[ppi] Fwd: Re: [ppiindia] SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI
- From: Mario Gagho <gagho@xxxxxxxxx>
- To: ppi@xxxxxxxxxxxxx
- Date: Wed, 31 Mar 2004 02:49:50 -0800 (PST)
** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
Note: forwarded message attached.
Mario Gagho
Political Science,
Agra University, India
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Finance Tax Center - File online. File on time.
-- Attached file included as plaintext by Ecartis --
X-Apparently-To: gagho@xxxxxxxxx via 66.218.93.169; Tue, 30 Mar 2004 23:17:21
-0800
Return-Path:
<sentto-4893767-10983-1080708620-gagho=yahoo.com@xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx>
Received: from 66.218.66.106 (HELO n38.grp.scd.yahoo.com) (66.218.66.106)
by mta250.mail.scd.yahoo.com with SMTP; Tue, 30 Mar 2004 23:17:21 -0800
X-eGroups-Return:
sentto-4893767-10983-1080708620-gagho=yahoo.com@xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Received: from [66.218.67.196] by n38.grp.scd.yahoo.com with NNFMP; 31 Mar 2004
04:50:21 -0000
X-Sender: Yustam@xxxxxxxxx
X-Apparently-To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
Received: (qmail 24998 invoked from network); 31 Mar 2004 04:50:19 -0000
Received: from unknown (66.218.66.216)
by m3.grp.scd.yahoo.com with QMQP; 31 Mar 2004 04:50:19 -0000
Received: from unknown (HELO jakarta.asc.co.id) (202.152.231.226)
by mta1.grp.scd.yahoo.com with SMTP; 31 Mar 2004 04:50:16 -0000
To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
X-Mailer: Lotus Notes Release 5.0.8 June 18, 2001
X-MIMETrack: Serialize by Router on JAKARTA/ASC(Release 5.0.5 |September 22,
2000) at 03/31/2004
11:56:27 AM
X-eGroups-Remote-IP: 202.152.231.226
From: Yustam@xxxxxxxxx
MIME-Version: 1.0
Mailing-List: list ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx; contact
ppiindia-owner@xxxxxxxxxxxxxxx
Delivered-To: mailing list ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
Precedence: bulk
List-Unsubscribe: <mailto:ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx>
Date: Wed, 31 Mar 2004 12:05:32 +0700
Subject: Re: [ppiindia] SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI
Reply-To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
Content-Type: multipart/alternative;
boundary="YRmG6Hlfu8NvNvDVaYlENWjib0Zd-5WE2ScVXBC"
Content-Length: 8907
--YRmG6Hlfu8NvNvDVaYlENWjib0Zd-5WE2ScVXBC
Content-Type: text/plain; charset=us-ascii
Content-Transfer-Encoding: 7bit
SBY adalah orang hebat yang dalam sepak terjang perpolitikannya sangat
mulus dan licin sekali, terutama dalam peristiwa-peristiwa genting. Beliau
pintar berakrobat, apalagi pada saat sekarang ini, akibat kegagalan (bisa
dibilang demikian) pemerintahan sekarang ini mengakibatkan rakyat
merindukan suatu pemerintahan yang mapan dan mempunyai sikap tegas, ini
sebenarnya menjadi peluang SBY untuk dapat melenggang ke depan.
Dapatkah SBY melnggang ke depan dengan masa lalunya yang sering berlindung
di ketiak presiden dalam hal-hal genting atau melompat pagar saat
dibutuhkan. Suatu contoh bagaimana darurat militer yang dirancang oleh SBY
tapi pelaksanaannya tidak berani dilakukan karena berusaha berlindung
dengan payung kebesarannya.
Saya khawatir apabila SBY dalam melenggang menjadi orang nomor satu di
negeri ini maka payung yang diciptakan adalah mengorbankan rakyat indonesia
sebagai payung kebesarannya pada saat-saat kritisnya. Karena tidak ada lagi
yang akan menjadi tameng selain dari rakyat yang telah memberikan
legitimasi untuk memerintah.
Sebaiknya dengan pemerintahannya sipil sekarang ini indonesia telah menjadi
suatu negara yang benar-benar berdaulat, rakyat sudah dapat merasakan
kebebasan berekspresinya dengan system demokrasi yang sekarang ini. Apabila
muncul pemimpin yang berlatar belakang militer maka suasana kondusip
indonesia akan menjadi kaku kembali sehingga hanya akan menjadikan
indonesia berjalan ke belakang, bukan maju ke depan.
salam
yb
http://www.suarapembaruan.com/News/2004/03/29/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY
--------------------------------------------------------------------------------
SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI
Atmadji Sumarkidjo
ANYAK persepsi salah mengenai sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang
dibentuk oleh pendapat para pengamat yang di antaranya cuma diperoleh dari
bacaan di media, sementara media sendiri membentuk opini (yang belum tentu
benar) dari analisis "pengamat ahli" tadi. Jadi sering kedua belah pihak
saling mengambil kesimpulan yang sumbernya kurang akurat.
SBY adalah garda terakhir lulusan Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata RI)
yang memasuki bidang non-militer berkat tersedianya doktrin serta jalur
dwifungsi ABRI. Sebagai catatan, Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto yang
juga masuk dalam daftar calon presiden (capres) memang juga adalah lulusan
Akabri, tetapi sampai ia berhenti dari dinas aktif, belum pernah terekspos
pada karir non-militer dan malah miskin pada tugas-tugas teritorial. Mantan
Panglima Kostrad itu masuk politik jauh setelah pensiun.
Prabowo yang masuk Akabri sama-sama dengan SBY ketika masih dinas aktif
tercatat tidak pernah mendapat penugasan di bidang teritorial. Bahkan ia
termasuk sedikit dari perwira TNI yang belum pernah menjadi perwira
teritorial. Sementara itu, SBY adalah gambaran dari perwira yang lengkap
bidang penugasannya: pernah bertugas di satuan tempur, mempunyai jam
terbang panjang di bidang pendidikan, cukup lama bekerja di staf serta
akhirnya punya pengalaman di teritorial.
Menarik untuk mengkaji anatomi lulusan Akabri 1973. Angkatan itu boleh
dikata salah satu dari kelompok lulusan yang paling cemerlang dalam TNI
tetapi sekaligus juga yang bernasib sial. Dikatakan cemerlang karena
orang-orang seperti almarhum Letjen Agus Wirahadikusumah, Jenderal
Ryamizard Ryacudu (Kasad sekarang) , SBY serta juga Prabowo (menurut buku
alumni Cadaka Dharma) adalah lulusan dari tahun itu yang mampu mendapat
pangkat bintang pada usia produktif (umur 40-an) dan relatif cepat.
Ini belum termasuk para alumni yang berkiprah di matra yang lain seperti
Wakasau Marsdya Herman Prayitno atau Laksda Djoko Sumaryono di TNI-AL atau
Mayjen Marinir Yus Solichin di Korps Marinir.
Banyak Faktor
Ada banyak faktor yang menyebabkan lulusan 1973 mempunyai karier yang
cemerlang. Pertama, Akabri menerima para lulusan SKTA yang berprestasi
sangat baik dan bermotivasi tinggi yang lulus tahun 1968-1969 baik dari
Jakarta maupun daerah. Banyak di antara mereka melamar karena terpengaruh
nama harum ABRI pada waktu itu.
Kedua, suasana pendidikan di Magelang sangat kondusif di bawah kepemimpinan
Gubernurnya yang flamboyan, yaitu Mayjen Sarwo Edhie Wibowo. Sarwo tidak
hanya memberi perhatian pada para taruna darat tetapi juga membina para
taruna matra laut, udara dan polisi.
Ketiga, para alumni tahun 1973 terhimpun dalam organisasi alumni yang aktif
(Yayasan Cadaka Dharma) dengan "lurah" nya adalah SBY sendiri, praktis yang
memimpin mereka sejak menjadi Taruna Akabri hingga ia pensiun dari jabatan
militer dengan pangkat Letjen TNI.
Kelompok alumni tersebut sejak semula sangat giat melakukan aktivitas
memperluas wawasan dan olah pikir ketimbang sekadar kumpul-kumpul reuni,
mulai dari membahas situasi negara sampai me review buku-buku yang dianggap
menarik. Dan semua mengakui, ini berkat kepemimpinan "ki lurah" SBY.
Keempat, sewaktu mereka masih berpangkat Mayor dan Letkol, Komandan Seskoad
(waktu itu) Mayjen TNI Feisal Tandjung sengaja menarik para perwira
angkatan 1973 menjadi dosen di Bandung. Bukan itu saja, Kasad seperti
Jenderal Edi Sudradjat dan Jenderal Wismoyo Arismunandar juga memanfaatkan
otak mereka. Gerakan Back to Basic yang mula-mula dicanangkan oleh Edi dan
diteruskan oleh Wismoyo, konsep dasarnya dikembangkan oleh orang-orang
seperti Agus Wirahadikusuma dan SBY.
Dalam alam pancaroba seperti itu, para perwira eks 1973 yang bersikap
reformis atau tidak konservatif mudah terekspos dan masuk pada
tarik-menarik politik yang ada. Buku berjudul ABRI Profesional dan
Dedikatif (Pustaka Sinar Harapan, 1998) yang sebetulnya adalah produk
intelektual sebagai peringatan 25 tahun pengabdian mereka tanpa disengaja
mengekspos mereka menjadi para alumni yang high profile. Dan puncaknya
adalah buku kedua yang berjudul Indonesia Baru dan Tantangan TNI (PSH,
1999) yang terbit pada alam yang lebih demokratis.
Buku Kontroversi
Tulisan-tulisan dalam buku tersebut, terutama buku kedua, menimbulkan rasa
kagum bagi para pengamat masalah militer, tetapi banyak tidak disukai oleh
para jenderal konservatif dalam tubuh TNI sendiri. Buku yang pemikiran
mainstream-nya adalah wacana ke depan (alternative future thinking) Agus
Whk dan sejumlah perwira lain secara tegas menolak dwifungsi, Orde Baru dan
semua produk masa sebelum itu; padahal kelompok konservatif-orthodoks masih
banyak pada posisi yang menentukan Cilangkap dan di pojok Jl Merdeka Utara.
Begitu kerasnya isi tulisan-tulisan itu, sehingga SBY yang tadinya
memberikan kata pengantar, mencabut tulisannya pada saat-saat akhir ketika
buku sudah dicetak. Agus agak kecewa, tapi buku tetap diterbitkan tanpa ada
jejak serta keterlibatan SBY. Padahal pada awalnya, SBY-lah yang mendorong
penerbitan buku yang sering disebut kontroversi itu.
Celakanya, Presiden Abdurrahman Wahid yang amat tertarik dengan
pemikiran-pemikiran "maju" dari para perwira dalam buku itu,
terang-terangan memberikan dukungan kepada Agus Whk. Perwira yang
sifat-sifat pribadinya lebih eksplosif dibanding SBY sudah menjadi sorotan
media sejak ia menjadi Pangdam Wirabuana di Makasar. Promosinya menjadi
Panglima Kostrad yang terang-terangan didorong oleh Gus Dur akhirnya
menjadi bumerang bagi karirnya.
Akhirnya ia diganti sebelum waktunya oleh sahabat satu angkatan juga, yaitu
Mayjen Ryamizard Ryacudu. Meski demikian, sejumlah perwira teman dekat atau
yang pemikirannya sejalan, juga terlempar dari jalur promosi. Di sini awal
"kesialan" yang menimpa mereka dan itu baru terakhir satu tahun terakhir
ini.
Dalam konteks di ataslah kita harus melihat bagaimana SBY berperan dan
mengambil sikap dalam badai politik antara 1992-1999. Ia jelas belajar
banyak bagaimana penga-laman pahit yang dialami oleh sang mertua, Letjen
TNI Sarwo Edhie yang sangat high profile, dan tidak mau berkompromi, lurus
dan cenderung tidak mengerti military politics yang terjadi pada eranya.
Sarwo kemudian terlempar dari orbit, sementara yang memperoleh kepercayaan
Soeharto adalah para perwira TNI-AD yang lain.
Pada sisi yang lain, ia sadar harapan yang diletakkan oleh rekan-rekan
sekelas untuk secepatnya memperoleh kepercayaan pimpinan TNI menduduki
posisi yang strategis, cukup besar. Ia sadar satu-satunya cara untuk
menjunjung kepercayaan rekan-rekannya itu sebagai pembawa bendera adalah
mengambil sikap hati-hati dan harus pula menampilkan sosok yang sedikit
"konservatif" mesk bumbu moderat masih ada di dalamnya. Ia harus
menjalankan peran itu, karena Prabowo yang waktu itu justru sangat high
profile karena adalah menantu Soeharto mempunyai kelompok pertemanan
sendiri, dan tidak pernah mengidentikkan dirinya sebagai "anggota" kelompok
1973.
Sosok SBY
Salah satu gambaran yang diciptakan ketika ia masuk dalam sorotan media
mengenai sosok SBY adalah ia seorang militer-intelektual yang andal tetapi
peragu dan tidak mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tegas .
Budayaan Emha Ainun Nadjib, umpamanya, dalam sebuah talkshow di radio
menyebut SBY sebagai sosok yang "kurang militer dan terlalu sipil". Tetapi
profil demikian sebetulnya adalah yang mampu membawa SBY selamat dari
kecurigaan berbagai kelompok pemikiran atau kepentingan dalam tubuh ABRI.
Bahkan mampu lolos dari kecurigaan dari Soeharto yang tidak pernah
menyenangi perwira yang punya kepribadian atau yang mandiri.
Dengan caranya, ia akhirnya dijadikan sebagai benchmark bagi karir seorang
perwira "masa depan" sebagai imbangan karier Prabowo yang melesat cepat di
jalur yang lain. Bila kita teliti membaca arah karir keduanya antara tahun
1992-1999, maka kita bisa lihat kenaikan pangkat mereka selalu hampir
bersamaan. Ketika Prabowo dipromosi menjadi Brigjen, SBY mendapat promosi
di Bosnia dalam pasukan PBB.
Dan sewaktu Prabowo "harus" berpangkat Mayjen, maka SBY pun diplot menjadi
Pangdam Sriwijaya (jabatan Mayjen), dengan akibat Brigjen Agus Widjojo yang
harusnya menjadi Pangdam di sana akhirnya terlempar dari promosi secara
menyakitkan. Untunglah, Pangab Feisal Tandjung cepat menyelamatkan karier
Agus Widjojo dan buru-buru menariknya ke Cilangkap.
Baik SBY maupun Prabowo mendapat pangkat Letjen pada waktu yang tidak
banyak berbeda. SBY menjadi Kepala Staf Sosial-Politik ABRI sementara
Prabowo menjadi Panglima Kostrad. Fakta menunjukkan bahwa SBY mampu lolos
dari badai kedua dalam ABRI, ketika terjadi pergantian rezim, sementara
Prabowo terpental dari posisinya yang kuat.
Bila kita bisa menempatkan sikap SBY pada konteks ruang dan waktu pada
periode yang serba sulit itu, maka kita sulit pula mengambil kesimpulan
bahwa SBY adalah seorang "peragu" atau "tidak decisive" atau "tidak berani
mengambil keputusan" seperti apa yang digambarkan oleh media atau yang
diungkap oleh para pengamat.
Paling tidak, menurut pengamatan saya, SBY tidak berubah sikapnya sejak
tahun 1990-an hingga sekarang. Hanya sejalan dengan kenaikan karirnya, ia
harus menghindari adanya pandangan yang mengategorikannya sebagai perwira
yang berada pada titik-titik ekstrem sebuah pendulum sikap. Akibatnya,
memang SBY seolah-olah kurang cocok dengan almarhum Agus Whk; tetapi adakah
sikap yang lebih tepat yang harus diambil oleh orang seperti dia pada
situasi demikian?
Sejak 12 Maret 2004 lalu SBY sebetulnya terbebas dari beban-beban yang kita
sebutkan di atas. Ia bukan perwira TNI aktif, bukan pula seorang Menteri
yang harus mengikuti arahan Presiden. Ia adalah pribadi sipil mandiri yang
memperbolehkan nya untuk bicara apa saja. Pertanyaanya adalah, apakah tanpa
beban di atas kita akan mendapatkan seorang SBY yang "asli" yang dikenal
dan justru mulai digaumi banyak kalangan ketika masih berpangkat Kolonel?
Penulis adalah pengamat masalah militer pada RIDEP Institute. Kini bekerja
di RCTI.
--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 29/3/04
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
--YRmG6Hlfu8NvNvDVaYlENWjib0Zd-5WE2ScVXBC
Content-Type: text/html; charset=US-ASCII
Content-Transfer-Encoding: 7bit
<html><body>
<tt>
<BR>
SBY adalah orang hebat yang dalam sepak terjang perpolitikannya sangat<BR>
mulus dan licin sekali, terutama dalam peristiwa-peristiwa genting. Beliau<BR>
pintar berakrobat, apalagi pada saat sekarang ini, akibat kegagalan (bisa<BR>
dibilang demikian) pemerintahan sekarang ini mengakibatkan rakyat<BR>
merindukan suatu pemerintahan yang mapan dan mempunyai sikap tegas,
ini<BR>
sebenarnya menjadi peluang SBY untuk dapat melenggang ke depan.<BR>
<BR>
Dapatkah SBY melnggang ke depan dengan masa lalunya yang sering berlindung<BR>
di ketiak presiden dalam hal-hal genting atau melompat pagar saat<BR>
dibutuhkan. Suatu contoh bagaimana darurat militer yang dirancang oleh SBY<BR>
tapi pelaksanaannya tidak berani dilakukan karena berusaha berlindung<BR>
dengan payung kebesarannya.<BR>
<BR>
Saya khawatir apabila SBY dalam melenggang menjadi orang nomor satu di<BR>
negeri ini maka payung yang diciptakan adalah mengorbankan rakyat indonesia<BR>
sebagai payung kebesarannya pada saat-saat kritisnya. Karena tidak ada lagi<BR>
yang akan menjadi tameng selain dari rakyat yang telah memberikan<BR>
legitimasi untuk memerintah.<BR>
<BR>
Sebaiknya dengan pemerintahannya sipil sekarang ini indonesia telah menjadi<BR>
suatu negara yang benar-benar berdaulat, rakyat sudah dapat merasakan<BR>
kebebasan berekspresinya dengan system demokrasi yang sekarang ini. Apabila<BR>
muncul pemimpin yang berlatar belakang militer maka suasana kondusip<BR>
indonesia akan menjadi kaku kembali sehingga hanya akan menjadikan<BR>
indonesia berjalan ke belakang, bukan maju ke depan.<BR>
<BR>
salam<BR>
yb<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<a
href="http://www.suarapembaruan.com/News/2004/03/29/index.html">http://www.suarapembaruan.com/News/2004/03/29/index.html</a><BR>
<BR>
SUARA PEMBARUAN DAILY<BR>
<BR>
--------------------------------------------------------------------------------<BR>
<BR>
<BR>
SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI<BR>
<BR>
<BR>
Atmadji Sumarkidjo<BR>
<BR>
ANYAK persepsi salah mengenai sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang<BR>
dibentuk oleh pendapat para pengamat yang di antaranya cuma diperoleh dari<BR>
bacaan di media, sementara media sendiri membentuk opini (yang belum tentu<BR>
benar) dari analisis "pengamat ahli" tadi. Jadi sering kedua belah
pihak<BR>
saling mengambil kesimpulan yang sumbernya kurang akurat.<BR>
<BR>
SBY adalah garda terakhir lulusan Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata RI)<BR>
yang memasuki bidang non-militer berkat tersedianya doktrin serta jalur<BR>
dwifungsi ABRI. Sebagai catatan, Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto yang<BR>
juga masuk dalam daftar calon presiden (capres) memang juga adalah lulusan<BR>
Akabri, tetapi sampai ia berhenti dari dinas aktif, belum pernah terekspos<BR>
pada karir non-militer dan malah miskin pada tugas-tugas teritorial. Mantan<BR>
Panglima Kostrad itu masuk politik jauh setelah pensiun.<BR>
<BR>
Prabowo yang masuk Akabri sama-sama dengan SBY ketika masih dinas aktif<BR>
tercatat tidak pernah mendapat penugasan di bidang teritorial. Bahkan ia<BR>
termasuk sedikit dari perwira TNI yang belum pernah menjadi perwira<BR>
teritorial. Sementara itu, SBY adalah gambaran dari perwira yang lengkap<BR>
bidang penugasannya: pernah bertugas di satuan tempur, mempunyai jam<BR>
terbang panjang di bidang pendidikan, cukup lama bekerja di staf serta<BR>
akhirnya punya pengalaman di teritorial.<BR>
<BR>
Menarik untuk mengkaji anatomi lulusan Akabri 1973. Angkatan itu boleh<BR>
dikata salah satu dari kelompok lulusan yang paling cemerlang dalam TNI<BR>
tetapi sekaligus juga yang bernasib sial. Dikatakan cemerlang karena<BR>
orang-orang seperti almarhum Letjen Agus Wirahadikusumah, Jenderal<BR>
Ryamizard Ryacudu (Kasad sekarang) , SBY serta juga Prabowo (menurut buku<BR>
alumni Cadaka Dharma) adalah lulusan dari tahun itu yang mampu mendapat<BR>
pangkat bintang pada usia produktif (umur 40-an) dan relatif cepat.<BR>
<BR>
Ini belum termasuk para alumni yang berkiprah di matra yang lain seperti<BR>
Wakasau Marsdya Herman Prayitno atau Laksda Djoko Sumaryono di TNI-AL atau<BR>
Mayjen Marinir Yus Solichin di Korps Marinir.<BR>
<BR>
<BR>
Banyak Faktor<BR>
<BR>
Ada banyak faktor yang menyebabkan lulusan 1973 mempunyai karier yang<BR>
cemerlang. Pertama, Akabri menerima para lulusan SKTA yang berprestasi<BR>
sangat baik dan bermotivasi tinggi yang lulus tahun 1968-1969 baik dari<BR>
Jakarta maupun daerah. Banyak di antara mereka melamar karena terpengaruh<BR>
nama harum ABRI pada waktu itu.<BR>
<BR>
Kedua, suasana pendidikan di Magelang sangat kondusif di bawah kepemimpinan<BR>
Gubernurnya yang flamboyan, yaitu Mayjen Sarwo Edhie Wibowo. Sarwo tidak<BR>
hanya memberi perhatian pada para taruna darat tetapi juga membina para<BR>
taruna matra laut, udara dan polisi.<BR>
<BR>
Ketiga, para alumni tahun 1973 terhimpun dalam organisasi alumni yang aktif<BR>
(Yayasan Cadaka Dharma) dengan "lurah" nya adalah SBY sendiri,
praktis yang<BR>
memimpin mereka sejak menjadi Taruna Akabri hingga ia pensiun dari jabatan<BR>
militer dengan pangkat Letjen TNI.<BR>
<BR>
Kelompok alumni tersebut sejak semula sangat giat melakukan aktivitas<BR>
memperluas wawasan dan olah pikir ketimbang sekadar kumpul-kumpul reuni,<BR>
mulai dari membahas situasi negara sampai me review buku-buku yang dianggap<BR>
menarik. Dan semua mengakui, ini berkat kepemimpinan "ki lurah"
SBY.<BR>
<BR>
Keempat, sewaktu mereka masih berpangkat Mayor dan Letkol, Komandan Seskoad<BR>
(waktu itu) Mayjen TNI Feisal Tandjung sengaja menarik para perwira<BR>
angkatan 1973 menjadi dosen di Bandung. Bukan itu saja, Kasad seperti<BR>
Jenderal Edi Sudradjat dan Jenderal Wismoyo Arismunandar juga memanfaatkan<BR>
otak mereka. Gerakan Back to Basic yang mula-mula dicanangkan oleh Edi dan<BR>
diteruskan oleh Wismoyo, konsep dasarnya dikembangkan oleh orang-orang<BR>
seperti Agus Wirahadikusuma dan SBY.<BR>
<BR>
Dalam alam pancaroba seperti itu, para perwira eks 1973 yang bersikap<BR>
reformis atau tidak konservatif mudah terekspos dan masuk pada<BR>
tarik-menarik politik yang ada. Buku berjudul ABRI Profesional dan<BR>
Dedikatif (Pustaka Sinar Harapan, 1998) yang sebetulnya adalah produk<BR>
intelektual sebagai peringatan 25 tahun pengabdian mereka tanpa disengaja<BR>
mengekspos mereka menjadi para alumni yang high profile. Dan puncaknya<BR>
adalah buku kedua yang berjudul Indonesia Baru dan Tantangan TNI (PSH,<BR>
1999) yang terbit pada alam yang lebih demokratis.<BR>
<BR>
<BR>
Buku Kontroversi<BR>
<BR>
Tulisan-tulisan dalam buku tersebut, terutama buku kedua, menimbulkan rasa<BR>
kagum bagi para pengamat masalah militer, tetapi banyak tidak disukai oleh<BR>
para jenderal konservatif dalam tubuh TNI sendiri. Buku yang pemikiran<BR>
mainstream-nya adalah wacana ke depan (alternative future thinking) Agus<BR>
Whk dan sejumlah perwira lain secara tegas menolak dwifungsi, Orde Baru dan<BR>
semua produk masa sebelum itu; padahal kelompok konservatif-orthodoks masih<BR>
banyak pada posisi yang menentukan Cilangkap dan di pojok Jl Merdeka Utara.<BR>
<BR>
<BR>
Begitu kerasnya isi tulisan-tulisan itu, sehingga SBY yang tadinya<BR>
memberikan kata pengantar, mencabut tulisannya pada saat-saat akhir ketika<BR>
buku sudah dicetak. Agus agak kecewa, tapi buku tetap diterbitkan tanpa ada<BR>
jejak serta keterlibatan SBY. Padahal pada awalnya, SBY-lah yang mendorong<BR>
penerbitan buku yang sering disebut kontroversi itu.<BR>
<BR>
Celakanya, Presiden Abdurrahman Wahid yang amat tertarik dengan<BR>
pemikiran-pemikiran "maju" dari para perwira dalam buku itu,<BR>
terang-terangan memberikan dukungan kepada Agus Whk. Perwira yang<BR>
sifat-sifat pribadinya lebih eksplosif dibanding SBY sudah menjadi sorotan<BR>
media sejak ia menjadi Pangdam Wirabuana di Makasar. Promosinya menjadi<BR>
Panglima Kostrad yang terang-terangan didorong oleh Gus Dur akhirnya<BR>
menjadi bumerang bagi karirnya.<BR>
<BR>
Akhirnya ia diganti sebelum waktunya oleh sahabat satu angkatan juga, yaitu<BR>
Mayjen Ryamizard Ryacudu. Meski demikian, sejumlah perwira teman dekat atau<BR>
yang pemikirannya sejalan, juga terlempar dari jalur promosi. Di sini awal<BR>
"kesialan" yang menimpa mereka dan itu baru terakhir satu tahun
terakhir<BR>
ini.<BR>
<BR>
Dalam konteks di ataslah kita harus melihat bagaimana SBY berperan dan<BR>
mengambil sikap dalam badai politik antara 1992-1999. Ia jelas belajar<BR>
banyak bagaimana penga-laman pahit yang dialami oleh sang mertua, Letjen<BR>
TNI Sarwo Edhie yang sangat high profile, dan tidak mau berkompromi, lurus<BR>
dan cenderung tidak mengerti military politics yang terjadi pada eranya.<BR>
Sarwo kemudian terlempar dari orbit, sementara yang memperoleh kepercayaan<BR>
Soeharto adalah para perwira TNI-AD yang lain.<BR>
<BR>
Pada sisi yang lain, ia sadar harapan yang diletakkan oleh rekan-rekan<BR>
sekelas untuk secepatnya memperoleh kepercayaan pimpinan TNI menduduki<BR>
posisi yang strategis, cukup besar. Ia sadar satu-satunya cara untuk<BR>
menjunjung kepercayaan rekan-rekannya itu sebagai pembawa bendera adalah<BR>
mengambil sikap hati-hati dan harus pula menampilkan sosok yang sedikit<BR>
"konservatif" mesk bumbu moderat masih ada di dalamnya. Ia harus<BR>
menjalankan peran itu, karena Prabowo yang waktu itu justru sangat high<BR>
profile karena adalah menantu Soeharto mempunyai kelompok pertemanan<BR>
sendiri, dan tidak pernah mengidentikkan dirinya sebagai "anggota"
kelompok<BR>
1973.<BR>
<BR>
<BR>
Sosok SBY<BR>
<BR>
Salah satu gambaran yang diciptakan ketika ia masuk dalam sorotan media<BR>
mengenai sosok SBY adalah ia seorang militer-intelektual yang andal tetapi<BR>
peragu dan tidak mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tegas .<BR>
Budayaan Emha Ainun Nadjib, umpamanya, dalam sebuah talkshow di radio<BR>
menyebut SBY sebagai sosok yang "kurang militer dan terlalu sipil".
Tetapi<BR>
profil demikian sebetulnya adalah yang mampu membawa SBY selamat dari<BR>
kecurigaan berbagai kelompok pemikiran atau kepentingan dalam tubuh ABRI.<BR>
Bahkan mampu lolos dari kecurigaan dari Soeharto yang tidak pernah<BR>
menyenangi perwira yang punya kepribadian atau yang mandiri.<BR>
<BR>
Dengan caranya, ia akhirnya dijadikan sebagai benchmark bagi karir seorang<BR>
perwira "masa depan" sebagai imbangan karier Prabowo yang melesat
cepat di<BR>
jalur yang lain. Bila kita teliti membaca arah karir keduanya antara tahun<BR>
1992-1999, maka kita bisa lihat kenaikan pangkat mereka selalu hampir<BR>
bersamaan. Ketika Prabowo dipromosi menjadi Brigjen, SBY mendapat promosi<BR>
di Bosnia dalam pasukan PBB.<BR>
<BR>
Dan sewaktu Prabowo "harus" berpangkat Mayjen, maka SBY pun diplot
menjadi<BR>
Pangdam Sriwijaya (jabatan Mayjen), dengan akibat Brigjen Agus Widjojo yang<BR>
harusnya menjadi Pangdam di sana akhirnya terlempar dari promosi secara<BR>
menyakitkan. Untunglah, Pangab Feisal Tandjung cepat menyelamatkan karier<BR>
Agus Widjojo dan buru-buru menariknya ke Cilangkap.<BR>
<BR>
Baik SBY maupun Prabowo mendapat pangkat Letjen pada waktu yang tidak<BR>
banyak berbeda. SBY menjadi Kepala Staf Sosial-Politik ABRI sementara<BR>
Prabowo menjadi Panglima Kostrad. Fakta menunjukkan bahwa SBY mampu lolos<BR>
dari badai kedua dalam ABRI, ketika terjadi pergantian rezim, sementara<BR>
Prabowo terpental dari posisinya yang kuat.<BR>
<BR>
Bila kita bisa menempatkan sikap SBY pada konteks ruang dan waktu pada<BR>
periode yang serba sulit itu, maka kita sulit pula mengambil kesimpulan<BR>
bahwa SBY adalah seorang "peragu" atau "tidak decisive"
atau "tidak berani<BR>
mengambil keputusan" seperti apa yang digambarkan oleh media atau yang<BR>
diungkap oleh para pengamat.<BR>
<BR>
Paling tidak, menurut pengamatan saya, SBY tidak berubah sikapnya sejak<BR>
tahun 1990-an hingga sekarang. Hanya sejalan dengan kenaikan karirnya, ia<BR>
harus menghindari adanya pandangan yang mengategorikannya sebagai perwira<BR>
yang berada pada titik-titik ekstrem sebuah pendulum sikap. Akibatnya,<BR>
memang SBY seolah-olah kurang cocok dengan almarhum Agus Whk; tetapi adakah<BR>
sikap yang lebih tepat yang harus diambil oleh orang seperti dia pada<BR>
situasi demikian?<BR>
<BR>
Sejak 12 Maret 2004 lalu SBY sebetulnya terbebas dari beban-beban yang kita<BR>
sebutkan di atas. Ia bukan perwira TNI aktif, bukan pula seorang Menteri<BR>
yang harus mengikuti arahan Presiden. Ia adalah pribadi sipil mandiri yang<BR>
memperbolehkan nya untuk bicara apa saja. Pertanyaanya adalah, apakah tanpa<BR>
beban di atas kita akan mendapatkan seorang SBY yang "asli" yang
dikenal<BR>
dan justru mulai digaumi banyak kalangan ketika masih berpangkat Kolonel?<BR>
<BR>
<BR>
Penulis adalah pengamat masalah militer pada RIDEP Institute. Kini bekerja<BR>
di RCTI.<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
--------------------------------------------------------------------------------<BR>
<BR>
<BR>
Last modified: 29/3/04<BR>
<BR>
[Non-text portions of this message have been removed]<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
***************************************************************************<BR>
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg<BR>
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru<BR>
***************************************************************************<BR>
__________________________________________________________________________<BR>
Mohon Perhatian:<BR>
<BR>
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)<BR>
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.<BR>
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;<BR>
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
<BR>
Yahoo! Groups Links<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
</tt>
<br><br>
<tt>
***************************************************************************<BR>
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru<BR>
***************************************************************************<BR>
__________________________________________________________________________<BR>
Mohon Perhatian:<BR>
<BR>
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)<BR>
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.<BR>
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; <BR>
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx<BR>
</tt>
<br><br>
<br>
<!-- |**|begin egp html banner|**| -->
<table border=0 cellspacing=0 cellpadding=2>
<tr bgcolor=#FFFFCC>
<td align=center><font size="-1" color=#003399><b>Yahoo! Groups
Sponsor</b></font></td>
</tr>
<tr bgcolor=#FFFFFF>
<td align=center width=470><table border=0 cellpadding=0 cellspacing=0> <tr>
<td align=center><font face=arial size=-2>ADVERTISEMENT</font><br><a
href="http://rd.yahoo.com/SIG=12c92vsgm/M=267637.4673019.5833256.1261774/D=egroupweb/S=1705329729:HM/EXP=1080795021/A=1945637/R=0/SIG=11t30skn6/*http://www.netflix.com/Default?mqso=60178397&partid=4673019"
alt=""><img
src="http://us.a1.yimg.com/us.yimg.com/a/ne/netflix/yhoo0104_b_300250a.gif"
alt="click here" width="300" height="250" border="0"></a></td></tr></table>
</td>
</tr>
<tr><td><img alt="" width=1 height=1
src="http://us.adserver.yahoo.com/l?M=267637.4673019.5833256.1261774/D=egroupweb/S=:HM/A=1945637/rand=282463606"></td></tr>
</table>
<!-- |**|end egp html banner|**| -->
<!-- |**|begin egp html banner|**| -->
<br>
<tt><hr width="500">
<b>Yahoo! Groups Links</b><br>
<ul>
<li>To visit your group on the web, go to:<br><a
href="http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/">http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/</a><br>
<li>To unsubscribe from this group, send an email to:<br><a
href="mailto:ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx?subject=Unsubscribe">ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx</a><br>
<li>Your use of Yahoo! Groups is subject to the <a
href="http://docs.yahoo.com/info/terms/">Yahoo! Terms of Service</a>.
</ul>
</tt>
</br>
<!-- |**|end egp html banner|**| -->
</body></html>
--YRmG6Hlfu8NvNvDVaYlENWjib0Zd-5WE2ScVXBC--
Other related posts:
- » [ppi] Fwd: Re: [ppiindia] SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI