[nasional_list] [ppiindia] catatan dari meja nusa dua dan café bandar [32]: ke katingan!
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>, <wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>, "ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>, <syarikat@xxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Tue, 1 Nov 2005 02:21:55 +0100
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Catatan Dari Meja Nusa Dua Dan Café Bandar [32]
KE KATINGAN!
KATINGAN : PANGGILAN PULANG DARI SEORANG IBU KEPADA ANAKNYA.
14
"Jangan katakan kami pahlawan sejati
jika tak sampai ke puncak"
***
"bangunlah kaum yang terhina
bangunlah kaum yang lapar"
***
Melihat keadaan kampung-halaman yang mengiris hati, hatiku seperti rotan di
mata jangat [alat pembelah rotan untuk bisa dianyam digunakan oleh
perempuan-perempuan Katingan]. Perihnya, keperihannya ingin kujadikan penyang
pambelum [sangu moral dalam memenangkan kehidupan]. Ia kurasakan sebagai
tantangan:seberapa jauh dan tangguh kadarku sebagai anak manusia dan seorang
Dayak "rengan tingang nyanak jata" sebagaimana dahulu bocahku melihat tantangan
gelombang dan angin ribut.
"Jangan katakan kami pahlawan sejati
jika tak sampai ke puncak"
tulis seorang penyair Tiongkok abad ke-20 ketika menempuh Long March ribuan li
[ukuran jarak di Tiongkok],baris-baris yang ditulis pada saat maut, lapar dan
dingin memburu serta mengepung dan menguji kadar tapi merasa bahwa merekalah,
angkatan merekalah yang menjadi penanggujawab timbul-tenggelamnya negeri.
Kembali dan lagi-lagi sastra serta pesan kawan dekatku yang juga seorang
penyair,agar "selalu gagah", menjadi pelampungku berpegang seperti halnya
ketika aku meninggalkan ibu saat usia sepuluhan tahun.Lebih-lebih di saat
mengarungi masa pubertas penuh gejolak kosong pengalaman.
Di hadapan kegalauan kampungku, aku melihat tokoh Sun Wukung atau si raja kera
putih, berdiri di hadapan menungku, nakal mengejek: "Beranikah kau, Kusni,
menyerbu dan mengobrak-abrik kerajaan sorga?". Ya, Sun Wukung dan si raja kera
putih, si Hanoman dengan ribuan lasykar keranya nampak nampak nakal mengejekku,
juga mengejek angkatan sekarang. Tidakkah kalian merasa terejek?
Aku berpikir, tidakkah Katingan, tidakkah negeri ini memerlukan Sun Wukung dan
Hanoman si pemberontak? Yang sorga sekali pun mereka obrak-abrik jika di situ
terdapat ketidakadilan? Tidakkah Tanah Dayak memerlukan tokoh seperti Panimba
Tasik dan Panetek Gunung yang diabadikan dalam legenda orang Katingan?
Barangkali semuanya telah mati? Apakah benar, jiwa atau mental Katingan sudah
jadi bangkai atau sabut dan busa hanyut di sungai kehidupan yang deras
mengalir?
Kata-kata Eugène Pottier [1871] yang ditulis di tengah-tengah kehancuran
pemberontakan Komune Paris mengiang lantang di telingaku:
"bangunlah kaum yang terhina
bangunlah kaum yang lapar"
berbarengan dengan suara kawan dan guruku waktu remaja Yogya, Rendra:
"Orang-orang harus dibangunkan
Kesaksian harus diberikan
Agar kehidupan bisa terjaga"
Bersamaan dengan itu ketika memandang bayangan wajahku di sungai, aku pun
melihat diriku yang terus menua dan menua:
"Ya,Ya! Akulah seorang tua!
Yang capek tapi belum menyerah pada mati"
dituakan oleh kembara yang tak berujung.
"Kini aku berdiri di perempatan jalan
Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing
Tetapi jiwaku mencoba menulis sajak
Sebagai seorang manusia"
Mas Willy, di pinggir sungai kelahiranku, Katingan, kudengar suaramu seperti
dahulu menasehatiku. Juga hari ini. Ya, di perjalanan seperti tak berujung ini
benar, "aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing" yang tidak diindahkan
samasekali oleh negeri dan kampung-halaman.
Dari segi hakekat dan skala lebih luas, siapa gerangan yang "sudah menjadi
anjing" dan tak mampu menulis "sajak sebagai seorang manusia" di negeri ini?!
Siapa yang telah kehilangan kemanusiaan dan nurani? Di Katingan,
pertanyaan-pertanyaan ini kudengar seperti suara hutan diaduk angin, kudengar
di antara gemuruh arus dan riam.
"Kau memang berkepala batu", ada suara lembut lain begitu kuhapal, begitu
kukenal.Ya, tidakkah dalam mencintai memerlukan keteguhan bukan hanya sekeras
batu, tapi barangkali harus bisa sekeras granit tanah Palangka Raya agar bisa
mengundang petir.Aku kira negeri dan Katinganku memerlukan "petir" yang
sabung-menyabung "agar kehidupan bisa terjaga".Cinta yang menggranit kukira
diperlukan untuk mengundang petir.Petir yang mampu menggoncangkan kerajaan
sorga.Barangkali dari sini manusia Dayak bisa kembali dilahirkan, Katingan bisa
membangkitkan naga putih, merah dan kuning dari lubuknya seperti yang
dituturkan dalam legenda -- hari ini kian lenyap dari ingatan terutama di
kalangan para penangis.Menjadi Dayak dan Indonesia kukira adalah kemampuan
menjadi petir kemanusiaan.
Esok aku ditunggu di Palangka Raya, ditunggu oleh Teras Narang, gubernur baru
yang memanggilku ketika masih di Balikpapan. Menyongsong esok aku merebahkan
tubuh di rumah yang dibangun sendiri oleh ayah dari kayu besi, hasil hutan
Katingan yang sekarang sudah makin melangka.
Paris, Oktober 2005.
------------------
JJ.Kusni
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] catatan dari meja nusa dua dan café bandar [32]: ke katingan!