[nasional_list] [ppiindia] Surat Kembang Kemuning: temu sastra tentang andré malraux dan e.du perron di sorbonnne paris, 15 oktober 2005 [4 -- selesai]
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>, <wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>, "ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Sun, 30 Oct 2005 02:23:22 +0100
** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org **
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Surat Kembang Kemuning:
TEMU SASTRA TENTANG ANDRE MALRAUX DAN E.DU PERRON DI SORBONNE PARIS
15 Nopember 2005.
4.
Dibandingkan dengan masa hidup André Malraux yang mencapai 75 tahun, E. du
Perron hanya sempat mengenyam hidup selama 41 tahun.
Eddy du Perron dilahirkan di Jawa Barat -- kalau tidak salah ingat di daerah
Sukabumi -- pada tahun 1899 dalam sebuah keluarga bangsawan atau lapisan atas
masyarakat, pemilik tanah kaya, yang tinggal di Hindia Belanda, yang sekarang
bernama Indonesia. Adalah wajar apabila asal sosial ini meninggalkan bekas pada
kehidupan psikhologi Eddy.Dua puluh dua tahun dari 41 tahun masa hidupnya,
dilewatkan oleh Eddy di tanah asalnya. Barangkali dari perasaan inilah Eddy
melahirkan karya utamanya yang berjudul "Negeri Asal" [Het land van herkomst],
terbit pertama kali dalam tahun 1935 artinya pada Eddy mencapai usia 35 tahun.
Tahun 1921, ketika Edddy sudah berusia 22 tahun, orangtua Eddy berkeputusan
untuk pergi dan menetap di Eropa.
Setelah melampaui masa singkat yang disebut "periode moderniste", 1923-1926,
Eddy memastikan kedudukannya dalam dunia sastra Belanda sebagai "penyelusup
yang tidak disukai", yang jika menggunakan istilah Johanna Lederer, sang
penari-sastrawan dan pakar sastra Amerika itu, sebagai "une espèce
d'intrus".Dengan sikap ini Eddy mencermati "produksi sastra Negeri Belanda dari
sudut pandang baru dan bebas", sekaligus mempertahankan pandangan bahwa
kepribadian seorang pengarang sebagai faktor menentukan kadar sastranya".
Dengan sikap dan pandangan inilah Eddy melancarkan kritik-kritik tanpa kompromi
dan tajam. Melalui esei-esei demikian Eddy bertarung melawan "mentalitas
kolonial" menggunakan sebuah majalah progresif yang kecil.Dengan ini kita
menyaksikan bahwa akhirnya Eddy menjadikan sastra sebagai senjata di tangannya
untuk berjuang, guna mewujudkan harapan dan mimpi-mimpinya sebagaimana juga
yang dilakukan oleh Multatuli dan pengarang-pengarang besar lainnya di berbagai
negeri. Dalam pertarungan inilah Eddy makin memantapkan pandangan dan sikap
sampai ia meninggal di Negeri Belanda pada tahun 1940 karena serangan jantung
setelah serangan udara Jerman.
Keberpihakan E.du Perron pada kemanusiaan -- untuk tidak mengatakan berpihak
pada rakyat terjajah -- bukanlah datang serta-merta. Ia lahir melalui suatu
proses. Barangkali di sinilah antara lain terdapat peran diskusi saban hari
Eddy dengan Malraux, ketika Eddy tinggal di Paris sebagai wartawan. Tapi yang
lebih menentukan lagi adalah pengalaman langsung Eddy ketika ia kembali ke
"Negeri Asal"nya Hindia Belanda, pada bulan Oktober 1936, seusai Perang Saudara
di Spanyol antara kaum repupbliken melawan pasukan fasis Franco yang disokong
oleh Hitler. Kepergian Eddy kembali ke Hindia Belanda, menurut Johanna Lederer,
pada tahun tersebut sebagian disebabkan oleh rasa muaknya pada politik yang ia
alami ketika tinggal di Paris. Tapi ketika ia tiba di Hindia Belanda, ia tidak
lagi bisa mengelak dari politik. Selama hampir tiga tahun [1936-1939] ia
tinggal di Hindia Belanda, tiga tahun ini ditandai oleh konfrontasi
terus-menerus dengan masyarakat kolonial. Eddy pun dengan kejadian ini menjadi
kehilangan mimpi-mimpi indahnya akan masyarakat kolonial. Ia tidak bisa
menerima mentalitas kolonial. Ketidaktahanan dan perlawanan yang menandakan
watak jujur dari E.du Perron sebagai sastrawan. Ia memberontaki ketidakadilan
kolonial dan menjadi sangat politis. Pengalaman hidup kembali di "Negeri Asal"
membuat Eddy dari muak politik menjadi sadar politik dan memilih pihak yang
menantang kolonialisme.Barangkali tahap sadar politik dan mengambil pihak ini
merupakan tahap kedua bagi kehidupan Eddy sebagai penulis.Tahap baru, tahap
sadar politik yang dia mulai pada usia 37 tahun.
Ancaman Perang Dunia II yang makin menegangkan Asia Tenggara termasuk Hindia
Belanda, memaksa E. du Perron pada September 1939, meninggalkan "Tanah Asal"nya
lagi dan pergi menetap ke Negeri Belanda di mana ia delapan bulan kemudian
meninggal oleh serangan jantung setelah Negeri Belanda dibom pesawat-pesawat
Hitler.Maut yang ditabur oleh bom-bom Hitler menghentikan Eddy melanjutkan
tahap kedua hidupnya.
Rician biografi Eddy bisa disimak selain melalui romannya Het land van
herkomst, juga dan terutama melalui karya Kees Snoek, yang telah menulis
biografi lengkap E. du Perron berjudul "E. du Perron. Het leven van een smalle
mens" [La vie d'un homme étroit], terbit dalam bulan Maret 2005.
***
Dari riwayat singkat Eddy di atas, aku melihat bahwa penulis yang jujur
akhirnya didorong untuk memilih pihak dan pihak itu adalah kemanusiaan dan
keadilan. Pemilihan pihak ini disertai oleh munculnya kesadaran politik tanpa
harus menjadi partisan partai politik. Adanya kesadaran politik membuat pena
penulis menjadi lebih tajam. Dari pengalaman Eddy, aku melihat bahwa kesadaran
politik ini dilahirkan oleh lingkungan di mana Eddy hidup yang keras dan
merusak bayangan-bayangan indahnya. Kecuali itu ia pun dilahirkan oleh
kesanggupan membaca kehidupan.
***
Tapi AFI "Pasar Malam" Paris yang menjadi penyelenggara Temu Sastra di Sorbonne
ini bersama-sama lembaga-lembaga Prancis dan Belanda, tentu tidak
menggarisbawahi masalah di atas. Penyelenggara mengangkat Malraux dan du Perron
terutama dalam rangka memperkenalkan Indonesia dengan pendekatan kebudayaan di
kalangan masyarakat Perancis. Malraux dan du Perron, dua tokoh besar sastra
Eropa Barat, dijadikan sebagai jembatan mencapai tujuan tersebut. Tapi di
samping itu, barangkali Temu Sastra Sorbonne ini pun bisa dijadikan langkah
pertama yang kecil untuk mengenal lebih lanjut kedua sastrawan penting ini.***
Paris, Oktober 2005.
-------------------
JJ. Kusni
[Selesai]
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Surat Kembang Kemuning: temu sastra tentang andré malraux dan e.du perron di sorbonnne paris, 15 oktober 2005 [4 -- selesai]