[nasional_list] [ppiindia] surat kembang gunung purei:[2 -selesai]"metode lan fang dan permasalahan seniman
- From: "Kusni jean" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>, "ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>, <wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Fri, 28 Jul 2006 07:40:18 +0200
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **"METODE LAN FANG DAN PEMASALAHAN
SENIMAN"
2.
Dalam laporan Liya dan Pi Chen di dalam harian berbahasa Mandarin yang
terbit di Indonesia, Lan Fang disebutkan bahwa Lan Fang mengatakan bahwa "Sejak
itu, ia bertekad untuk menjadi penulis, meski pun ia tahu betul bahwa profesi
penulis tidak menentu dan pemasukannya kecil. Namun ia tidak mempedulikan soal
itu dan tekadnya pun tetap".
Apa yang dikatakan oleh Lan Fang ini sesungguhnya mencerminkan secara obyektif
tentang keadaan kehidupan para sastrawan Indonesia. Keadaan yang berlangsung
sudah sejak lama, bukan hanya hari ini. Permasalahan pokok: Bisakah sastrawan
dan seniman hidup dari karya-karya mereka?
Yang umum kusaksikan bahwa para seniman, hidup dalam keadaan serba kekurangan
secara finansil. Ketika masih di Yogyakarta, Rendra dan Mbak Soenarti Soewandi
alm. [istri pertama Rendra] pernah hanya makan nasi berlaukpaukkan garam. Dalam
arti harafiah. Sedangkan para pelukis sanggar Bumi Tarung, yang umumnya
adalah mahasiswa-mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia [ASRI], banyak sekali
dibantu oleh ibu-ibu warung kecil di sekitar ASRI. Untuk makan sehari-hari,
para pelukis ini , makan dengan menghutang pada ibu-ibu warung ini, dan baru
dibayar setelah lukisan mereka berhasil terjual. Karena itu, kukatakan bahwa
dalam mengembangkan senirupa di Yogya, ibu-ibu warung sederhana di Gampingan,
mempunyai peranan besar. Jasa yang tidak pernah dicatat dan dilupakan ketika
orang menulis sejarah senirupa di Yogyakarta .
Teguh Karya alm., tokoh penting dunia teater Indonesia, pun pernah mengalami
keadaan hidup serba kekurangan begini. Tentu masih banyak lagi contoh yang
bisa diketengahkan jika harus dideretkan satu persatu. Tapi contoh-contoh itu
pada umumnya mengatakan bahwa kehidupan seniman sama dengan kemelaratan
finansil dengan sementara kekecualian seperti Djoko Pekik, Sapto Hudoyo, dan
lain-lain nama yang jumlahnya di Indonesia tidak banyak. Dalam keadaan begini,
maka Motinggo Boesje, ketika pindah ke Jakarta yang garang, demi hidup, mulai
menulis cerita-cerita yang dikenal dengan serial cerita "Tante Girang".
Menyimak keterangan Lan Fang kepada harian berbahasa Mandarin di atas, nampak
bahwa keadaan hidup sastrawan-seniman pada beberapa dasawarsa dahulu, sampai
sekarang pun masih saja belum mengalami perobahan berarti. Sastrawan-seniman
masih saja hidup di tengah-tengah serba kekurangan finansil. Sekali pun Lan
Fang termasuk penulis terkemuka di Jawa Timur, produktif mennulis novel dan
cerpen, tapi ia masih saja sering mengeluh tentang kebokekannya secara
finansil. Berbeda halnya ketika ia masih bekerja di perusahaan asuransi dan
belum penuh berkecimpung di dunia sastra.
Royalties, uang imbalan dari karya-karya yang diterbitkan, untuk mendapatkannya
pun tidak selancar yang diharapkan. Apalagi jika berhadapan dengan
penerbit-penerbit kecil yang tumbuh di mana-mana, terutama di Jawa. Ketika
berhadapan dengan penerbit dan pemilik kapital, penulis sering diperlakukan
secara sewenang-wenang. Penulis sering diperlakukan sebagai sapi perahan oleh
pemilik kapital dan penerbit. Atas dasar keadaan begini, maka aku melihat
adanya gejala bahwa kapital [uang] mempunyai kemampuan memberi corak pada dunia
sastra-seni kita. Mampu menumbuh-kembangkan satu genre sastra tertentu atas
nama sastra tapi hakekatnya berangkat dari pendagangan karya sastra-seni jenis
tertentu tanpa menempatkan "makna", "pesan" dan nilai manusiawi" pada kedudukan
yang layak. Kalau pun ada "makna" , 'pesan" dan ",nilai" maka "makna," "pesan"
dan nilai itu tidak lain daripada "makna", " pesan" dan "nilai uang". Sastrawan
selain sebagai "koeli" tapi juga menjadi tambang emas bagi pe
milik kapital.
Di tengah keadaan begini, idealisme seniman gampang luntur dan langsung atau
tidak langsung, atas nama berbagai nama dan dalih, bertekuklutut di hadapan
sang raja: uang dan pemilik kapital. Jika demikian, masih adakah kebebasan
berpikir dan sastrawan sebagai warga republik berdaulat?! Apakah karya-karya
begini tidak bisa disebut sebagai karya-karya kapitulasinis?
Dalam hal ini, aku jadi terkenang akan sikap dua orang teman pelukisku. Yang
satu, yaitu Mas G, dengan segala konsekwensi menolak "melacurkan lukisan"nya
["melacurkan lukisan" adalah istilah Mas G sendiri ]. Untuk hidup sehari-hari,
Mas G banyak bergantung pada usaha ekonomis istrinya. Istri Mas G, amat paham
akan sikap keras suaminya dan berkata: "Mas terus saja melukis, biar aku yang
menangani masalah kehidupan kita sehari-hari". Situasi ekonomi keluarga Mas G
berobah, setelah karya-karya Mas G sejalan dengan perkembangan waktu dan
perobahan di Indonesia, mulai laku serta mendapat penghargaan.
Sementara itu teman pelukisku yang lain yaitu S.J. alm. bersikap lain pula. Ia
membuat dua macam lukisan. Yang satu lukisan melayani selera para wisatawan
dan pasar, sedangkan yang lain, lukisan yang memang mengungkapkan dirinya tanpa
mengindahkan tuntutan pasar. "Aku perlu makan dan aku tidak bisa makan dari
idealismeku", ujar S.J. Dan S.J. alm. hidup dari lukisan komprominya.
Jalan lain adalah apa yang ditempuh oleh kawan pematung dan pelukis, yang juga
teman dekatku. A.N. Ia kaya raya karena lukisan dan patung-patungnya. Mobilnya
pun dilengkapi dengan lemari es. Mempunyai beberapa rumah yang cukup mewah.
Dalam melukis dan mematung, A.N. mengembangkan corak tersendiri yang unik tanpa
"melacurkan lukisan dan patungnya". A.N. berkembang dan besar dengan
keunikannya. Dan tetap menjadi dirinya sendiri sebagai seniman. Tiga teman
pelukis ini tadinya berada di satu sanggar. Setelah lolos dari teror Orde Baru,
mereka menempuh jalan sendiri-sendiri sebagai seniman.
Tanpa memberikan penilaian kepada jalan yang ditempuh oleh ketiga pelukis ini,
kecuali pemahaman, yang jelas terbayang padaku, hanyalah betapa tidak
gampangnya menjadi sastrawan dan seniman sama tidak gampangnya menjadi anak
manusia yang manusiawi. Bahwa akhirnya kita sendirilah yang memberikan nilai
dan harga pada diri kita sendiri. Kita sendirilah yang menentukan apa-siapa
diri kita saat kita mesti menjawab kehidupan yang tidak ramah dan tak
berbelaskasihan.
Laporan pendek Liya dan Pi Chen di dalam harian berbahasa Mandarin yang
terbit di Indonesia tentang Lan Fang, kukira telah mengungkapkan salah satu
inti masalah yang dihadapi oleh para sastrawan-seniman kita hari ini. Menjadi
sastrawan dan seniman adalah pilihan dan panggilan hidup, jika meminjam istilah
Syaeful Anwar, wakil dekan bidang kemahasiswaan fakultas film dan televisi IKJ
[Institut Kesenian Jakarta]. Memilih dan menjawab panggilan hidup, bukannya
tidak mengandung resiko. Hanya saja kalau mau menjadi seniman, janganlah takut
kesulitan. Harus memilih dan menyetiai pilihan dengan sepenuh hati. Tidak bisa
dilakukan dengan setengah hati, ujar Koes Hendratmo , yang tadinya penyanyi
asal Yogyakarta, dalam suatu percakapannya di TVRI. Tekad seperti ini pulalah
yang menjadi inti kata-kata pelukis-pematung A.N ketika mengatakan bahwa "jika
selepas keluar dari penjara kita berhenti jadi seniman, berhenti jadi pelukis,
kita akan lebih rendah dari kerbau" [Percakapan Da
lam Temu Seniman di Serua Indah, September 2005].
Dengan menggarisbawahi apa yang diajukan oleh Liya dan Pi Chen dalam laporannya
ini, aku hanya ingin menunjukkan kembali masalah yang dihadapi para seniman
negeri kita di tengah-tengah kekuasaan kapital. Mempertanyakan bagaimana kita
menjawab dan memecahkan masalah ini, terutama bagi mereka yang berketetapan
hidup sebagai sastrawan dan seniman tapi bukan sekedar menjadi sastrawan
sastrawanan, seniman senimanan. Hidup menyaring pilihan, tekad, nilai dan
makna diri sesungguhnya. Juga cinta dan mimpi kita. "Daya tahan seekor kuda
diuji dalam perjalanan jauh", ujar ungkapan Tiongkok Kuno.
Paris, Juli 2006.
----------------------
JJ. Kusni
[Selesai]
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] surat kembang gunung purei:[2 -selesai]"metode lan fang dan permasalahan seniman