <BR>
jalur<BR>
> dwifungsi ABRI. Sebagai catatan, Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto <BR>
yang<BR>
> juga masuk dalam daftar calon presiden (capres) memang juga adalah <BR>
lulusan<BR>
> Akabri, tetapi sampai ia berhenti dari dinas aktif, belum pernah <BR>
terekspos<BR>
> pada karir non-militer dan malah miskin pada tugas-tugas <BR>
teritorial. Mantan<BR>
> Panglima Kostrad itu masuk politik jauh setelah pensiun.<BR>
> <BR>
> Prabowo yang masuk Akabri sama-sama dengan SBY ketika masih dinas <BR>
aktif<BR>
> tercatat tidak pernah mendapat penugasan di bidang teritorial. <BR>
Bahkan ia<BR>
> termasuk sedikit dari perwira TNI yang belum pernah menjadi perwira<BR>
> teritorial. Sementara itu, SBY adalah gambaran dari perwira yang <BR>
lengkap<BR>
> bidang penugasannya: pernah bertugas di satuan tempur, mempunyai jam<BR>
> terbang panjang di bidang pendidikan, cukup lama bekerja di staf <BR>
serta<BR>
> akhirnya punya pengalaman di teritorial.<BR>
> <BR>
> Menarik untuk mengkaji anatomi lulusan Akabri 1973. Angkatan itu <BR>
boleh<BR>
> dikata salah satu dari kelompok lulusan yang paling cemerlang dalam <BR>
TNI<BR>
> tetapi sekaligus juga yang bernasib sial. Dikatakan cemerlang karena<BR>
> orang-orang seperti almarhum Letjen Agus Wirahadikusumah, Jenderal<BR>
> Ryamizard Ryacudu (Kasad sekarang) , SBY serta juga Prabowo <BR>
(menurut buku<BR>
> alumni Cadaka Dharma) adalah lulusan dari tahun itu yang mampu <BR>
mendapat<BR>
> pangkat bintang pada usia produktif (umur 40-an) dan relatif cepat.<BR>
> <BR>
> Ini belum termasuk para alumni yang berkiprah di matra yang lain <BR>
seperti<BR>
> Wakasau Marsdya Herman Prayitno atau Laksda Djoko Sumaryono di TNI-<BR>
AL atau<BR>
> Mayjen Marinir Yus Solichin di Korps Marinir.<BR>
> <BR>
> <BR>
> Banyak Faktor<BR>
> <BR>
> Ada banyak faktor yang menyebabkan lulusan 1973 mempunyai karier <BR>
yang<BR>
> cemerlang. Pertama, Akabri menerima para lulusan SKTA yang <BR>
berprestasi<BR>
> sangat baik dan bermotivasi tinggi yang lulus tahun 1968-1969 baik <BR>
dari<BR>
> Jakarta maupun daerah. Banyak di antara mereka melamar karena <BR>
terpengaruh<BR>
> nama harum ABRI pada waktu itu.<BR>
> <BR>
> Kedua, suasana pendidikan di Magelang sangat kondusif di bawah <BR>
kepemimpinan<BR>
> Gubernurnya yang flamboyan, yaitu Mayjen Sarwo Edhie Wibowo. Sarwo <BR>
tidak<BR>
> hanya memberi perhatian pada para taruna darat tetapi juga membina <BR>
para<BR>
> taruna matra laut, udara dan polisi.<BR>
> <BR>
> Ketiga, para alumni tahun 1973 terhimpun dalam organisasi alumni <BR>
yang aktif<BR>
> (Yayasan Cadaka Dharma) dengan "lurah" nya adalah SBY sendiri,
<BR>
praktis yang<BR>
> memimpin mereka sejak menjadi Taruna Akabri hingga ia pensiun dari <BR>
jabatan<BR>
> militer dengan pangkat Letjen TNI.<BR>
> <BR>
> Kelompok alumni tersebut sejak semula sangat giat melakukan <BR>
aktivitas<BR>
> memperluas wawasan dan olah pikir ketimbang sekadar kumpul-kumpul <BR>
reuni,<BR>
> mulai dari membahas situasi negara sampai me review buku-buku yang <BR>
dianggap<BR>
> menarik. Dan semua mengakui, ini berkat kepemimpinan "ki lurah"
SBY.<BR>
> <BR>
> Keempat, sewaktu mereka masih berpangkat Mayor dan Letkol, Komandan <BR>
Seskoad<BR>
> (waktu itu) Mayjen TNI Feisal Tandjung sengaja menarik para perwira<BR>
> angkatan 1973 menjadi dosen di Bandung. Bukan itu saja, Kasad <BR>
seperti<BR>
> Jenderal Edi Sudradjat dan Jenderal Wismoyo Arismunandar juga <BR>
memanfaatkan<BR>
> otak mereka. Gerakan Back to Basic yang mula-mula dicanangkan oleh <BR>
Edi dan<BR>
> diteruskan oleh Wismoyo, konsep dasarnya dikembangkan oleh orang-<BR>
orang<BR>
> seperti Agus Wirahadikusuma dan SBY.<BR>
> <BR>
> Dalam alam pancaroba seperti itu, para perwira eks 1973 yang <BR>
bersikap<BR>
> reformis atau tidak konservatif mudah terekspos dan masuk pada<BR>
> tarik-menarik politik yang ada. Buku berjudul ABRI Profesional dan<BR>
> Dedikatif (Pustaka Sinar Harapan, 1998) yang sebetulnya adalah <BR>
produk<BR>
> intelektual sebagai peringatan 25 tahun pengabdian mereka tanpa <BR>
disengaja<BR>
> mengekspos mereka menjadi para alumni yang high profile. Dan <BR>
puncaknya<BR>
> adalah buku kedua yang berjudul Indonesia Baru dan Tantangan TNI <BR>
(PSH,<BR>
> 1999) yang terbit pada alam yang lebih demokratis.<BR>
> <BR>
> <BR>
> Buku Kontroversi<BR>
> <BR>
> Tulisan-tulisan dalam buku tersebut, terutama buku kedua, <BR>
menimbulkan rasa<BR>
> kagum bagi para pengamat masalah militer, tetapi banyak tidak <BR>
disukai oleh<BR>
> para jenderal konservatif dalam tubuh TNI sendiri. Buku yang <BR>
pemikiran<BR>
> mainstream-nya adalah wacana ke depan (alternative future thinking) <BR>
Agus<BR>
> Whk dan sejumlah perwira lain secara tegas menolak dwifungsi, Orde <BR>
Baru dan<BR>
> semua produk masa sebelum itu; padahal kelompok konservatif-<BR>
orthodoks masih<BR>
> banyak pada posisi yang menentukan Cilangkap dan di pojok Jl <BR>
Merdeka Utara.<BR>
> <BR>
> <BR>
> Begitu kerasnya isi tulisan-tulisan itu, sehingga SBY yang tadinya<BR>
> memberikan kata pengantar, mencabut tulisannya pada saat-saat akhir <BR>
ketika<BR>
> buku sudah dicetak. Agus agak kecewa, tapi buku tetap diterbitkan <BR>
tanpa ada<BR>
> jejak serta keterlibatan SBY. Padahal pada awalnya, SBY-lah yang <BR>
mendorong<BR>
> penerbitan buku yang sering disebut kontroversi itu.<BR>
> <BR>
> Celakanya, Presiden Abdurrahman Wahid yang amat tertarik dengan<BR>
> pemikiran-pemikiran "maju" dari para perwira dalam buku itu,<BR>
> terang-terangan memberikan dukungan kepada Agus Whk. Perwira yang<BR>
> sifat-sifat pribadinya lebih eksplosif dibanding SBY sudah menjadi <BR>
sorotan<BR>
> media sejak ia menjadi Pangdam Wirabuana di Makasar. Promosinya <BR>
menjadi<BR>
> Panglima Kostrad yang terang-terangan didorong oleh Gus Dur akhirnya<BR>
> menjadi bumerang bagi karirnya.<BR>
> <BR>
> Akhirnya ia diganti sebelum waktunya oleh sahabat satu angkatan <BR>
juga, yaitu<BR>
> Mayjen Ryamizard Ryacudu. Meski demikian, sejumlah perwira teman <BR>
dekat atau<BR>
> yang pemikirannya sejalan, juga terlempar dari jalur promosi. Di <BR>
sini awal<BR>
> "kesialan" yang menimpa mereka dan itu baru terakhir satu tahun
<BR>
terakhir<BR>
> ini.<BR>
> <BR>
> Dalam konteks di ataslah kita harus melihat bagaimana SBY berperan <BR>
dan<BR>
> mengambil sikap dalam badai politik antara 1992-1999. Ia jelas <BR>
belajar<BR>
> banyak bagaimana penga-laman pahit yang dialami oleh sang mertua, <BR>
Letjen<BR>
> TNI Sarwo Edhie yang sangat high profile, dan tidak mau <BR>
berkompromi, lurus<BR>
> dan cenderung tidak mengerti military politics yang terjadi pada <BR>
eranya.<BR>
> Sarwo kemudian terlempar dari orbit, sementara yang memperoleh <BR>
kepercayaan<BR>
> Soeharto adalah para perwira TNI-AD yang lain.<BR>
> <BR>
> Pada sisi yang lain, ia sadar harapan yang diletakkan oleh rekan-<BR>
rekan<BR>
> sekelas untuk secepatnya memperoleh kepercayaan pimpinan TNI <BR>
menduduki<BR>
> posisi yang strategis, cukup besar. Ia sadar satu-satunya cara untuk<BR>
> menjunjung kepercayaan rekan-rekannya itu sebagai pembawa bendera <BR>
adalah<BR>
> mengambil sikap hati-hati dan harus pula menampilkan sosok yang <BR>
sedikit<BR>
> "konservatif" mesk bumbu moderat masih ada di dalamnya. Ia
harus<BR>
> menjalankan peran itu, karena Prabowo yang waktu itu justru sangat <BR>
high<BR>
> profile karena adalah menantu Soeharto mempunyai kelompok pertemanan<BR>
> sendiri, dan tidak pernah mengidentikkan dirinya sebagai
"anggota" <BR>
kelompok<BR>
> 1973.<BR>
> <BR>
> <BR>
> Sosok SBY<BR>
> <BR>
> Salah satu gambaran yang diciptakan ketika ia masuk dalam sorotan <BR>
media<BR>
> mengenai sosok SBY adalah ia seorang militer-intelektual yang andal <BR>
tetapi<BR>
> peragu dan tidak mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tegas .<BR>
> Budayaan Emha Ainun Nadjib, umpamanya, dalam sebuah talkshow di <BR>
radio<BR>
> menyebut SBY sebagai sosok yang "kurang militer dan terlalu
sipil". <BR>
Tetapi<BR>
> profil demikian sebetulnya adalah yang mampu membawa SBY selamat <BR>
dari<BR>
> kecurigaan berbagai kelompok pemikiran atau kepentingan dalam tubuh <BR>
ABRI.<BR>
> Bahkan mampu lolos dari kecurigaan dari Soeharto yang tidak pernah<BR>
> menyenangi perwira yang punya kepribadian atau yang mandiri.<BR>
> <BR>
> Dengan caranya, ia akhirnya dijadikan sebagai benchmark bagi karir <BR>
seorang<BR>
> perwira "masa depan" sebagai imbangan karier Prabowo yang
melesat <BR>
cepat di<BR>
> jalur yang lain. Bila kita teliti membaca arah karir keduanya <BR>
antara tahun<BR>
> 1992-1999, maka kita bisa lihat kenaikan pangkat mereka selalu <BR>
hampir<BR>
> bersamaan. Ketika Prabowo dipromosi menjadi Brigjen, SBY mendapat <BR>
promosi<BR>
> di Bosnia dalam pasukan PBB.<BR>
> <BR>
> Dan sewaktu Prabowo "harus" berpangkat Mayjen, maka SBY pun
diplot <BR>
menjadi<BR>
> Pangdam Sriwijaya (jabatan Mayjen), dengan akibat Brigjen Agus <BR>
Widjojo yang<BR>
> harusnya menjadi Pangdam di sana akhirnya terlempar dari promosi <BR>
secara<BR>
> menyakitkan. Untunglah, Pangab Feisal Tandjung cepat menyelamatkan <BR>
karier<BR>
> Agus Widjojo dan buru-buru menariknya ke Cilangkap.<BR>
> <BR>
> Baik SBY maupun Prabowo mendapat pangkat Letjen pada waktu yang <BR>
tidak<BR>
> banyak berbeda. SBY menjadi Kepala Staf Sosial-Politik ABRI <BR>
sementara<BR>
> Prabowo menjadi Panglima Kostrad. Fakta menunjukkan bahwa SBY mampu <BR>
lolos<BR>
> dari badai kedua dalam ABRI, ketika terjadi pergantian rezim, <BR>
sementara<BR>
> Prabowo terpental dari posisinya yang kuat.<BR>
> <BR>
> Bila kita bisa menempatkan sikap SBY pada konteks ruang dan waktu <BR>
pada<BR>
> periode yang serba sulit itu, maka kita sulit pula mengambil <BR>
kesimpulan<BR>
> bahwa SBY adalah seorang "peragu" atau "tidak
decisive" atau "tidak <BR>
berani<BR>
> mengambil keputusan" seperti apa yang digambarkan oleh media atau <BR>
yang<BR>
> diungkap oleh para pengamat.<BR>
> <BR>
> Paling tidak, menurut pengamatan saya, SBY tidak berubah sikapnya <BR>
sejak<BR>
> tahun 1990-an hingga sekarang. Hanya sejalan dengan kenaikan <BR>
karirnya, ia<BR>
> harus menghindari adanya pandangan yang mengategorikannya sebagai <BR>
perwira<BR>
> yang berada pada titik-titik ekstrem sebuah pendulum sikap. <BR>
Akibatnya,<BR>
> memang SBY seolah-olah kurang cocok dengan almarhum Agus Whk; <BR>
tetapi adakah<BR>
> sikap yang lebih tepat yang harus diambil oleh orang seperti dia <BR>
pada<BR>
> situasi demikian?<BR>
> <BR>
> Sejak 12 Maret 2004 lalu SBY sebetulnya terbebas dari beban-beban <BR>
yang kita<BR>
> sebutkan di atas. Ia bukan perwira TNI aktif, bukan pula seorang <BR>
Menteri<BR>
> yang harus mengikuti arahan Presiden. Ia adalah pribadi sipil <BR>
mandiri yang<BR>
> memperbolehkan nya untuk bicara apa saja. Pertanyaanya adalah, <BR>
apakah tanpa<BR>
> beban di atas kita akan mendapatkan seorang SBY yang "asli" yang
<BR>
dikenal<BR>
> dan justru mulai digaumi banyak kalangan ketika masih berpangkat <BR>
Kolonel?<BR>
> <BR>
> <BR>
> Penulis adalah pengamat masalah militer pada RIDEP Institute. Kini <BR>
bekerja<BR>
> di RCTI.<BR>
> <BR>
> <BR>
> <BR>
> --------------------------------------------------------------------<BR>
------------<BR>
> <BR>
> <BR>
> Last modified: 29/3/04<BR>
> <BR>
> [Non-text portions of this message have been removed]<BR>
> <BR>
> <BR>
> <BR>
> <BR>
> <BR>
**********************************************************************<BR>
*****<BR>
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju <BR>
Indonesia yg<BR>
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru<BR>
> <BR>
**********************************************************************<BR>
*****<BR>
> <BR>
______________________________________________________________________<BR>
____<BR>
> Mohon Perhatian:<BR>
> <BR>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg <BR>
otokritik)<BR>
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.<BR>
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;<BR>
> 4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
> 5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
> 6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
> 7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
> <BR>
> Yahoo! Groups Links<BR>
<BR>
</tt>
<br><br>
<tt>
***************************************************************************<BR>
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru<BR>
***************************************************************************<BR>
__________________________________________________________________________<BR>
Mohon Perhatian:<BR>
<BR>
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)<BR>
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.<BR>
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; <BR>
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
</tt>
<br><br>
<!-- |**|begin egp html banner|**| -->
<br>
<tt><hr width="500">
<b>Yahoo! Groups Links</b><br>
<ul>
<li>To visit your group on the web, go to:<br><a
href="http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/">http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/</a><br>
<li>To unsubscribe from this group, send an email to:<br><a
href="mailto:ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx?subject=Unsubscribe">ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx</a><br>
<li>Your use of Yahoo! Groups is subject to the <a
href="http://docs.yahoo.com/info/terms/">Yahoo! Terms of Service</a>.
</ul>
</tt>
</br>
<!-- |**|end egp html banner|**| -->
</body></html>
--Dj1nVsa8MRVoHLqokALfhK8GGhFQr4xxQIWIpxH--
Other related posts: