[nasional_list] [ppiindia] mawar merah café bandar [13] sungai seine dan kisah-kisah lainnya

** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **Mawar Merah Café Bandar  

SUNGAI SEINE DAN KISAH-KISAH LAINNYA


13

"SKYLARK"


Pada tahun 1968, Jean-Paul Sartre,  pernah mengucapkan "On a reason de se 
révolter" [Kita beralasan untuk memberontak".Kata-kata ini adalah varian dari 
ide Mao Zedong [Koufan yu li, Membentontak adalah adil!]. Ide Mao ini 
dikeluarkan untuk mendukung pemberontakan Garda Merah pada  masa Revolusi Besar 
Kebudayaan Proletar pada tahun 1966, sedangkan kata-kata Sartre bisa dikatakan 
menjadi dasar teoritis Revolusi Mei 1968 Perancis dalam melawan belenggu 
nilai-nilai konservatif yang sudah kadaluwarsa menyusul perkembangan 
sosial-ekonomi Perancis setelah Perang Dunia II. Pada Revolusi Mei 1968 itu, 
Sartre bukan hanya  berkata tapi juga langsung turut turun ke jalan-jalan 
berama massa luas yang memberontak seperti juga yang dilakukan oleh sosiolog 
Pierre Bourdieu, bersama Jacques Derrida,  menjadi salah satu teras  Parlemen 
Sastrawan. Sebuah organisasi atau Parlemen yang didirikan guna membela para 
sastrawan seluruh dunia sebagai warga Republik Berdaulat Sastra-Seni. Sastrawan 
yang pernah mendapatkan solitdaritas dari Parlemen Sastrawan ini adalah 
pemenang Nobel sastra, Wole Soyinka dari Nigeria,  saat ia mendapat kekangan 
dari pemerintah.

Sartre,  Soyinka, Aimé Cesaire dari Guadalup dan Martinik di sini dipandang 
sebagai "jiwa bangsa" , jiwa daerah atau komunitasnya pada zamannya. Karena itu 
 kata-kata Sartre pada zamannya sangat berpengaruh dan didengar. 

Menjadi "jiwa bangsa" , kukira, adalah suatu tingkat capaian seorang sastrawan 
sangat bermakna.  Untuk mencapai tingkat ini tidak mungkin jika tidak disertai 
dengan ketekunan belajar dalam arti luas, baik dari buku dan lebih-lebih dari 
kehidupan. Yang terakhir ini tidak mungkin ada jika kita acuh tak acuh akan 
masyarakat, pada lingkungan dan sibuk dengan dunia diri sendiri. Asyik dengan 
fatalisme, ratap tangis, penyerahan diri pada kepada yang dikira ketentuan para 
dewa dan dewi serta keputusan langit,   memburu  keharuman nama sebagai 
selebritis yang sering berotak hampa,  hampa wawasan dan buta politik tanpa 
menjadi partisan. Karena sering partisanisme hanya  berujung jadi penjara diri. 
Kerangkeng kebebasan berpikir seorang sastrawan yang tak pernah henti mencari 
dan bertanya.

Pramoedya, terutama  pada masa Orde Baru Soeharto, dipandang oleh Perancis, 
termasuk Pemerintah Perancis, sebagai "jiwa bangsa Indonesia".   Kita sepakat 
atau tidak dengan penilaian ini adalah soal lain. Atas dasar penilaian ini maka 
Pemerintah Perancis menganugerahkan bintang jasa tertinggi, "Legion d'Honneur" 
kepada Pram ketika ia berkunjung ke Paris pada tahun 1990an.  Adakah sastrawan 
Indonesia lainnya yang pernah mendapatkan tanda jasa begini? Pemberian "Legion 
d'Honneur" kepada Pram, seperti juga yang diberikan oleh UNESCO yang bermarkas 
di Paris, barangkali bisa dipandang sebagai  kritik keras kepada Orba Soeharto 
yang otoritarinisme dan militeristik.  Dan memang Orba telah mencemarkan nama 
Indonesia di Perancis. Bayangkan saja ketika Soeharto datang ke Paris dari 
Nairobi setelah menghadiri konfrensi  Negara-negara Non-Blok ia hanya disambut 
oleh Menteri Luarnegeri ketika mendarat di bandara Orly. Dilihat dari segi 
protokol diplomasi, hal begini sangat tidak wajar. Bahkan bisa dipandang 
sebagai suatu hinaan. Seorang presiden disambut hanya oleh seorang menlu. 
Perdana Menteri pun tidak!  Jangankan soal jemputan, mau bertemu atau tidak, 
salaman tidak, pelukan atau tidak, dalam dunia diplomasi mempunyai arti 
tersendir. Demikian juga jejeran di tempat duduk resmi antar negara. Sekarang  
bandingkan saja perbedaan perlakuan pemerintah Perancis terhadap Soeharto 
sebagai Presiden dan perlakuan terhadap Pram sebagai sastrawan atau pelakuan 
terhadap Joesoef Isak sebagai wartawan ketika pada zalman Soekarno  berkunjung 
ke Aljazair yang di sambut dengan permadani merah [le tapis rouge]. Wartawan di 
sambut dengan le tapis rouge! 

Keadaan begini, mengingatkan aku akan sambutan rakyat Philipina ketika Soeharto 
berkunjung ke negeri jiran ini.   Di rapat umum menyambut Soeharto yang sedang 
berkunjung di negeri ini, dipajangkan spanduk berbunyi: " Soeharto bukan 
Indonesia" sedangkan di Nairobi orang-orang Afrika menari-nari dengan gaya khas 
mereka sambil mengucapkan "Indonesia, US puppet! Indonesia, US 
puppet!"[Indonesia boneka Amerika Serikat!]. 

Karya sastra Indonesia yang paling banyak diterbitkan oleh penerbit-penerbit 
terkemuka di Perancis, tetap karya-karya Pramoedya juga. Kukira, kenyataan ini 
bukanlah kebetulan, jika kita mengenal jiwa dan sejarah Perancis dengan tradisi 
sastra engagée [berpihak ke kamanusiaannya]-nya serta negeri yang sanggup 
memancung kepala rajanya di depan umum. 

Tidakkah penghargaan internasional kepada Pram sesungguhnya mempunyai hubungan 
dengan kadar Pram sebagai "jiwa bangsa" ini , terutama pada masa Orde Baru? Aku 
gunakan kalimat tanya karena sadar mengenai soal ini bisa terjadi berbagai 
penafsiran. 

Sikap Perancis terhadap Pram seperti yang kutulis di atas, nampaknya tidak 
berobah. Ketika pulang malam ini dan membuka komputer, kudapatkan pesan yang 
dikirim oleh Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia "Pasar Malam" menyampaikan 
pemberitahuan dari Geneviève MERIC dari Radio France, sebuah radio terkemuka di 
Perancis.  Dalam pemberitahuan itu Geneviève MERIC mengatakan bahwa pada 
tanggal 04 Juli 2006 mendatang dalam "rubrik sastra" yang disiarkan saban 
Selasa, France Culture, akan menyelenggarakan siaran khusus untuk memperingati 
dan menghormati Pramoedya A Toer. Siaran ini akan dilangsungkan selama seminggu 
melalui situs France Culture. 

Yang berbicara dalam acara ini adalah Pratrice de Beer, mantan konsul Perancis 
untuk Singapura, mantan perwakilan Harian Le Monde untuk Beijing dan 
Washington, yang bisa dikategorikan sebagai salah seorang Asianis Perancis. 
Selain itu DR. François Raillon, Indonesianis dan penterjemah resmi pemerintah 
Perancis, peneliti pada CNRS [semacam LIPI di Indonesia], DR. Etienne Naveau, 
pengajar pada Institut Bahasa-bahasa dan Kebudayaan  Timur [Inalco] Paris, dan 
Anton Aropp yang telah menulis biografi Pramoedya. Siaran ini diproduksi oleh 
Pascale Casanova [edisi Kailash, Paris].

Kalau komposis para pembicara bisa disepakati sebagai mewakili kalangan 
cendekiawan Perancis, maka siaran France Culture yang berlangsung selama 
seminggu ini merupakan suatu penghormatan dan penghargaan kalangan cendekiawan 
Perancis terhadap Pram sebagai "jiwa bangsa" Indonesia.  Lepas dari keadaan 
Indonesia yang dilanda krisis majemuk dan seakan berada di ujung tanduk, 
sebenarnya dunia masih tidak kehilangan harapan akan Republik dan Indonesia 
sebagai negeri, bangsa, dan konsep agung dan mulia. Krisis adalah bagian dari 
proses sedang menjadi Republik dan Indonesia. Inikah Indonesia yang kita 
impikan? Aku melihat acara peringatan terhadap Pram  yang direncanakan 
berlangsung seminggu melalui radio terkemuka Perancis, dalam artian ini. 
Perancis dengan sejarah dan tradisi sastra engagé-nya memang menghormati para 
cendekiawan dan sastrawan tanpa batas geografis. Paris dibangun oleh 
sastrawan-seniman tanpa batas negeri juga adanya seperti dirumuskan oleh 
penyair Paul Verlaine: "dari Paris kita menyamudera".  Paling tidak, acara 
France Culture ini merupakan suatu kegiatan mengenang dan menghormati seorang 
anak manusia, entah besar atau kecil tapi tetap seorang anak manusia seperti 
yang dikatakan oleh Chairil Anwar dalam sanjaknya "Catetan Th. 1946:


"Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu
Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat".


Perancis memperingati dan menghormati Pram, "mencatet" dan memberinya "tempat". 
Apakah Indonesia yang resmi menggunakan nama agung Republik Indonesia, Republik 
dan Indonesia, memberi "tempat" kepada Pram dan teman-temannya sesuai dengan 
wacana Republik dan Indonesia?! Ataukah Republik dan Indonesia hanya suatu 
fatamorgana, suatu gerak tipu penindasan dan penghisapan kekinian,  sehingga 
para janda pun mau diperdagangkan kepada para wisata?! Dua puluhan juta lebih 
wisatawan mengunjungi Seine saban tahun, tapi sungai yang membelah Paris ini 
tidak menjajakan para perempuannya, janda atau pun bukan! Kendati pun arus 
Seine yang mengalir di bawah Jembatan Sembilan, Jembatan Mirabeau atau pun 
Jembatan Alexandre III tak mengucapkan apa-apa, tapi aku merasa diam-diam, ia 
menegurku sebagai sahabat yang ia terima selama puluhan tahun dengan ketulusan. 
 Diam-diam juga menjawab  Seine kusitat kata-kata Longfellow: "life is not 
easy", Sayang, dan jalan pemimpi adalah jalan sunyi. Memandang camar putih 
meliuk-liuk mengawal kapal, kepada mereka  kutanyakan : Adakah di Indonesia  
"skylark" seperti yang dituturkan oleh Shelley?!***

Paris, Juni 2006
----------------------
JJ. Kusni



Keterangan foto: 

Pramoedya A.Toer dan JJK di PDS HB Jassin di acara  peluncuran buku JJK, 13 
Agustus 2005 [Dari Dokumen JJK]. 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Other related posts: