[nasional_list] [ppiindia] Surat Kembang Kemuning: temu sastra tentang andré malraux dan e.du perron di sorbonnne paris, 15 otkboer 2005

** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org ** 
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ** 
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **


Surat Kembang Kemuning: 

TEMU SASTRA TENTANG ANDRE MALRAUX DAN E.DU PERRON DI SORBONNE PARIS

15 Nopember 2005.

3.


Dibandingkan dengan E.du Perron [1899-1940] yang melewatkan waktunya lebih dari 
dua puluh tahun di tanah kelahirannya, Jawa Barat, Oost-Indië, sekarang  
bernama Indonesia, André Malraux boleh dikatakan tak dikenal oleh masyarakat 
sastra Indonesia. 

Agustus 2005 lalu ketika pulang ke Indonesia, seperti biasa, saya jelajahi 
tokobuku demi tokobuku sampai ke toko-toko buku loak dengan buku bertumpuk tak 
teratur dan tak bersistematik. Di rak-rak buku tokobuku atau di tumpukan buku  
tokobuku loak itu,  tidak kudapatkan karya-karya André Malraux yang di Perancis 
merupakan tokoh politik dan sastra terkemuka sampai ia ditempatkan di Pantheon 
bersama Emile Zola, Alexandre Dumas, Victor Hugo dan Balzac. 

Posisi André sebagai sastrawan,budayawan dan politisi di Prancis bahkan di 
Eropa Barat,  kukira jauh melebihi kedudukan Eduard [Eddy] du Perron yang mati 
muda.

Seperti diketahui, Pantheon yang terletak tak jauh dari Universitas Sorbonne, 
di mana Temu Sastra ini akan berlangsung, merupakan makam bagi yang disebut 
putra-puteri terbaik dan berjasa Perancis. 

Sungguh menarik bahwa yang banyak menghuni Panthon justru orang-orang 
berpandangan kiri bahkan tidak sedikit dari mereka adalah anggota-anggota 
Partai Komunis Perancis seperti Jean-Moulin, pemimpin utama perlawanan terhadap 
penduduk Nazi Hitler -- seperti halnya yang memimpin perlawanan anti fasis di 
kota Paris juga seorang komunis --, penerima hadiah nobel suami-isteri Currie.

Merenungi tentang apa-siapa yang menghuni Pantheon ini, aku sampai pada 
pertanyaan:Apakah dan siapakah yang disebut "kiri" itu? Memperhatikan 
riwayat-riwayat mereka, aku sampai pada suatu hipotesa bahwa yang disebut 
"kiri" itu kukira tidak lain semua mereka yang berjuang dan sanggup 
menggadaikan nyawa untuk ide memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat.

Jadi "kiri" tidaklah identik dengan Komunis atau Marxis, lebih-lebih tidak 
menjadi monopoli mereka. Apalagi jika kuingat apa yang dikatakan oleh Mao 
Zedong dari Tiongkok yang dalam salah sebuah tulisannya mengatakan bahwa "kaum 
komunis akan selalu minoritas. Mereka tidak bisa sendirian melakukan perobahan 
maju". Kukira sejalan dengan ini maka Mao menumis  dalam artikelnya "The 
Situation and Our Policy After the Victory in the War of Resistance Against 
Japan" [August 13, 1945, Selected Works, Vol.IV, p.16]: 

"Our duty is to hold ourselves responsible to the people. Every word, every act 
and every policy must conform to the people interests, and if mistakes occur, 
they must be corrected -- that is what being responsible to the people means".

Tidakkah "people interests" itu pada hakekatnya adalah  sama dengan 
"memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat" atau menjadikan bumi tempat 
hidup manusiawi anak manusia? Atau jika menggunakan konsep manusia Dayak adalah 
"rengan tingang nyanak jata" [anak enggang putera-puteri naga]? Yang berbeda 
barangkali hanya perumusannya saja.

Nilai-nilai republiken Perancis yang dikenal dengan "liberté, egalité et 
fratenité", kukira juga  paralel dengan apa yang dikatakan oleh Mao di atas 
sehingga barangkali tidaklah mustahil jika Pantheon banyak diisi oleh 
pejuang-pejuang beraliran "kiri". Dalam konteks ini, aku tidak bisa 
membayangkan Ferdinand Celine, betapa pun ia dihormati sebagai sastrawan besar, 
tapi karena sikap pro fasisme akan mendiami Pantheon. Pantheon adalah suatu 
lambang nilai republiken. Sehinngga kalau André Malraux dimakamkan di Pantheon, 
 kukira bukanlah suatu kebetulan dan permainan nepotisme.Juga bukan kebetulan 
jika Jacques Chirac memakamkan sastrawan yang berdarah Afrika Hitam ke 
Pantheon. Aku masih ingat apa yang diucapkan oleh Chirac dalam pidato resmi 
saat memindahkan A.Dumas ke Pantheon. "Dumas adalah lambang Perancis hari 
ini".Perancis yang majemuk.

Apabila Malraux kurang atau bahkan asing bagi masyarakat sastra Indonesia 
sehingga sampai pada hari ini, tidak satu pun karyanya yang diterjemahkan ke 
dalam bahasa Indonesia, seperti halnya dengan karya utama Eddy du Perron, 
"Negeri Asal"[Le pays d'origine] . Barangkali dari keadaan belum adanya 
karya-karya Malraux yang diterjemahkan dan asingnya tokoh sastrawan dunia 
terkemuka ini di Indonesia, belum atau bahak tidak dikenal, barangkali, 
mencerminkan banyak keadaan yang ada di negeri terutama di bidang sastra.

Malraux memang seorang yang dekat dengan ide-ide Trotkis seperti halnya mantan 
Perdana Menteri Perancis yang populer, Lionel Jospin. Tapi sekali pun demikian, 
Jendral Charles de Gaulle,  seorang nasionalis seperti Bung Karno, ketika 
menjadi Presiden Perancis paska Perang Dunia II,  mengangkat Malraux sebagai 
Menteri Kebudayaan. Dan sebagai menteri kebudayaan, Malraux termasuk menteri 
yang berhasil. Melalui posisi ini Malraux mengokohkan posisi dan pengaruhnya 
dalam bidang kebudayaan.

Sampai sekarang, aku belum mendengar bahwa Malraux pernah pergi ke Indonesia. 
Ia pernah di Indo Cina dan Tiongkok pada saat Chiang Kaishek melancarkan teror 
putih terhadap kaum komunis Tiongkok pada tahun 1926. Dari apa yang 
disaksikanya pada saat itu, Malraux menulis roman "Condition Humaine". Kaitan 
Malraux yang aktif dalam perlawanan anti fasis Hitler dan dalam perang melawan 
Franco di Sepanyol [1936] dari mana lahir romannya "Harapan" [Hope], dengan 
Indonesia terutama melalui hubungan persahabatannya dengan E. du Perron. Ketika 
E. du Perron tinggal di Paris, kedua sastrawan besar ini hampir tiap hari 
bertemu dan tukar-menukar pikiran. Malrauxx lah yang memberikan Kata Pengantar 
pada karya utama Perron, "Negeri Asal" [Le Pays d'Origine],etika terbit dalam 
bahasa Perancis pada 1953. Kecuali itu, Malraux pun mempersembahkan [dedicate] 
karya pentingnya "La Condition Humaine" kepada E. du Perron yang memperlihatkan 
kedekatan istimewa antara kedua sastrawan.

Pertemuan mereka terutama oleh karena melalui pengalaman mereka di 
negeri-negeri Timur -- istilah yang sangat Eurosentris yang karenanya kukira 
kita patut menulis kembali sejarah dunia! -- juga karena penafsiran mereka 
tentang puisi modern sehingga membuat mereka bertemu pada ide keberpihakan 
[engagement]. 

Seperti diketahui E.du Perron [1899-1940], sesuai dengan apa yang dikatakan 
oleh Johanna Lederer, Ketua AFI, "mengamati produksi sastra di Negeri Belanda 
dari sudut pandang baru dan independen" [observant la production littéraire des 
Pays-Bas d'un point de vue nouveau et indépendant".  

Apakah yang disebut  "baru " dan "independent"  yang di sebut oleh  Johananna 
perempuan Indo Belanda-Indonesia yang selalu rindu pada masa kanaknya di kebun 
-kebun tebu Jawa Timur, tentang Perron?

Dari pengamatannya sebagai seorang seniman dan sarjana sastra lepasan Sorbonne, 
Johanna mengatakan bahwa Perron "dalam esei-eseinya berjuang menentang 
mentalitas kolonial" ["il se bat contre la mentalité coloniale dans des 
essais....].

Bisa diduga bahwa sikap keberpihakan inilah yang membuat Malraux betah dan 
merasa perlu bertemu saban hari ketika E. du Perron tinggal di Paris. Dari segi 
inilah, kukira, Malraux punya hubungan dan arti dengan Indonesia, karena suara 
Perron mmpunyai gema di Indonesia, seperti halnya peranan kaum sosial-demokrat 
pada Pram sehingga melahirkan karya "Keluarga Gerilya". Dari segi ini maka 
Malraux punya makna dan pengaruh bagi Indonesia, sebagaimana pengaruh kaum 
sosial-demokrat pada Pram, sebagaimana halnya pengaruh para penganut 
etis-politis di Indonesia ketika masih bernama Hindia Belanda.

Maka pengangkatan tokoh Malraux yang memang tokoh penting di dunia budaya dan 
politik Perancis -- untuk tidak menggeneralisasikannya lebih luas ke tingkat 
Eropa Barat -- sungguh merupakan kejelian pandang dari pimpinan AFI dalam 
mendorong kerjasama dalam berbagai bidang termasuk persahabatan antara kedua 
rakyat Perancis dan Indonesia, yang sekarang kian berkembang. 

Berkembangnya lebih lanjut hubungan antara Perancis-Indonesia dan negeri-negeri 
lain kuanggap penting dalam rangka melawan dominasi "USA dominated 
orientation". Bagiku kalau kita membuka negeri, selayaknya kita buka dengan 
semua negeri sehingga kita bisa menimba dan mngeksplorasi khazanah budaya dan 
intelektual mereka untuk kepentingan kita dan usaha memanusiawikan manusia, 
kehidupan dan masyarakat. Amerika bukanlah segalanya! Amerika adalah anak Eropa 
Barat -- Benua Tua [the old continent].Sudahkah kita mengekspolrasi dan 
mengeksploatasi maksimal khazanah budaya dan intelektual Benua Tua ini? 
Indonesia bagiku adalah suatu kebebasan menjadi diri sendiri bukan kesukarelaan 
memperbudak diri sendiri.Dalam hal ini kukira "AFI Pasar Malam" memberikan 
peluang dan sumbangan ke jurusan demikian.

Aku membayangkan alangkah akan berdampak besar jika kemudian "Paris menggalang 
kerjasama dengan komunitas-komunitas serius di Indonesia seperti misalnya 
Komunitas Matabambu yang berencana melebarkan jaringannya ke seluruh Indonesia 
dan bahkan di luar negeri.Dengan kerjasama jaringan ini, barangkali pekerjaan 
dan mimpi bisa lebih mendasar dan punya akar untuk berkembang lebih luas.***

Paris, Oktober 2005.
-------------------
JJ. Kusni
 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Other related posts: