[nasional_list] [ppiindia] mawar merah café bandar [10] sungai seine dan kisah-kisah lainnya

** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **Mawar Merah Café Bandar


SUNGAI SEINE DAN KISAH-KISAH LAINNYA 

10.


MENGEMBALIKAN SEINE KE PENDUDUK PARIS


Sungai Seine yang membelah Paris, banyak mengilhami para seninman baik para 
pelukis atau pun sastrawan. George Simenon, penulis Belgia di samping 
menggunakan Montmartre sebagai setting, juga tidak sedikit nmengambil sungai 
Seine dan kapal-kapalnya sebagai latar setting ceritanya. Paul Verlaine dalam 
sanjak terkenalnya "Jembatan Mirabeau"  juga bercerita tentang Sungai ini. 
Demikian juga para pelukis neo-imperesionis sebagaimana yang bisa kita saksikan 
di museum Quai d'Orsay yang dibangun pada masa pemerintahan Mitterrand. Seperti 
semua sungai, sungai selalu menyimpan misteri dan mengusik tanya. Sungai juga 
pencatat segala peristiwa di daerah-daerah yang ia lalui. 

Apabila kita mengarungi Seine mengelilingi Pulau St. Louis dengan menggunakan 
kapal-kapal pesiar yang disebut "le bateau-mouche", dari rekaman dalam berbagai 
bahasa,  kita akan mendengar riwayat Paris dan gedung-gedung tua yang berdiri 
di sisinya. Riwayat ini merupakan bagian dari sejarah Perancis. Pesiar dan 
memperkenalkan sejarah dilakukan sekaligus. Bukan pesiar sekedar pesiar. 
Pesiar, sejarah dan pendidikan dilakukan sekaligus. Karena itu kukatakan bahwa 
Seine adalah pencatat peristiwa demi sejarah yang pendiam tapi cermat. 

Tidak hanya itu. Karena Seine berada di tengah-tengah kota, para pemrotes 
kebijakan pemerintah juga menggunakan sungai ini sebagai sarana protes. Para 
pemrotes terjun ke sungai dan mengapung dengan menggunakan pelampung sambil 
membawa slogan yang mengungkapkan isi  protes mereka. Tentu saja, adanya orang 
mengapung di sungai tengah kota dengan slogan politis, sangat menarik perhatian 
banyak orang. Suatu cara unjuk rasa yang efektif.  Unjuk rasa yang jika 
dihitung secara statistik, terjadi hampir tiap hari di Perancis. Secara 
statistik, tidak ada hari tanpa unjuk rasa.

Selain sebagai sarana protes, sungai yang membelah Paris ini pun   menjadi 
tempat tinggal para elite tingkat atas masyarakat. Elite jenis ini tinggal di 
kapal-kapal, di samping di apartemen-apartemen luas mereka. Yang tinggal dan 
mempunyai apartemen di sekitar Pulau St Louis, sebuah pulau kecil di 
tengah-tengah Seine, tergolong orang-orang kaya dan bukan sekedar kaya biasa. 
Daerah ini merupakan petunjuk tingkat sosial tertentu menyusul Paris 16 dan 17. 
Harga-harga pun, misalnya harga secangkir kopi ekspreso atau sebotol koka [coca 
cola], orangina atau  jus jeruk,  antara kartir satu dan yang lain pun berbeda. 
Apalagi sewa atau harga apartemen. Sesuai dengan tingkat sosial penghuni 
kartir. 

Ciri lain dari sungai ini yaitu bahwa kapal-kapal yang berlabuh di dermaga, 
makin malam makin ramai. Ramai hingga subuh. Di kapal-kapal ini dilakukan 
bermacam-macam kegiatan. Kegiatan kesenian sekaligus kegiatan militan politik. 
Sungai mempunyai ciri kehidupan sendiri. Tapi merupakan bagian dari  kehidupan 
Paris yang utuh. Paris tanpa Seine bukanlah Paris yang utuh walau pun Seine 
memang merupakan bagian dari kemewahan kota. Hanya jadi milik yang berpunya.

Bertrand Delanoë, dari Partai Sosialis, walikota Paris yang sekarang barangkali 
mencoba mengurangi kesenjangan dan pemisahan Seine dari penduduk Paris dengan 
membuat Seine sebagai sebuah pantai [plage] buatan saban musim panas. Pepohonan 
palma yang bisa diangkat ditempatkan di sepanjang sungai hingga 
berkilo-kilometer.  Acara musik, warung-warung dibuka. Orang-orang berjemur 
membakar kulit mereka dengan terik matahari seperti yang dilakukan di 
pantai-pantai. Seine musim panas adalah Seine untuk seluruh penduduk dengan 
berbagai tingkat penghasilan serta tingkat sosial mereka. Delanoë berkeinginan 
agar Seine tidak tersaing dari penduduk Paris dan mimpi bahwa Paris jadi kota 
yang nyaman bagi mayoritas. 

Yang kupahami dari kebijakan Delanoë ini bahwa yang menjadi masalah kunci bagi 
penguasa atau pemegang kekuasaan politik adalah orientasi dan kemauan politik.  
Kepada siapa mereka berpihak? Adakah kemauan politik kongkret untuk mewujudkan 
keberpihakan ini? Ataukah kata-kata  "demi kepentingan rakyat" hanya suatu 
taktik merebut suara dalam pemilu? Kita bisa menipu rakyat pada suatu ketika, 
tapi kita tidak bisa menipu mereka untuk selamanya. Di Perancis dengan 
kesadaran politik yang cukup tinggi sepadan dengan  tingkat pendidikan yang 
dimiliki untuk menopang demokrasi, rakyat Perancis bisa menghukum keras 
pemegang kekuasaan melalui pemilu atau  parlemen di jalan. Parlemen di jalan 
ini mampu segera menurunkan sang menteri yang tidak membela kepentingan publik. 
Jangankan seorang menteri. Kepala raja pun pernah mereka pancung di Place de 
Concorde, semacam Lapangan Merdeka di Jakarta. Dampak pemancungan kepala raja 
di depan umum ini secara politik dan psikhologis masih nyata sampai sekarang. 
Pemerintah tidak bisa bertindak semaunya di hadapan rakyat yang sadar akan hak 
dan wajibnya.Penyelewengan kekuasaan akan dihukum oleh rakyat dengan cara 
mereka. Karena itu tidak heran jika demo di negeri bisa berlanngsung 
berbulan-bulan. Bila tidak digubris rakyat akan meningkatkan tekanan mereka 
pada pemerintah. Jika perlu mereka akan membangun kemah-kemah meneruskan 
tekanan. Sedangkan untuk makanan dan minuman, pemilik-pemilik café yang 
terdapat di hampir setiap pojok, akan membantu para pengunjuk rasa dengan 
sukarela. Hal ini misalnya terbukti ketika para jururawat turun ke jalan 
menuntut perbaikan nasib. Kerja berat tapi gaji amat minim. 

Kesadaran begini kukira tidak lepas dari kurikulum sekolah dan proses 
pendidikan sejak taman kanak-kanak dan dipentingkannya pelajaran filsafat di 
sekolah-sekolah.

Dari segi ini , pertanyaan yang muncul di benakku adalah apakah sebenarnya 
pemegang kekuasaan politik? Apakah negara itu pada masa sekarang? Yang jelas 
nampak padaku bahwa  di bawah pengawasan sosial begini, diktaturialisme dan 
militerisme tidak mungkin berkembang. Karena itu para jenderal tidak muncul di 
dunia politik. Tentara berfungsi menjaga keamanan dan keselamatan negara dan 
negeri dari serangan luar. Sementara polisi mengurus keamanan dalam negeri. 
Apabila  terjadi ada seorang saja yang jatuh sebagai  korban diakibatkan oleh 
tindakan alat negara, maka akan terjadi heboh besar dan pihak pengadilan tidak 
akan diam. Selain yang melakukannya akan dihukum juga ia atau mereka akan 
langsung dipecat. Bukan hanya itu: parlemen pun akan turut campur tangan 
segera. Dari sini aku melihat penting berfungsinya trias-politica Montesqieu 
diterapkan. Melihat masalah dari pandangan ini, aku merasa bahwa Indonesia 
adalah seorang ayah garang dan tanpa enggan sambil senyam-senyum tapi sanggup 
membunuh anaknya sendiri. Kukira itulah Indonesia sekarang di mana nyawa 
manusia tidak pernah dihargai. Di mana hak dilecehkan. Kepentingan ego dan uang 
amat dominan.

Seine yang terus mengalir seperti cinta dan mimpiku yang juga terus mengalir 
tanpa henti, membuatku melihat Indonesia sebagai ayah yang garang tak punya 
hati.  Seine dan kembaraku menjelajah sungai demi sungai bumi, membuat mataku 
makin terbuka melihat segala. Termasuk diriku sendiri, mimpi dan cintaku. 
Bagaimana bermimpi dan mencintai. Tak gampang bermimpi dan mencintai secara 
tulus dan sungguh. Hidup adalah taruhannya, apalagi ketika melihat sungai 
kampung kelahiranku, Katingan, menjelma jadi petaka. Hutan kanakku dahulu 
menjelma padang pasir sejauh cakrawala! Aku dan hutanku, aku dan sungaiku jadi 
terasing. Alam dijauhkan dari manusia. Sedangkan di Seine orang mencoba dengan 
segala cara menyatukan alam dan manusia serta kehidupan untuk memanusiawikan 
manusia dan kehidupan yang manusiawi. Karena itu Seine dilindungi dan dijaga. 
Sedangkan di Indonesia kita sedang menghancurkan Indonesia dan pulau-pulaunya, 
hutan, gunung dan sungainya . Apakah benar demikian? Paling tidak, kusaksikan 
praktek ini di Katingan, sungai kelahiran, ketika aku  nyemplung berenang 
seperti ketika masa kanakku dahulu. Katingan sekarang bukan Katinganku dahlulu. 
 Katingan adalah bencana hari ini dan untuk esok!*** 


Paris, Juni 2006.
-----------------------
JJ. Kusni 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Great things are happening at Yahoo! Groups.  See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/TISQkA/hOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Other related posts: