[nasional_list] [ppiindia] Thaksinomics dan Saudagarnomics
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Thu, 29 Dec 2005 23:27:19 +0100
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **REPUBLIKA
Kamis, 29 Desember 2005
Thaksinomics dan Saudagarnomics
Didin S Damanhuri
Guru Besar Fakultas Ekonomi & Manajemen IPB
Menarik, rencana perundingan bilateral antara Presiden SBY dan Perdana Menteri
(PM) Thailand, Thaksin Shinawatra, pada Maret atau April 2006 mendatang.
Sebelumnya, kedua pemimpin telah mendiskusikan upaya kerja sama di berbagai
bidang seperti perikanan, pertanian, perdagangan, investasi, dan seterusnya.
Dalam kesempatan ini penulis akan lebih mengelaborasi pentingnya Indonesia
belajar dari ''kisah sukses'' Thailand yang kini telah menjadi referensi.
Thaksinomics
Saat krisis terjadi, kecuali Malaysia, semua negara Asia Tenggara yang terkena
dampak mengikuti paket bantuan IMF. Yakni melakukan pemulihan ekonomi dengan
restrukturisasi utang dan penyehatan perusahaan serta perbankan baik swasta
maupun BUMN (lewat privatisasi), penyehatan birokrasi pemerintahan (dengan
menekan defisit anggaran dan pencabutan subsidi serta penegakan good
governance), serta langkah-langkah lain yang kondusif terhadap proses
liberalisasi perekonomian.
Saat krisis, Thailand dipimpin PM Chuan Leekpai yang sangat konsisten dengan
paket-paket kebijakan IMF. Kendati Chuan terkenal bersih dan bersahaja,
langkah-langkah kebijakannya yang pro-IMF tak mampu membawa Thailand keluar
dari krisis. Upaya menggerakan sektor riil tak efektif, karena bank-bank tak
mengucurkan kredit kepada perusahaan-perusahaan. Sebabnya, perbankan melihat
nasib kredit-kredit lama yang macet belum jelas.
Thailand Asset Manegement Corporation (TAMC) yang mirip BPPN di Indonesia telah
menggelontorkan dana rekap terhadap perbankan, namun tetap tak berhasil
mendorong bank-bank mengucurkan kredit. Thailand pun terjebak pertumbuhan
ekonomi rendah, karena sektor riil tak bergerak signifikan. Situasi itu
menghilangkan minat investor asing maupun nasional. Kondisi ini mirip yang
dialami Indonesia sejak Krismon 1998 hingga kini.
Thaksin yang merupakan pengusaha sukses kemudian terpilih menjadi penguasa dan
menjabat sejak Februari 2001. Dan ternyata, kebijakan ekonomi Thaksin berhasil
membawa Thailand keluar dari krisis ekonomi. Sukses tersebut kemudian dikenal
dengan istilah ''Thaksinomics''. Thaksinomics relatif otentik, yang berbeda
dengan, misalnya, Reaganomics. Thaksinomics berhasil keluar dari krisis, justru
dengan resep generik IMF yang umumnya gagal memulihkan ekonomi negara
berkembang. Walau visi dan kebijakan konkretnya boleh dikata bertolak belakang
dengan resep IMF, Thaksin tak mengumbar wacana vulgar anti-IMF.
Dual track
Keberhasilan Thaksinomics karena beberapa hal. Pertama, kebijakan fiskal dan
moneter yang agresif untuk mengembangkan UKM dilakukan bersamaan dengan
menciptakan situasi kondusif untuk menarik investasi skala besar --baik dari
perusahaan multinasional maupun nasional. Dengan dual track tersebut, Thailand
mengakselerasi UKM --baik sebagai perusahaan yang mandiri maupun terkait dengan
sistem subkontrak-- dengan kegiatan usaha investor asing maupun nasional yang
berorientasi ekspor.
Thaksin juga banyak mengirim UKM belajar ke luar negeri dan akses kepada
permodalan perbankan dibuka lebar. Thaksin juga mendorong inovasi produksi dan
manajemen UKM agar makin kompetitif. Kedua, mendorong pertumbuhan konsumsi,
termasuk memberikan kredit perumahan murah dan bersubsidi bagi masyarakat
miskin pedesaan. Thaksin berhasil menciptakan situasi kondusif bagi TAMC untuk
merestrukturisasi perusahaan-perusahaan bukan dengan pengambilalihan utang
macetnya seperti dilakukan BPPN tapi lebih karena naiknya aset-aset perusahaan
yang bergerak kembali akibat demand yang tumbuh dari naiknya pendapatan dan
konsumsi masyarakat. Hal itu merupakan dampak keberhasilan mendongkrak UKM,
pertanian, dan pedesaan.
Akibat lebih jauh, perbankan dapat menekan kredit bermasalah dari sebesar 68
persen menjadi 20 persen dan sedang diusahakan menjadi maksimal 3 persen. Dan
Thailand akhirnya masuk ke jalur pertumbuhan ekonomi tinggi dan berkelanjutan
yang pada gilirannya mampu memecahkan masalah kemiskinan dan penganggguran.
Ketiga, memberikan ruang manuver yang luas pro-kebijakan yang membangkitkan
ekonomi rakyat yang umumnya bertolak belakang dengan resep IMF yang menekankan
kebijakan yang ketat, baik fiskal, moneter, maupun kredit dengan cara
mempercepat pembayaran utang kepada IMF. Pada Juli 2003, pemerintahan Thaksin
melunasi sisa utangnya pada IMF sebesar 4,8 miliar dolar AS.
Thailand tetap sebagai anggota IMF. Thailand tidak mengembangkan wacana
anti-IMF secara terbuka. Namun Thailand membatasi peran IMF sekadar pemantau
dan penasihat yang tak mengikat. Keempat, reformasi BUMN dengan perbaikan
manajemen untuk mendorong profitisasi dan kalau perlu swastanisasi untuk
BUMN-BUMN yang kadung keropos, merugi, dan tak berpotensi bangkit. Dalam
reformasi ini termasuk untuk perbankan dengan memperkuat permodalan dan daya
saingnya.
Sementara untuk swasta ditekankan memperbaiki manajemen dan menanggulangi
kredit bermasalah mereka tanpa membebankan kepada pemerintah. Langkah merger
bank-bank yang kurang daya saingnya juga ditempuh untuk menyehatkan dunia
perbankan. Kelima, menyusul keberhasilan dalam pemulihan ekonomi nasionalnya,
Thaksin kemudian mendorong Thailand dalam kerangka kerja sama perdagangan
dengan negara-negara Asia sebagai langkah membawa Thailand berekspansi.
Kemudian dilanjutkan dengan kerja sama perdagangan internasional secara lebih
luas. Perlu dicatat, untuk produk agroindustri, sebelum krisis pun Thailand
telah merajai pasar dunia untuk teknologi menengah dan sederhana.
Ekonomi saudagar Apa sih secara umum kelebihan dan kekurangan penguasa
berlatarbelakang pengusaha? Secara normatif dan teoretis, katakanlah ini
merupakan model ''ekonomi saudagar'', kita mencatat antara lain:
Pertama, entrepreneurship, yakni sikap-sikap risk taking, pioneer, innovative,
creative, dan keberanian serta kecepatan dalam melihat peluang dengan
pengambilan keputusan yang paling menguntungkan. Namun ketika pengusaha jadi
penguasa, ia harus mampu menggeser sikap unggul ini dari privat
entrepreneurship menjadi entrepreneurial government dengan ukuran utamanya
keuntungan publik, sekaligus terjaga suasana fairness dunia usaha.
Kedua, pragmatisme, yakni melihat kegunaan segala sumber daya sepanjang dapat
dimanfaatkan untuk menciptakan keuntungan sebesar-besarnya. Lagi-lagi dengan
dengan penyesuaian, yakni kemampuan menggeser dari mengejar keuntungan
perusahaan menjadi keuntungan publik. Pragmatisme Thaksin adalah bagaimana ia
memanfaatkan IMF dalam bantuan awal dan penciptaan sentimen positif secara
internasional, terutama di mata investor asing. Kemudian, secara pragmatis
pula, memprioritaskan kebijakan fiskal, moneter, dan kredit yang agresif kepada
dunia pertanian, UKM, dan pedesaan sebelum melakukan restrukturisasi
perusahaan-perusahaan yang kolaps.
