[nasional_list] [ppiindia] surat kembang gunung purei [2]: "toast" sepi, rindu, hati dan tubuh
- From: "Kusni jean" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>, <wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>, "ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Wed, 12 Jul 2006 06:18:02 +0200
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **Surat Kembang Gunung Purei:
"TOAST" SEPI, RINDU, HATI DAN TUBUH
2.
Bagaimana Xiao Lan membedah dan meracik dua permasalahan yang ia ajukan di
atas?
Untuk keperluan ini , Xiao Lan mengambil bar sebuah café sebagai tempat
berlangsungnya kisah. Dan tokoh utama cerita adalah si aku, Lan Fang, dan Cali,
pekerja bar [bar man atau "bar tender" jika menggunakan istilah penulis Xiao
Lan]. Dua tokoh ini masing-masing mempunyai permasalah cinta. Yang "bar
tender" mencintai seorang penyanyi yang sering menyanyi di café tapi tiba-tiba
menghilang sehingga cintanya menggelombangkan kerinduan hebat di dalam diri
"bar tender". Sedangkan Lan Fang tidak puas dengan akan sikap dan perlakuan
teman lelakinya. Sehingga Lan Fang merasakan cintanya disia-siakan dan
penyia-nyiaan serta rasa disa-siakan ini kemudian menurunkan badai sepi ke
diri penulis cerpen. Dengan perasaan beginilah maka Lan Fang, si aku, datang
ke café dan mengambil tempat di bangku bar sambil mereguk seloki demi seloki
"long island". Di depan bar ini kemudian berlangsung dialog antara Cali dan
Lan Fang mengenai dua soal di atas berlatarbelakang lagu-lagu yang mengalun
dari suara penyanyi kekasih Cali yang juga pencintai seloki "long island".
Latar belakang café dan "long island" serta musik-musiknya yang mengalun,
adanya tokoh "aku" yang melarikan kesepian dan kerinduan di café serta "long
island", bagiku jelas-jelas menggembarkan lapisan masyarakat mana yang digarap
oleh Xiao Lan yaitu lapisan yang relatif berpunya. Lapisan kelas menengah yang
oleh sementara politikolog dipandang sebagai dasar demokratisasi suatu negeri.
Benar tidaknya, sepakat tidaknya kita akan teori ini, adalah suatu perdebatan
panjang dan rinci yang bukan sasaran "surat" ini. Yang jelas aliran yang dianut
oleh politikolog yang bertahan pada pendapat "rakyat sebagai poros" tidak
sepakat dengan pandangan demikian.
Tapi dengan latarbelakang dan tokoh-tokoh yang ditampilkan oleh Xiao Lan dan
karya-karya sastra Indonesia yang ditulis dalam bahasa Indonesia, dalam benakku
muncul pertanyaan: Apakah keadaan begini tidak menunjukkan bahwa sastra
Indonesia berbahasa Indonesia pada galibnya merupakan sastra kelas menengah
suatu lapisan kecil dalam masyarakat yang bukan mayoritas?Penikmatnya pun tidak
jauh-jauh dari lapisan masyarakat demikian juga. Karena merekalah yang
mempunyai syarat untuk menikmatinya. Penulis-penulisnya pun apakah juga tidak
jauh berada di sekitar kelas begini sebagaimana ujar pepatah tetua kita: "buah
jatuh tak akan jauh dari pohonnya".
Berdasarkan keadaan ini , maka aku memandang dengan serius perkembangan sastra
berbahasa daerah, sekali pun bersifat lisan. Sastra jenis ini kukira merupakan
ungkapan lapisan masyarakat luas dan lebih luas dari sekedar selingkup kelas
menengah. Sastra berbahasa daerah, baik yang lisan atau pun tulisan, kukira
merupakan bagian dari sastra Indonesia, dalam konsep Indonesia dan Republik
yang dipilih oleh para pendiri Republik Indonesia ini pada 17 Agustus 1945.
Maka bukan kebetulan jika "bhinneka tunggal ika" dipilih sebagai motto
bernegeri, berbangsa dan bernegara. Ataukah aku keliru?! Ketika kita mengatakan
Republik Indonesia, aku tidak membayangkan sepintas pun bahwa teritorial
geografis dan politis ini adalah suatu daerah kosong tanpa penduduk. Aku pun
tidak pernah membayangkan bahwa yang minoritas menjadi tidak punya harga di
mata mayoritas.
Sastra daerah, kukira merupakan sastra mayoritas rakyat atau warganegara
Republik dan Indonesia. Jauh lebih besar penggunaannya daripada sastra yang
berbahasa Indonesia. Ungkapan langsung dari kehidupan nyata mayoritas
warganegara. Sedangkan sastra kelas menengah lebih banyak melayani kepentingan
kelas menengah yang umumnya hidup di daerah perkotaan. Sayangnya, sesuai dengan
peranan kota dalam perkembangan masyarakat, maka nilai dominan, apalagi dalam
perkembangan tekhnologi seperti sekarang, nilai kota dan kelas menenangahnya
gampang menjadi dominan dan standar.
Tidak terbayangkan padaku bahwa mayoritas warga negara republik dan negeri ini
bisa melalukan waktunya di café dan seloki "long island" di bawah buaian
lagu-lagu pop dan Barat . Bahwa kesepian, kerinduan, cinta dan hubungan intim
merupakan soal umum di mana pun, baik di pedesaan atau perkotaan, di negara
industri atau agraris, merupakan suatu kenyataan pula, tapi cara orang
menghadapinya akan berbeda-beda. Betapa pun perbedaan ini, apa yang dilukiskan
oleh Xiao Lan, tetap merupakan bagian dari kehidupan di Indonesia kekinian.
Dari sini kita melihat adanya macam-macam Indonesia seperti juga para ilmuwan
sosial pernah menulis bahwa Amerika Serikat itu ada tiga, Perancis pun tidak
satu.
Tentu saja, aku tidak mempunyai keberatan terhadap pelukisan kehidupan kelas
menengah yang memang merupakan suatu kenyataan. Seperti halnya Honore Balzac
selain melukiskan kehidupan kaum tani dan buruh tapi juga menulis tentang
kehidupan borjuasi Perancis. Dan Balzac mengenal lapisan ini dengan baik.
Masalahnya di sini, kembali bagaimana kita meracik tema. Untuk apa dan dengan
konsep bagaimana?
Balzac atau Victor Hugo melalui karya-karya sastra mereka, memaparkan
permasalahan perkembangan masyarakat zamannya, memperlihatkan pertarungan yang
terjadi di dalam masyarakat dan bagaimana para cendekiawan, termasuk para
sastrawan memberi sumbangan ide jalan keluar. Jalan keluar hanya mungkin
ditawarkan apabila kita dekat dengan kehidupan dan atas dasar itu dengan
menggunakan pisau analisa teoritis atau filosofis, dan lain-lain, yang
mengakar, tanggap dan aspiratif, bisa menawarkan usul jalan keluar dalam bentuk
artistik.
Apa yang ditawarkan oleh Xiao Lan dari segi ini, jika menggunakan pendekatan
perbandingan, terutama jika kita menggunakan karya-karya penulis berbagai
negeri dan Indonesia sendiri dalam sejarah, sebagai perbandingan ? Apakah aku
salah menggunakan perbandingan begini? Kalau aku salah, di manakah salahku?
Apakah sastrawan kita, sastrawan Indonesia, mau sekedar bangga menjadi "pipit"
dan tidak mau jadi "rajawali"? Bangga sudah merasa punya nama di sekian milis
dan daerah geografis sebesar tempurung, hingga tidak segan melakukan
otoproklamasi ini dan itu, tak obah bayangan "katak mau menjadi lembu"? Mengapa
tidak, kita menjadikan wilayah geografis bernama Indonesia hanya satu dermaga
menyamudera sebagaimana, Paul Valery, penyair Perancis mengatakan "dari Paris
kita menyamudera". Ketika bekerja di Kalimantan Tengah, ide begini kurumuskan
dalam kata-kata: "Berdiri di kampung halaman memandang tanahair merangkul bumi
demi memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat". Manusia, kehidupan dan
masyarakat, kulihat sebagai samudera tak bertepi dan kita tak lain dari kapitan
pinisi yang melayarinya sebagaimana Kraeng Kalesong melayari samudera mimpinya
hingga ajal. Dari Kraeng Kalesong aku belajar bagaimana dari kampung-halaman
kita menjadi anak bumi dan manusia yang manusiawi. O, barangkali dunia sastra
merupakan suatu kekecualian yang hanya sibuk dengan diri sendiri, asyik dengan
kehidupan menara gading kelas menengahnya ?! Jika demikian, pasti Republik dan
Indonesia akan bertanya-tanya: Apakah aku kalian cuekkan?. Mungkin! Maklum aku
hanyalah seorang awam di dunia sastra sehingga bertanya pun keliru dan bodoh.
Hanya bisa bicara tetapi tak bisa berbahasa.***
Paris, Juli 2006.
---------------------
JJ. Kusni
[Bersambung....]
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/6pRQfA/fOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] surat kembang gunung purei [2]: "toast" sepi, rindu, hati dan tubuh