[nasional_list] [ppiindia] surat kembang gunung purei : "suatu jalan keluar dan cara hidup mengalahkan ajal"
- From: "Kusni jean" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>, <wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>, "ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Sun, 30 Jul 2006 08:06:14 +0200
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **Surat Kembang Gunung Purei:
"SUATU JALAN KELUAR DAN CARA HIDUP MENGALAHKAN AJAL".
Kata-kata yang kujadikan judul suratku kali ini, berasal dari ucapan Betool
Khedairi, seorang penulis perempuan Irak yang buku pertamanya baru saja
diterbitkan dan sekarang sedang beredar di Paris. Roman pertama Pembaca
Perancis bisa menikmati karya pertama Betool Khedairi berjudul "Sebuah Langit
Yang Begitu Dekat" [Kam Badat As-Sama'Qariba], berkat jasa Gilles Authier yang
menerterjemahkannya langsung dari bahasa Arab, dan penerbit Gallimard, dalam
serie "Seluruh Dunia" [Le Monde entier]. Gallimard adalah salah satu penerbit
terpenting dan besar di Paris, yang juga telah menerbitkan novel Pramoedya
A.Toer "Gadis Pantai" tahun 2004, tepat ketika berlangsungnya "Hari Sastra
Indonesia" di Paris [Lihat: Laporan JJ. Kusni mengenai hal ini di berbagai
milis].Melalui Serie "Le Monde Entier" inilah Gallimard memperkenalkan
karya-karya sastra pengarang dari seluruh penjuru dunia ke kalangan pembaca
Perancis, di samping penerbit Actes Sud yang mengkhususkan diri dalam bidang
penterjemahan dan memperkenalkan karya-karya sastra dunia.
Terbitnya roman pertama bersifat otobiografis Betool Khedairi ini di Paris,
walau pun tentu saja tak padan, tapi terasa seakan berusaha mengimbangi
berita-berita bau darah dan kekerasan yang mengalir saban hari ke seluruh dunia
dari Eufrat dan Tigris, lebih-lebih setelah pendudukan Amerika Serikat atas
Irak.Seakan memperlihatkan bahwa kebudayaan dan kemanusiaan tidak terbinasakan
oleh perang dan kekerasan yang lapar nyawa.Sekali pun, kebudayaan dan
kemanusiaan itu mungkin berdiri sempoyongan dan berjalan terseok-seok. Perang
dan kekerasan tak kenal belas kasihan inilah memang yang melatarbelakangi roman
otobiografis Betool Khedairi yang dilahirkan di Bagdad pada tahun 1965 di
sebuah rumah mewah dan oleh para tetangga disebut sebagai "rumah orang asing"
[la maison de l'étrangère].Betool lahir dan besar di tengah perang dan
kekerasan dari seorang ayah yang pedagang besar Irak dan ibu asal Skotlandia.
Bukan hanya perang antar negara, tetapi juga "perang" antara ayah dan ibunya.
Sang ibu menginginkan puterinya belajar bahasa Inggris, menari dan bertatacara
yang elite, sedangkan ayah mau anaknya menterapkan kehidupan kampung -- asal
usul sang ayah. Barangkali sang ayah, ingin agar anaknya tidak melupakan asal
dan akar ayahnya. Tidak tercerabut dari orang kampung Irak. "Perang" intern
antar suami-istri, orangtua Betool, berakhir dengan permintaan cerai dari sang
ibu. Menjawab permintaan ini sang ayah yang sebagai pedagang banyak bepergian
dan jarang di rumah berkata:"Kalau itu yang kau inginkan, perempuanku,
kuterima. [...]. Tapi dia [baca:Betool -- JJK] adalah anakku. Dia aku pasti
anak gadis kita akan tinggal bersamaku. Hukum memihakku".
Alkisah perang Iran-Irak meletus. Ayah Betool meninggal dalam suatu kecelakaan
mobil.Yang selalu terkenang di benak dan melekat dalam di lubuk jiwa Betool
adalah kelembutan dan kasihsayang ayah kepada dirinya. Waktu itu Betool sudah
berusia 23 tahun dan sudah mulai menuliskan roman yang sekarang
diterbitkan."Yang mengagetkan aku bahwa aku mempunyai keberanian menulis
tentang hidup ayah setelah ia meninggal" tutur Betool kepada para wartawan
Perancis yang mewawancarainya pada saat peluncuran roman pertamanya ini.
"Setelah ayah meninggal, aku bekerja sebagai pengelola keuangan perusahaan yang
ia tinggalkan. Baru setelah pekerjaan ini selesai, dengan menggunakan satu jam
saban malam, aku melanjutkan penulisan", tambah Betool Khedairi. Dengan cara
begini, Betool baru bisa merampungkan
roman pertamanya setelah bekerja 10 tahun saban malam.
Betool heran sendiri mengapa ia berani menulis seadanya tentang sang ayah.
Keheranan yang membuatnya "merasa seperti batu" dingin tanpa perasaan, jika
menggunakan istilahnya sendiri. Apakah ini bukan suatu kesimpulan jujur yang
diambilnya dari menghidupi "perang intern"antara ayah dan ibu sampai ia menjadi
bujang. Lalu atas dasar kesimpulan itu mengambil keputusan sebagai jalannya
sendiri? Ditambah lagi oleh apa yang pelajari di universitas-universitas di
Amerika Serikat, Timur Tengah dan negeri-negeri Maghreb. Sehingga Betool
Khedairi tidak memenuhi baik yang diharapkan oleh ibu atau ayahnya.
Di jalan pilihan sendiri ini, betul nampak santai dan bebas dalam pakaian
celana dan jaket jean kesukaannya. Melalui sorot sepasang matanya dan bibir
keras terkatup, tergambar ketetapan hati romansir muda Irak ini.Juga tertuang
dalam sebuah tulisannya di The Jordan Times tahun 2004:
"Kalau sayap-sayap perkawinanmu patah, tunggu apa lagi. Cerailah! Kalau karirmu
tidak memuaskan kau, gantilah haluan. Kalau kau tidak bisa mempunyai anak,
jangan ragu untuk mengadopsi anak".
Dengan prinsip ini, Betool sendiri akhirnya meminta cerai dari suaminya.
Ujarnya sambil tertawa lebar, tentang perceraian ini:
"Aku tidak ingin seperti ibuku yang menunggu dan menunggu ayah yang selalu
bepergian. Lalu menunggu, menunggu, tetapi menunggu untuk apa? Godot yang
ditunggu tidak pernah datang".
"Apakah Anda seorang feminis?" tanya para wartawan.
"O, aku masih takut dengan istilah ini. Tapi yang aku anjurkan adalah bagaimana
para perempuan mengambil nasib mereka ke tangan mereka sendiri".
Barangkali yang ditakuti oleh Betool adalah istilah yang mungkin masih ia
pertanyakan ketepatannya, tapi dalam tindakan dan memilih jalannya sendiri,
Betool nampak tidak ada ketakutan sedikit pun. Ia tidak ragu sedikit pun
meminta cerai.Tidak ragu untuk tidak mengenakan jilbab. Menggunakan jean dan
berpenampilan santai, seakan mau mengucapkan bahwa tubuh ini adalah tubuhku. Ia
pun mengkritik penggunaan pil anti hamil sehingga mengakibatkan pertumbuhan
demografis menjadi tidak terkendalikan. Dan akhirnya orang-orang ini hanya
dijadikan umpan perang tak menentu atas nama "pertempuran mulia".
Istilah kadang kurang padan untuk mengungkapkan tindakan dan totalitas
ide.Karena itu Betool menolak menyebut dirinya sebagai seorang "feminis".
Absurditas perang dilukiskan oleh Betool Khedairi sebagai"orang-orang yang
sama-sama mengenakan seragam kain kaki saling hantam, saling bunuh, saling
hadap-hadap dan saling meledakkan". Apa yang mereka dapatkan untuk diri,
keluarga, bangsa dan kemanusiaan?
Berbicara tentang tentangannya terhadap perang, kekerasan, dan kediktaturan,
Betool nampak seperti gelombang menggulang tak henti memburu pantai, seperti
arus tak jeda mengalir memburu muara.
" Selama perang Iran-Irak, hari-hari kami dihantui oleh dua pertanyaan: Untuk
apa dan hingga kapan? Bayangkan saja: Tiga puluh lima tahun kediktaturan
berkuasa, tiga perang selama dua puluh tiga tahun.Di sekitar kita, orang-orang
bermatian. Dari detik ke detik yang kita bicarakan dan dengar tidak lain dari
yang itu-itu juga. Aku merasa bosan dan cukup sudah keadaan begini.Karena itu
aku ingin berbicara tentang konsekwensi perang terhadap kami". Dan tema inilah
yang Betool tulis dalam roman keduanya berjudul Ghayeb.
Keadaan beginilah yang oleh Betool dilambangkan sebagai "langit" [le ciel]. Dan
"langit" ini dirasakan benar oleh Betool Khedairi begitu dekat dengan kehidupan
pribadinya dan seluruh orang Irak. Karena itu roman pertamanya ia juduli dengan
"Un Ciel Si Proche" [Sebuah Langit Yang Begitu Dekat]. Langit Irak, negeri
kelahirannya. Langit yang ia rasakan telah meremuk dan meluluhlantakkan sekian
mimpinya.
Betool Khedairi sekarang tinggal di Jordania. Sedangkan waktu Perang Teluk, ia
lari ke London. "Aku tak mau kembali ke Irak, sebelum kekuasaan tidak lagi
menakutkan kehidupanku"."Sekarang ini, aku merasa hidupku lebih berguna di luar
negeri daripada di dalam negeri", ujarnya. Dalam hal ini aku tentu saja berbeda
dengan Betool. Aku lebih cenderung pada nasehat dan kesimpulan orang Tionghoa
Kuno yang berkata: "Tangkap harimau di sarangnya".yang dalam istilah militer
Viêt Nam dinamakan sebagai "konsep kembang teratai".
Apakah roman Betool yang segera akan difilemkan ini, merupakan sebuah roman
atau karya politik? Kukira tidak! Roman ini lebih berifat pribadi dan bertutur
tentang kehidupan pribadi yang tidak bisa mengelak dari keadaan dan
perkembangan politik.Di Indonesia korban keadaan dan perkembangan politik
begini sering disebut sebagai "kesalahanpahaman sejarah" atau "korban
sejarah".Disebut korban dari "kesalahpahaman sejarah" dan "korban sejarah",
karena para korban sesungguhnya tidak bersalah.Dan tidak pernah dibuktikan dan
tidak terbukti kesalahan mereka.
Pengalaman Betool Khedairi menunjukkan bahwa agaknya tidak mungkin kita
mengelak dan tidak mengindahkan keadaan politik dan perkembangan politik. Suka
atau tidak suka, kita hidup di tengahnya dan dikepung olehnya. Tanpa memahami
keadaan demikian, tanpa usah menjadi partisan kita akan jadi "gasing mainan"
pemegang kekuasaan politik dan para politis,jika menggunakan istilah Lan Fang
dalam cerpennya "Toast". Dan serasa pasti, Betool Khedairi tidak mungkin
menulis roman pertama dan keduanya, tanpa paham politik. Hampir tidak ada
penulis besar negeri mana pun yang buta aksara politik.
Bahwa Betool tahu politik, nampak dari kata-katanya:
"Aku berusaha melalui tulisan dengan bahasaku sendiri guna mengurangi jarak
antara Timur dan Barat serta melakukan pendekatan antar budaya hingga
rakyat-rakyat bisa lebih baik saling mengerti".
Perang, kekerasan dan kediktaturian telah menumbuhsuburkan hasrat dan mimpi
damai dan persahabatan antar rakyat di dunia pada diri Betool. Dengan memahami
keadaan dan perkembangan politik, mengkhayati kehidupan, akhirnya Betool, jika
menggunakan kosakata filosof Perancis Lacroix, menjadi "saksi sejarah dan
zaman"nya."Saksi sejarah dan zaman" suatu kurun waktu Irak, tanahair dan negeri
kelahiran penulis. Kecuali itu dengan menulis, Betool merasa telah mendapatkan
jalan keluar bagi dirinya. Karena bagi Betool menulis adalah suatu cara
mendapatkan "jalan keluar" dan sekaligus "cara hidup mengalahkan ajal". Dalam
kata-kata penulis Spanyol, Jorge Semprun, untuk:"membangun kehidupan.
Memperpanjangnya."
Dari dua romannya "Un Ciel Si Proche" dan "Ghayeb", kukira Betool memelihara
posisinya sebagai pemikir bebas, ciri penting dari warga republik sastra-seni
yang berdaulat. Betool Khedairi tidak hanyut di arus, tapi sebaliknya, ia tidak
takut melawan arus. Paling tidak secara ide, bukan secara fisik. Ciri yang juga
kudapatkan pada penulis Singapura, kelahiran Jakarta, May Swan dalam
kucerpennya "Matahari DiTengah Malam" [Doea_Lentera, Jakarta, Mei 2006].
Dalam hal ini aku jadi sampai pada masalah studi banding dalam dunia sastra.
Studi banding terhadap para penulis perempuan berbagai negeri, barangkali
diperlukan. Di samping membandingkan pendekatan dalam karya-karya, yang
digunakan oleh penulis-penulis perempuan dengan penulis lelaki. Studi banding,
barangkali, bisa memperdalam pemahaman dan apresiasi.
Terakhir, dengan menggunakan kesempatan ini, sambil menyampaikan salam kepada
Mas Boedi Darma, dan Mas Sapardi Djoko Damono, yang menangani secara akademi
masalah sastra Indonesia, soal studi banding ini kuketengahkan sebagai
pertanyaan. Seberapa banyak sudah studi banding ini sudah ditulis sebagai
skripsi dan tesis? Bagaimana Mas berdua mengarahkan para mahasiswa dalam
penulisan skripsi, Memoire dan tesis sehingga lebih menjawab dan mendorong
perkembangan dunia sastra negeri kita? Seberapa jauh soal studi banding ini
mendapat perhatian Fakultas Sastra kita? Sebagai berita ingin kukatakan bahwa
dalam "Hari Sastra Indonesia" di Paris, 2004, perbandingan ini dilakukan oleh
beberapa sarjana berbagai negeri ketika berbicara tentang Pram. Juga terhadap
André Malraux dan E.du Perron dalam sebuah seminar di Sorbonne.
Maaf, jauh menyimpang dari topik, tapi ketika membicarakan Betool Kheidairi,
aku jadi teringat pada karya-karya Lan Fang dan May Swan, yang kemudian
membawaku ke masalah studi banding.
Dalam hubungan ini, maka kalau kita berbicara tentang Chicago School dan atau
Frankfurt School [dalam bidang sosiologi],Amsterdam School dan Leiden School
[jika informasi yang kudapat akurat],, mengapa tidak mungkin hal demikian
terjadi di Indonesia kita di bidang sastra?
Aku membayangkan dan selalu memimpikan terujudnya keadaan di dunia sastra kita:
"Biar bunga mekar bersama seribu aliran bersaing suara". Kemajemukan itu suatu
kekayaan dan keindahan, sedangkan penyeragaman mengandung petaka. Pertanyaan
sentral akhirnya, barangkali: Kita mau apa dan ke mana dengan fakultas sastra
kita? Sama halnya dengan menulis dan menulis. Menulis untuk apa dan mau ke
mana? Pertanyaan ini agaknya, melalui pengalaman dan perenungannya serta bekal
pendidikan serta pengetahuannya, telah dijawab oleh Betool Khedairi untuk
dirinya sendirinya. Tentu!***
Paris, Juli 2006.
---------------
JJ. Kusni
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] surat kembang gunung purei : "suatu jalan keluar dan cara hidup mengalahkan ajal"