[nasional_list] [ppiindia] Sudi Tak Sudi Digoyang Surat
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sun, 5 Mar 2006 02:03:15 +0100
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **Edisi. 01/XXXV/27 Februari - 05 Maret
2006
Opini
Sudi Tak Sudi Digoyang Surat
Seribu janji pernah diucapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono un-tuk
memerangi korupsi. Tak hanya memenjarakan koruptor kakap, ia juga menginginkan
pemerintahan yang baik dan bersih. Sapu pembersih akan diayunkan mulai dari
"rumahnya" sendiri: istana presiden, sekretariat negara, dan sekretariat
kabinet. Janji ini se-olah terngiang lagi setelah fotokopi dua surat dari dapur
Presiden beredar luas, menghebohkan, sampai akhirnya di-per-bincang-kan di
parlemen.
Itulah surat Sudi Silalahi. Berkop dan berstempel resmi, kedua surat yang
dilayangkan ke Menteri Luar Negeri ini diteken oleh Sudi sebagai sekretaris
ka-binet. Surat pertama tertanggal 20 Ja-nuari 2005, dan surat kedua dibuat
sebulan kemudian. Isinya sama, mengenai rencana pembangunan gedung Kedutaan
Besar RI di Seoul, Korea Selatan.
Bukan semata pengantar proposal, kata-kata yang terangkai lebih menggambarkan
sebuah rekomendasi. Kedua surat meminta Menteri Luar Negeri agar menerima
presentasi PT Sun Hoo Engineering, sebuah perusahaan asal Korea, dalam
kesempatan pertama. Dalam surat kedua ditekan-kan lagi: "Bapak Presiden juga
memberi petunjuk, kiranya menteri dapat merespons dan menerima presentasi.."
Wajar parlemen mempersoalkan, karena tidaklah pantas se-orang sekretaris
kabinet membukakan jalan bagi peng-usaha yang selalu gentayangan mengincar
proyek. Sekadar membicarakannya lewat telepon dengan Menteri Luar Negeri pun
tidak patut, apalagi sampai menuliskan dengan tegas dan jelas dalam katebelece.
Soalnya, sekretaris kabinet bukanlah pejabat biasa. Dialah tangan kanan
presiden dalam urusan administrasi pemerintahan, berbeda dengan sekretaris
negara yang lebih mengurusi administrasi kenegaraan. Tugas sekretaris kabinet
antara lain menyiapkan berbagai kebijakan presiden, yang dituangkan dalam
bentuk peraturan, keputusan, maupun instruksi presiden. Itu sebabnya, ia tidak
boleh sembarangan menulis surat karena bisa ditafsirkan sebagai kebijakan atau
kemauan presiden.
Penjelasan Sudi Silalahi di Dewan Perwakilan Rakyat jauh dari memuaskan. Dia
menggambarkan ada kejanggal-an dalam surat itu lantaran format dan stempelnya
sedikit berbeda dari surat yang biasa dikeluarkan sekretariat kabinet. Sudi pun
telah melaporkan anak buahnya yang merancang kedua surat itu ke polisi dengan
dugaan telah melakukan pemalsuan isi surat. Dari sini mulai tercium rencana
yang terkesan kurang kesatria: bawahan Sekretaris Kabinet yang akan
di-salahkan, lalu diberi sanksi, dan Sudi sendiri yang meneken surat bisa tidak
tersentuh.
Kalaupun dugaan pemalsuan itu terbukti benar, tidak serta merta membebaskan
Sudi dari persoalan. Sudi sendiri te-lah mengakui pernah mengeluarkan surat
yang isinya sama kepada Menteri Luar Negeri. Inilah inti persoalan yang perlu
digarisbawahi. Pertanyaan yang kemudian muncul: kenapa Sudi meneken surat yang
berbau kolusi? Sejauh mana pula hubungannya dengan perusahaan yang telah
direkomendasi-kannya?
Untuk menelisiknya, kalau perlu Ko-misi Pemberantasan Korupsi t-urun ta-ngan.
Proyek renovasi kedutaan di Seoul memang belum disetujui dan kerugian negara
belum ada. Tapi bukan berarti kasus ini tidak mengan-dung korupsi. Surat-surat
itu bisa dijadikan bukti adanya percobaan korupsi. Ini diatur dengan jelas
dalam Undang-Undang No. 31/1990 tentang Pembe-rantasan Korupsi. Setiap orang
yang melakukan percoba-an perbuatan atau permufakatan jahat untuk melakukan
ko-rupsi diancam hukuman yang sama dengan orang yang me-lakukan korupsi.
Skandal surat Sudi juga bisa diusut dengan Undang-Undang No. 28/1999 tentang
Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Kolusi, Korupsi, dan
Nepotisme. Diatur di situ, pejabat dilarang melakukan kolusi, yakni
permufakatan atau kerja sama secara melawan hukum yang merugikan pihak lain
atau negara.
Lagi pula, bukan kali ini saja surat Sudi jadi sorotan. Tahun lalu, dia juga
pernah mengirim surat kepada Menteri Ke-hutanan mengenai kasus PT Intracawood
yang terancam hak pengusahaan hutannya. Sudi melayangkan surat ini setelah bos
perusahaan itu, Siti Hartati Murdaya, meminta bantuan lewat surat pula atas
persoalan yang dihadapinya.
Kantor Sekretariat Presiden seolah sudah menjadi ka-ntor pos yang bertugas
meneruskan surat macam apa saja yang masuk. Padahal tugas utamanya adalah
membantu presi-den dalam menjalankan pemerintah, dan bukannya me-laya-ni
kepentingan para pengusaha.
Kini saatnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuktikan salah satu janjinya
mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih, dimulai dari rumah sendiri.
Anggap-an yang berkembang sekarang, pemerintah cenderung pi-lih bulu dalam
memberantas korupsi. Penilaian ini akan ter-kikis jika skandal di Sekretariat
Presiden diusut tuntas. Status Sudi Silalahi pun perlu dijadikan jelas, kalau
bersalah harus dihukum, jika lalai wajib ditegur.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Sudi Tak Sudi Digoyang Surat