[nasional_list] [ppiindia] catatan dari meja nusa dua dan café bandar [31]: ke katingan!
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>, <wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>, "ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Sun, 30 Oct 2005 05:27:06 +0100
** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org **
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Catatan Dari Meja Nusa Dua Dan Café Bandar [31]
KE KATINGAN!
KATINGAN : PANGGILAN PULANG DARI SEORANG IBU KEPADA ANAKNYA.
13
"life is not easy
there is time to be happy
and there is time to be unhappy too"
............................
"but don't be afraid
face the future with courage"
***
Katunen sekarang merupakan kampung baru dari Kasongan. Waktu kanak dulu,
Kasongan terdiri dari empat kampung yaitu Kasongan Lama, Kasongan Baru, Pata
dan Tewang Rusau. Sedangkan Katunen, seperti telah kukatakan di bagian lain,
masih merupakan tanah tinggi [kéréng -- bahasa Katingan] yang ditutupi hutan
rimba serta tempat orang berladang atau mengembangkan kebun buah serta rotan.
Kasongan Lama dahulu, umumnya dihuni oleh penduduk Kaharingan, Pata terutama
yang beragama Islam sedangkan Kasongan Baru dihuni oleh penduduk yang beragama
Kristen Protestan, demikian juga Tewang Rusau yang pada waktu itu masih terdiri
dari beberapa rumah saja.
Kasongan Lama adalah tempat Tjilik Riwut dilahirkan. Dan ketika melancarkan
gerakan grilya menghalau Belanda, basis massa utama Tjilik Riwut adalah
orang-orang dari Kasongan Lama. Sementara Kasongan Baru menjadi sandaran
serdadu Belanda saban mereka datang ke Kasongan untuk mengejar gerilyawan. Tapi
sering juga karena tidak merasa aman di Kasongan Baru, serdadu Belanda tidur di
kapal mereka.Berlabuh di tengah-tengah sungai. Padahal ini pun bukanlah
jaminan. Karena pernah terjadi, kapal perang Belanda yang berlabuh di tengah
sungai diserbu oleh gerilyawan dan ditenggelamkan. Bangkai kapal ini kemudian
tumbuh menjadi sebuah pulau di tengah sungai.
Penduduk Pata yang umumnya terdiri mereka yang beragama Islam, agak acuh tak
acuh pada gerakan gerilya.Tapi juga tidak memihak Belanda, berbeda dengan
penduduk Kasongan Baru.
Katunen, baru kemudian kuketahui, pada waktu itu menjadi sarang gerilyawan yang
berseragam hitam-hitam dan segaris merah putih melekat pada leher baju.
Sekarang, Katunen menempati kedudukan strategis dalam hubungan lalulintas
antara kota pelabuhan Sampit dan ibukota Kalteng, Palangka Raya.
Terlihat padaku melalui berbicara dengan penduduk Katunen bahwa orang-orang
luar Kasongan mulai giat membeli tanah di jalur strategis ini dan pada masa
mendatang pada saat misalnya jalan trans Borneo-Kalimantan sudah jadi
kenyataan, kubayangkan Katunen akan makin menjadi jalur lalu-lintas penting
yang dilewati orang-orang bepergian dari satu kota ke kota lain. Aku
benar-benar merasa cemas dengan kesukaan orang Dayak Katingan, khususnya di
Katunen yang gemar menjual tanah mereka sekedar untuk memenuhi kepentingan
sesaat, tapi tidak melihat sedikit jauh ke depan. Bukan mustahil jika pada
suatu saat yang tidak berapa jauh, penduduk Katunen yang Dayak sama sekali
tidak bertanah lagi. Kepada orang-orang yang kuajak bicara selalu kutekankan
agar jangan gampang-gampangan menjual tanah. Ke mana kita akan berumah dan
pergi jika sebidang tanah pun tidak lagi kita miliki? Jika kita berada pada
keadaan demikian maka kita akan benar-benar jadi orang yang berkampunghalaman
tapi tak bertanah [kalimat varian dari baris puisi Sabarsantoso Anantaguna:
"Yang bertanahair tapi tak bertanah"].Aku jadi ngeri sendiri apabila
membayangkan kemungkinan ini menjadi kenyataan.
Kalau pun hal begini belum terjadi, tapi apabila praktek kesukaan menjual tanah
itu berlangsung terus, bisa dipastikan keadaan menjadi kenyataan amat pahit.
Hal yang menarik perhatianku juga adalah masih banyaknya lahan-lahan tidur
milik orang Dayak. Aku heran, mengapa lahan-lahan tersebut tidak diproduktifkan
misalnya dengan menjadikannya kebun sayur, buah-buahan, membangun warung,
tambak ikan, beternak ayam, sapi, kambing, babi, atau apakah lagi yang lain
yang bersifat prdouktif. Pemilik-pemilik lahan tidur ini lebih senang membeli
sayur di pasar daripada memetiknya di kebun sayur sendiri jika mereka
menjadikan lahan tidur itu sebagai kebun sayur. Tentu saja dengan berkebun, si
pemilik tanah dituntut untuk bekerja rajin merawatnya. Tapi apa salahnya dengan
keniscayaan begini?
Yang banyak mengelola kebun sayur dan menyuplai pasar akhirnya orang-orang dari
luar seperti orang dari Jawa atau Madura. Boleh dikatakan orang-orang inilah
yang menguasai pasar sayur.
Dari pembicaraan-pembicaraan intensif dan pengamatan langsung selama
bertahun-tahun di Kalteng, kudapati bahwa yang menjadi ideal mereka adalah
menjadi pegawai negeri betapa pun kecilnya gaji yang mereka peroleh. Menjadi
pegawai negeri dianggap sebagai pekerjaan ideal dan dicoba diproleh dengan
macam-macam cara termasuk mnyogok. Padahal berapa gerangan kesempatan kerja
yang bisa ditampung dan diberikan oleh pemerintah daerah? Berhadapan dengan
pola pikir dan mentalitas begini, aku melihat benar betapa besar persoalan yang
dihadapi komunitas Dayak dan terasa sangat menantang. Bukan membuatku lalu
ingin lari. Aku melihatnya seperti arus, seperti gelombang dan angin ribut yang
perlu kuterjuni sebagaimana kulakukan masa bocah dahulu.Ini adalah arus,
gelmombang dan angin ribut baru dan arus, gelombang, angin ribut itu terasa
seperti menyeru-nyeruku dan aku hanya mengomel diri mengapa aku jadi terpental
begini dari kampung. Karenanya aku sangat terkesan oleh judul tulisan Evi
Mariani dari harian The Jakarta Post [23 Agustus 2005]: "JJ. Kusni reclaims his
right to be Indonesian!". Aku berterimakasih kepadamu Evi! Ya, mengapa hakku
tidak dikembalikan tanpa syarat?!
Masalah manusia, pikiran dan mentalitasnya kukira menjadi masalah sentral
Kalteng sekarang.Sekolah tinggi tidak menjamin bahwa masalah ini akan pupus
serta-merta.
Tidak jauh dari Katunen, hanya beberapa menit berkendaraan, terdapat kota
satelit Kasongan yaitu Kereng Pangi/Hampalit, pusat pengusahaan emas tambang
terbuka. Segala jenis orang dari berbagai penjuru tanahair terdapat di sini
untuk berburu emas. Daerah ini sekarang dari hutan rimbun tak tembus matahari
berobah jadi padang pasir putih sejauh mata memandang. Kepada pemda sering
kukatakan agar sebagian dari kawasan ini dijadikan "museum alam pembangunan ala
Orba" untuk menunjukkan kepada semua orang apa yang diberikan oleh "pembangunan
Orba" kepada penduduk mokal,khususnya orang Dayak. Daerah ini oleh penduduk
disebut sebagai semacam "Far-West"nya Kalteng. Kekerasan, pelacuran, perjudian,
pembunuhan dan rupa-rupa kejahatan terjadi di sini. Pada suatu ketika, untuk
masuk ke daerah ini, para pengunjung diwajibkan membayar sejumah uang kepada
para penjaga yang berseragam dan bersenjata.
Bahwa segalanya berkembang dan berobah tidak pernah kusangkal. Masalahnya
perobahan dan perkembangan yang bagaimana dan mau dibawa ke mana? Sudahkah
pertanyaan ini terjawab oleh orang-orang Kalteng secara mantap? Terjawab
artinya termasuk usaha untuk mewujudkannya. Yang nampak padaku bahwa perobahan
yang berlangsung sekarang membuat penduduk Dayak seperti kehilangan arah dan
bingung. Yang sering kudengar adalah keluhan dan semacam ratapan yang terasa
menghimpit perasaanku. Untuk tidak menangis aku hanya mengatup kuat-kuat
bibirku. Pada saat begini aku selalu teringat baris Longfellow yang paling
kusukai:
"life is not easy
there is time to be happy
there is time to be unhappy too"
............................
"but don't be afraid
face the future with courage"
Tapi "berani", "courage" saja tidak cukup walau pun penting karena takut selalu
menggoda. "Future",hari esok atau haridepan tidak akan tercapai hanya dengan
"courage". "Courage" harus disertai dengan pandai sehingga menjadi "berani dan
pandai berjuang serta berani dan pandai menang". Tidak semua orang berani dan
pandai menang, demikian dikatakan kepadaku oleh seorang Jenderal Tentara
Pembebasan Viêt Nam Selatan ketika mereka berhasil menghalau agresor Amerika
Serikat dari bumi Viêt Nam Selatan. Kukira hal-hal ini pun diperlukan oleh
orang Kalteng.
Dalam usaha mengenal pola pikir dan mentalitas Dayak ini,aku menjadi sangat
tertarik mempelajari dan menafsir ulang kisah-kisah rakyat serta sansana
mereka.Melalui karya-karya sastra lisan ini, bisa kudapatkan perkembangannya
dan bandingan dengan hari ini. Univeritas Negeri Palangka Raya [UNPAR], memang
telah melakukan registrasi melalui beberapa penelitian yang mereka lakukan.
Hasil-hasil penelitian ini bisa diperoleh di bagian dokumentasi UNPAR atau di
Perpustakaan Daerah Palangka Raya. Tapi setelah membaca hasil-hasil penelitian
tersebut, tidak kudapatkan adanya usaha lebih jauh dari registrasi --- sekali
pun berguna -- yaitu menafsirkan yang tersirat dan mengangkat hakekatnya
sehingga mereka terasing dari kepentingan memenangkan pergelutan hari ini.
Kalteng, juga Katingan, Katinganku, nampak seperti gugusan barisan gunung
persoalan yang menunggu penakluk puncak demi puncaknya.***
Paris, Oktober 2005.
------------------
JJ.Kusni
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] catatan dari meja nusa dua dan café bandar [31]: ke katingan!