[ppi] Fwd: [ppiindia] Re: Fwd: Reportase H. Atmodjo: BBC Interview Korban Massacre '65
- From: Mario Gagho <gagho@xxxxxxxxx>
- To: ppi@xxxxxxxxxxxxx
- Date: Wed, 31 Mar 2004 02:25:19 -0800 (PST)
** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
Mario Gagho
Political Science,
Agra University, India
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Finance Tax Center - File online. File on time.
-- Attached file included as plaintext by Ecartis --
X-Apparently-To: gagho@xxxxxxxxx via 66.218.93.172; Tue, 30 Mar 2004 20:25:35
-0800
Return-Path:
<sentto-4893767-10974-1080695465-gagho=yahoo.com@xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx>
Received: from 66.218.66.72 (HELO n17.grp.scd.yahoo.com) (66.218.66.72)
by mta186.mail.scd.yahoo.com with SMTP; Tue, 30 Mar 2004 20:25:35 -0800
X-eGroups-Return:
sentto-4893767-10974-1080695465-gagho=yahoo.com@xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Received: from [66.218.66.156] by n17.grp.scd.yahoo.com with NNFMP; 31 Mar 2004
01:11:08 -0000
X-Sender: tsari2003@xxxxxxxxx
X-Apparently-To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
Received: (qmail 48738 invoked from network); 31 Mar 2004 01:11:02 -0000
Received: from unknown (66.218.66.166)
by m16.grp.scd.yahoo.com with QMQP; 31 Mar 2004 01:11:02 -0000
Received: from unknown (HELO n31.grp.scd.yahoo.com) (66.218.66.99)
by mta5.grp.scd.yahoo.com with SMTP; 31 Mar 2004 01:11:02 -0000
Received: from [66.218.66.112] by n31.grp.scd.yahoo.com with NNFMP; 31 Mar 2004
01:09:52 -0000
To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
In-Reply-To: <00b101c41639$e6db86b0$0202a8c0@Heavensgate>
User-Agent: eGroups-EW/0.82
X-Mailer: Yahoo Groups Message Poster
X-eGroups-Remote-IP: 66.218.66.99
From: "tsari2003" <tsari2003@xxxxxxxxx>
X-Originating-IP: 193.242.192.9
X-Yahoo-Profile: tsari2003
MIME-Version: 1.0
Mailing-List: list ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx; contact
ppiindia-owner@xxxxxxxxxxxxxxx
Delivered-To: mailing list ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
Precedence: bulk
List-Unsubscribe: <mailto:ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx>
Date: Wed, 31 Mar 2004 01:09:51 -0000
Subject: [ppiindia] Re: Fwd: Reportase H. Atmodjo: BBC Interview Korban
Massacre '65
Reply-To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
Content-Type: multipart/alternative;
boundary="73a3uXc3apMPKsqCZfuTm6ZpX6O24j1zJB2OeI4"
Content-Length: 9036
--73a3uXc3apMPKsqCZfuTm6ZpX6O24j1zJB2OeI4
Content-Type: text/plain; charset=ISO-8859-1
Content-Transfer-Encoding: 7bit
Nyong Ambon Yth,
Trims atas usulannya utk mempelajari keadaan dunia. Bukan saja saya
telah mempelajari geo-politik Dunia dari dulu, tapi juga saya telah
mengalaminya sendiribketika terjadi pemutar balikan ini - Zaman Amrik
membantu Mujahidin melawan Sovyet Rusia di afghanistan, atau ketika
Amrik membantu Iraq melawan Iran, dan membantu Osama bin Laden dulu...
Benar kata anda, dan benar apa yang dikatakan Disraeli - Yang ada
hanya eternal interests, tidak ada eternal friends atau enemies...
Makanya claim Barat sebagai champion of democracy atau human rights
aneh dan tak berlandasan sama sekali.... Justeru merekalah pelanggar
HAM terberat.... Tapi karena mereka kuat, ya menekan negara2 kecil
lainnya (sperti Indon)... Might is right - karena kuat jadi benar,
itu semboyan mereka. Saya jadi ketawa sendiri ketika ad orasng yang
mengatakan arrogansi barat dan double standardnya sebagai "It is all
jus a bush shit"....
--- In ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx, "Ambon" <sea@xxxx> wrote:
> Caba Anda pelajari perkembangan geo-politik perang dingin dan
> implikasinya pad negeri-negeri dunia ketiga, mulai dari Gutemala
tahun
> 1950-an. Pelajari juga dukungan kepada Mujahidin di Afghanistan,
Irak
> dibawah Sadam Hussein sampai tahun 1989 dsbnya. Mungkin Anda akan
mendapat
> gambaran yang lebih luas dengan perkembangan di Indonesia sekarang
ini.
>
> ----- Original Message -----
> From: "tsari2003" <tsari2003@xxxx>
> To: <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
> Sent: Tuesday, March 30, 2004 7:59 AM
> Subject: [ppiindia] Re: Fwd: Reportase H. Atmodjo: BBC Interview
Korban
> Massacre '65
>
>
> >
> > Kadang2 orang2 LN aneh-aneh dan mau bikin sensasi serta mau
menangnya
> > saja dan sok pinter serta sok bersih saja.
> > Benar, tragedi 1965 cukup memprihatinkan, Tapi itu kan ada sebab
dan
> > akibatnya - sebabnya yang terang PKI mau berontak dan telah
membunuhi
> > orang2 beragama, terutama Islam, lalu membunuhi tentara. Dan
mereka
> > dilwan - laklu ada korban disana sini. Wajarlah. Bila ada ekses,ya
> > bagaimana lagi, orang namanya "to kill or be killed" - Kalau
umpama
> > yang menang mereka (PKI = komunis) maka akan lebih banyak lagi
> > korbannya - orang2 sipil Muslim - kiyai2 NU Muhammadiyah serta
juga
> > dari Agama lain - katolik dan protestan yang tak setuju PKI.
Mdreka
> > pasti akan dibabat habis.
> > Lha untungnya yang menang golongan Agama dgn tentara. Eksesd ya
ada.
> > Orang tentara USA dan Inggris di Iraq juga membunuhi warga sipil
kok.
> > Ayo, silahkan wawancara warga sipil Iraq dan Afghanistan sana -
yang
> > dibantai oleh serdadu yang mengaku orang kampiun HAM - AMrik dan
> > Inggris.
> > Hai BBC jika perlu, wawancarai itu korban Tanjung Priok, orang2
islam
> > yang jadi korban tentara dibawah rezim Suharto....
> > Kalau soal 1965 sebaiknya sudahlah - biarlah mereka damai, toh
anak2
> > orang penting dari kedua belah pihak sudah pada damai....
> > Well, Americans and Britons have no right to claim being the
> > champions of human rights - you yourselves are mockering human
> > rights in both Iraq and Afghanistan.... Look what the Americans
do
> > to the priosoners in Quantanamo Bay -- you are no better than the
> > Naziz, or the Vietcongs.....
> > Dan jangan jadi anteknya Inggeris danAmrik hanya karena dapat
> > pound sterling atau dollar saja ya .... Harga diri kita jaga...
itu
> > kalau masih punya...
> >
> > Don't be hypocrates...
> >
> >
> > --- In ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx, "herilatief" <herilatief@xxxx>
wrote:
> > > FYI.
> > >
> > > (jutaan arwah penasaran melayang diatas kehidupan ketidakadilan
di
> > > indonesia...).
> > >
> > > --- In sastra-pembebasan@xxxxxxxxxxxxxxx, Mira Wijaya Kusuma
> > > <la_luta@xxxx> wrote:
> > >
> > > From: heru atmodjo <heru_atmodjo@xxxx>
> > > Subject: BBC Interview Korban Massacre '65
> > > Date: Sat, 27 Mar 2004 08:13:16 -0800 (PST)
> > >
> > > BBC Interview Korban Massacre '65
> > >
> > > Linda Pressly, journalist, Word Current Affairs dari BBC, hari
ini
> > > bersama Christoffer, rekannya, dan seorang interpreter, Nabiha,
BBC
> > > local, minta bantuan PEC untuk pergi menemui korban '65 korban
> > > pembunuhan massal 65, suami misteri di Tangerang.
> > >
> > > Semula seorang yang relatif mapan, bapaknya hilang dalam
peristiwa
> > 65,
> > > ketika diminta untuk interview menolak, tak bersedia menjadi
obyek
> > > studi, katanya. Telah diusahakan untuk interview isteri dan anak
> > Bung
> > > Nyoto. Tapi mencari alamatnya, sulit didapat.
> > >
> > > Kedatangan rombongan ini ke Tangerang tepat waktu, jam 08:30
sudah
> > > siap. Baik obyek interview maupun team penginterview sudah
lengkap.
> > > Yang diinterview ditanya apakah namanya boleh dibuka atau dengan
> > > anonim? Sang suami tidak keberatan namanya disebut lengkap, tapi
> > > isteryna keberatan. Keluarga ini suami isteri, adalah pasangan
> > korban
> > > '65. Sang suami tahun 1965 tinggal di Pemalang, baru berumur 17
> > tahun.
> > > Memang ia waktu itu adalah anggota Ikatan Persatuan Pelajar
> > Indonesia
> > > (IPPI) ketika itu. Ayahnya diambil, diculik dari rumahnya,
tepatnya
> > > tanggal 5 Oktober 1965, tidak tahu dibawa kemana. Pamannya yang
> > pemuka
> > > masyarakat di desa itu, hilang tak kembali hingga sekarang.