Ketiga, efisiensi dalam proses pembangunan. Dalam konteks ini, langkah-langkah
pemberantasan KKN. Meski sering dikritik upaya pemberantasan korupsi masih
bersifat 'tebang pilih', namun suasana efek jera dan risih berkorupsi sudah
mulai tampak. Ini adalah contoh menciptakan efisiensi dalam proses pembangunan.
Keempat, output oriented. Sikap entreneurship, pragmatisme, dan efisiensi dalam
implementasi diorientasikan untuk tercapainya ouput maksimal, yakni
kesejahteraan dan keadilan sosial. Hal itu memang masih jauh --bahkan untuk
sekadar tercapainya pemulihan ekonomi pascakrisis ekonomi delapan tahun lalu.
Memang, di samping satu-satunya negara yang belum pulih dari krisis ekonomi
pasca-Krismon 1998, Indonesia, khususnya pada masa pemerintah SBY-JK, tertimpa
'bencana' amat dahsyat: Tsunami di Aceh dan Sumut, berbagai penyakit polio,
DBD, malaria, flu burung, hingga kenaikan minyak dunia yang mencapai 70 dolar
AS per barel. Namun, dengan benchmarking dari Thailand atau Malaysia,
seharusnya presiden dan wapres dapat menciptakan pemerintahan yang kreatif,
mandiri, dan visioner dalam menyusun dan menjalankan kebijakan ekonominya.
Meskipun terdapat agenda yang diwariskan pemerintahan sebelumnya berupa white
paper yang notabene merupakan kelanjutan Letter of Intent (LoI) dari IMF,
pemerintahan SBY belum melakukan adjustment terhadap felt need masyarakat
Indonesia yang merasakan resep generik IMF, sehingga sekarang lebih banyak
mudharatnya. Dengan begitu, kita melihat Saudagarnomics di Indonesia dengan
beberapa catatan. Catatan pertama, keterlibatan pengusaha menjadi pejabat
publik belum diatur UU agar tidak terdapat loophole yang bisa dimanfaatkan demi
terjaganya fairness dan terhindar dari praktik KKN yang merugikan kepentingan
publik.
Catatan kedua, belum ada langkah kebijakan yang otentik yang dalam menghadapi
berlakunya LoI yang kemudian diteruskan oleh white paper ala IMF hingga
sekarang. Kebijakan ekonomi pemerintahan SBY-JK belum melakukan adjustment yang
cerdas tanpa harus terkesan anti-IMF/Asing/Barat. Content kebijakan yang
memberdayakan pertanian dan UKM serta industrialisasi berbasis sumberdaya
unggul domestik seperti yang dilakukan Thaksin, selayaknya jadi pilihan.
Catatan ketiga, belum tercipta efektivitas pemerintahan karena lemahnya
leadership dan visi dalam menegakkan kebijakan ekonomi yang efisien, efektif,
dan berorientasi kepada kesejahteraan dan keadilan sosial seluruh rakyat. Saat
ini, peran ''ekonomi saudagar'' justru baru menonjol dalam menciptakan
lingkungan makro yang kondusif untuk pembangunan ekonomi. Seperti meredakan
konflik Poso dan Ambon (Perjanjian Malino I dan II), perjanjian damai di Aceh
(Perjanjian Helsinki), dan relatif serius dalam pemberantasan korupsi dan
penegakan hukum.
Oleh karena itu, pemerintahan SBY-JK dengan tim ekonomi baru yang memunculkan
trio Boediono-Sri Mulyani-Paskah Suzeta, bersama menteri menteri sektor riil
lainnya, harus mampu mengeliminasi sisi-sisi negatif Saudagarnomics yang
dituding pro-IMF. Mereka harus mampu mengerakan sektor riil, memulihkan
perekonomian, bahkan masuk ke jalur pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Tim
ekonomi baru kabinet hendaknya berani belajar dari keberhasilan Thaksinomics
maupun lainnya (Malaysia sejak Mahathir, misalnya) yang sangat otentik dan
berorientasi kepada kepentingan nasional.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/t7dfYD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Thaksinomics dan Saudagarnomics