[nasional_list] [ppiindia] soto
- From: Nugroho Dewanto <ndewanto@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Wed, 26 Oct 2005 21:40:54 +0700
** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org **
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Soto
Tiap 28 Oktober saya teringat soto. Hari itu, pada tahun 1928, ketika para
pemuda menyatakan bersumpah untuk memiliki "satu nusa, satu bangsa, dan
satu bahasa", tak terdengar ada kesepakatan untuk punya "satu soto, soto
Indonesia".
Demikianlah kini kita masih bisa merasai soto Bandung, soto Banjar, soto
Betawi, soto Kudus, soto Pekalongan (yang terakhir ini belum juga mau
disebut soto, melainkan "tauto", karena ada unsur tauco di dalamnya), soto
Madura, dan seterusnya, sehingga dari barat sampai ke timur berjajar
soto-soto--itulah Indonesia.
Soto agaknya satu hal yang mustahil diatur. Maksud saya, ia sulit dilebur
dalam sebuah "kesatuan". Saya tak tahu, sejauh mana kalangan intelijen
menganggap soto Bandung, soto Banjar, soto Madura, dan lain-lain itu
sebagai ancaman dan menyebarkan informasi: Awas, soto adalah pendukung
diam-diam federalisme dan pelawan "NKRI".
Adapun singkatan ini sekarang dipakai sebagai bahasa resmi untuk menyebut
Republik kita--acapkali disebut dengan setengah menggertakkan geraham,
khususnya ketika sampai di huruf "K". Tapi kita tahu, lidah kita tak bisa
merasakan soto dari mana pun pada saat kita menggertakkan geraham.
Mungkin karena soto akan senantiasa luput dari bahasa resmi. Ia bertaut
erat dengan kelaziman perut dan lidah, yang umumnya terbentuk oleh
pengalaman sejak masa kanak-kanak. Orang yang sejak berumur enam tahun
dihibur ibunya dengan makan soto bersantan gaya Bandung tak akan dengan
gampang mencintai soto bening gaya Madura.
Dengan kata lain: soto berhubungan dengan selera, hasrat, kenikmatan,
ingatan, bawah-sadar, banyak hal jasmani yang tersimpan dari masa lalu,
yang kadang-kadang muncul, dan agaknya disebut jouissance dalam
psikoanalisis Lacan. Soto bertautan dengan sesuatu yang mengandung
hal-ihwal yang tak selamanya dapat dibuat terang dan rapi. Soto yang tak
dapat dijadikan bagian dari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober itu menunjukkan
bahwa dalam hidup memang ada hal-hal yang tak dapat dijangkau oleh tata
simbolik--oleh bahasa, hukum, konvensi bersama, dan agama.
Yang menarik ialah bahwa 28 Oktober 1928 justru sebuah peristiwa dalam tata
simbolik, ketika nama jadi demikian penting. Contoh yang paling jelas
adalah dalam salah satu yang disebut dalam Sumpah itu: "satu bahasa, bahasa
Indonesia". Bahasa ini bukanlah sesuatu yang baru pada saat ia disepakati
untuk dipakai. Bahasa ini telah beredar sekian abad sebelumnya, umumnya
disebut sebagai bahasa "Melayu", tapi tak lagi persis seperti yang
dipergunakan suku Melayu, sebab khazanah dan lidah orang lain--terutama
kaum peranakan Cina, yang banyak berperan dalam perdagangan dan media--ikut
membentuknya. Maka yang terjadi pada 28 Oktober 1928 itu adalah mengubah
nama "Melayu" menjadi "Indonesia".
Apa arti sebuah nama? Ini pertanyaan yang sering diulangi sejak Shakespeare
menulis Romeo and Juliet. Bagi Romeo, nama tak penting; kembang mawar tetap
kembang mawar seandainya pun ia disebut "dadap". Romeo mendahului teori
linguistik Saussure, jika "nama" kita samakan dengan "kata": arti sepatah
kata bukanlah sesuatu yang berdiam atau tersimpan dalam kata itu sebagai
satu hakikat. Arti itu selamanya bergantung pada kata lain yang maknanya
berbeda. Maka X = mawar, sebab ia bukan Y bila Y = melati, dan Y = melati,
sebab Y bukan Z bila Z = alamanda, dan seterusnya. Maka apa itu "mawar"?
Kita cuma bisa angkat bahu.
Tapi tak selamanya kita bisa menyamakan "nama" dengan "kata". Nama sering
punya sejarahnya sendiri. Ketika nama "Indonesia" dipilih, yang simbolik
tak hanya bunyi netral. Ia digerakkan dan menggerakkan sebuah cita-cita,
sebuah harapan, mungkin sebuah rancangan. Jika kita lihat kini, itulah
cita-cita tentang sebuah negeri yang baik, tempat orang yang berbeda-beda
memutuskan untuk tak saling melempari bom.
Ada yang pragmatis di situ: seandainya sebagian dari kita bersikap seperti
Imam Samudra, tak akan banyak lagi di antara kita yang hidup, lebih banyak
lagi yang dalam ketakutan. Sebab orang seperti Imam Samudra--yang dengan
berapi-api menulis pembelaan atas perannya dalam mengatur pengeboman di
Bali--tak peduli tentang Indonesia. Ia tak perlu Indonesia. Ia ingin
menegakkan masyarakat Islam yang tak terbatas pada "satu bangsa dan satu
tanah air" ini. Dan ia merasa tahu pasti apa yang "Islam" itu. Dan dengan
klaim itu, ia sah membunuh yang "bukan Islam". Islam, dalam pandangan ini,
selalu menghunus empat pedang.
Tapi tak ada sebuah kehidupan bersama yang bakal tahan dalam ancaman empat
pedang yang terus-menerus. Ini bukan hanya karena rasa jeri. Sesuatu yang
lebih dalam tersimpan dalam pragmatisme itu: "satu nusa, satu bangsa, satu
bahasa" adalah ekspresi dari sebuah panggilan ke arah sesuatu yang universal.
Setidaknya, dilihat pada tahun 2005, Sumpah Pemuda bukanlah ambisi
mendapatkan kekuatan politik dan keluasan geografis. Sumpah itu buah
kesadaran: tak pernah ada kelompok (agama, suku, gender, dan lain-lain)
yang bisa mapan dan selesai dalam mencapai identitasnya. Yang disebut
"orang Jawa", juga yang disebut "umat Islam", sebenarnya tak pernah jelas
apa artinya--sebab di dalamnya keanekaan berkecamuk, meskipun sering tak
diakui.
Pada saat yang sama, kita tahu sudah takdir kita: meskipun penghuni 17 ribu
pulau ini tak hadir serentak di satu ujung jalan, kita tahu bahwa tiap saat
kita bersentuhan dengan orang yang lain. Bahkan Imam Samudra harus mencoba
meyakinkan orang yang "lain" itu, dan sebab itu ia bicara, berseru, menulis.
Dalam tiap seru, tersirat asumsi bahwa ada yang universal dalam kehidupan
bersama ini. Ada hal-hal dalam "milik" kita yang khas yang kita harapkan
dapat diterima dan dinikmati siapa saja, entah kapan. Setidaknya begitulah
kearifan penjual soto: ia tak bermaksud menawarkan soto Kudus semata-mata
buat orang di kota di timur Semarang itu. Dan kita bersyukur.
Goenawan Mohamad
(Catatan Pinggir, TEMPO, 24 Oktober 2005)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a difference. Find and fund world-changing projects at GlobalGiving.
http://us.click.yahoo.com/j2WM0C/PbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
- Follow-Ups:
- [nasional_list] [ppiindia] Re: soto
- From: RM Danardono HADINOTO
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] soto
- [nasional_list] [ppiindia] Re: soto
- From: RM Danardono HADINOTO