[nasional_list] [ppiindia] Surat Kembang Kemuning [10]:Pameran Salim di Kotapraja Paris Vème [10].
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>, "ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>, <wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Mon, 28 Feb 2005 04:13:13 +0100
** Mailing List Nasional Indonesia PPI India Forum **
SURAT KEMBANG KEMUNING [10]:
PAMERAN SALIM DI KOTAPRAJA PARIS Vème.
Bagaimana Salim sampai pada sikap begini?
Pertemuan Salim dengan Sjahrir dan Hatta pada tahun 1930an akhirnya membuat
sang pelukis berkenalan juga dengan orang-orang penting PSI seperti
Sudjatmoko,Nugroho,Soemitro Djojohadikoesoemo, Soebandrio [akhirnya pindah ke
PNI], Djohan Sjahruzah [kemudian setelah 1965 bersama Dayino alm. dikenal
sebagai "PSI Kiri", sebab dalam PSI pun terdapat berbagai aliran], Hazil dan
lain-lain... Yang lebih penting dari perkenalan ini adalah tukar pemikiran
dengan tokoh-tokoh ini yang memperkaya bahan acuan Salim dalam menetapkan sikap
politiknya, sikapnya untuk makin kokoh berpihak pada kebebasan, kemerdekaan,
nilai-nilai dasar manusiawi serta makna Indonesia serta keindonesiaan yang
nampaknya ia pertahankan sampai usia 97 tahunnya sekarang.
Sejak Salim berkenalan secara kebetulan dengan Sjahrir di Kalverstraat, Negeri
Belanda, Salim secara tidak sadar memasuki dunia politik, paling tidak secara
filsafat politik. Melalui Sjahrir dan Hatta,Salim sejak itu diajak oleh
Sjahrir untu turut berjuang memerdekakan bangsa dan melalui Sjahrir, Salim
memahami perbedaan taktik antara Soekarno dengan Sjahrir dan Hatta. Sjahrir dan
Hatta mengkritik taktik pembentukan kekuatan massa melalui agitasi dan lebih
menitik beratkan pada pendidikan serta pembinaan kader.Tapi ketika Soekarno
ditangkap, Sjahrir dan Hatta juga merasa bahwa penangkapan Soekarno oleh
kolonialis Belanda sebagai suatu pukulan berat. Dengan penangkapan Soekarnong,
gerakan kemerdekaan nasional seakan kehilangan pimpinan. Melalui diskusi
serius antara Sjahrir dan Hatta tentang bagaimana meneruskan perjuangan
kemerdekaan, akhirnya Sjahrir memutuskan pulang lebih dahulu dengan
meninggalkan kuliahnya untuk memimpin gerakan kemerdekaan nasional sedangkan
Hatta menyelesaikan pendidikannya. Hatta kembali ke tanahair setelah
menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1932. Pada tahun yang sama, Salim untuk
pertama kali kembali ke Indonesia setelah tinggal bertahun-tahun di Eropa.
Untuk bisa pulang Salim harus bekerja sebagai pengasuh dua anak Djoehana,
saudara ipar Sjahrir.
Dari sikap Sjahrir dan Hatta ini nampak bahwa mereka berdua sebenarnya juga
menghargai peranan Soekarno sebagai pemimpin gerakan kemerdekaan nasional dalam
negeri, sekalipun terdapat perbedaan dalam taktik. Tapi baik Sjahrir atau pun
Hatta dan Soekarno, terdapat kesamaan yaitu mereka satu dalam ide bahwa
Indonesia harus merdeka. Di sini timbul kembali pertanyaan saya: Apakah
pertikaian pada masa itu sampai pada tahun 1965, memang suatu pertikian hakiki
seperti halnya apakah perbedaan hakiki yang harus memecahkan kubu seniman
Indonesia pada waktu itu sampai 1965 jika memang masalahnya sebatas perbedaan
slogan "seni untuk seni" dan "seni untuk rakyat"? Tentu masalahnya akan lain
jika tidak membedakan benar dan salah, adil dan tidak adil,yang terjajah dan
yang menjajah yang diselubungi oleh slogan "humanisme universil" atau bahwa
sastra-seni sudah diperpolitisir oleh politisi. Jika demikian,barangkali di
sini terletak keterbatasan para seniman dalam menjaga statusnya sebagai warga
"republik berdaulat sastra-seni". Dalam hal ini saya jadi teringat akan
pertanyaan alm.Kartjono, pimpinan GMNI [Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia]
kepada saya ketika berjumpa di Paris: "Sekarang, apakah kita masih perlu
bertahan di rumah lama?".
Bertolak dari pandangan tentang arti penting kader dan pendidikan, maka ketika
Soekarno ditangkap dan PNI [Partai Nasionalis Indonesia], maka Sjahrir dan
Hatta membentuk PNI [Pendidikan Nasional Indonesia]. Dalam PNI BARU ini, Salim
membantu Sjahrir dan Hatta mengisi majalah organisasi "Daulat Ra'jat" dengan
tulisan-tulisan mengenai politik di luar negeri. Dari kegiatan ini kita bisa
melihat bahwa sekali pun Salim dikatakan oleh Ajip Rosidi sebagai penganut
"dengan penuh keyakinan dan kebanggaan l'art pour l'art", seni di atas segala
aliran politik", tapi sesungguhnya Salim bukanlah seniman dan manusia yang
netral dalam masalah-masalah asasi dan prinsipil. Barangkali di sinilah bedanya
dengan sikap humanisme universil seperti yang kita artikan pada saat Belanda
menggagresi Republik di Yogya yang menurut Joebaar Ajoeb alm., sekjen Lekra,
dilansir oleh Teeuw sehingga memecah barisan seniman Indonesia [Sekali lagi di
sini saya menagih penjelasan Teeuw secara terus-terang baik sebagai ilmuwan,
kritikus sastra Indonesia dan lebih-lebih sebagai manusia yang manusiawi serta
bertanggungjawab. Mudah-mudahan tulisan ini terbaca oleh Prof.Dr. Teeuw yang
tetap saya hormati.Tagihan tanggungjawab dan penjelasan ini diperlukan untuk
mengetahui duduk masalah sebenarnya, bukan dengan maksud menghujat dan tidak
mau melihat perkembangan sikap seseorang]. Masalah ini saya ajukan ulang dengan
maksud agar kita bisa sama-sama bisa dan mau merenung dengan tenang demi
kepentingan bersama yang besar dan lebih besar. Masihkah bisa kita menyisihkan
waktu untuk maksud ini?
Untuk survive, selama di Indonesia, Salim bekerja pada Java Neon Company dengan
gaji F.N. 100 [seratus gulden] sebulan, gaji cukup besar untuk orang Indonesia
pada waktu itu tapi tetap tidak memungkinkan hidup di gedung-gedung Menteng.
Dengan kondisi ekonomo begini, Salim hidup di kalangan orang kampung yang
memungkinkan ia mengenal kehidupan orang kampung, mayoritas penduduk negeri dan
bangsanya. Pengenalan akan kehidupan lapisan mayoritas penduduk ini mempunyai
pengaruh tertentu pada perkembangan pikiran Salim. Keberpihakan Salim makin
mengental dan ia ungkapkan dengan cara sendiri, dan sangat terasa jika kita
berdialog langsung dengan beliau. Sampai sekarang, sampai di usianya yang
hampir seabad kurang tiga tahun.
Sjahrir dan Hatta akhirnya juga ditangkap dan dibuang ke Boven Digoel oleh
pemerintah kolonialis Belanda. PNI Baru sekali pun diteruskan oleh Subagio
sebagai ketua nampak seperti kehilangan nyala. Salim merasa dirinya dalam
keadaan buntu sebagai seniman dan ia memutuskan untuk kembali ke Eropa. Salim
melihat bahwa Indonesia di bawah kolonialisme tidak memberikan ruang bagi
kebebasan kesenimanannya. Salim merasa tidak mungkin hidup tanpa kebebasan dan
ia pun sadar bahwa sebagai seniman yang hanyalah satu "sekrup kecil dari suatu
gerakan maha besar", ia tidak bisa menggantikan pimpinan politik gerakan
kemerdekaan nasional yang sudah ditangkap dan dibuang ke Digoel. "Lebih baik
aku mati kelaparan ,di kota pusat kesenian dunia daripada hidup senang di
negeri jajahan dengan jiwa tertekan" tutur Salim kepada Hazil Tanzil
sahabatnya. "Kalau aku berhasil sebagai pelukis di Paris, bukankah mempunyai
arti juga bagi bangsa yang sedang diperjuangkan eksistensinya?" lanjutgnya.
Dengan pemahaman ini, Salim pun mengambil kapal untuk kembali ke Eropa menuju
kota Marseille dengan kantong kosong, meninggalkan kawan-kawan seperjuangannya
di tanahair. Hidup memang suatu pilihan dan memaksa kita harus memilih. Sikap
Salim ini pun, saya kira adalah suatu sikap politik dan sikap dari seorang yang
sadar politik. Sikap seniman yang sekaligus pemikir.
Paris, Februari 2005.
--------------------
JJ.KUSNI
Catatan:
Foto-foto lukisan Salim terlampir berjudul "conte oriental"; "conte
oriental-1"; "conte oriental-2" dan cygne [Dari: Dokumentasi Jelitheng dan JJK].
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.uni.cc **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Surat Kembang Kemuning [10]:Pameran Salim di Kotapraja Paris Vème [10].