Ayahnya,
> > > akhirnya kembali dari pembuangan Pulau Buru. Tentu ini
meruipakan
> > > suatu hal yang luar biasa. Orang hilang sekian tahun dapat
pulang
> > kembali.
> > >
> > > Sebagai pelajar, sebenarnya ia tak ingin meninggalkan kampung
> > > halamannya. Tapi ibunya mendesak agar meninggalkan daerah itu.
> > Suasana
> > > di desanya sangat mencekam, banyak orang diculik, dibawa tidak
> > > kembali. Akhirnya keluarga sipa melawan dengan menyiapkan segala
> > > sesuatu alat perlawanan. Serbuan penculikan tidak terjadi. Hanya
> > > banyak rumah dibakari. Karena itu ia lari dengan menyamar,
menuju
> > > Jakarta.
> > >
> > > Di Jakarta, sempat bekerja sebagai jurutulis di toko serba ada
> > > Sarinah. Tapi kemudian, tokh ada orang yang menunjukkan, bahwa
ia
> > > adalah anggota keluarga PKI. Ia ditangkap Satgas Intel "Kalong"
yang
> > > terkenal kejamnya. Disiksa, disetrum Kedua jarinya dimasukkan
ke
> > > dalam cincin listrik. Batterai diputar. Strum mengalir, bukan
main
> > > sakitnya, katanya. Luar biasa, mengenai otak, kejutan luar biasa
> > > sakitnya. Ia digebuki, dihajar oleh orang yang badannya kekar,
yang
> > > dipanggil BOB, dan Kapten Suroso komandan "Kalong". Mereka ini
> > adalah
> > > algojonya. Terhadap dia, nampaknya karena dianggap anak kecil,
muda,
> > > diperlakukan tidak terlalu ditekan, kecuali seperti disebut
tadi.
> > >
> > > Dan pada akhirnya ia dipindahkan ke Salemba dari Satgas Kalong
itu.
> > > Disini tidak terlalu banyak penyiksaan di depan mata. Kemudian
> > > dipindahkan ke Tangerang. Di Tangerang mengalami pembebasan
paling
> > > akhir. Masalahnya, Kodam masih menginginkan agar lahannya yang
> > terdiri
> > > dari persawahan, agar tetap dapat dipertahankan, tidak
dikembalikan
> > ke
> > > Penjara (Lembaga Pemasyarakatan).
> > >
> > > Isterinya, baru umur delapan tahun pada 1965. Ketika ia pulang
dari
> > > sekolah, ayahnya diambil oleh tentara yang bersenjata. Memang
sudah
> > > banyak yang ditangkap dan diculik. Ayahnya termasuk mendapat
> > giliran.
> > > Sebagai seorang sekretaris Kabupaten, termasuk yang disegani dan
> > > dihormati. Bersama orang lain dikumpulkan di sebuah tempat
tahanan.
> > >
> > > Kemudian ada pemberitahuan bahwa orang-orang PKI akan dibunuh
semua.
> > > Benar, akhirnya suatu ketika, bapaknya terakhir masih sempat
bertemu
> > > dengan anak dan keluarganya. Ia dielus-elus oleh ayah tercinta,
dan
> > > diminta agar tidak menangis. Bapak tidak apa-apa, katanya.
Beberapa
> > > hari kemudian ada berita bahwa Bapaknya telah dibunuh. Dikubur
> > dalam
> > > satu lubang bersama dua orang lain. Lobang itu sempat diberi
tanda
> > > oleh orang yang diperintah menggali lubang. Lubang itu berisi si
> > > Bapak, Bupati Boyolali dan seorang lagi. Baru dua tahun lalu,
2002
> > > keluarga ini boleh nyekar ke tempat kuburan ayahnya. Tak dapat
> > > diceriterakan kesedihan, tangis dan jerit ketika berita itu
> > diterima.
> > >
> > > Linda, BBC, menanyakan bagaimana persaannya. Yang diinterview
terus
> > > menangis, ketika ditanya mengenai hal-ikhwal Bapaknya. Malah
kakak
> > > perempuannya menganjurkan, agar sudahlah tidak usah dibicarakan
> > lagi,
> > > katanya. Trauma masih mengahantui keluarga itu sampai hari ini.
> > Ketika
> > > Linda, BBC, menanyakan tentang pembunuhan, dijelaskan bahwa di
> > > desanya, Boyolali, 90% penduduknya adalah simpatisan dan
anggota PKI
> > > sebelum1965. Jumlah penduduk di desa itu kira-kira 300.000
orang.
> > > Yang dibunuh dan hilang 250 000 orang. Pembunuhan dilakukan ,
> > dengan
> > > terlebih dahulu korbannya diculik, dipaksa ikut. Esok harinya
> > > kepalanya sudah dipenggal, ditusuk dengan bambu, dan dipancang
di
> > > jalan-jalan. Katanya supaya rakyat tahu PKI itu harus
dibegitukan.
> > >
> > > Ketika sang suami, pernah berkunjung, ke temapat tahanan, pernah
> > > melihat ratusan orang di sebuah ladang duduk dengan tangan di
> > belakang
> > > kepalanya. Suasana sepi, nyenyak. Di antara mereka ada yang
> > tangannya
> > > luka-luka, ada yang kepala dan mukanya berlumuran darah.. Mereka
> > > menunggu eksekusi yang biasanya dilaksanakan pada malam hari.
> > >
> > > Linda, BBC, tanya pada yang hadir dalam interview itu, apakah
ada
> > yang
> > > anggota PKI. di antara yang hadir. Tidak ada yang bersedia
mengaku.
> > > Dalam interv iew, menurut Linda, pengalamannya tidak menemukan
yang
> > > mengaku PKI. Padalah PKI itu katanya dalam 1965 itu anggotanya 3
> > juta
> > > orang. Untuk itu ada yang menjawab, memang, tapi itu kan angka-
angka
> > > statistik. Dan praktek keanggotaannya hanyalah dengan
menandatangani
> > > surat pendaftaran saja, katanya, dan itu dianggap anggota.
> > >
> > > Suasana interview memang mencekam ketika korban menceritakan
> > > pengalamannya. Air mata Korban tak dapat dibendung, ingatannya
> > > melayang ke kejadian sekian puluh tahun yang telah silam, masih
> > > terbayang. Suasana hening, menunggu reda isak tangis yang
> > diinterview.
> > > Sang suami mengatakan, bahwa hal ini tak banyak orang, tetangga
yang
> > > tahu, karena memang tetap disembunyikan, tidak diceriterakan
kepada
> > > siapa-siapa. Kali ini BBC berhasil, tentu karena suasana secara
> > umum
> > > memungkinkan.
> > > Christoffer, rekan Linda, bertanya, mengapa pemerintah Indonesia
> > tidak
> > > berusaha menghilangkan trauma rakyatnya. Tentu hal ini mendapat
> > > jawaban dari yang hadir, justeru inilah yang kita harapkan,
> > perjuangan
> > > kita dengan mengirim delegasi ke Geneva segala dapat tercapai.
Tapi
> > > hasilnya masih sangat kecil sekali.
> > >
> > > Linda berusaha menutup interv iew itu dengan mengajak menyanyi
lagu
> > > apa yang dulu paling disukai. Korban usul menyanyikan "Genjer-
> > Genjer"
> > > (HeA)
> >
> >
> >
> >
>
**********************************************************************
*****
> > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju
Indonesia
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
> >
>
**********************************************************************
*****
> >
______________________________________________________________________
____
> > Mohon Perhatian:
> >
> > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
otokritik)
> > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan
dikomentari.
> > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> > 4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
> > 5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
> > 6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
> > 7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
> >
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
> >
> >
--73a3uXc3apMPKsqCZfuTm6ZpX6O24j1zJB2OeI4
Content-Type: text/html; charset=ISO-8859-1
Content-Transfer-Encoding: 7bit
<html><body>
<tt>
Nyong Ambon Yth,<BR>
<BR>
Trims atas usulannya utk mempelajari keadaan dunia. Bukan saja saya <BR>
telah mempelajari geo-politik Dunia dari dulu, tapi juga saya telah <BR>
mengalaminya sendiribketika terjadi pemutar balikan ini - Zaman Amrik <BR>
membantu Mujahidin melawan Sovyet Rusia di afghanistan, atau ketika <BR>
Amrik membantu Iraq melawan Iran, dan membantu Osama bin Laden dulu...<BR>
Benar kata anda, dan benar apa yang dikatakan Disraeli - Yang ada <BR>
hanya eternal interests, tidak ada eternal friends atau enemies...<BR>
Makanya claim Barat sebagai champion of democracy atau human rights <BR>
aneh dan tak berlandasan sama sekali.... Justeru merekalah pelanggar <BR>
HAM terberat.... Tapi karena mereka kuat, ya menekan negara2 kecil <BR>
lainnya (sperti Indon)... Might is right - karena kuat jadi benar, <BR>
itu semboyan mereka. Saya jadi ketawa sendiri ketika ad orasng yang <BR>
mengatakan arrogansi barat dan double standardnya sebagai "It is all <BR>
jus a bush shit"....<BR>
<BR>
<BR>
--- In ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx, "Ambon" <sea@xxxx> wrote:<BR>
> Caba Anda pelajari perkembangan geo-politik perang
dingin dan<BR>
> implikasinya pad negeri-negeri dunia ketiga, mulai dari Gutemala <BR>
tahun<BR>
> 1950-an. Pelajari juga dukungan kepada Mujahidin di Afghanistan, <BR>
Irak<BR>
> dibawah Sadam Hussein sampai tahun 1989 dsbnya. Mungkin Anda akan <BR>
mendapat<BR>
> gambaran yang lebih luas dengan perkembangan di Indonesia sekarang
<BR>
ini.<BR>
> <BR>
> ----- Original Message ----- <BR>
> From: "tsari2003" <tsari2003@xxxx><BR>
> To: <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx><BR>
> Sent: Tuesday, March 30, 2004 7:59 AM<BR>
> Subject: [ppiindia] Re: Fwd: Reportase H. Atmodjo: BBC Interview <BR>
Korban<BR>
> Massacre '65<BR>
> <BR>
> <BR>
> ><BR>
> > Kadang2 orang2 LN aneh-aneh dan mau bikin sensasi serta mau <BR>
menangnya<BR>
> > saja dan sok pinter serta sok bersih saja.<BR>
> > Benar, tragedi 1965 cukup memprihatinkan, Tapi itu kan ada
sebab <BR>
dan<BR>
> > akibatnya - sebabnya yang terang PKI mau berontak dan telah <BR>
membunuhi<BR>
> > orang2 beragama, terutama Islam, lalu membunuhi tentara. Dan <BR>
mereka<BR>
> > dilwan - laklu ada korban disana sini. Wajarlah. Bila ada ekses,ya<BR>
> > bagaimana lagi, orang namanya "to kill or be killed" -
Kalau <BR>
umpama<BR>
> > yang menang mereka (PKI = komunis) maka akan lebih banyak lagi<BR>
> > korbannya - orang2 sipil Muslim - kiyai2 NU Muhammadiyah serta <BR>
juga<BR>
> > dari Agama lain - katolik dan protestan yang tak setuju PKI. <BR>
Mdreka<BR>
> > pasti akan dibabat habis.<BR>
> > Lha untungnya yang menang golongan Agama dgn tentara. Eksesd ya <BR>
ada.<BR>
> > Orang tentara USA dan Inggris di Iraq juga membunuhi warga sipil <BR>
kok.<BR>
> > Ayo, silahkan wawancara warga sipil Iraq dan Afghanistan sana - <BR>
yang<BR>
> > dibantai oleh serdadu yang mengaku orang kampiun HAM - AMrik dan<BR>
> > Inggris.<BR>
> > Hai BBC jika perlu, wawancarai itu korban Tanjung Priok, orang2 <BR>
islam<BR>
> > yang jadi korban tentara dibawah rezim Suharto....<BR>
> > Kalau soal 1965 sebaiknya sudahlah - biarlah mereka damai, toh <BR>
anak2<BR>
> > orang penting dari kedua belah pihak sudah pada damai....<BR>
> > Well, Americans and Britons have no right to claim being the<BR>
> > champions of human rights - you yourselves are mockering human<BR>
> > rights in both Iraq and Afghanistan.... Look what the Americans
<BR>
do<BR>
> > to the priosoners in Quantanamo Bay -- you are no better than the<BR>
> > Naziz, or the Vietcongs.....<BR>
> > Dan jangan jadi anteknya Inggeris danAmrik hanya
karena dapat<BR>
> > pound sterling atau dollar saja ya .... Harga diri kita jaga... <BR>
itu<BR>
> > kalau masih punya...<BR>
> ><BR>
> > Don't be hypocrates...<BR>
> ><BR>
> ><BR>
> > --- In ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx, "herilatief"
<herilatief@xxxx> <BR>
wrote:<BR>
> > > FYI.<BR>
> > ><BR>
> > > (jutaan arwah penasaran melayang diatas kehidupan ketidakadilan
<BR>
di<BR>
> > > indonesia...).<BR>
> > ><BR>
> > > --- In sastra-pembebasan@xxxxxxxxxxxxxxx, Mira Wijaya Kusuma<BR>
> > > <la_luta@xxxx> wrote:<BR>
> > ><BR>
> > > From: heru atmodjo <heru_atmodjo@xxxx><BR>
> > > Subject: BBC Interview Korban Massacre '65<BR>
> > > Date: Sat, 27 Mar 2004 08:13:16 -0800 (PST)<BR>
> > ><BR>
> > > BBC Interview Korban Massacre '65<BR>
> > ><BR>
> > > Linda Pressly, journalist, Word Current Affairs dari BBC, hari
<BR>
ini<BR>
> > > bersama Christoffer, rekannya, dan seorang interpreter, Nabiha,
<BR>
BBC<BR>
> > > local, minta bantuan PEC untuk pergi menemui korban '65
korban<BR>
> > > pembunuhan massal 65, suami misteri di Tangerang.<BR>
> > ><BR>
> > > Semula seorang yang relatif mapan, bapaknya hilang dalam <BR>
peristiwa<BR>
> > 65,<BR>
> > > ketika diminta untuk interview menolak, tak bersedia
menjadi <BR>
obyek<BR>
> > > studi, katanya. Telah diusahakan untuk interview isteri dan
anak<BR>
> > Bung<BR>
> > > Nyoto. Tapi mencari alamatnya, sulit didapat.<BR>
> > ><BR>
> > > Kedatangan rombongan ini ke Tangerang tepat waktu, jam
08:30 <BR>
sudah<BR>
> > > siap. Baik obyek interview maupun team penginterview sudah <BR>
lengkap.<BR>
> > > Yang diinterview ditanya apakah namanya boleh dibuka atau
dengan<BR>
> > > anonim? Sang suami tidak keberatan namanya disebut lengkap,
tapi<BR>
> > > isteryna keberatan. Keluarga ini suami isteri, adalah
pasangan<BR>
> > korban<BR>
> > > '65. Sang suami tahun 1965 tinggal di Pemalang, baru berumur
17<BR>
> > tahun.<BR>
> > > Memang ia waktu itu adalah anggota Ikatan Persatuan Pelajar<BR>
> > Indonesia<BR>
> > > (IPPI) ketika itu. Ayahnya diambil, diculik dari rumahnya, <BR>
tepatnya<BR>
> > > tanggal 5 Oktober 1965, tidak tahu dibawa kemana. Pamannya
yang<BR>
> > pemuka<BR>
> > > masyarakat di desa itu, hilang tak kembali hingga sekarang. <BR>
Ayahnya,<BR>
> > > akhirnya kembali dari pembuangan Pulau Buru. Tentu ini <BR>
meruipakan<BR>
> > > suatu hal yang luar biasa. Orang hilang sekian tahun dapat <BR>
pulang<BR>
> > kembali.<BR>
> > ><BR>
> > > Sebagai pelajar, sebenarnya ia tak ingin meninggalkan kampung<BR>
> > > halamannya. Tapi ibunya mendesak agar meninggalkan daerah
itu.<BR>
> > Suasana<BR>
> > > di desanya sangat mencekam, banyak orang diculik, dibawa
tidak<BR>
> > > kembali. Akhirnya keluarga sipa melawan dengan menyiapkan
segala<BR>
> > > sesuatu alat perlawanan. Serbuan penculikan tidak terjadi.
Hanya<BR>
> > > banyak rumah dibakari. Karena itu ia lari dengan menyamar, <BR>
menuju<BR>
> > > Jakarta.<BR>
> > ><BR>
> > > Di Jakarta, sempat bekerja sebagai jurutulis di toko serba
ada<BR>
> > > Sarinah. Tapi kemudian, tokh ada orang yang menunjukkan, bahwa
<BR>
ia<BR>
> > > adalah anggota keluarga PKI. Ia ditangkap Satgas Intel
"Kalong" <BR>
yang<BR>
> > > terkenal kejamnya. Disiksa, disetrum Kedua jarinya
dimasukkan <BR>
ke<BR>
> > > dalam cincin listrik. Batterai diputar. Strum mengalir, bukan
<BR>
main<BR>
> > > sakitnya, katanya. Luar biasa, mengenai otak, kejutan luar
biasa<BR>
> > > sakitnya. Ia digebuki, dihajar oleh orang yang badannya kekar,
<BR>
yang<BR>
> > > dipanggil BOB, dan Kapten Suroso komandan "Kalong".
Mereka ini<BR>
> > adalah<BR>
> > > algojonya. Terhadap dia, nampaknya karena dianggap anak kecil,
<BR>
muda,<BR>
> > > diperlakukan tidak terlalu ditekan, kecuali seperti disebut <BR>
tadi.<BR>
> > ><BR>
> > > Dan pada akhirnya ia dipindahkan ke Salemba dari Satgas Kalong
<BR>
itu.<BR>
> > > Disini tidak terlalu banyak penyiksaan di depan mata.
Kemudian<BR>
> > > dipindahkan ke Tangerang. Di Tangerang mengalami pembebasan <BR>
paling<BR>
> > > akhir. Masalahnya, Kodam masih menginginkan agar lahannya
yang<BR>
> > terdiri<BR>
> > > dari persawahan, agar tetap dapat dipertahankan, tidak <BR>
dikembalikan<BR>
> > ke<BR>
> > > Penjara (Lembaga Pemasyarakatan).<BR>
> > ><BR>
> > > Isterinya, baru umur delapan tahun pada 1965. Ketika ia pulang
<BR>
dari<BR>
> > > sekolah, ayahnya diambil oleh tentara yang bersenjata. Memang
<BR>
sudah<BR>
> > > banyak yang ditangkap dan diculik. Ayahnya termasuk mendapat<BR>
> > giliran.<BR>
> > > Sebagai seorang sekretaris Kabupaten, termasuk yang disegani
dan<BR>
> > > dihormati. Bersama orang lain dikumpulkan di sebuah tempat <BR>
tahanan.<BR>
> > ><BR>
> > > Kemudian ada pemberitahuan bahwa orang-orang PKI akan dibunuh
<BR>
semua.<BR>
> > > Benar, akhirnya suatu ketika, bapaknya terakhir masih sempat <BR>
bertemu<BR>
> > > dengan anak dan keluarganya. Ia dielus-elus oleh ayah tercinta,
<BR>
dan<BR>
> > > diminta agar tidak menangis. Bapak tidak apa-apa, katanya. <BR>
Beberapa<BR>
> > > hari kemudian ada berita bahwa Bapaknya telah dibunuh.
Dikubur<BR>
> > dalam<BR>
> > > satu lubang bersama dua orang lain. Lobang itu sempat diberi <BR>
tanda<BR>
> > > oleh orang yang diperintah menggali lubang. Lubang itu berisi
si<BR>
> > > Bapak, Bupati Boyolali dan seorang lagi. Baru dua tahun
lalu, <BR>
2002<BR>
> > > keluarga ini boleh nyekar ke tempat kuburan ayahnya. Tak
dapat<BR>
> > > diceriterakan kesedihan, tangis dan jerit ketika berita itu<BR>
> > diterima.<BR>
> > ><BR>
> > > Linda, BBC, menanyakan bagaimana persaannya. Yang diinterview
<BR>
terus<BR>
> > > menangis, ketika ditanya mengenai hal-ikhwal Bapaknya. Malah <BR>
kakak<BR>
> > > perempuannya menganjurkan, agar sudahlah tidak usah
dibicarakan<BR>
> > lagi,<BR>
> > > katanya. Trauma masih mengahantui keluarga itu sampai hari
ini.<BR>
> > Ketika<BR>
> > > Linda, BBC, menanyakan tentang pembunuhan, dijelaskan bahwa
di<BR>
> > > desanya, Boyolali, 90% penduduknya adalah simpatisan dan <BR>
anggota PKI<BR>
> > > sebelum1965. Jumlah penduduk di desa itu kira-kira 300.000
<BR>
orang.<BR>
> > > Yang dibunuh dan hilang 250 000 orang. Pembunuhan dilakukan ,<BR>
> > dengan<BR>
> > > terlebih dahulu korbannya diculik, dipaksa ikut. Esok harinya<BR>
> > > kepalanya sudah dipenggal, ditusuk dengan bambu, dan dipancang
<BR>
di<BR>
> > > jalan-jalan. Katanya supaya rakyat tahu PKI itu harus <BR>
dibegitukan.<BR>
> > ><BR>
> > > Ketika sang suami, pernah berkunjung, ke temapat tahanan,
pernah<BR>
> > > melihat ratusan orang di sebuah ladang duduk dengan tangan di<BR>
> > belakang<BR>
> > > kepalanya. Suasana sepi, nyenyak. Di antara mereka ada yang<BR>
> > tangannya<BR>
> > > luka-luka, ada yang kepala dan mukanya berlumuran darah..
Mereka<BR>
> > > menunggu eksekusi yang biasanya dilaksanakan pada malam
hari.<BR>
> > ><BR>
> > > Linda, BBC, tanya pada yang hadir dalam interview itu, apakah
<BR>
ada<BR>
> > yang<BR>
> > > anggota PKI. di antara yang hadir. Tidak ada yang bersedia <BR>
mengaku.<BR>
> > > Dalam interv iew, menurut Linda, pengalamannya tidak
menemukan <BR>
yang<BR>
> > > mengaku PKI. Padalah PKI itu katanya dalam 1965 itu anggotanya
3<BR>
> > juta<BR>
> > > orang. Untuk itu ada yang menjawab, memang, tapi itu kan
angka-<BR>
angka<BR>
> > > statistik. Dan praktek keanggotaannya hanyalah dengan <BR>
menandatangani<BR>
> > > surat pendaftaran saja, katanya, dan itu dianggap anggota.<BR>
> > ><BR>
> > > Suasana interview memang mencekam ketika korban menceritakan<BR>
> > > pengalamannya. Air mata Korban tak dapat dibendung,
ingatannya<BR>
> > > melayang ke kejadian sekian puluh tahun yang telah silam,
masih<BR>
> > > terbayang. Suasana hening, menunggu reda isak tangis yang<BR>
> > diinterview.<BR>
> > > Sang suami mengatakan, bahwa hal ini tak banyak orang, tetangga
<BR>
yang<BR>
> > > tahu, karena memang tetap disembunyikan, tidak diceriterakan <BR>
kepada<BR>
> > > siapa-siapa. Kali ini BBC berhasil, tentu karena suasana
secara<BR>
> > umum<BR>
> > > memungkinkan.<BR>
> > > Christoffer, rekan Linda, bertanya, mengapa pemerintah
Indonesia<BR>
> > tidak<BR>
> > > berusaha menghilangkan trauma rakyatnya. Tentu hal ini
mendapat<BR>
> > > jawaban dari yang hadir, justeru inilah yang kita harapkan,<BR>
> > perjuangan<BR>
> > > kita dengan mengirim delegasi ke Geneva segala dapat tercapai.
<BR>
Tapi<BR>
> > > hasilnya masih sangat kecil sekali.<BR>
> > ><BR>
> > > Linda berusaha menutup interv iew itu dengan mengajak menyanyi
<BR>
lagu<BR>
> > > apa yang dulu paling disukai. Korban usul menyanyikan
"Genjer-<BR>
> > Genjer"<BR>
> > > (HeA)<BR>
> ><BR>
> ><BR>
> ><BR>
> ><BR>
> <BR>
**********************************************************************<BR>
*****<BR>
> > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju
<BR>
Indonesia<BR>
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru<BR>
> ><BR>
> <BR>
**********************************************************************<BR>
*****<BR>
> > <BR>
______________________________________________________________________<BR>
____<BR>
> > Mohon Perhatian:<BR>
> ><BR>
> > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg <BR>
otokritik)<BR>
> > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan <BR>
dikomentari.<BR>
> > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;<BR>
> > 4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
> > 5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
> > 6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
> > 7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
> ><BR>
> > Yahoo! Groups Links<BR>
> ><BR>
> ><BR>
> ><BR>
> ><BR>
> ><BR>
> ><BR>
<BR>
</tt>
<br><br>
<tt>
***************************************************************************<BR>
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru<BR>
***************************************************************************<BR>
__________________________________________________________________________<BR>
Mohon Perhatian:<BR>
<BR>
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)<BR>
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.<BR>
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; <BR>
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
</tt>
<br><br>
<br>
<!-- |**|begin egp html banner|**| -->
<table border=0 cellspacing=0 cellpadding=2>
<tr bgcolor=#FFFFCC>
<td align=center><font size="-1" color=#003399><b>Yahoo! Groups
Sponsor</b></font></td>
</tr>
<tr bgcolor=#FFFFFF>
<td align=center width=470><table border=0 cellpadding=0 cellspacing=0> <tr>
<td align=center><font face=arial size=-2>ADVERTISEMENT</font><br><a
href="http://rd.yahoo.com/SIG=12cnlr2gn/M=267637.4673018.5833253.1261774/D=egroupweb/S=1705329729:HM/EXP=1080781867/A=1945638/R=0/SIG=11tq357ai/*http://www.netflix.com/Default?mqso=60178383&partid=4673018"
alt=""><img
src="http://us.a1.yimg.com/us.yimg.com/a/ne/netflix/yhoo0104_a_300250a.gif"
alt="click here" width="300" height="250" border="0"></a></td></tr></table>
</td>
</tr>
<tr><td><img alt="" width=1 height=1
src="http://us.adserver.yahoo.com/l?M=267637.4673018.5833253.1261774/D=egroupweb/S=:HM/A=1945638/rand=510248986"></td></tr>
</table>
<!-- |**|end egp html banner|**| -->
<!-- |**|begin egp html banner|**| -->
<br>
<tt><hr width="500">
<b>Yahoo! Groups Links</b><br>
<ul>
<li>To visit your group on the web, go to:<br><a
href="http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/">http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/</a><br>
<li>To unsubscribe from this group, send an email to:<br><a
href="mailto:ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx?subject=Unsubscribe">ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx</a><br>
<li>Your use of Yahoo! Groups is subject to the <a
href="http://docs.yahoo.com/info/terms/">Yahoo! Terms of Service</a>.
</ul>
</tt>
</br>
<!-- |**|end egp html banner|**| -->
</body></html>
--73a3uXc3apMPKsqCZfuTm6ZpX6O24j1zJB2OeI4--
Other related posts:
- » [ppi] Fwd: [ppiindia] Re: Fwd: Reportase H. Atmodjo: BBC Interview Korban Massacre '65