[pistons92] Re: Reksadana / Asuransi

Quoting Hasta Purnama <h.purnama@xxxxxxxxxx>:

> Dengan Hormat.
> 
> Minggu 30 Juni 2002 13:30:33,gusti ferry priyatna
> goosetealuvryn@xxxxxxxxx :
> 
> > daripada duitnya buat reksadana mending buat modal gua
> > aja...ntar aku bikin perusahaan yang berintikan orang2
> > kere tapi berotak cerdas....lumayan selain menjanjikan
> > khan juga bisa buat nambah pahala....biar ntar ngga'
> > disiksa di neraka...haaa...haaaa....
> 
> Setuju dengan pendapat P.Ferry.Seingatku dulu ada pelajaran bahwa
> 'real'" investment ialah jika kita bisa men-create something yang punya
> value added lebih dibanding dengan yang sudah exist.Reward dari
> investment ini yaitu royalti or keuntungan yang kita raih dari trade
> secret (umumya dipatenkan=HAKI).Cuma aku ingin tahu untuk kasus
> perusahaan software open source yang bisa kita bebas memakainya tanpa
> bayar lisence,dari mana mereka dapat keuntungan berlebih?
>
Value added memang inti dari pembangunan kemakmuran. Konkritnya sektor 
manufakturing harus jadi tulang punggung ekonomi, kecuali udah jadi negara 
maju yang ditandai mahalnya labour cost sehingga manufakturing tidak cost 
efektif. Di sini faktor finansial menjadi penting. Dalam situasi seperti ini, 
biasanya pasar modal merupakan jawaban. Contoh Nike menjaring dana dari US and 
eropa melalui pasar modal untuk diputar di negara dunia ketiga. Indonesia dan 
kere2 lain memang the real value adder thropugh manufacturing processes. 
However, the corporation in the US will have their own value addition through 
marketting. In all, manufacturing cost (and aded value) contributes only 10% 
of the total. (Cafe kaya Starbuck cuman mengeluarkan 1/100 dari harga 
secangkir kopi untuk beli kopi dari petani!!) This is a sad story but that's 
what happened!

Software opensource dulunya di ciptakan oleh orang idealis (macam si Linus). 
Sekitar IT booming, orang bisnis melihat internet sebagai perluasan pasar 
(global market). Waktu itu sebenarnya perusahaan2 tsb masih belum untung. Open 
source company kayak RedHat dll (GNU kayaknya semacam Linus) terikat pada HAKI 
milik Linus, tapi mereka jualan paket2 lain semacam web browser dan office 
yang dipaketkan bersama software mereka. Dari situ dapet untungnya. Contoh, 
SUSSe jual paket profesional (LINUX+web browser+game+office) seharga GBP70 one 
off.  Artinya bisa diinstall ke sebanyak PC yang kita mau. Linux kernelna 
sendiri sih gratis. Dengan model bisnis begini, aku nggak yakin kalo RedHat, 
Susse maupun Mandarke sebenarnya making money. Praktek yang lain, software 
gartisan dibagi untuk membentuk segement pasar (menciptakan pengikut). Setelah 
pengikut terbentuk, baru software dijual secara komersial. (Banyak software 
computational fluid Dynamics yang pake metode ini)

 
> Asuransi,aku heran bagaiman bisa kita membayar sejumlah kewajiban dan
> bisa kelak mendapat hak yang jumlahnya lebih besar (cenderung tak
> proporsioinal)?Berarti dari segerombolan peserta asuransi ada yang tidak
> mendapat hak tersebut,CMIIW.Asuransi jenis apa saja ya yang
> mengembalikan penuh jumlah premi yang telah kita bayarkan?Indi,apa betul
> semacam goverment sponsored health insurace (NHS) di Inggris is about to
> collapse in near future?
>

Prinsip utama: perusahaan nggak mau rugi (Head or tail, I win). Jadi kalo ikut 
asuransi sepuluh tahun, akhir tahun kesepuluh si nasabah pada dasarnya cuman 
dapet uang preminya lagi plus bunga yang praktis senilai dengan inflasi selama 
sepuluh tahun. Artinya nasabah cuman balik modal. (Nabung di Bank biasanya 
lebih untung walaupun nggak banyak) Sementara itu selama sepuluh tahun yang 
sama perusahaan asuransi memperoleh dividen,besarnya diatas inflasi. Prakstis 
selish antara inflasi dan dividen menjadi keuntungan perusahaan. Dalam 
menentukan polis, perusahaan memperhitungkanwalaupun ada satu dua nasabah yang 
akan membuat klaim (untung bagi nasabah dan rugi bagi perusahaan asuransi), 
total dana yang dijaring dari pemegang polis tetap menguntungkan perusahaan 
asuransi.  

 
> Reksadana,apa bisa hal ini digolongkan sebagai real investment jika kita
> adopsi pernyataan paragraph pertama?Jika reksadana itu terdiri dari
> kumpulan saham2 apa ada unsur judi (betting) di sana?
>

Kaya aku bilang dulu, reksadana dan asuransi pada prinsipnya sama: perusahaan 
yang menjaring uang nasabah untuk diputar/investasi. Bedanya asuransi terikat 
aturan (kalo pemerintahnya nggak ngaco) yang mengharuskan resiko investasi 
minimum. Jadi investasi perusahaan asuransi di dunia waras biasanya ada di 
pasar obligasi pemerintah (Kayak saham obligasi pemerintah bisa dijual 
belikan). Kalo reksadana biasanya lebih banyak berinvesatsi di pasar modal dan 
sedikit di obligasi. Ada juga reksadana yang bergerak di sektor komoditi tapi 
nggak banyak. Yang jelas, mereka nggak memutar uang sendiri (sama seperti 
Bank). Kalo ini terjadi, malah berbahaya karena seperti memberi modal ke group 
sendiri. (Pangkal kehancuran ekonomi Indonesia!) Diversifikasi investasi 
bertujuan memperkecil resiko karena pasar modal maupun komoditi cukup volatil, 
sementara obligasi pemerintah cukup stabil (Lagi2 aku nggak bisa comment soal 
Indonesia). Untuk memperkecil resiko, portofolio saham yang dimilki biasanya 
berjumlah besar dengan komposisi utama perusahaan blue chip. (Kalo kita main 
saham sendiri modal kita sulit untuk memungkinakan model investasi begini: 
well spread) Alternatif lain untuk reksadana yang populer di US dan UK adalah 
sekelompok orang mengumpulkan uang untuk dibelikan saham. The power of many is 
better than one. Plus side: kita nggak perlu keluar duit untuk bayar komisi ke 
reksadana (mind you jual beli saham harus melalui broker yang juga minta 
komisi, artinya kalo pake rekasadana ada dua pihak yang minta komisi) tapi 
cuman ke broker. Minus side: kekuatan modal kita nggak akan bisa ngimbangi 
modal milik reksadana.

Soal judi (betting), sebenarnya itu attitude kita dalam melihat pasar saham. 
Kalo kta spekulasi untuk mendapat capital gain yang tinggi, itu namanya judi. 
Tapi kalo kita lihat jangka panjang (balik ke contoh unilever yang capital 
gainnya dari tahun ke tahun nggak tinggi tapi relatif stabil Melihat London 
Stock Excahnge-pasar saham kedua terbesar di dunia-aku kadang punya kesan kalo 
unilever bisa dipakai sebagai salah satu barometer ekonomi negara. Yang lebih 
terkenal sih emang "BigMac index"), sebenarnya nggak banyak beda dengan nabung 
di Bank. Emang sih bedanya tingkat resiko di sini lebih besar.

Kalo kita pake reksadana yang besar (relatif thd stock market mana mereka 
berkiprah), biasanya merekalah yang jadi market mover. Kalo mereka nggak suka 
sama satu perusahaan, mereka bisa menjual saham di perusahaan tersebut dalam 
jumlah besar, sehingga memepengaruhi pasar. Kalo mereka suka sama sesuatu, 
mereka bisa memberi sentimen positif. Pendeknya untuk mereka pasar saham nggak 
sepenuhnya unpredictable. Masalahnya untuk pemodal kecil (kalo kita coba jual 
beli saham sendiri), kelakuan pemain besarlah yang sulit dipredict. Mahatir 
pernah bilang: Pemain utama pasar modal 
adalah segerombolan orang terdidik yang sering berperilaku idiot! (Contoh, 
waktu Inggris mau main lawan Argentina di world Cup lalu, di sini ada 
kekhawatiran kalo pasar saham akan loyo pada hari Senin kalo Inggris kalah 
pada hari Jumat. The big player merasa nggak bergairah, terus pada jual saham)

Kemampuan memprediksi ditambah stabilitas nilai tukar valas ini biasanya 
membuat jual beli saham di negeri sendiri relatif lebih aman. (Di Inggris, 
resiko terendah adalah LSE dan tertinggi adalah Nikkei, Hang Seng dan yang 
tiut! tiut! tiut! adlah BEJ) Tapi kalo di Indonesia aku nggak bisa omong hal 
ini masih berlaku. Pasar Singapura mungkin lebih kecil resikonya.

Pendeknya, unsur "gambling" di pasar saham nggak identik dengan judi di meja. 
Unpredictability lebih ditentukan oleh human emotion dari pemain besar. 
(Walupun saat ini di US jumlah total pemain individu mulai menyamai pemain 
besar). FYI: ada beberpa meode yang katanya bisa dipakai untuk memprediksi 
naik turunyya pasar dengan menggunakan ekstarpolasi dari masa lalu dan 
statistik. Namanya: "charting method"

Artinya unsur gambling yang kita hadapi pada dasarnya sama dengan unsur 
gambling saat membuka usaha baru.

 
> Terima Kasih
> --------------------
> Menur 29A Surabaya 60116 Indonesia
> PSTN : 62-31-5941153 GSM : 62-8155027690
> 
> 
> 
> 
> 



Indi H. Tristanto

Dept. Aero. and Auto. Eng. (AAE),     tel  : ++ (0)1509 227 242
Stewart Miller Building,              fax  : ++ (0)1509 227 275
West Park,         email: I.H.Tristanto@xxxxxxxxxxx
Loughborough University,       
Loughborough,                
Leicestershire LE11 3TU         
United Kingdom

Other related posts: