[nasional_list] [ppiindia] mawar merah café bandar [13] sungai seine dan kisah-kisah lainnya
- From: "Kusni jean" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>, "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>, <wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Sat, 1 Jul 2006 05:13:38 +0200
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **Mawar Merah Café Bandar
SUNGAI SEINE DAN KISAH-KISAH LAINNYA
13
"SKYLARK"
Pada tahun 1968, Jean-Paul Sartre, pernah mengucapkan "On a reason de se
révolter" [Kita beralasan untuk memberontak".Kata-kata ini adalah varian dari
ide Mao Zedong [Koufan yu li, Membentontak adalah adil!]. Ide Mao ini
dikeluarkan untuk mendukung pemberontakan Garda Merah pada masa Revolusi Besar
Kebudayaan Proletar pada tahun 1966, sedangkan kata-kata Sartre bisa dikatakan
menjadi dasar teoritis Revolusi Mei 1968 Perancis dalam melawan belenggu
nilai-nilai konservatif yang sudah kadaluwarsa menyusul perkembangan
sosial-ekonomi Perancis setelah Perang Dunia II. Pada Revolusi Mei 1968 itu,
Sartre bukan hanya berkata tapi juga langsung turut turun ke jalan-jalan
berama massa luas yang memberontak seperti juga yang dilakukan oleh sosiolog
Pierre Bourdieu, bersama Jacques Derrida, menjadi salah satu teras Parlemen
Sastrawan. Sebuah organisasi atau Parlemen yang didirikan guna membela para
sastrawan seluruh dunia sebagai warga Republik Berdaulat Sastra-Seni. Sastrawan
yang pernah mendapatkan solitdaritas dari Parlemen Sastrawan ini adalah
pemenang Nobel sastra, Wole Soyinka dari Nigeria, saat ia mendapat kekangan
dari pemerintah.
Sartre, Soyinka, Aimé Cesaire dari Guadalup dan Martinik di sini dipandang
sebagai "jiwa bangsa" , jiwa daerah atau komunitasnya pada zamannya. Karena itu
kata-kata Sartre pada zamannya sangat berpengaruh dan didengar.
Menjadi "jiwa bangsa" , kukira, adalah suatu tingkat capaian seorang sastrawan
sangat bermakna. Untuk mencapai tingkat ini tidak mungkin jika tidak disertai
dengan ketekunan belajar dalam arti luas, baik dari buku dan lebih-lebih dari
kehidupan. Yang terakhir ini tidak mungkin ada jika kita acuh tak acuh akan
masyarakat, pada lingkungan dan sibuk dengan dunia diri sendiri. Asyik dengan
fatalisme, ratap tangis, penyerahan diri pada kepada yang dikira ketentuan para
dewa dan dewi serta keputusan langit, memburu keharuman nama sebagai
selebritis yang sering berotak hampa, hampa wawasan dan buta politik tanpa
menjadi partisan. Karena sering partisanisme hanya berujung jadi penjara diri.
Kerangkeng kebebasan berpikir seorang sastrawan yang tak pernah henti mencari
dan bertanya.
Pramoedya, terutama pada masa Orde Baru Soeharto, dipandang oleh Perancis,
termasuk Pemerintah Perancis, sebagai "jiwa bangsa Indonesia". Kita sepakat
atau tidak dengan penilaian ini adalah soal lain. Atas dasar penilaian ini maka
Pemerintah Perancis menganugerahkan bintang jasa tertinggi, "Legion d'Honneur"
kepada Pram ketika ia berkunjung ke Paris pada tahun 1990an. Adakah sastrawan
Indonesia lainnya yang pernah mendapatkan tanda jasa begini? Pemberian "Legion
d'Honneur" kepada Pram, seperti juga yang diberikan oleh UNESCO yang bermarkas
di Paris, barangkali bisa dipandang sebagai kritik keras kepada Orba Soeharto
yang otoritarinisme dan militeristik. Dan memang Orba telah mencemarkan nama
Indonesia di Perancis. Bayangkan saja ketika Soeharto datang ke Paris dari
Nairobi setelah menghadiri konfrensi Negara-negara Non-Blok ia hanya disambut
oleh Menteri Luarnegeri ketika mendarat di bandara Orly. Dilihat dari segi
protokol diplomasi, hal begini sangat tidak wajar. Bahkan bisa dipandang
sebagai suatu hinaan. Seorang presiden disambut hanya oleh seorang menlu.
Perdana Menteri pun tidak! Jangankan soal jemputan, mau bertemu atau tidak,
salaman tidak, pelukan atau tidak, dalam dunia diplomasi mempunyai arti
tersendir. Demikian juga jejeran di tempat duduk resmi antar negara. Sekarang
bandingkan saja perbedaan perlakuan pemerintah Perancis terhadap Soeharto
sebagai Presiden dan perlakuan terhadap Pram sebagai sastrawan atau pelakuan
terhadap Joesoef Isak sebagai wartawan ketika pada zalman Soekarno berkunjung
ke Aljazair yang di sambut dengan permadani merah [le tapis rouge]. Wartawan di
sambut dengan le tapis rouge!
Keadaan begini, mengingatkan aku akan sambutan rakyat Philipina ketika Soeharto
berkunjung ke negeri jiran ini. Di rapat umum menyambut Soeharto yang sedang
berkunjung di negeri ini, dipajangkan spanduk berbunyi: " Soeharto bukan
Indonesia" sedangkan di Nairobi orang-orang Afrika menari-nari dengan gaya khas
mereka sambil mengucapkan "Indonesia, US puppet! Indonesia, US
puppet!"[Indonesia boneka Amerika Serikat!].
Karya sastra Indonesia yang paling banyak diterbitkan oleh penerbit-penerbit
terkemuka di Perancis, tetap karya-karya Pramoedya juga. Kukira, kenyataan ini
bukanlah kebetulan, jika kita mengenal jiwa dan sejarah Perancis dengan tradisi
sastra engagée [berpihak ke kamanusiaannya]-nya serta negeri yang sanggup
memancung kepala rajanya di depan umum.
Tidakkah penghargaan internasional kepada Pram sesungguhnya mempunyai hubungan
dengan kadar Pram sebagai "jiwa bangsa" ini , terutama pada masa Orde Baru? Aku
gunakan kalimat tanya karena sadar mengenai soal ini bisa terjadi berbagai
penafsiran.
Sikap Perancis terhadap Pram seperti yang kutulis di atas, nampaknya tidak
berobah. Ketika pulang malam ini dan membuka komputer, kudapatkan pesan yang
dikirim oleh Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia "Pasar Malam" menyampaikan
pemberitahuan dari Geneviève MERIC dari Radio France, sebuah radio terkemuka di
Perancis. Dalam pemberitahuan itu Geneviève MERIC mengatakan bahwa pada
tanggal 04 Juli 2006 mendatang dalam "rubrik sastra" yang disiarkan saban
Selasa, France Culture, akan menyelenggarakan siaran khusus untuk memperingati
dan menghormati Pramoedya A Toer. Siaran ini akan dilangsungkan selama seminggu
melalui situs France Culture.
Yang berbicara dalam acara ini adalah Pratrice de Beer, mantan konsul Perancis
untuk Singapura, mantan perwakilan Harian Le Monde untuk Beijing dan
Washington, yang bisa dikategorikan sebagai salah seorang Asianis Perancis.
Selain itu DR. François Raillon, Indonesianis dan penterjemah resmi pemerintah
Perancis, peneliti pada CNRS [semacam LIPI di Indonesia], DR. Etienne Naveau,
pengajar pada Institut Bahasa-bahasa dan Kebudayaan Timur [Inalco] Paris, dan
Anton Aropp yang telah menulis biografi Pramoedya. Siaran ini diproduksi oleh
Pascale Casanova [edisi Kailash, Paris].
Kalau komposis para pembicara bisa disepakati sebagai mewakili kalangan
cendekiawan Perancis, maka siaran France Culture yang berlangsung selama
seminggu ini merupakan suatu penghormatan dan penghargaan kalangan cendekiawan
Perancis terhadap Pram sebagai "jiwa bangsa" Indonesia. Lepas dari keadaan
Indonesia yang dilanda krisis majemuk dan seakan berada di ujung tanduk,
sebenarnya dunia masih tidak kehilangan harapan akan Republik dan Indonesia
sebagai negeri, bangsa, dan konsep agung dan mulia. Krisis adalah bagian dari
proses sedang menjadi Republik dan Indonesia. Inikah Indonesia yang kita
impikan? Aku melihat acara peringatan terhadap Pram yang direncanakan
berlangsung seminggu melalui radio terkemuka Perancis, dalam artian ini.
Perancis dengan sejarah dan tradisi sastra engagé-nya memang menghormati para
cendekiawan dan sastrawan tanpa batas geografis. Paris dibangun oleh
sastrawan-seniman tanpa batas negeri juga adanya seperti dirumuskan oleh
penyair Paul Verlaine: "dari Paris kita menyamudera". Paling tidak, acara
France Culture ini merupakan suatu kegiatan mengenang dan menghormati seorang
anak manusia, entah besar atau kecil tapi tetap seorang anak manusia seperti
yang dikatakan oleh Chairil Anwar dalam sanjaknya "Catetan Th. 1946:
"Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu
Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat".
Perancis memperingati dan menghormati Pram, "mencatet" dan memberinya "tempat".
Apakah Indonesia yang resmi menggunakan nama agung Republik Indonesia, Republik
dan Indonesia, memberi "tempat" kepada Pram dan teman-temannya sesuai dengan
wacana Republik dan Indonesia?! Ataukah Republik dan Indonesia hanya suatu
fatamorgana, suatu gerak tipu penindasan dan penghisapan kekinian, sehingga
para janda pun mau diperdagangkan kepada para wisata?! Dua puluhan juta lebih
wisatawan mengunjungi Seine saban tahun, tapi sungai yang membelah Paris ini
tidak menjajakan para perempuannya, janda atau pun bukan! Kendati pun arus
Seine yang mengalir di bawah Jembatan Sembilan, Jembatan Mirabeau atau pun
Jembatan Alexandre III tak mengucapkan apa-apa, tapi aku merasa diam-diam, ia
menegurku sebagai sahabat yang ia terima selama puluhan tahun dengan ketulusan.
Diam-diam juga menjawab Seine kusitat kata-kata Longfellow: "life is not
easy", Sayang, dan jalan pemimpi adalah jalan sunyi. Memandang camar putih
meliuk-liuk mengawal kapal, kepada mereka kutanyakan : Adakah di Indonesia
"skylark" seperti yang dituturkan oleh Shelley?!***
Paris, Juni 2006
----------------------
JJ. Kusni
Keterangan foto:
Pramoedya A.Toer dan JJK di PDS HB Jassin di acara peluncuran buku JJK, 13
Agustus 2005 [Dari Dokumen JJK].
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] mawar merah café bandar [13] sungai seine dan kisah-kisah lainnya